Langsung ke konten utama

Nitip Dagangan di Warung Blogger

Dear Warung Blogger ....                

               Saya baru mengenal Warung Blogger belum lama ini. Dari iseng-iseng mencari account blogger di Twitter, saya menemukan account @warung_blogger yang menyajikan banyak jenis postingan blog dalam berbagai tema, rasa, nuansa. Semuanya ada. Persis seperti warung kecil super lengkap yang dijaga oleh anak muda yang ramah banget.


                Belum lagi kesan yang selalu muncul di warung ini adalah Happy. Si hastag #HappyBlogging yang membungkus setiap mention dari banyak sekali blogger, membuat saya menemukan semangat tersendiri untuk menulis postingan di blog saya. Hastag ini menularkan semangat, dimana mem-posting tulisan di blog, haruslah dengan senang hati, agar pesan yang ingin seorang blogger sampaikan, sampai ke pembacanya.
                Saya senang, Warung Blogger selalu me-Retweet dan mem-Favorite kan postingan yang saya titipkan di lapak warung. Sejujurnya, blog saya jadi ikut-ikutan ramai karena itu. Mulai muncul banyak comment, serta trafiic blog saya pun naik secara perlahan. Warung Blogger membuat saya berhenti merasa menulis dan membagi tulisan saya sendirian. Saya kini merasa bisa bercerita kepada banyak orang, bukan lagi pada siapa entah yang tiba-tiba datang mengunjungi blog saya.
Belum lagi, perkenalan saya dengan berbagai blog ‘keren’, berawal dari setiap kunjungan yang saya lakukan ke Warung Blogger. Di tab Favorite, sering saya mendapatkan banyak kisah menarik dari teman-teman blogger lainnya. Sungguh saya bersyukur, saya menemukan sebuah warung ... bukan resto eksklusif ... sehingga saya tak perlu malu atau ragu-ragu berlama-lama membaca tab Favorite-nya. Ada saja postingan dari teman-teman blogger yang membuat saya iri karena gaya menulisnya yang kece, kisah perjalanan yang oke, bahkan sekedar curhatan yang memancing imajinasi saya hingga menemukan sebuah ide cerita.
Selamat ulang tahun warung Blogger. Semoga hingga 4 tahun ke depan dan seterusnya, warung Blogger semakin asik dan bersahabat untuk para blogger pemula.

Komentar

  1. Salam kenal Aisya. Atau Cha?
    nama warung memang dipilih agar lebih membumi dan tetap sederhana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mba Susi. Sialakan panggil Cha atau Acha.
      Terima kasih banyak sudah berkunjung ke blogku :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.