Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Resolusi 2016 : Jangan Lupa Bahagia

Sumber dari http://happyologist.co.uk                 Tahun ini, ternyata banyak sekali langkah besar yang berani saya ambil dalam kehidupan saya, alasannya ... karena saya hanya ingin membahagiakan diri saya sendiri. Usia dua puluhan membuat saya berpikir banyak, bahwa hidup bukan hanya tentang bersenang-senang, ceria, berisik, kemudian menghilang untuk menenangkan diri. Saya menemukan bahwa hal-hal terpenting di dunia ini bukanlah hanya tentang berpoin-poin target yang harus saya capai dalam setahun. Mungkin, jika dilihat mundur ke belakang, saya pernah begitu, memamerkan banyak sekali target saya ke khalayak luas tapi di akhir tahun malah nggak banyak terjadi perubahan dalam hidup saya. Ujung-ujungnya, hanya beberapa target terpenuhi, lalu saya kecewa dan sakit hati pada diri saya sendiri. Hasilnya, saya merasa nggak bahagia.

Camilan Pantai Ala Pangandaran

Sambil memutar lagu Judy & Mary – Kaze ni Fukarete, saya berpikir keras, apa lagi ya yang keren di Pangandaran? Tempat-tempat yang saya kunjungi rasanya sudah habis saya bahas, mulai dari Pantai Batu Hiu , Pantai Barat Pangandaran , Masjid Besar Al-Istiqomah Pangandaran, sampai Pantai Timur Pangandaran yang sunrise-nya cantik banget. Hmm ... bagaimana dengan camilannya?

Sunrise Perpisahan di Pantai Timur Pangandaran

Aroma pagi menyeruak, ketika Nurul Djanah membuka pintu kamar nomor 11 kami di Pondok Wisata Arwana , menaikkan mood saya. Matahari yang belum meninggi. Langit masih kebiruan dengan udara dingin pagi yang khas sekali. Ah, kalau boleh, rasanya saya ingin menari-nari. Tetapi suara seorang Ibu Penjual Nasi Kuning menghentikan saya. Aha, inilah menu sarapan pagi kami, sepertinya.

Pluviophile Petrichor Desember

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi di balik awan hitam Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini Menanti seperti pelangi setia menunggu hujan reda Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember Di bulan Desember -Efek Rumah Kaca-

Heaven dan Pantai Barat Pangandaran

Hooo thinking about our younger years There was only you and me We were young and wild and free               “Jodoh itu apa dan bagaimana sih?” pertanyaan ini berputar-putar di otak saya sejak kami melangkah keluar dari Masjib Besar Al-Istiqomah Pangandaran hingga kami sampai di pintu kecil menuju tepi pantai.

Masjid Besar Al-Istiqomah Pangandaran dan Cerita Papa

Awalnya, saya hanya ingin menuliskan tentang arsitektur minimalis dari masjid yang berada tepat di pertigaan Pangandaran ini, di depan Tugu Pangandaran yang berlambang tiga ikan melompat tinggi dari laut. Juga tentang saya yang tiba-tiba saja ingin memiliki sebuah rumah dengan pintu yang menyerupai pintu masjid ini. Ditambah ketertarikan saya pada taman yang dibangun di sekeliling masjid. Hmm ... tergoda saja dengan suasananya yang biasa namun menenangkan bagi saya.

Batu Hiu dan Ombak-Ombak Pemberani

Sehabis membersihkan diri di kamar mandi umum yang masih satu bagian dengan Pondok  Wisata Arwana , saya dan Nurul Djanah sudah siap dengan tas kecil masing-masing, topi untuk saya dan sunglasses untuk Nurul. Dengan semangat, kami akan mengunjungi Batu Hiu pagi itu. Rasa pegal yang tadi menyiksa di punggung saya akibat tidur tegap semalaman di bus Budiman, mendadak hilang saat saya menemukan wajah saya yang tampak segar di cermin, seusai mencuci muka dan sikat gigi.

Perhentian Pertama di Pangandaran : Pondok Wisata Arwana

Seusai menikmati makan malam sederhana saya dengan nasi hangat dan Rajungan Goreng yang beberapa hari lalu saya beli sebagai oleh-oleh di Pangandaran, berteman lagu Banda Neira – Hujan di Mimpi – juga hujan deras yang mengguyur Jakarta, saya tenggelam dalam ingatan saya di Sabtu pagi yang lalu, saat supir dan kenek bus Budiman menurunkan saya dan Nurul Djanah di depan Terminal Pangandaran.

A Begin of a Journey to Pangandaran

Menjelang adzan magrib di hari Jumat, saya melangkah santai keluar dari kos saya yang berada di bilangan Jakarta Selatan. Ijin cuti untuk hari Sabtu sudah berhasil saya dapatkan. Walaupun senja itu, Jakarta Selatan kembali macet, parah, as usually it never change. Angkot yang saya tumpangi menuju stasiun Pasar Minggu mulai melaju dengan kombinasi ngebut dan menyiput. Tapi, seiring malam yang mulai turun, dan juga ekspektasi saya tentang Pangandaran sebagai pantai yang menyajikan sunrise dan sunset dalam satu kawasan, membuat saya tetap duduk tenang dan diam.

The Last Witch Hunter

Kali ini saya menonton salah satu film yang dibintangi oleh Vin Diesel tanpa ekspektasi, tanpa memaksa diri saya untuk mencari tahu lebih dulu, jalan cerita apa yang akan disajikan oleh The Last Witch Hunter. Namanya juga super dadakan, karena saya mampir ke XXI benar-benar tanpa rencana. I just keep a keyword about this film, Witch ... penyihir.

Feel the Week End with Music

After I finally became an in house Copywriter, i just have a half of Saturday and a Sunday that I named it with week ends. Kalau nggak dipakai jalan-jalan, saya memilih pulang ke rumah orang tua, atau diam saja di kos dan menyelesaikan pekerjaan saya yang ternyata selalu memberikan tantangan untuk diselesaikan setiap harinya. Banyak teman-teman yang bingung dengan saya yang betah-betah saja kehilangan waktu panjang untuk tidur seharian dan nggak melakukan apa-apa. Tapi, kalau mereka tau rahasia saya, semoga mereka –termasuk kamu-- nggak jadi geleng-geleng kepala ya.

Melupakan Hiruk Pikuk Ibukota di Taman Mangrove Muara Angke Jakarta

Rutinitas bangun pagi, ke kantor, bekerja seharian dan nggak jarang pulang malam, kemudian kembali ke kamar kos saya yang mungil untuk tidur, dan berulang terus 6 hari seminggu. Saya bosan juga, walaupun saya bekerja pada bidang yang boleh dikatakan sudah menjadi passion saya. Hingga keputusan untuk keluar dari kamar kos, bukan untuk pulang ke rumah, melainkan untuk jalan-jalan, bagi saya kini merupakan kebutuhan primer. Seperti udara segar yang membiarkan saya bebas menarik napas lebih dalam daripada biasanya.

Menikmati Passion dan Mengejar Cita-Cita

Book Trailer 19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres                 Sebelumnya, saya merasa bersyukur dan luar biasa bahagia karena saya dipertemukan dengan banyak orang-orang kreatif, sehingga tanpa sadar ... salah satu impian ‘remaja’ saat saya dulu berusia 14 tahun, ingin menjadi seorang penulis, membawa saya pada dunia yang nggak hanya berurusan dengan buku fiksi, melainkan content social media, content website juga microsite, print ads, artikel-artikel, blog, bahkan ketika suatu waktu saya dipercaya oleh Teh Eva Sri Rahayu untuk ikut memberikan ide bagi Book Trailer 19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres, kurang beruntung apa saya?

The Invention of Love

tiket nonton (Dokumen Pribadi)                 This is my first experience for watching a German Film at German Cinema Festival last week. Hmm, do you think, I know clearly what the actress talking about at this film? Whats story they gave to me? Ehm, sorry to say, saya baru memahami makna dari film ini setelah setengah harian memikirkan apa yang sebenarnya sangat ingin film ini sampaikan. Dan ... tadaaaa, ternyata ini film yang keren dalam segi pembuatannya.

‘Girls Night’ Dinner at Taman Langsat

Dokumen Pribadi               Have a great and full of ‘refreshed’ girls night talk with Rara and Meita, my dormitory friends, at Taman Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, last nigt. Melupakan segala hal menyangkut urusan kantor kami yang kebetulan berbeda. Mencoba menghilangkan penat kami yang kelewat numpuk akibat sudah kelamaan nggak refreshing dan hanya bertemu sesekali saja di kosan tiap jam pulang. Meninggalkan sejenak segala tuntutan urusan pekerjaan yang selalu membuntuti –terutama buat saya--- setelah masuk waktu ‘bukan jam kantor’ berhari-hari kemarin.

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali. 

Find The Karaoke Zone At Smule

                Baru 3 hari, tapi Smule sudah bikin saya happy, bahkan sampai tahap tergila-gila, nge-fans berat, hingga menjadi pasukan sukarela worth of mouth untuk menyebarkan keseruan berekspresi di Smule. Whats is Smule? Yak, its an application from Google Apps I found 3 days ago. Di aplikasi yang saya dapatkan informasinya dari kak The Ruslan ini, saya bisa sesuka hati, sepenuh jiwa raga saya, mengeluarkan unek-unek seperti yang beberapa kali saya lakukan di ruang karaoke. Saya bisa memilih lagu apa saja, mulai dari lagu barat, lagu dalam negeri, dan ... yang paling bikin saya girang, ada lagu korea dan jepangnya. How lucky I am?

Inside Out

Joy, Sadness, Fear, Anger, and Disgusting, is the important emotions to growth up well. You’re not only need to be cheerful from the Joy everyday, but also you need to touch your Sadness for appreciate your memories of your life.

Mengenang Rasa – Ragusa Es Krim Italia

              “Hey Cha, kamu punya utang. Ingat? Apa, kamu nggak ingat?” Begitulah suara yang entah bagaimana ceritanya mendadak muncul dalam kepala saya. Sial. Suara itu juga yang menghentikan saja dari aktivitas blogwalking. Jangan dulu jangan dulu, jangan dulu diingatkan, plis. But whats going on after? Argh, saya makin keingetan kalau masih punya utang sama kedua sahabat saya, Puput dan Nurul, untuk mengulas perjalanan seru kami mengunjungi Ragusa yang letaknya dekat sekali dengan Masjid Istiqlal. Sekedar info, mereka memang nggak menuntut untuk segera dibahas, tetapi batin saya yang menggedor-gedor kalau kisah kami ini masuk list ‘utang’.

Melewatkan Senja di Masjid Istiqlal Jakarta

              Beberapa hari lalu, saya menemukan foto Masjid Istiklal Indonesia di account Instagram milik Mbak Claudia Kaunang, dan ... saya baru teringat kalau saya belum menuliskan kisah kunjungan saya ke Masjid Istiqlal seusai Idul Fitri kemarin. Sedikit cerita saja, kalau di tanah Sarajevo sana, juga ada masjid bernama sama, Istiklal Indonesia. Semoga kapan kapan kita bisa mengunjunginya ya.

Menikmati Kemerdekaan Indonesia

                Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.                 Bagaimana sih cara menghormati jasa para pahlawan? Saya sendiri sampai sebesar ini masih bingung bagaimana caranya. Dulu sewaktu kecil, saya pikir, cara untuk menghormati jasa para pahlawan Indonesia adalah dengan belajar dan mengerjakan PR Sejarah dengan baik, dan berusaha selalu mendapat nilai bagus untuk pelajaran Bahasa indonesia. Selain itu, caranya adalah dengan ikut seru-seruan di berbagai lomba tujuhbelasan di lingkungan rumah. Btw, lomba yang paling saya kuasai itu ... lomba makan kerupuk lho.

Ex-Girlfriend Club

www.viki.com                 Ex-Girlfriend. Kata ini yang pertama kali menarik perhatian saya untuk tahan menonton drama korea ini selama satu minggu. Semuanya demi menuntaskan rasa penasaran saya pada karakter Bang Myeong Soo yang punya tiga mantan kekasih, dan berhasil dia jadikan serial hits di Webtoon. Ketiga mantannya itu dia gambarkan sebagai kucing, singa, dan serigala. Sementara ... dirinya, dia gambarkan sebagai seekor anjing. Aish, yang benar saja.

My Own World (Coloring Book for Adult)

We dont stop playing because we grow old. We grow old because we stop playing. - George Bernard Shaw –   Dokumen Pribadi                 See? And after I found this book, its like Lord inspired me about ... oohhh, bertumbuh dewasa nggak berarti kita harus menjalani hari dengan bersikap selayaknya orang dewasa yang ‘tidak boleh’ bermain, lalu menjadi stres karenanya. Menjadi dewasa identik dengan bekerja. Begitu yang sewaktu kecil saya pikirkan, setiap ada saja yang bertanya, ingin jadi apa saya saat dewasa nantinya. Seolah-olah, nantinya pekerjaan impian yang dulu saya mainkan sewaktu kecil, akan menyenangkan, dan ternyata ... nggak selalu ya. Semakin tumbuh dewasa, tantangan semakin banyak, lalu keriangan berubah jadi keseriusan dan kekakuan.

Turis Romantis

                Libur lebaran kali ini, saya nggak bisa traveling karena terserang tiphus. Hmm ... positifnya, mungkin inilah kesempatan saya berada di rumah lebih lama dan bermanja-manja sepanjang waktu sama Mama Papa sampai jatah cuti bersama berakhir. Beruntungnya lagi, tayangan di televisi setiap liburan begini, asik juga. Ada beberapa film bioskop yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta untuk membuat orang-orang yang memilih diam di rumah sepanjang libur seperti saya, merasa betah memandangi tabung kaca berlama-lama. Seperti yang stasiun ANTV lakukan dengan menghadirkan film Turis Romantis.

Dakishimetai (I Just Wanna Hug You)

                Shinjitsu no monogatari (kisah nyata). Dirilis pada 2014.   wikipedia.com                 Suatu ketika, Koyanagi Masaki bertemu dengan Yamamoto Tsukasa di sebuah arena olahraga milik pemerintah. Pertemuan yang sederhana, biasa saja. Tak ada hal yang istimewa selain Masaki dan teman-temannya ingin berlatih basket, sementara Tsukasa ingin memakai arenanya untuk berlatih Boccha. Kemudain, arenanya pun dibagi dua.  Juga ... setting Hokkaido yang dingin. Hanya itu.

Hello Ghost

littleredwinne.blogspot.com                 Sebenarnya, kesendirian dan kesepian itu nggak ada. Iya bukan? Kenangan yang manis dan indah akan selalu ada, menyemangati siapapun untuk tetap menjalani hidup. Merasa jatuh hingga ingin mati bunuh diri, ternyata malah menyakiti diri sendiri. Bukankah setiap anak manusia terlahir dengan kebahagiaan? Separah apapun, selalu ada yang menemani, di dalam hati. Begitu pesan yang saya dapatkan setelah menonton film yang dirilis pada 2010 ini.

Ramadhan Homesick

Semakin jarang bertemu, semakin rindu.   Mama Papa Tersayangnya Acha                 Ini tahun kedua, saya harus melalui Ramadhan sendirian. Sebenarnya jarak dari rumah ke kota Jakarta ini nggak jauh-jauh amat. Cukup ditempuh dengan waktu 2 jam lebih sedikit, saya sudah bisa sampai di rumah dan bisa jadi, Ramadhan saya akan dipenuhi waktu-waktu sahur yang menyenangkan bersama Mama, Papa, juga adik-adik saya. Tetapi saya ini agak sedikit ‘bandel’ untuk urusan pulang ke rumah sejak bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta Selatan. Bukan apa-apa. Saya cuma punya masalah ‘gengsi’ dan saya sudah janji pada diri saya sendiri, untuk mandiri. Apalagi, sebagai anak sulung, saya anti dilihat manja oleh adik-adik saya. Berbeda kalau saya jarang pulang, semuanya akan memanjakan saya karena selama berpisah, kami cuma mengobrol melalui BBM dan WA. Anggap saja ini salah satu modus saya untuk bisa dimanja keluarga.

Batu Cinta – Pulau Asmara – Situ Patenggang

Sudah jadi hal wajar bagi saya setiap mengunjungi tempat baru, saya tidak tidur terlalu pulas. Bangun sangat pagi akibat suara speaker masjid yang mengumandangkan banyak sekali pengumuman, termasuk adzan Subuh, membuat saya terjaga lebih awal dibandingkan biasanya. Perjalanan kami pagi itu, akan langsung menuju Situ Patenggang, tujuan akhir trip kami.

Melompat Lebih Tinggi bareng Sheila on 7

                Modus saya untuk mengunjungi Jakarta Fair 2015 di JI EXPO Kemayoran pada 11 Juni kemarin, murni karena ingin mencari hiburan yang sudah sangat lama ingin saya rasakan, saksikan secara langsung. Sejak SMP, sekitar tahun 2000-an, saya jatuh cinta setengah mati sama band Sheila on 7 karena lagunya yang berjudul Melompat Lebih Tinggi. Itulah lagu pertama yang membuat saya mulai mencari tahu tentang Sheila on 7. Lagu yang merupakan OST 30 Hari Mencari Cinta – yang jujur saja film-nya baru saya tonton bertahun kemudian setelah jadi siswi SMA, berkat VCD bajakan milik salah seorang sahabat saya.

Menginap di Desa Cimanggu - Ciwidey

                Ini kali kedua. Pertama kalinya mencari penginapan dadakan waktu ke Cibodas dengan Om Ayip, my real uncle. Lagi-lagi yang membantu kami menemukan penginapan ini adalah supir angkot. Sudah dua kali, tetap saja supir angkot yang bantuin. Mungkin keberuntungan saya selalu ada di supir angkot. Tapi ... untuk keamanan, kalau saya mendapatkan penginapan tanpa rekomendasi yang sudah saya baca atau dari orang terpercaya, saya tak berani meninggalkan barang bawaan di penginapan. Lebih baik dibawa jalan-jalan biar bisa sekalian pulang.

Insidious 3

kapanlagi.com                 Banyak yang bilang film ini nggak bagus. Buat saya, film ini juga mudah ditebak. Terlalu banyak yang mudah dibaca kejadiannya, seperti pertemuan nenek Elise Rainier dengan suaminya Jack Rainier saat mau menyelematkan jiwa Quinn Brenner. Sudah sejak awal saya menduga kalau kakek Jack pastilah The Man Who Can’t Breathe yang menyamar. Belum lagi nenek Elise yang nggak lagi takut mati, karena dia sudah berdiskusi dengan Carl lebih awal. Kalau scene curhatnya dipindahin waktu si Quinn lagi kerasukan parah, kayaknya bakalan lebih seru. Belum lagi waktu putarnya yang rasanya cuma sebentar.

Sudut-Sudut Sepi Kawah Putih

              Seseru apapun suatu perjalanan yang saya lakukan, secara alamiah, ada waktu-waktu tertentu saya senang menemukan diri saya sendiri. Pada dasarnya saya penakut, dan selalu ada banyak ketakukan yang mencegah saya untuk melangkah ke suatu tempat. Ketika banyak orang di luar sana berani untuk mengambil risiko, saya lebih senang berdiam diri, mendapati sudut pandang lain yang membawa saya masuk lebih dalam ke diri saya. Menemukan pemandangan lain yang tak selalu mampu membuat teman-teman saya mengerti, mengapa saya demikian menikmatinya. Persis, seperti saya yang lebih tertarik memotret suatu objek, dibanding dipotret. Lagi-lagi, semua itu akibat saya hanya punya sedikit stock ekspresi wajah untuk dipamerkan.

San Andreas

San Andreas wikipedia.org                 Ketika patahan di semenanjung California, Amerika, antara lempeng  Pasifik dan lempeng  Amerika Utara, San Andreas, menunjukan pergerakan yang mengakibatkan terjadinya gempa bumi dahsyat berkali-kali. Kekuatannya bisa mencapai 9,6 skala richter. Menghancurkan kota San Francisco hingga mampu membelah tanah dengan memunculkan jurang patahan yang sangat dalam.  Memporak-porandakan kota bahkan meruntuhkan gedung-gedung pencakar langit. Dan ... itulah yang dihadapi oleh Ray, seorang pilot Helikopter Penyelamat.

Mungkin Ini Sudah Takdir

              Selalu saja ada perjalanan yang tak terduga. Perjalanan yang semula hampir saja batal, termasuk saya yang sempat ingin ‘mengundurkan diri’ dengan memilih trip lain bersama teman yang lain pula. Namun sepertinya rejeki saya bukan bersama sahabat saya yang mengajak ke Pulau Harapan ataupun ikut seorang senior ke Malang, melainkan kembali lagi ... ke sisi lain Kabupaten Bandung Selatan.

Nitip Dagangan di Warung Blogger

Dear Warung Blogger ....                                Saya baru mengenal Warung Blogger belum lama ini. Dari iseng-iseng mencari account blogger di Twitter, saya menemukan account @warung_blogger yang menyajikan banyak jenis postingan blog dalam berbagai tema, rasa, nuansa. Semuanya ada. Persis seperti warung kecil super lengkap yang dijaga oleh anak muda yang ramah banget.

Burung Gereja Kota Tua

Bulu coklat keabu-abuan menyamarkan keberadaan mereka saat mendarat di lantai depan Museum Fatahillah. Sore itu, hari kamis di tanggalan merah bulan Mei, Museum Fatahillah sudah tak menerima pengunjung. Burung-burung Gereja bertengger asik di tepian pilar bagian atas bangunan yang dulunya merupakan bangunan pemerintahan di masa Batavia. Saya rasa, mereka ingin dilirik juga.

Oleh-Oleh dari Eropa

                Saya belum pernah ke Eropa. Tapi, saya punya impian untuk mengunjungi Eropa. Merasakan sendiri, bagaimana aroma udara di sana, seperti apa logat dan rupa-rupa masyarakat yang akan saya temui, juga ... menikmati fajar dan senja milik Eropa.                 Saya nggak mungkin mengandalkan kedua orangtua saya untuk bisa bermain-main di Eropa, terutama dari segi biaya. Saya hanya mengandalkan doa-doa keduanya. Semoga Tuhan segera mengijinkan saya untuk menikmati warna Benua Biru.

Happiness for Sale

koreanfilm.or.kr                 Emangnya ada gitu, mbak-mbak stress yang malah berniat ngejual toko milik ayahnya sendiri? Terus si mbak-mbak ini, sebagai pekerja pemerintah, emosinya doyan meledak! Oh, ada. Namanya Kang Mi Na, si Keripik Jagung.

Naruto the Movie : The Last

id.naruto.wikia.com                 Inilah film kesepuluh dari Naruto the Movie, namun punya rasa sedikit berbeda dibanding film-film sebelumnya. Film ini sempat masuk Box Office lho. Belum lagi tagline-nya Saigo no Monogatari wa Hajimete no Ai (The Last Episode of a First Love) yang mengisahkan hubungan cinta antara Hyuga Hinata dan Uzumaki Naruto. Siapa yang sangka, Naruto di anime-nya nggak jadi cowok populer, ternyata setelah dewasa, malah ditempelin banyak cewek termasuk anak-anak bocah. Mereka semua mengidolakan Naruto senpai. Belum lagi, tampilan Naruto yang semasa kecil sampai remaja urakan, malah jadi rapi, dan tetap suka banget sama ramen.

Empat Jam Dua Sisi

 ASEAN Literary Festival 2015 di Taman Ismail Marzuki 21 Maret 2015 Dokumen Pribadi                  Membaca. Menulis. Menemukan dunia dari deretan alfabet yang menyusun kata, kalimat, lalu memberi makna. Mendapati bahwa budaya berpengaruh, dipengaruhi, dan mempengaruhi dunia kepenulisan. Memberikan kesadaran bagi saya khususnya, bahwa literasi sebenarnya bersinggungan begitu dekat dengan kehidupan kita.

Kampung Zombie

smeaker.com/                 Alasan saya menonton film ini, karena Kampung Zombie saya anggap sebagai film horor pertama Indonesia yang nggak mengajak Miss Kunti, Om Pocong, dan adegan hot mesra tambah keringat nafsu bertebaran di tiap scene-nya. Selain itu, karena judul film ini sendiri memang memancing rasa penasaran saya akan kehadiran film horor Indonesia yang berbeda. Saya pun memilih untuk menonton film ini di jam pemutaran malam, berharap bisa mendapatkan suasana mencekamnya.

Gelap-Gelapan di Bioskop

mputram.wordpress.com                 Saya dedikasikan posting saya kali ini bagi seorang teman saya, teman yang tanpa sengaja mendorong batin saya untuk memberanikan diri membuat tulisan mengenai pengalaman menyebalkan ini.

Cinderella

  www.google.com                 Be kind, have courage, and all will be well.                 Kali ini, saya menemukan kisah Cinderella yang apik. Benar-benar hampir mendekati film animasinya. Saya sangat menikmatinya, walaupun ada beberapa tambahan cerita yang nggak muncul dalam animasi Cinderella yang sewaktu kecil begitu saya sukai hingga ketagihan menontonnya di televisi.

The SpongeBob Movie : Sponge Out of Water

www.google.com                 Khas-nya si kuning SpongeBob Squarepants dan kolega-koleganya, sering bikin saya bingung. Kalau untuk serial-nya di televisi, lucu memang ... kadang. Lebay memang ... sangat. Tapi memang ada beberapa scene yang membuat saya terbahak. Sayangnya, hanya di awal cerita.

Selamat 5 Tahun Fiksimini

                Tahun lalu, pertama kalinya, aku mengenal komunitas fiksi mini ini dari Kak @cahaya_sore dan langsung tergoda untuk menantang diriku sendiri. Bisa nggak sih aku menulis fiksimini? Sampai dimana sih kemampuan imajinasiku? Apalagi kisah yang harus dibangun hanya dengan modal 140 karakter. Aih makkk, untuk bisa dapat RT dari account @fiksimini ini jujur saja … dari sekian kali mencoba, aku baru beberapa kali dapat RT. Raeasanya itu … OMG! Bikin makin pengen mencoba terus dan ketagihan. Belum lagi karena banyaknya sosok kreatif nan famous yang ikut berseliweran menuliskan karya fiksimini mereka.

I Run to the Golden Sunset

Di Dataran Tinggi Dieng, sepanjang hari yang kutemui hanya mendung yang memberat di langitnya, tetesan gerimis yang jatuh, serta kabut yang datang lebih cepat. Kupikir, aku mengunjungi istana para dewa dewi di saat yang kurang tepat. Impian untuk melihat golden sunrise dari Sikunir, nggak kesampaian. Rasanya ada yang kurang memang, tetapi waktu libur akhir tahun Icha yang nggak terlalu panjang, memaksa kami untuk lekas meninggalkan Dieng. Membuat kami harus merasa puas, walaupun pulang tanpa disuguhi pertunjukan utama.                 

Bu Djono-nya Dieng

Aku menemukan referensi penginapan ini dari internet. Banyak sekali pelancong yang merekomendasikannya, selain karena harganya yang murah sesuai kantong backpacker tapi juga karena tempatnya yang bersih. Benar, tempatnya memang cukup nyaman. Walaupun saat itu aku dan Icha menempati sebuah kamar single bed, dan memilih untuk menggunakan satu kamar mandi bersama dengan tamu lainnya, rasanya cukup menyenangkan.                 

Menyapa Lima Pandawa

Sore terakhir di Dieng, Pak Ardi hanya sebentar saja mengajak kami mengunjungi kabupaten Banjarnegara. Kabut yang perlahan turun, memaksa kami untuk nggak bisa berlama-lama menikmati Museum Kailasa dan Komplek Candi Arjuna. Lagipula, pukul setengah empat sore kala itu, gerimis ikut-ikutan turun bersamaan dengan kabut yang menebal. Khawatir kondisi fisik kami menurun akibat jaket yang kami kenakan nggak terlalu tebal, akhirnya kami memutuskan untuk segera kembali ke penginapan.

Aku dan #ceritaku

                Cepat sekali, padahal aku baru mengirimkan #ceritaku pada Leutika Prio di tanggal 4 Februari, tapi sudah dijadikan kultweet semalam. Aku senang, karena account Twiter-ku kembali ramai setelah lama banget nggak ada yang mention, kecuali tawaran nggak jelas juga iklan yang sepertinya dilayangkan oleh account robot.   Terlebih, karena kisahku yang dibagi oleh si Leu, miminnya LeutikaPrio.                 Nah, berikut materi yang kukirimkan pada #ceritaku Leutika Prio ....

Asap dari Sikidang

Sudah kubilang kan, kalau aku ini penakut. Aku sering kehilangan ekspresi saat harus berada begitu dekat dengan sesuatu yang kuanggap membahayakan. Aku ini bukan gadis yang senang difoto juga, sehingga koleksi poseku juga seadanya.                  Tetapi sesampainya di Kawah Sikidang, guide kami dan tentunya juga Icha, memaksaku untuk memberanikan diri berada lebih dekat dengan mulut kawah. Jelas sekali aku mendengan suara air belerang yang meletup-letup dalam kawah, juga asapnya yang mengebul ke udara dibawa angin, hingga membuat mataku sedikit perih. Berapa derajat panasnya air kawah ini? Ah, aku merinding. Apalagi, menurut keduanya, untuk mendapatkan hasil foto yang keren, aku harus melompati pagar batas aman kawah dan tersenyumlah di depan kepungan asap yang menjajah udara. Aish ... berhasil juga paksaan mereka.

Telaga, Goa, dan Doa

Menyambangi telaga warna dari dekat. Membiarkan penciumanku dihinggapi aroma telur busuk khas aroma Belerang. Mendapati udara yang sebenarnya dingin, namun matahari begitu tinggi di atas langit. Gerimis yang sesekali turun, tak membubarkan orang-orang yang datang dari berbagai tempat untuk mengunjungi telaga ini, sekedar memuaskan hasrat berpose mereka.                  Berada di tepian telaga, tanah lembab becek yang kupijak terasa begitu menggoda. Dengan berpegangan pada batang pohon yang berlumut, aku terus mendekati tepian. Pada dasarnya, aku ini penakut. Ketika Icha mengajakku berpose di batang kayu yang setengahnya terendam di telaga, aku menolak. Alasan lainnya, karena aku kurang terlalu senang di foto dan bergaya macam-macam, sebaliknya aku lebih suka mengatur orang untuk berpose di tempat dan dengan gaya yang kumau. Parah sekali.

Telaga Warna Dari Bukit Ratapan

Pertama kali aku menyambangi Telaga Warna, bukan dengan mendekatinya, tetapi menikmati keindahannya dari atas bukit Ratapan, di dalam Wana Wisata Petak 9 Dieng. Bunga Pancawarna yang tumbuh di tepi jalur trekking memancing senyumku. Mahkota bunganya yang bergerombol, tampak gemuk dengan warnanya yang putih bersih. Bunga ini mengingatkan kalau sekarang aku benar-benar berada di alam, dan sadar betul kalau modal backpacker-an kali ini cuma nekat. Aku nggak banyak berolahraga dan kurang tidur.

MERRY RIANA

dokumen pribadi                 Jujur boleh ya? Aku belum pernah baca bukunya Mba Merry Riana, cuma ... pernah megang-megang aja sih di toko buku tapi nggak pernah bisa beli. Jadi, aku menonton film ini dalam keadaan blank dan belum punya ekspektasi apapun.

Menuju Tanah Dieng

Terminal Mendolo ( Dokumen Pribadi ) Bus Sinar Jaya yang membawaku dari Depok, pukul 5 pagi terparkir di pemberhentian akhirnya, Terminal Mendolo, Wonosobo. Lengang. Sepagian itu hanya aku, Icha, dan seorang pemuda yang turun di pemberhentian terakhir ini.                 

Kedekatan Bersahabat dengan Percikan

                Selamat pagi.                 Selamat datang di hari kerja pertama di tahun 2015.                 Semalam aku terjebak di halaman 59 sampai 72 dari buku The Dusty Sneakers Kisah Kawan di Ujung Sana. Bagian ini ditulis oleh Gypsytoes, nama pena dari Maesy Ang yang melakukan perjalanan ke Potugal dengan kedua-belas teman sekelasnya.

Letupan Kenangan

                Tiga tahun. Empat malam pergantian tahun sudah.                 Memasuki daerah antah berantah di Jawa Barat yang tidak kutahu namanya -- sepertinya sudah keluar dari wilayah Cikampek --, dentuman suara kembang api yang pecah di langit terdengar. Masih pukul sebelas malam. Tahun jelas belum berganti, dan belum ada ucapan selamat tahun baru yang bertubi-tubi masuk ke Whatsapp dan BBM-ku. Sepi. Sesepi bus yang kutumpangi. Sekelebat bayangan tampak ketika aku berusaha keras memejamkan mata. Si kawan lama, si misterius yang suka sekali membaca. Fin, namanya.