Pluviophile : Cerita Tentang Si Penyuka Hujan

Ada kecenderungan tersindiri yang membuat saya seringnya merasa betah memandang ke luar jendela di kala langit sedang menangis. Amarah gemuruh jarang membuat saya takut. Tiupan angin yang menggoyang dahan pepohonan, seringnya hanya membawa saya mengucap takbir dengan lirih. Pernah saya terpikir, apa iya, selama ini saya masuk dalam kelompok orang dengan pluviophile?

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi di balik awan hitam

Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini

Menanti seperti pelangi setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember

Di bulan Desember

-Efek Rumah Kaca-

Belum lagi, rasa-rasanya, di musim penghujan, saya punya energi lebih untuk melakukan aktivitas. Hari yang mendung dan mentari nan malu-malu memunculkan senyumnya di langit, seringnya sukses membuat saya bersemangat memulai hari. Berkebalikan dengan pagi cerah nan cenderung terik. Kalau bukan karena kewajiban, saya sering memilih untuk berdiam saja di kamar tidur.

Di masa sekolah, setiap pagi hujan mengguyur dengan derasnya, saya bersemangat untuk lekas berangkat. Berjalan di bawah payung, bisa membuat saya menemukan ide-ide membuncah di dalam kepala. Ya, mungkin ini pula alasan saya, sejak diajak migrasi oleh kedua orangtua ke Bogor, saya terlanjur betah, dan nggak berniat kembali ke tempat kelahiran saya di Mataram, Lombok.

Hey, apa kamu juga penikmat hujan seperti Ka Acha?

hujan-turun
tetes hujan dari jendela kamar di sebuah hotel di Bogor

Ciri Para Pluviphile

Kesukaan saya pada langit mendung, mentari yang cenderung bersembunyi di balik awan, juga air rintik-rintik yang jatuh dari langit, membawa saya pada pencarian, apa saja sih ciri dari para penyuka hujan? Saya ingin tahu lebih banyak, paling nggak, saya men-checklist mana yang cirinya saya banget, dan nggak Ka Acha banget, dari kecenderungan seorang pluviophile.

Nyaman Memandangi Hujan

Salah satu ciri yang Ka Acha banget nih. Setiap kali langit Kota Hujan mulai menggelap, saya sering mengintip ke luar, mencari tahu apa awan akan makin banyak menggumpal, berkumpul, dan lama-kelamaan akan mencurahkan airnya.

Seringnya, saya lekas menyiapkan segelas susu hangat atau teh jika sedang berada di rumah. Saya membiarkan uapnya mengepul dari dalam cangkir yang saya pegang. Hhh … seketika rasa tenang akan merayap, hinggap, memeluk saya yang lekat memandang bulir air di kaca jendela.

Jika pun nggak sedang nggak berada di rumah, memang saya akan memilih menepi sebentar dari perjalanan. Mencari menu makanan yang bisa membuat tubuh terasa hangat, semisal bakso, mie instan rebus, atau mie ayam.

Seringnya, jika saya nggak sedang sendirian, pilihan mampir untuk mengisi perut begini, paling nggak … membuat teman seperjalanan saya tetap tenang, nggak menggerutu pada hujan yang datang. Selain itu, menyeruput kuah gurih di udara yang lebih sejuk, menambah cita rasa dan pengalaman makan.

Sayangnya, ada sedikit rasa kesal yang suka mampir tiba-tiba jika hujan deras membawa saya menepi mencari tempat berteduh, setiap kali berada di luar rumah. Asap rokok. Sebal luar biasa.

Hal yang sampai kini membuat saya nggak habis pikir, kenapa ada saja orang yang egois menghangatkan dirinya dengan kebulan asap, tetapi membuat orang lainnya nggak nyaman dan mengutuknya diam-diam. Apa mungkin ia mengira, aroma asap rokok miliknya juga bisa menenangkan orang lain di sekitarnya? Duh.

Santai Saja Saat Kehujanan

Sudah sering terjadi, bahkan sedari masa sekolah, saya terbiasa melanjutkan perjaanan pulang, walau gerimis datang. Nggak pernah terpikir untuk berlari-lari kecil agar lekas bisa berteduh. Malah cenderung, langkah saya melambat, dengan tangan yang tergoda untuk menadah airnya.

Jika membawa banyak barang di dalam tas, ya mau nggak mau saya akan membuka payung. Tetapi jika sedang nggak membawa apa-apa, saya membiarkan tubuh saya basah kuyup. Lalu, sesampainya di rumah, pengasuh saya akan segera mengoceh panik menemukan saya yang kebasahan. Ia akan membungkus saya dengan handuk, dan bertitah agar saya lekas beranjak mandi.

Menyukai Suara Hujan

Ka Acha pakai banget lagi nih. Suara hujan dan gemuruhnya yang bersahutan, seperti musik khas dari alam. Mendengarkannya, sering membuat saya terdiam. Menikmati sensasi tenang yang magis.

Bahkan, setiap kali musim kemarau datang, atau saat sedang rindu berat pada hujan, saya suka memutar suara hujan. Mata akan otomatis terpejam. Napas cenderung tenang, dengan tarikan yang dalam. Lalu, semua penat saya seperti terangkat, menguap, menghilang perlahan.

Mengutip dari beberapa artikel yang saya baca, suara hujan pun dikatakan sebagai salah satu suara alam yang bisa membawa otak pada gelombang alfa. Kondisi dimana seseorang akan merasa rileks, dan khusyuk.

Apa kamu juga menyukai suara hujan seperti saya? Katanya sih, inilah suara yang paling dicintai oleh para pluviopghile. Makin lengkap jika suara tersebut lambat laun diakhiri dengan langit yang perlahan cerah, lalu menghadirkan seruak aroma petrichor.

Suka Pada Aroma Selepas Hujan

Seperti yang baru saja Ka Acha sebutkan di atas tentang aroma petrichor. Inilah wangi dari tanah basah yang habis diguyur hujan. Aroma nikmat yang seringnya ingin saya hirup dalam. Mendapati aroma seusai hujan di saat langit perlahan cerah itu, seperti hiburan penutup nan spektakuler. Kamu menyukainya juga?

Menyelami Makna dari Hujan

Sebagai penyuka hujan, Ka Acha belajar bahwa hujan sejatinya adalah sebuah keberkahan. Momen yang nggak patut dikeluhkan, atau dijadikan alasan untuk menggerutu. Sebab, air yang dijatuhkan oleh awan ini merupakan salah satu sumber kehidupan.

Jika menelisik ke dalam sebuah ayat dalam Al-Quran di surat Qaaf ayat ke-9, menyatakan bahwa hujan adalah berkah dari Allah SWT. Pepohonan dan buah-buahan akan tumbuh subur, dan menjadi rejeki bagi manusia. Bahkan saat hujan turun, menjadi waktu terbaik untuk memanjatkan doa, bukan? Bisa jadi, sebab suara hujan lebih sering membuat seseorang merasa tenang.

Lalu, bagaimana dengan bahaya banjir yang mengintai di kala musim penghujan bertandang? Rasa-rasanya, bagi Ka Acha sih, seringnya semua itu akibat kelalaian kita semua sebagai manusia. Ada wilayah aliran air yang seringnya dengan pongah kita isi dengan sampah. Alih-alih merasa, bahwa air akan membawanya jauh dari kita.

Atau, ada pula wilayah tepian sungai yang sebaiknya nggak dihuni, sebab akan menjadi daerah luapan air di kala sungai nggak sanggup menampungnya lagi. Termasuk dengan menyediakan lahan terbuka untuk ditumbuhi tanaman, sehingga air akan lebih mudah masuk ke dalam tanah dan mengisi pasokan air tanah di sekitarnya.

Pada akhirnya, saya sering merasa miris jika mendengar celetukan beralasan candaan tentang hujan merupakan momen yang nggak menyenangkan. Apalagi dibumbui dengan ocehan tentang bahaya-bahaya yang datang. Padahal sejatinya hujan adalah rejeki bagi seluruh alam.

Hujan Mencipta Banyak Kenangan Bagi Pluviophile

Hujan seringnya menjadi candu bagi para pluviophile. Tetesan air langit ini menjadi dua kubu rasa di  masa lalu, luka duka dan euforia. Kejadian yang pada akhirnya, membentuk diri saya menjadi sebagaimana Ka Acha di masa sekarang ini.

Bagi Ka Acha sendiri, ada beberapa kenangan yang sering dibawa oleh hujan. Salah satu duka mendalam yang terkenang hingga kini, saat saya berdiri di sekitar gundukan tanah pekuburan yang basah oleh hujan.

Di usia saya yang baru menginjak remaja, seorang teman sekolah semasa masih di Sekolah Menengah Pertama di Mataram, berpulang akibat Demam Berdarah Dengue (DBD). Saya dan teman-teman turut mengantarnya hingga peristirahatan terakhir, bersama luka menganga di dada. Kehilangan pertama bagi saya.

Ingatan tersebut entah bagaimana, menjadikan saya cenderung menangis dalam diam setiap kali ada orang terdekat saya dipanggil pulang. Hati serasa nggak ingin meraung menatapi kepergian. Seolah hujan merefleksikan dirinya menjadi air mata bagi saya.

Ada rasa lain yang mungkin berada di antara luka dan juga gembira buat Ka Acha, tentang hujan. Ceritanya, dulu, atap rumah orangtua sering bocor hebat. Bagian langit-langitnya nampak keropos dan doyong. Jika dibayangkan, andai hujan dan angin kencang datang berbarengan dengan garang, mungkin bagian atap rumah akan amblas dan berjatuhan.

Tetapi, kelakuan ajaib saya dulu, malah asik bersenang-senang sembari membantu mengeringkan air di sekitar rembesan, agar lantai rumah nggak membanjir. Beriringan dengan rinai yang menderas di luar, saya basah-basahan dengan riang. Diikuti dua adik saya yang asik bermain air. Sementara Mama memandang dengan sendu.

Terakhir, ada kenangan manis yang selalu saya simpan dalam hati tentang hujan. Waktu itu, baru ada saya dan seorang adik laki-laki saja. Rumah kami di Mataram, punya parit agak besar di bagian depannya. Di sana, saya dan adik senang melarung perahu kertas yang dibuatkan oleh Nenek. Tertawa gembira, antusias luar biasa.

Mungkin kelak, jika saya memiliki si kecil, saya akan membiarkannya menikmati sensasi bermain di bawah guyuran hujan juga. Kalau kamu, apa punya keinginan yang sama?

Demikianlah, sekelumit kisah bagi Ka Acha yang seorang penyuka hujan. Bagaimana denganmu? Apa kamu juga seorang pluviophile?

 

Komentar

  1. Hujan bagiku hanya akan memenculkan kenangan dan membuat kisah baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mba. Banyak cerita tentang hujan dalam kehidupan kita yang punya efek berbeda ya. :)

      Hapus
  2. Dari judulnya, gue udah bingung,"apaan nih ?" Ternyata lagi baper toh~

    BalasHapus
  3. Aku malah takut kalo hujan. Bukan takut sama airnya, tapi takut petir.pokoknya enggak tenang hawanya kalo ujan. Nggak bisa kemana-mana juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, berarti kamu penyuka hari yang cerah dong ya :)

      Hapus
  4. Jika ada pertanyaan "Lalu perasaan seperti apa yang selalu hujan bawa untukmu? "

    Aku akan menjawab lirih dengan peluh hasil ketidakjelasan. Hujan, saat atau waktu di mana mata, hati, pikiranku ditenangkan. Hujan adalah keadaan yang telah mengoyak-ngoyak kesepian dalam diri. Lagi-lagi, Hujan adalah pemutar waktu yang hebat. Aromanya yang khas, selalu membuat debut pertanyaan yang sejatinya hanya aku yang perasa. Benar katamu, hujan mengusik banyak hal di masa lalu.

    "Ehm, kok tumben gue bisa nulis begitu?" hehehehe

    BalasHapus
  5. Di kota tempat saya tinggal, hujan nggak pernah turun. Ketika di kota-kota lain berlomba ngetwit tentang hujan, kota saya malah kering-kerontang.

    Begitu hujan turun, kami malah bertanya-tanya. Siapa pawang hujannya?

    BalasHapus
  6. Lagu pertama Efek Rumah Kaca yang gue tahu dan langsung suka: Desember. Cocok banget buat pembuka tulisan ini. :))

    Hm, jadi anak Bogor udah terbiasa banget dengan hujan, ya?
    Nah, iya. Makanya sering disebut hujan orang meninggal. Ckck.

    Oiya, misalnya mau move on, jangan memandangi jendela ketika hujan sambil mengingat mantan, Cha. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh duh Yoga, kalimat terakhirmu 'jangan memandangi jendela ketika hujan sambil mengingat mantan' dan aku kembali baper sodara sodara

      Hapus
  7. Setiap hujan, sejujurnya aku pengen main perahu kertas lagi di got depan rumah, tapi gak ada teman.

    Bagiku hujan juga membangkitkan kenangan. Ga tau darimana timbulnya ingatan itu, namun memang selalu terjadi begitu saja ketika bunyi tik tik yang ditimbulkan dari tabrakan rintik hujan dan seng - seng rumah. Ah, sekarang hujan sedang turun, selayaknya aku mulai tidur.

    Komen macam apa ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduw kalo main perahu kertasnya malam malam, serem juga mas. Hehehe.

      Makasih sudah mampir ke blogku ya Mas.

      Hapus
  8. beberapa istilah yang agak susah diserap olehku.istilah asing banget. aduh ribet sebenarnya sih, tapi kalu udah biasa sih ngg apa apa sih.

    hujan adalah berkah dari langit yang mutlak dari tuhan. tik tik rintik hujan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget.

      Btw, makasih sudah mampir ke blogku ya.

      Hapus
  9. Aroma petrichor memang membius ya mbak. Tapi tahun-tahun belakangan ini aku malah deg-degan klo hujan. Takut klo tiba-tiba ada petir gede menyambar terus bikin power supply (dan komponen-komponen komputer lain) mendadak rusak kena tegangan tinggi >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduw iya juga tuh Mas, temennya hujan kan petir, si pemeran antagonisnya.

      Hapus
  10. saya suka hujan, tp pernah saya takut hujan. Skrg udah suka lagi bahkan beberapa kali nulis tentang hujan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuih, hujan malah jadi inspirasi ya. Kerennn.

      Hapus
  11. Awalnya buat saya hujan itu fenomena alam biasa saja. Tapi setelah mendapatkan informasi tetapi hujan sebagai salah satu ikhtiar dalam program hamil, sejak itu saya suka menantikan hujan. Hehehe ... Tidak lagi malu bersama anak saya main hujan-hujanan dan kalau sedang dalam perjalanan sengaja gak pakai jas hujan. Ada-ada saja ya ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh ya? Hujan bisa jadi program untuk ikhtiar hamil? Gimana caranya Teh?

      Hapus
  12. Haha sama nih.. paling suka lihat hujan tPi kalo di dalam rumah.. tapi kalo udah di luar rumah malah kesel banget.. bisa kontra gitu ya.. apa bisa disebut pluviphile kah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi berarti Mba Lita sukanya yang di dalam rumah aja ya, mandangin ke luar aja ya. Hmm mungkin bisa dibilang pluviophile juga, walaupun pas lagi di luar, nggak terlalu bisa menikmati karena rempong pas basah.

      Hapus
  13. Oh aroma tanah setelah hujan itu namanya petrichor. Aku suka banget tu sama aromanya. Bikin seger dan tenang rasanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum. Enak ya. Bikin nyaman pas nyiumin aromanya. Mirip sih sama aroma tanah pas lagi nyiram tanaman, tapi kalo pas kesiram hujan, aromanya jadi berasa lebih "megah" gitu.

      Hapus
  14. dulu waktu kecil paling suka hujan2an tapi sekarang kalo ada hujan malah pengen cepet2 masuk ke dalam rumah. Lihatin hujan aja ngga apa2 wwkwk sayangnya lihat hujan dari kamarku ngga seindah lihat hujan dari jendela hotel mba acha >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha ya ampun Kak Jihan. Iya sih, dari rumahku pun biasa aja. Entah kenapa kalo lagi staycation trus di luar hujan dan view dari jendela kamar itu cantik, jadi berasa makin indah aja pemandangannya.

      Hapus
  15. kalau berdasarkan ciri-ciri di atas aku bukan termasuk penikmat hujan, ya. hehe. tapi hujan memang kadang membawa suasana romantis dan sendu sehingga bisa menghadirkan berbagai kenangan di kepala kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, mungkin ini yang bikin banyak banget karya fiksi yang dibuat dengan memasukkan unsur hujan.

      Hapus
  16. Hujan memang membawa banyak cerita ya. Karena kandungan air dalam hujan itu cuma 1%, sisanya 99% adalah kenangan masa lalu hahaha.
    Dulu aku juga suka banget sama hujan. Apalagi pas lagi rame lagu Utopia, "Aku selalu bahagia saat hujan turun, karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri". Kok kayaknya dramatis dan syahdu gitu lho ya. Tapi makin menua, makin ga gitu perduli sama hujan lagi. Mikirinnya malah besok mau pake baju apa soalnya cucian belom kering :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Manisnyaaa Mas Fajar nih.

      Aku tahu nih lagunya Utopia yang judulnya Hujan ini. Enak banget emang musiknya Bikin suasana berasa sendu tapi manis ya.

      Ahaha ... karena sudah mulai tertuntut sama rutinitas kali ya, yang akhirnya bikin kita perlu memikirkan banyak persiapan ini itu.

      Hapus
  17. Setiap orang punya caranya sendiri untuk menyambut datangnya hujan. Ada yang nyiapin teh hangat, kopi hangat, selimut hangat, buku bacaan, gadget hingga merokok. Nah mungkin ada juga yang memilih merokok untuk menyambut hujan, hahahaha. Padahal bau hujan turun itu khas banget ya. Eh malah dinodai sama asap rokok, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, sebal banget deh kalau ada yang merokok selama hujan turun. Bikin hujan yang tadi syahdu dan menyenangkan karena ada aroma basahnya, jadi berbau tembakau campuran cengkeh de el el. Beneran bikin mau marah sih.

      Hapus
  18. Daku sebenarnya suka hujan karena bisa menatap langit sambil merenunginya.
    Hanya aja karena bikin dingin hawanya, jadinya menatap hujan dari balik jendela. Meski agak takut kalau pas melihat petir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Petir biasanya datang sebelum sama setelah hujan turun dan emang bikin kaget. Kilatannya juga suka bikin takut sih.

      Hapus
  19. Hujan memang membawa sesuatu yang kadang bisa membuat bahagia kadang pula bisa membuat sedih, hal itu dibarengi dengan moment yang pernah dialami. Kadang didalam hujan pun bisa meluapkan segala hal tanpa harus diketahui orang lain, akupun sangat menyukai hujan, karena dengan hujan aku bisa punya air yang cukup untuk keseharianku seperti mandi, menyiram bunga, berbagi kepada orang lain dan masih banyak lagi. Mungkin banyak orang diluar sana yang belum memanfaatkan hujan dengan baik, bahwa itu adalah suatu keberkahan dari yang diatas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya, memanfaatkan air dari hujan, sehingga penggunaan air tanah pun bisa dikurangi ya. Nggak kebayang deh bagaimana jadinya teman-teman kita yang bertempat tinggal di tempat yang sulit air, dan mengandalkan kebutuhannya secara penuh dari hujan yang turun. Rupanya hujan turun begini mempunya sisi lain yang membuat kita jadi makin banyak mensyukuri hidup ya Mas.

      Hapus
  20. Waktu tahu ada istilah untuk penyuka hujan, PLUVIOPHILE udah jadi bio sosmedku sejak dulu haha :))
    Sebahagia itu emang sama hujan, mulai dari aroma sampai suaranya, asal jangan ada petir, gapapa deh hujan mulu adem lagi
    Udah pluviophile sejati belom kak :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap Mba Amelia, sampai dijadikan bio medsos.

      Iya, petir memang bikin kaget. Tapi kan petir biasanya muncul sebelum sama sesudah hujan. Kalau pas hujan ada suaranya, ya itu muncul di tempat yang masih belum beneran di sapa sama hujan. Bayangin kalau petir menyambar pas hujan deras. Bisa kesetrum satu kabupaten kali ya. MasyaAllah. Betapa Allah SWT mengatur berbagai fenomena alam sesuai porsinya.

      Hapus
  21. saya suka hijan mbak
    apalagi saat kecil
    tapi baru tahu klo istilahnya disebut pluviophile

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senang bisa mengenalkan istilah Pluviophile ini deh Mba.

      Hapus
  22. Wahh kok sama
    Aku juga penikmat hujan
    Setiap hujan aku selalu bahagia
    Dulu waktu kuliah saat teman2 berlindung agar tidak kehujanan. Aku dikenal sebagai wanita yang berjalan di bawah hujan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap nih Mba Ria. Jadi ngasih kesan tersendiri dan bikin orang lain mungkin lebih mudah memingat Mba karena suka hujan-hujanan.

      Hapus
  23. Yang paling saya suka dari hujan itu aromanya. Udah itu nomor satu. Sama satu lagi, kalau bobok jadi nyenyak banget karena adem, tentrem. Cuma kalau hujan badai, saya malah gak bisa tidur karena takut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya deh, kalau sedang badai malah deg-degan.

      Nah iya, serasa ada alunan musik yang bikin tenang dan ngantuk memang pas hujan git ya Mba.

      Hapus
  24. Hujan rintik-rintik saat hiking, aku suka.
    hujan rintik-rintik, saat kita neduh di tenda, aku juga suka.
    Nyetir saat hujan pun, aku suka. Asalkan, tidak ada suara gemuruh geledeknya.
    Hehehe..Langsung ngumpet kalo ada geledeknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuah, saya belum merasakan sensasinya hiking saat hujan nih Mba. Kalau di dalam tenda, pernah. Tapi karena waktu itu pas badai, malah deg-degan, khawatir tendanya doyong dan roboh. Mana teman ada yang sakit sampai pingsan pula saat itu.

      Hapus
  25. aku masih sering menikmati hujan, baik dari dalam rumah maupun hujan hujanan. Beberapa waktu lalu, niat banget sama pak Su keluar rumah pas gerimis... eh di tengah jalan malah hujan, ya udah hujan hujan sekalian...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seruuuu. Romantis jadinya ya Mba. Kecuali pas bawa anak-anak, malah khawatir si kecil demam setelahnya.

      Hapus
  26. Hmm...sepertinya saya bukan penikmat hujan. Walaupun selalu berdoa tiap hujan turun, tetapi saya lebih suka musim kemarau. Mungkin karena saya bekerja sih, jadinya lebih memilih kemarau daripada hujan.

    Kalau hujan biasanya jadi lebih ribet, yang harus bawa jas hujan, sepatu hujan, apalagi kalau pas hujan, pas lagi kena macet, deres pula. Mau pake jas ujan itu ya udah terlanjur basah kuyup.

    Tapi kalau lagi di rumah, apalagi saat bercengkerama dengan keluarga, hujan merupakan momen pemersatu bangsa. Mulai dari kompakan males-malesan, menikmati segelas susu coklat hangat, hingga....bersih-bersih rumah pasca hujan.

    Apakah saya suka hujan? Ya suka biasa aja, tapi nggak terlalu posesif juga. Hahaha... .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya, berdoa di saat hujan turun itu katanya sih jadi salah satu moemn yang insyaAllah memudahkan doa kita sampai. Hujan memanglah suatu rahmat, selalu turun membawa berkah. Kalau ujungnya banjir dan longsor, mungkin itu teguran buat manusia yang nggak mau akur sama alam.

      Hapus
  27. Aku juga seorang pluviophile ka, menurut ku setiap kali hujan berhenti atau sedang turun memiliki rasa yang tidak bisa di jelaskan dan benar-benar memberikan ketenangan serta kenyamanan yang benar benar indah.

    BalasHapus
  28. Aku suka hujan. Beberapa kali ajak anak-anak main hujan tapi dengan batas sewajarmya saja.
    Hujannitu banyak makna tersimpan. Kadang kayak sesuai dengan suasana hati #eehhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ... hujan itu memang bisa dinikmati saat senang maupun sedih ya. Selalu pas untuk berbagai perasaan.

      Hapus
  29. Saya juga suka dengan suasana hujan. Namun, tidak sampai benar-benar tergila-gila. Hanya senang dan nyaman kecuali jika ada petir, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hujan memang seringnya menyenangkan, walau nggak semua orang bisa menikmatiinya secara utuh.

      Hapus
  30. Huwaaaaaa.... Aku banget ini. Sampe ada temen yang bilang. Kalau nangis dibawah hujan itu bisa menyembunyikan kesedihan dari orang².

    Yakan air matanya dikira air hujan wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya, nggak ketahuan. Tapi mata tetap kelihatan merah sih. Eh, kok seperti di anime ya? Lupa deh judulnya apa. Kalau drama Thailand, aku teringat Voice in the Rain.

      Hapus
  31. wah terima kasih, saya jadi tahu istilahnya, pluviophile. ini perdana saya mendengarnya. saya punya teman kuliah dari subang, itu sangat menyukai hujan. pernah beberapa kali kalo hujan dan pulang kuliah, kita neduh, eh dia malah nitipin laptopnya ke kita, dan dia jalan dong hujan-hujanan sengaja pulang. dia gak pernah bawa payung. padahal kebayang kan bogor itu kota hujan. hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah, temannya penyuka hujan banget itu, sampai segitunya nggak mau bawa payung.

      Hapus
  32. Kayak Song-hwa di drama series hospital playlist ya mbaknya. Sama-sama suka hujan hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aha, jadi tergoda buat lekas menamatkan Hospital Playlist deh.

      Hapus
  33. Aku juga suka banget aroma petrichor mba khas sekali adem rasanya apalagi saat buka pintu lalu aroma petrichor menguar mmm nyaman

    BalasHapus
  34. Mbak terima kasih sudah menuliskan ini saya jadi senyum-senyum bacanya berasa ada yang membela dan sepemikiran dengan apa yang saya rasakan saat air hujan turun hihi. Suka banget sama hujan. Hujan itu penuh dengan kenangan dan sumber kehidupan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama. Senang kalau bisa dipertemukan dengan teman yang juga menyukai hujan.

      Hapus
  35. Sejak mendapat cerita bahwa Rasulullah sangat menyukai hujan bahkan ketika hujan turun, beliau menyingkap sebagian gamisnya agar terkena air hujan, aku jadi membolehkan sesekali anakku bermain hujan-hujanan.

    Aku berharap, itu akan menjadi kenangan yang indah dan pendidikan yang baik ke anak-anaknya kelak.. Bahwa hujan itu bikin bahagia dan bahkan turunnya hujan adalah tanda asih sayang Allah pada hambaNya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah. Acha malah baru tahu nih Teh kalau Rasulullah sampai menyingkap setengah gamisnya. Semoga anak-anak mengenang kita sebagai Ibu, sebagai sosok yang menyenangkan bagi mereka ya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels