Langsung ke konten utama

Postingan

Kaleidoskop yang Dibawa Hujan

Pelataran Museum Nasional (dokumen pribadi) Jakarta. Kota yang lebih sering terasa panas, beberapa hari belakangan menjadi basah. Aku pecinta hujan, sehingga tiap kali hujan turun, ada syahdu yang selalu mampir ke benakku. Saat gerimis pun, seketika kurasa Jakarta menjadi kota yang paling cantik. Sekaligus ... menamparku dengan ... entah.

Senja Kesekian di Cipete

Dokumen Pribadi (temukan lainnya di akun instagram saya @akaruicha) Di balik jendela kaca besar. Deretan lampu sudah dinyalakan sedari tadi. Mendung turun, mengelayuti senja yang sembunyi. Mobil-mobil yang berseliweran di luar sana, mengingatkan aku untuk pulang. Berkali-kali. Sementara aku hanya duduk terpaku menatap lampu gantung itu, membuang waktu dengan sekedar menikmati sebotol minuman rasa lemon. Sebuah buku yang berkisah tentang sepasang sahabat yang senang melakukan berbagai perjalanan, kini diam menunggu kubaca lagi, di atas meja. Aku hanya menikmati lamunanku snediri.

Pendekar Tongkat Emas

  Dokumen Pribadi                 Angin. Si bocah yang jarang bersuara ini, mengajarkan saya bahwa jiwa kerdil saja yang dipenuh ambisi dan berucap dialah yang terhebat, smentara jiwa besar, tak perlu banyak beriak untuk menunjukan bijaknya. Cukup diam, dan bertindak anggun sajalah. Sabar dan tenang. Begitulah keindahan yang dimiliki oleh sang jiwa besar.

Stand By Me – Doraemon

                 Siapa sih yang nggak kenal Doraemon? Anime-nya masih diputar sampai sekarang di salah satu TV swasta setiap hari minggu pagi. Siapa yang kenal Doraemon? Apalagi buat yang lahir dan besar di tahun 90-an seperti aku? Mungkin juga kamu. Ya kan?

Segitiga Ajaib

                Awalnya ... aku maju mundur menuliskan postingan ini. Karena ya ... ini bukan hasil kerja kerasku seutuhnya. Ini bukan sesuatu yang kuhasilkan sendiri. Ini kerja tim. Kerja banyak orang. Melibatkan banyak sekali sosok sehingga ‘segitiga ajaib’ ini akhirnya bersandar manis di meja kerja Mas Endar, traffic management di divisi Digital dan Sosial Media, tempat aku ‘menuntut ilmu’. Benda ini juga kami dapatkan berkat dukungan yang luar biasa hebat dari Ibu Yana. Ah, segala macam rupalah, sampai benda ini tiba di tangan divisi kami, dan kemudian menjadi cambuk penyemangat untuk berbuat lebih baik dari yang telah kami perjuangankan kemarin. Ini juga kurasakan sebagai buah awal dari kekerenan Mas Adit dalam memimpin tim kami.

Jelajah Cibodas Botanical Garden

Matahari pagi di Cibodas rasanya muncul dan terik lebih awal dibandingkan matahari di Jakarta. Pukul lima pagi, sinarnya sudah merona merah di kejauhan horizon. Udara dinginlah yang membuatku tersadar kalau waktu memang masih cukup pagi. Gerbang utama taman wisata Kebun Raya Cibodas sudah didatangi oleh pengunjung. Mereka mengantre menunggu loket dibuka. Sama sepertiku.

Bersiap Mengunjungi Cibodas Botanical Garden

Bangun pagi. Buatku, waktu tidurku sering berkurang dengan sendirinya tiap kali liburan seperti ini. Aku nggak mengantuk, karena aku hanya ingin menikmati suasana di sekitarku. Udaranya. Langitnya. Orang-orang. Ah, segalanya. Bahkan semalaman aku bangun berkali-kali dan memandang ke pintu kamar, berharap pagi segera datang.