Langsung ke konten utama

Postingan

So Good Spicy Chicken Strip : Kenikmatan Membara Karena Pedasnya Enak Menggoda … Seperti Iklannya

Uhm … saya sebenarnya bukan penggila berat makanan pedas. Ya, walaupun, ada lah masanya saya akan hunting makanan dengan rasa pedas, seperti yang pernah saya ceritakan dalam postingan saya yang terdahulu tentang kunjungan saya ke Cabe-Cabean Festival di Blok M Square. Saya bukan pecinta pedas akut yang kemana-mana kalau makan tanpa sambal sama dengan hambar. Saya masih mencintai Mie Ayam Baso Rawit Ojo Dumeh … pun kini senang menikmati Spicy Chicken Strip dari So Good, walau kalau makan baso urat, kuah basonya sudah semacam semur kecap.

Percayalah … Jadi Ibu yang Bekerja dari Rumah … Nggak Semenyenangkan Itu

Hal apa saja sih yang segera terlintas dalam benakmu, jika kamu punya kesempatan emas untuk dapat bekerja dari rumah? Tetap punya penghasilan bulanan walaupun kamu nggak perlu untuk terlalu sering keluar rumah alias ngantor? Terbayang ya, urusan kerja, anak dan rumah, ter-handle dengan sempurna. Asik nggak? Asik banget sebenarnya, tapi ya … namanya juga usaha, selalu seiring-sejalan dengan tantangan. Kan nggak seru kalau semuanya indah dan baik baik saja.

[GIVEAWAY & BLOGTOUR] Semangkuk Rendang di Negeri Paman Sam

Sekali lagi, saya merasa bahagia bisa membaca sebuah karya fiksi yang mengenalkan saya pada indah dan beragamnya budaya Indonesia. Membaca novel bergenre locality seperti ini, mengajak saya berpetualang untuk menikmati alur cerita dengan setting tempat yang sampai-sampai saya googling akibat sebegitu penasarannya saya. Bagi teman-teman yang sudah sering mampir di akun instagram saya -- @akarui.cha – dan mengunjungi Insta Stories-nya, mungkin akan lebih paham, seberapa saya dibuat jatuh cinta oleh locality novel yang mengangkan setting Padang ini, Semangkuk Rendang di Negeri Paman Sam.

3 Dara 2 : Hey Lelaki … Jangan Sampai Jadi Suami Mokondo

Saya beruntung, karena saya bisa tertawa lepas bahkan mungkin agak sedikit malu-maluin di dalam studio, karena film 3 Dara 2 ini sukses membuat saya nggak bisa menahan diri untuk nggak menertawakan kelakuan konyol, dari Tora Sudiro sebagai Affandi, Adipati Dolken sebagai Jay, dan Tanta Ginting sebagai Richard.

The Bedside Detective (2007) : Cari Uang Segitunya Amat

Memangnya beneran ya, ada orang yang mau dibayar hanya untuk memotret kemesraan pasangan selingkuhan? Sebegitunyakah cari uang, sampai jadi Bedside Detective ini dilakoni juga? Ini pertanyaan pertama yang muncul dalam benak saya saat kembali menemukan salah satu film yang dibintangi oleh Sunny Suwanmethanont.
Saya pertama kali mengenal Sunny Suwanmethanont dari film Thailand berjudul Heart Attack. Film yang mengisahkan tentang kerasnya kehidupan seorang freelancer demi uang. Nah, ini, saya menemukan lagi film yang dia bintangi, juga dengan benang merah, kalau mencari uang itu segitunya amat. Ngomong-ngomong, film Heart Attack ini belum saya tulis di blog ini, saya usahakan lain waktu ya. Semoga nggak terlupa lagi.

Cokelat Ndalem : Tanda Hati dari Jogja yang Saya Suka

Bagi saya, cokelat itu seperti kopi untuk para pecinta kopi. Menu yang akan segera saya pesan di meja barista, saat memasuki coffee shop. Cokelat hangat yang nikmat diseruput dengan roti tawar ala kadarnya, atau kalau boleh, ditemani dengan sepiring biskuit gurih. Atau mungkin segelas cokelat dingin, bersama buku bacaan yang menyenangkan, cocok. Saya suka sekali. Kalaupun sedang mumet sama kerjaan, mood saya lebih mudah balik jadi happy kalau dihadiahi sebatang cokelat isi kacang mede. Pun saat ke Jogja, hal pertama yang terpikir akan saya bawa pulang sebagai buah tangan, tentu saja Cokelat Ndalem – sejak pertama kali saya mengenal si merk cokelat tanda hari dari jogja ini.

Hijrah Sakinah : Bahwa Menikah Adalah Sebenar-benarnya Perjuangan

Saya baru menikah tahun lalu, dan ya … sekarang, kalau mendapati teman saya yang curhat berharap bertemu jodoh sesegera mungkin kalau perlu simsalabim, merasa merana karena sedang dalam masa single, seringnya hanya saya komentari selewat saja. Lalu kalau ada teman yang bilang bahwa masa pacaran adalah masa perkenalan yang paling baik daripada taaruf dengan mengandalkan berbagai informasi dari pihak ketiga, umm … keduanya sama saja. Percayalah kalau semua borok busuk dan luka-luka baru akan nampak setelah pesta resepsi pernikahan yang meriah itu berakhir. Tentu saja, karena selama masa pacaran maupun taaruf, masa borok sih yang dibuka? Enakan buka yang baik dan hebatnya dulu kan? Nanti calonnya malah mundur teratur atau segera ambil langkah seribu, kalau minusnya kelihatan. Ayolah, berhenti untuk membayangkan kehidupan ini seperti kehidupan para putri dalam dongeng Disney.