Langsung ke konten utama

Melompat Lebih Tinggi bareng Sheila on 7

                Modus saya untuk mengunjungi Jakarta Fair 2015 di JI EXPO Kemayoran pada 11 Juni kemarin, murni karena ingin mencari hiburan yang sudah sangat lama ingin saya rasakan, saksikan secara langsung. Sejak SMP, sekitar tahun 2000-an, saya jatuh cinta setengah mati sama band Sheila on 7 karena lagunya yang berjudul Melompat Lebih Tinggi. Itulah lagu pertama yang membuat saya mulai mencari tahu tentang Sheila on 7. Lagu yang merupakan OST 30 Hari Mencari Cinta – yang jujur saja film-nya baru saya tonton bertahun kemudian setelah jadi siswi SMA, berkat VCD bajakan milik salah seorang sahabat saya.


                Kemudian ketika uang jajan saya sedikit bertambah jumlahnya, karena saya sudah SMA juga, barulah saya mulai sering browsing lagu-lagu Sheila 0n 7 di tahun-tahun sebelumnya. Salah satu lagu yang saya suka, berjudul Dan dan juga Sephia. Bersamaan dengan kemunculan lagu Mantan Kekasih saat itu, saya semakin dibuat jatuh cinta.
                Selepas SMA, Sheila on 7 mulai jarang  saya dengar. Saya pun beralih menyukai J-Pop, bersamaan semakin gilanya saya dengan anime dan budaya Jepang. Namun lagu Melompat Lebih Tinggi masih setia saya simpan dalam playlist mp3 player pertama yang saya punya. Saya dengarkan setiap malam menjelang ujian di kampus. Entah mengapa, tiap kali saya kehilangan semangat belajar, merasa jatuh dan gagal, lagu ini mengembalikan semuanya.
                Malam 11 Juni kemarin, saat Duta, Eross, Brian, dan Adam menyapa penonton dengan lagu Selamat Datang dan Sahabat Sejati, saya ikut bernyanyi dengan mata berkaca-kaca. Oh Tuhan, setelah sekian lama saya memendam keinginan untuk dapat melihat Sheila on 7 secara live, malam itu kesampaian juga.
 
Sheila on 7 di Panggung Utama Jakarta Fair 2015
                Semakin malam semakin terasa dekatlah saya dengan Sheila on 7. Berbaur dengan banyak Sheila Gank lainnya yang semakin nikmat bernyanyi dan berinteraksi dengan Duta. Mulai dari lagu Seberapa Pantas, Untuk Kali Ini Saja ... lalu Duta mengajak Sheila Gank menyalakan falshlight ponsel masing-masing untuk membuat bintang bersama-sama. Melompat Lebih Tinggi. Diam-diam saya tersenyum haru, sembari bernyanyi dan melompat bersama Rara, sahabat saya yang juga Sheila Gank. Berbaur dalam perasaan yang sama buncahnya seperti banyak Sheila Gank lainnya di depan Panggung Utama Jakarta Fair.
                Saya sangat menikmati dikerjai Duta sebelum diajak menyanyikan lagu Lapang Dada. Saya larut bersama Sheila Gank, bernyanyi bersama, tak peduli malam mulai menjelang pagi dan tanpa sadar, waktu untuk bersenang-senang sudah berakhir.
                Namun malam itu, saya tahu, saya tersadar, saya sudah Melompat Lebih Tinggi. Saya yang dulu masih gadis berseragam SMP dengan segudang impian, kini sudah sampai di titik kehidupan yang tak pernah saya bayangkan. Lagu yang begitu masuk ke hati saya, menguatkan saya, kini bisa saya saksikan dinyanyikan di hadapan saya – walaupun dari kejauhan.
 
Rara, Acha, Puput

Sampai jumpa di lain waktu ya. ^.^

Komentar

  1. Berruntunglah kita yang tumbuh di tengah para legenda seperti Sheila on 7. Denger-denger mereka sekarang berkarya lewat jalur indie ya? Semoga sukses. Jalan terus!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Iqbal, kita beruntung banget, tumbuh besar bersama musik-musik bermutu yang masih selalu asik didengar, bahkan sama telinga remaja-remaja sekarang. Iya, aku dengar-dengar juga begitu Iqbal. Salam kenal ya. Toss dulu.

      Hapus
  2. Saya juga penggemar Sheila on 7. Suka banget sama lagu Melompat Lebih Tinggi. Semangat terus Acha, melompatlah terus ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kita sama sama Sheila Gank dong Teteh. *mintapeluk
      Siap. Teteh juga ya. Ayo kita Melompat Lebih Tinggi.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.