Langsung ke konten utama

The Bedside Detective (2007) : Cari Uang Segitunya Amat


Memangnya beneran ya, ada orang yang mau dibayar hanya untuk memotret kemesraan pasangan selingkuhan? Sebegitunyakah cari uang, sampai jadi Bedside Detective ini dilakoni juga? Ini pertanyaan pertama yang muncul dalam benak saya saat kembali menemukan salah satu film yang dibintangi oleh Sunny Suwanmethanont.

Saya pertama kali mengenal Sunny Suwanmethanont dari film Thailand berjudul Heart Attack. Film yang mengisahkan tentang kerasnya kehidupan seorang freelancer demi uang. Nah, ini, saya menemukan lagi film yang dia bintangi, juga dengan benang merah, kalau mencari uang itu segitunya amat. Ngomong-ngomong, film Heart Attack ini belum saya tulis di blog ini, saya usahakan lain waktu ya. Semoga nggak terlupa lagi.

the-bedside-detective

Di film The Bedside Detective yang bergenre komedi-romantis ini, sepertinya saya nggak ingin membahas banyak soal alur dan sinematografinya. Tentu saja karena belum banyak ilmu pengetahuan yang saya miliki soal ini. Namun sepanjang menonton film ini, sejujurnya saya memang nggak terlalu banyak tertawa, melainkan miris. Mungkin komedinya agak satir ya. Saya pun menemukan beberapa poin yang … walaupun di IMDb, film ini hanya diberi nilai 6.5/10 saja, tetapi ada pesan soal keinginan dan uang yang akhirnya bisa saya rasakan sepanjang menonton The Bedside Detective.

Walaupun film ini muncul di tahun 2007, dengan teknologi yang belum seperti sekarang, tapi saya menemukan kemutakhiran dalam tokoh Jock Mana yang diperankan oleh Sunny Suwanmethanont. Bayangkan saya, kalau ia bisa menciptakan berbagai alat unik, persis Doraemon. Sayangnya, karena terlalu unik, jadi sulit diterima masyarakat umum, dan dia berakhir dengan nggak menjadi apa-apa.

Saya rasa, mungkin begitu pula pandangan publik soal inovasi ya. Kalau “aneh” jadi sulit diterima. Sama seperti saya yang teraneh-aneh soal … memangnya ada ya pekerjaan yang namanya Bedside Detective? Kerjaannya cuma menguntit kehidupan mesra-mesraan si target yang dilaporkan selingkuh oleh pasangannya. Sering sih, nemu di sinetron, scene tentang tokoh yang kaget karena menemukan bukti foto perselingkuhan pasangannya. Tapi, memangnya ada ya profesi semacam ini? Entahlah kalau jaman sekarang.

Baiklah, saya menumukan dua pesan besar dalam film The Bedside Detective yang mengena banget untuk siapapun ini. Oh ya, film Thailand ini agak semi. Jadi, sangat nggak saya sarankan untuk ditonton oleh remaja, apalagi anak-anak. Kalau buat saya, 21+ lah ya. Nggak banyak kok adegannya, dan nggak tersurat, tetapi cukup tersirat dan bisa membuat imajinasi jadi liar, kalau nontonnya nggak cari makna. Umm … untuk hiburan, lumayan lah. Terus agak agak ada rasa seperti nonton film film Warkop DKI versi Thailand, gitu.

Yakin Mau Pinjam Uang ke Makelar?
Inilah poin pertama yang saya dapat sejak awal menonton. Tergambar jelas sekali dari lika-liku kehidupan Jock Mana, si tokoh utama yang menjadi Bedside Detective dan tentunya diperankan oleh Sunny Suwanmethanont. Dia bisa menjadi Bedside Detective ini hanya karena gagal dalam bisnis mutakhirnya – Restoran Barbeque Daging Babi Tenaga Matahari – dan bingung mencari pekerjaan untuk melunasi utangnya yang naik terus menerus.

Saya merasa miris, ketika film ini sampai di scene saat Jock didatangi penagih utang yang karena dia terlambat bayar, dengan semena-mena melipat-gandakan jumlah tagihannya. Dari yang hanya 563,000 Baht, jadi 600.000 Bath biar gampang diingat. Lah, ngana yang boneng, Gan?

Itulah … saya rasa, modal usaha itu, walau seadanya, jika dimulai dengan hasil perjuangan bekerja tanpa meminjam, lebih nyaman di hati. Eh tapi kalau Jock nggak kejebak utang makelar, dia nggak bakalan jadi Bedside Detective trus film ini nggak ada ceritanya dong ya. Hihihi ….

Ingin Punya Rumah Semuda Mungkin Tapi Nggak Gitu Juga Kali
Kalau tadi saya sudah cerita soal latar belakang Jock Mana selaku tokoh sentral dalam The Bedside Detective, sekarang saya mau cerita juga soal latar belakang dari tokoh utama perempuannya – yang memilih menjadi wanita simpanan dan pernah menjadi targetnya Jock, sayangnya si Jock ini malah jatuh cinta sama dia – yang diperankan oleh Pattarasaya Kreuasuwansiri sebagai Num Pan.

Saya malah berpikir, “Ini Mba Num Pan salah makan apa ya, sampai memilih jalan untuk jadi wanita simpanan hanya demi punya rumah yang agak luas dan ada tamannya?”. Saya menangkap kesan kalau Num Pan jadi wanita simpanan pun nggak senang-senang banget. Cuma dia happy karena bisa tinggal di kontrakan agak elitlah ya, nggak di kampung rada kumuh seperti si Jock. Terus punya mobil kece. Apalagi dia rela jadi wanita simpanan untuk dua lelaki. Nah lho banget nggak sih ini?

Para Suami yang Nggak Puas Sama Istrinya
Ini lagi nih, sisi lain pernikahan yang sedikit disinggung dalan The Bedside Detective. Karena para pelapor biasanya si istri berduit yang merasa hanya dimanjakan oleh suaminya dengan uang, sementara jiwanya masih bebas berpetualang dengan wanita lain di luar sana. Saya menangkap pesan sangat super tersirat, kalau keluarga yang berkecukupan nggak selalu menyenangkan. Uang nggak bisa membeli kebahagiaan seseorang. Bahagia itu dimulai dari rasa saling memiliki dan melindungi, apalagi pernikahan itu merupakan hubungan yang sangat panjang dan lama, nggak seperti pacaran di masa muda yang sebentar juga akan berlalu begitu saja.

Tapi kalau para istri ini nggak merasa sakit hati akibat suaminya main sama perempuan lain, ya si Jock nggak bisa punya uang buat makan dong ya. Anehnya sih, ini agen Bedside Detective-nya siapa coba. Kok bisa jadi Bedside Detective begitu aja, si Jock ini. Lagi-lagi, silakan kamu tonton sendiri kalau penasaran. Mungkin kamu lebih teliti dan punya sudut pandang berbeda dari saya setelah menonton nantinya.

Emangnya apa dan gimana sih yang terjadi sama Num Pan? Saya nggak mau cerita, karena nanti bisa jadi spoiler. Ending filmnya seperti apapun, silakan kamu tonton sendiri kalau memang tergoda untuk menontonnya. Hanya saja, kalau memang kamu sejak awal kurang nyaman sama adegan semi menuju ke ranjang, sebaiknya urungkan saja niatmu ya, Memang sih nggak gamblang, tetapi entah … buat saya, pikiran orang kan berbeda-beda, jadi sebuah film pun akan memberi efek “greget gerah” yang berbeda juga.

Memang sih, dari beberapa review The Bedside Detective yang saya baca, teman-teman blogger lebih banyak yang mengambil sudut cerita cinta seorang detektif sama targetnya. Hanya saja buat saya … entahlah, efeknya malah ke soal uang ini. Hal mendasar yang membuat pola pikir dan perilaku seseorang menjadi begini dan begitu. Uang membuat manusia jadi tertekan di satu sisi, sementara merasa puas dan bahagia di sisi lainnya. Karena uang, seseorang bahkan ada yang sampai mau melakukan apa saja, bahkan sampai mengubah kehidupannya.

Kembali lagi. Kalau Jock nggak berutang, dan Num Pan nggak berkeinginan untuk punya rumah, nggak akan terjalin manis lah perasaan cinta mereka berdua dalam The Bedside Detective ini. Untuk segi komedi, bagi saya, film ini hampir mirip seperti kebanyakan film Warkop DKI tapi versi Thailand.



Komentar

  1. Kadang orang cari uang memang semua dilakukan demi, hahaha..

    Meski film tahun 2007 kalau banyak hal-hal yang unik dan positif pasti diambil manfaatnya itu. Kalau misalnya mau nonton ini di youtube, gak yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ummm kurang tau deh mba. Aku nontonnya di viu soalnya.

      Hapus
  2. Tapi, bedside detective ini sepertinya sudah ada di Indonesia, di dunia nyata yaa. Buat realiyr show. Karena sudah ada yg pernah diwawancara, saya saya lupa karena udh lama banget. Intinya mreka menjadi detektif suruhan istri/suami yg curiga dengan pasangannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hah, iya kah? Aku baru tau. Ihhh bisa ada kerjaan beneran kayak gini tho.

      Hapus
  3. Ehe kalau di Indonesia udah ada kerjaan bedside detective belum ya Kak?

    Betul, uang kadang menjadi alat serakah, misal selingkuh tadi. Atau bisa jadi motivasi bekerja keras seperti Jock. Bisa juga membuat terlena akan sesuatu seperti Num Pam. 😂

    BalasHapus
  4. Menarik nih jalan ceritanya. Apalagi kalau lucu nggak bikin stres.

    BalasHapus
  5. Bagus filemnya membaca review filemnya sepertinya aku harus nonton, kira-kira di youtube ngak?

    BalasHapus
  6. (((kerasnya kehidupan seorang freelancer untuk mencari uang))) Seriusan loh Cha, beberapa bulan belakangan ini aku mikir begitu ketika melihat teman-teman sesama freelancer. Ya meskipun job mereka buat motret pasangan selingkuh....

    BalasHapus
  7. Kalau model film warkop enggan lah saya nontonnya hahaha..... Baca reviewnya jadi mikir bahwa semua hal ketidakbahagiaan bersumber pada nafsu duniawi.

    BalasHapus
  8. Thankiss mbak♥️ ini film masuk list aku berikutnya deh, aku itu kalau pengin nonton film selain dari booming medsos, berikutnya aku juga dapet dari review² blog gini��

    BalasHapus
  9. Memang kadang suka aneh2 ya orang dalam cari uang itu. Kayaknya emang ada dech profesi bedside detective di dunia nyata. Klo lihat berita juga kan ada pembunuh bayaran di dunia nyata gara2 cemburu. Itu kan berarti sebelumnya udah diintai dulu semacam main detektif2an.

    BalasHapus
  10. Ini sih namanya cari uang buat kesenangan diri sendiri yaa, tapi menyakitkan juga sih kalo buatku hihi, aku juga suka nonton film thailand yang komedi romantis. Ada serunya, ada lucunya ya khan

    BalasHapus
  11. wahhh ini kerjaan menantang juga yah. kalau ketahuan bisa rame nih urusannya. tapi kira kira cocok juga jadi lahan kerja dikehidupan nyata hehehe

    BalasHapus
  12. HMm... dari simpulannya baru saya bisa bayangkan mengapa tidak bisa tertawa di film komedi ini dan berasa satir.
    Saya juga sulit tertawa saat menonton Warkop DKI. Entah kenapa, malah sebel banget dengan eksploitasinya

    BalasHapus
  13. Kebayang Klo di dunia nyata ini ada bedside detective hahaha bisa panen job nih #ups

    BalasHapus
  14. Tapi memang sih klo di ulas lebih lagi pasti akan nemuin berbagai. Macam profesi yang ga di duga sama sekali

    BalasHapus
  15. Kalau aku sih percaya percaya ada job seperti itu, secara jaman sudah modern

    BalasHapus
  16. Wah ada di viu ya? Ak jg termasuk yang suka film Thai, krn kocak2 banget, emang slapstick bgt ala warkop juga kadang2

    BalasHapus
  17. Pembuatan film the bedside detective bisa jadi berdasarkan apa yang terjadi di masyarakat. Meski sebenarnya tidak umum, tapi bisa jadi ada.

    BalasHapus
  18. Keren mbak, memasukkan sisi lain dari film Bedside Detective ini. Biasanya kan orang fokus ke percintaan dan sex nya hehe.

    BalasHapus
  19. Lumayan kompleks juga ya plotnya tapi genrenya komedi romantis pasti jadi seru. Ah jadi memang keinget Heart Attack krn pemainnya :D

    BalasHapus
  20. Baca review filmnya jadi penasaran kak jadi ingin coba nonton lebih full lagi. Sekarang orang mencari uang apa saja bisa dilakukan ya kak.

    BalasHapus
  21. Film Thailand emang ga kalah seru dibanding film Asia lain. Ntar coba nonton ah. Unik ceritanya

    BalasHapus
  22. wah, ini udah kayak telenovela juga, hahaha versi thailand

    BalasHapus
  23. Aku pen melamar klo ad profesi seperti itu, penasaran jg sama org2 yg suka selingkuh. Klo acara tv dlu namanya H2C wkwkw bener ga?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.