Langsung ke konten utama

Naruto the Movie : The Last

id.naruto.wikia.com

                Inilah film kesepuluh dari Naruto the Movie, namun punya rasa sedikit berbeda dibanding film-film sebelumnya. Film ini sempat masuk Box Office lho. Belum lagi tagline-nya Saigo no Monogatari wa Hajimete no Ai (The Last Episode of a First Love) yang mengisahkan hubungan cinta antara Hyuga Hinata dan Uzumaki Naruto. Siapa yang sangka, Naruto di anime-nya nggak jadi cowok populer, ternyata setelah dewasa, malah ditempelin banyak cewek termasuk anak-anak bocah. Mereka semua mengidolakan Naruto senpai. Belum lagi, tampilan Naruto yang semasa kecil sampai remaja urakan, malah jadi rapi, dan tetap suka banget sama ramen.


                Di film ini, dikisahkan juga bagaimana terbentuknya chakra sehingga muncullah Bumi yang dipenuhi para Shinobi. Kemudian ... dua tahun setelah peristiwa perang besar Shinobi Ke-4, bulan Hagoromo Otsutsuki mulai runtuh dan mengancam keselamatan Bumi, dimana seekor Jubi disegel di sana. Biang keladinya adalah Toneri Otsutsuki, si karakter antagonis yang dimunculkan dalam sosok manis karena kulitnya putih pucat, namun tak memiliki mata. Sekilas, mirip rahib yang baik. Toneri Otsutsuki sendiri merupakan satu-satunya orang yang tinggal sendirian di Bulan itu, keturunan terakhir klan Otsutsuki, sebab sejak kecil ayahnya telah meninggal, dan dia hanya hidup bersama boneka-boneka peninggalan nenek moyangnya.
                Alurnya yang runut, saling terhubung. Maju mundur walaupun hanya dalam batas ingatan Naruto dan Hinata, termasuk banyaknya adegan yang menggugah naluri romantis saya. Kisah yang dimulai dengan Hinata kecil yang menangis karena dijahili teman-temannya hingga ditolong Naruto – yang payah – namun membuat Hinata tersenyum lagi. Syal merah yang dirajut Hinata. Juga perjuangan Hinata menunjukan bahwa dia menyukai Naruto sejak lama. Demi apapun, saya sampai susah menahan diri untuk nggak geregetan dengan tingkah Naruto, saat dia akhirnya tahu, Hinata menyukainya sejak lama.
                Kembali pada misi yang melibatkan Naruto, Hinata, Sakura, Sai, dan Shikamaru. Misi yang memang dipimpin oleh Shikamaru ini, diperintahkan oleh Kakashi sebab Toneri Otsutuki telah menculik Hyuga Hanabi, adik Hinata. Hinata sendiri juga hampir diculik oleh Toneri, sebab si Toneri berambisi untuk menikahi Hinata, namun digagalkan oleh Naruto. Hmm, Naruto berhasil menyelamatkan Hinata pun awalnya karena Hinata yang akhirnya memberanikan diri untuk datang menemui Naruto, demi menghadiahi syal merah rajutannya, di akhir Festival Musim Dingin Konohagure. Tapi memang karena Hinata pemalu ... ya, waktu ditanya Naruto, malah kabur. Haduh.
                Selama misi berlangsung, imajinasi saya dimanjakan oleh kemunculan sebuah dimensi lain yang cara memasukinya dengan menceburkan diri pada danau di dalam gunung, berenang, terombang-ambing, lalu sampailah di Bulan. Di tiap scene pertempuran pun, keromantisan antara Hinata dan Naruto benar-benar nggak dilupakan. Kesemuanya terlihat manis, dan ikut mengaduk hati saya yang memang mengidolakan kedua karakter ini. Bagaimana rasa cinta Hinata yang besar, dapat melindungi Naruto. Hinata yang berkali-kali merajut syal yang terus-menerus rusak, entah dibakar oleh chakra Toneri, atau sobek karena menjadi penyelamat Hinata saat jatuh dari gedung tinggi.
                Kekuatan dari karakter Hinata yang pendiam, pemalu, namun teguh pendirian dan pemberani. Ah, keren sekali. Belum lagi sempat ada scene dimana Sasuke hadir untuk membantu menghancurkan pecahan bulan yang akan memporakporandakan Konohagure, di depan mata Kakashi. Juga ... Sakura yang tetap setia mencintai Sasuke di dalam hatinya. Termasuk, kegalauan hati Naruto yang bikin gemes waktu dia sadar, Hinata memilih ikut Toneri – padahal kan, demi menyelamatkan Hanabi, makanya Hinata mengorbankan dirinya.
                Saigo no Monogatari wa Hajimenete no Ai sebagai tagline film ini, sukses membuat saya menangkupkan kedua tangan saya di dada, karena hanyut dalam kisah ini. Hmm ... ending film ini benar-benar romantis. Naruto yang nggak bisa diam, bisa juga mengucapkan kalimat super gentleman, bahkan dia meminta Hinata memeluknya dengan kuat, waktu keluar dari dimensi yang dibuat Toneri.
                Juga, Toneri Otsutsuki yang akhirnya sadar, kalau dia telah salah mengartikan wasiat dari nenek moyangnya. Dia telah salah, mau menghancurkan Bumi dengan meruntuhkan Bulan.

                Penyuka serial Naruto atau pun bukan, bahkan bagi kamu yang belum pernah tahu kisah Naruto, cobalah tonton film ini. Rasakan keromantisannya. Nikmati deg-degannya. Jatuh cintalah pada Naruto dan Hinata.

Komentar

  1. Balasan
    1. Yes, you alright Marta. She so lucky because she still believe her love to Naruto senpai.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.