Langsung ke konten utama

Portofolio

akarui-cha

Dear ....

Nama saya N. Aisyah Utami. Sementara nama pena yang dulunya saya gunakan setiap kali menulis fiksi, lalu terlanjur terpakai di blog dan berbagai media sosial saya adalah Akarui Cha, dan saya sangat merasa nyaman jika dipanggil dengan sebutan Acha. 

Saya merupakan lulusan dari Universitas Gunadarma jurusan Ekonomi Manajemen dengan bidang konsentrasi yang paling saya sukai yaitu menulis, tentunya. Ya. Skripsi saya membahas mengenai strategi perusahaan, lebih mendalam lagi dengan menggunakan teori Blue Ocean Strategy, alias melakukan sesuatu pada brand yang benar-benar berbeda, unik. Kemudian saya berjuang agar bisa seperti teori-teori yang dulu tekun saya baca, hingga kini. Semoga saja. 

 Soal menulis. Bagi saya bukan hanya mengenai fiksi, namun juga iklan atau copy. Itulah salah satu alasan utama, mengapa saya sangat mensyukuri karir saya kini, sebagai seorang Copywriter pada media Digital dan Social Media. Bukan hanya menyusun copy print ads, program di social media, tetapi saya paling gembira jika diminta menulis artikel atau listicle untuk sebuah brand. Sehingga berkarir bagi saya, bukanlah tuntutan agar tetap hidup, tetapi menghidupkan kehidupan ... menjadikannya lebih penuh warna dan berarti.

Beruntung bisa mencicipi karir sebagai seorang Copywriter in house  nggak membuat saya berhenti berkarya. Saya gembira ketika menantang diri saya untuk tetap bermain-main dengan imajinasi saya pada karya fiksi. Sehingga saya merasa bahagia jika karya saya ditayangkan di majalah, atau buku. Misalnya saja :

  • Perempuan Itu ... Sesuatu (Universal Nikko, 2012)
  • When ... I Miss You (Universal Nikko, 2012)
  • Senyum (Universal Nikko, 2012)
  • Loveable & replaceable (Diva Press, 2013)
  • How To Script A Kiss (NulisBuku, 2016)
  • Intai (Loka Media, 2019)
  • Cinta Dalam Diam (Bitread, 2020)

Sebab menulis serupa meninggalkan jejak-jejak kehidupan. Sebab menulis mampu mendekatkan, maka saya pun setelah lulus kuliah, akhirnya memperjuangkan impian saya dan menulis untuk beberapa media sebagai berikut :

Bukan hanya menulis fiksi dan juga copy bahkan content, saya pun menulis blog Taman Rahasia Cha ini sebagai sebuah ‘taman’ untuk saya melepaskan segala kejenuhan, juga berbagi hal apa saja yang menarik perhatian saya. Itulah mengapa, saya melabeli blog saya ini sebagai sebuah taman rahasia.  Saya punya impian untuk membagikan begitu banyak rahasia yang saja temukan, kemudian merangkumnya pada ‘sebuah taman’ sehingga dapat dinikmati oleh para pembaca. Blog personal saya ini saya kelola secara pribadi, serta merupakan sebuah portofolio hidup dalam karir yang saya jalani.

Saya pun senang turut aktif dalam berbagai kegiatan pada bidang yang saya sukai, lebih banyak memang ada hubungannya dengan dunia kepenulisan walaupun nggak selalu begitu. Namun, senang sekali saya pernah mengasah kemampuan saya dalam pengalaman organisasi, sebagai berikut :
  • Sekretaris Utama Teater TEMA Gunadarma (2008 - 2009)
  • Wakil Sekretaris MoM Academy Bogor (2019 - 2020)
Bukan hanya aktif dalam berbagai kegiatan, saya pun senang mengikuti berbagai lomba blog dan alhamdulillah pernah menjadi peserta terpilih, di antaranya : 
Doakan saya agar bisa selalu memberi banyak manfaat dari waktu, kesempatan, juga usia dan tentunya nikmat sehat yang telah Allah SWT berikan kepada saya ini. 

Selamat menikmati kunjunganmu di Taman Rahasia Cha.

Silakan juga jika ingin mengobrol dengan saya lebih dekat melalui :
Instagram : Akarui Cha
Facebook : Akarui Cha
Twitter : Akarui Cha
LinkedIn : N. Aisyah Utami
Sampai jumpa di media maya saya lainnya. 
Salam hangat.

- Acha -


Komentar

  1. wah sungkem mbak selamat semoga berkah selalu aamiin....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo Angki. Salam kenal dan semangat buat belajar dan berbagi bareng yuk.

      Hapus
  2. Portofolionya bagus, Teh. Harus ditiru semangatnya, nih. :) Salut.

    BalasHapus
  3. Wah, aku belum pernah ikut lomba blog. Belum ada yang bisa dimasukkan di portofolio nih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali. 

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya. Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan ? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.