Langsung ke konten utama

Turis Romantis

                Libur lebaran kali ini, saya nggak bisa traveling karena terserang tiphus. Hmm ... positifnya, mungkin inilah kesempatan saya berada di rumah lebih lama dan bermanja-manja sepanjang waktu sama Mama Papa sampai jatah cuti bersama berakhir. Beruntungnya lagi, tayangan di televisi setiap liburan begini, asik juga. Ada beberapa film bioskop yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta untuk membuat orang-orang yang memilih diam di rumah sepanjang libur seperti saya, merasa betah memandangi tabung kaca berlama-lama. Seperti yang stasiun ANTV lakukan dengan menghadirkan film Turis Romantis.

wowkeren.com
                Memang dasarnya karena Bollywood sedang nge-trend di Indonesia, sampai aktor yang berperan sebagai Anant dalam serial Navya ini pun, didapuk sebagai salah satu pemeran dalam film karya anak bangsa, dengan lakon Azan Khan. Lawan mainnya, Kirana Larasati pula. Film ini kalau dibilang romantis, buat saya kurang terasa, tetapi kalau saya lihat dari sisi komedi tersiratnya, saya cekikikan sendiri sedari opening scene.
                Bayangkan, rumah yang ditinggali Nabila (Kirana Larasati) dan ibunya, di beberapa bagian dindingnya tertulis ‘TV Pernah Ada Di Sini’ atau ‘Kulkas Pernah Ada Di Sini’. Kesannya, rumah yang nyeleneh banget. Lalu, nama almarhum kakeknya Azan Khan, Ashique Khan (baca : Asik kan?) itu lho. Duh. Belum lagi jalan ceritanya yang memang sengaja dibuat melompat-lompat (mungkin) dan bikin saya geli sendiri. Mana ada, komandan polisi yang menyamar menjadi preman dan ikut si boss preman buat malak sana-sini, terus baru menangkap si boss preman setelah Nabila datang ke sarang mereka, lalu disusul si Azan buat nyelamatin Nabila?
                Sedihnya, film yang ber-setting di Yogyakarta ini nggak ‘menjual’ Yogyakarta dengan lebih kental. Setting di Masjid Kota Gede Yogyakarta saja seolah lewat dan nggak berkesan banyak di hati penonton seperti saya. Padahal kan, si Azan ini turis lho. Even if he come to Indonesia especially in Yogya to find his grandpa’s grave, kalo sedikit di-explore sepertinya akan lebih asik. Belum lagi gaya berantam para pemainnya yang membuat saya seolah-olah menonton film Bollywood jaman dahulu. Bukan hanya itu saja. Saya juga dibuat gemas dengan karakter Ibu Nabila yang masih tetap mencintai Ayah Nabila yang pemabuk dan penjudi, padahal si suami sudah ngawur berkali-kali dan malah membebani keluarganya denga utang. Tetapi saya rasa, produser, penulis naskah, dan sutradaranya pasti memiliki pertimbangan mereka sendiri agar film ini hadir dalam genre-nya yang komedi, secara soft.
                Next, soundtrack film ini asik. Shaheer Sheikh nyanyi lagu berbahasa Indonesia dan sesekali bicara bahasa Indonesia. Terus, di akhir film, ada mini video klip-nya gitu sama Mba Kirana Larasati. Saya kan jadi nyeletuk, “Apaaaaa cobaaaa ....”

                So far, I enjoyed this film much. Liburan panjang bersama tiphus yang memaksa saya bedrest ini, akhirnya membuat saya menonton film Turis Romantis di televisi. 

Komentar

  1. film india gabungan sama flm indonesia jadinya begini nih cuman sayangnya pemeran cowoknya si itu lagi, coba kalau Shahrukh Khan kan keren anti mainstream

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, Shahrukh Khan kan udah tuir Tofik. Kalau doi yang main, kayake yang bakal histeris para buibu deh.

      Hapus
  2. hmm.. pernah liat trailernya di tv. kayaknya sih emang okeh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan lah Jev film-nya. Lumayan buat hiburan.

      Hapus
  3. Padahl jogja keren y klo ikut diekspos

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.