Langsung ke konten utama

Ex-Girlfriend Club

www.viki.com
                Ex-Girlfriend. Kata ini yang pertama kali menarik perhatian saya untuk tahan menonton drama korea ini selama satu minggu. Semuanya demi menuntaskan rasa penasaran saya pada karakter Bang Myeong Soo yang punya tiga mantan kekasih, dan berhasil dia jadikan serial hits di Webtoon. Ketiga mantannya itu dia gambarkan sebagai kucing, singa, dan serigala. Sementara ... dirinya, dia gambarkan sebagai seekor anjing. Aish, yang benar saja.


                Di sisi lain, ada seorang produser film yang perusahaannya mendadak bangkrut, menanggung hutang, dan bosnya melarikan diri. Dialah karakter utama selanjutnya dalam drama ini, Kim Soo Jin. Cara untuk menyelamatkan perusahaan itu hanyalah dengan membuat film yang boom. Pilihannya pun jatuh pada serial Webtoon milik Bang Myeong Soo, padahal sebelumnya Soo Jin lebih dikenal sebagai pembuat film dokumenter.
                Nggak terduga, Kim Soo Jin pernah punya masa lalu dengan Bang Myeong Soo, saat masih sama-sama mengejar impian mereka. Parahnya lagi, ketiga karakter mantan yang digambarkan Bang Myeong Soo benar-benar ada, yaitu : Ji Ah, Hwa Yeong, dan Ra Ra. Dari sinilah keseruan drama ini dimulai. Keributan demi keributan terjadi. Masa lalu saling bertubrukan dengan impian Soo Jin yang ingin mewujudkan sebuah film romance demi tetap bisa hidup.
                Kebohongan pun tercipta. Hwa Yeong yang ternyata sudah bertunangan dengan seorang direktur, harus menutupi kalau Myeong Soo adalah mantan kekasihnya. Dengan sengaja dia menjodohkan Soo Jin dan Myeong Soo, padahal keduanya hanya merasa berteman dekat. Di lain pihak, Ji Ah yang sudah bercerai dari suaminya, masih mengharapkan Myeong Soo, Berbeda dengan Ra Ra yang santai saja, sebab motivasi terbesarnya adalah bisa menjadi artis yang sebenarnya. Sayangnya, sahabat si direktur, Gu Jun yang punya kepiawaian dalam membuat film, menyadari hal itu.
                Endingnya? Hmm ... silakan menonton sendiri kelanjutan drama berdurasi 12 episode, dan tayang dipertengahan 2015 ini. Saya sendiri awalnya senang dengan alurnya yang menyenangkan hingga di pertengahan cerita. Sayangnya, ketika Myeong Soo dan Soo Jin benar-benar berpacaran, mendadak segalanya flat. Setiap scene memang mampu membuat wajah saya merona merah, namun adegan kiss-nya banyak sekali, dan terkesan ‘nggak mendalam’. Jangan-jangan, ini ya yang membuat Bang Myeong Soo bisa punya tiga orang mantan yang sebegitu masih menyimpan hati padanya?
                Kesan yang saya temukan dalam drama ini, bahwa setiap orang – dalam hal ini kekasih – yang pernah mengisi sebagian waktu dalam kehidupan seseorang, pastilah akan meninggalkan warna khasnya sendiri. Seperti ketiga mantan Bang Myeong Soo, dimana Ra Ra adalah gadis berwarna kuning, Hwa Yeong dengan warna magenta, dan Ji Ah yang membekaskan warna biru. Sementara Soo Jin, di mata Gun Ju dan juga Myeong Soo, dia berwarna putih. Artinya, dialah gadis yang hangat dan nggak ingin ditinggalkan. Iya juga sih, soalnya Myeong Soo memilih setia sama Soo Jin.

                Saya pikir, drama ini akan membuat saya menemukan makna mendalam sebagai ex-girlfriend. Sayangnya nggak. Ex-girlfriend Club seolah sebagai pelengkap, dan menjadi judul film yang akhirnya berhasil diselesaikan oleh Soo Jin.

Komentar

  1. hmm.. drama korea emang unique kebanyakan. tapi... gue masih tetap favoritnya itu love rain yang yoona sama jang geun suk. dulu pernah beli film korea yang judulnya ex girlfrend juga kalau nggak salah... tapi ternyata, filmnya itu film semi dewasa -_____-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuaaa kamu juga suka nonton film Korea kah?


      Btw, makasih udah berkunjung yaa...

      Hapus
  2. aku sebenarnya nggak begitu 'nggeh' sama drama kore sih, tapi kalau baca blog yang bahas drama kore begini jadi keingat sama temen-temen dulu waktu sma yang suka sama drama korea juga...soalnya sekarang udah lulus jadi kangen aja,,,

    aku suka film korea yang memotivasi, yang bisa bikin mewek. hahaha


    btw, aku baru pertama ke sini, salam kenal ya. eh ya, follo balik blog ku ya, hehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film korea yang memotivasi? Seperti apa ya? Aku jadi penasaran juga, pengen nonton film yang memotivasi gitu.

      Salam kenal juga. Makasih banyak sudah berkunjung ya.

      Hapus
  3. kayaknya bagus dramanya, tapi sayang nggak suka drama:3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Gisa, makasih sudah mampir ya.

      Iya dramanya asik.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.