Label

Kamis, 26 Mei 2016

My Stupid Boss : Bahan Ketawa Pekerja Kantoran

Ok. Yuk sama sama bersyukur untuk kita yang sudah memiliki pekerjaan. Bersyukur buat kita yang pekerjaannya bikin kita bisa keluar rumah, seenggaknya nggak seperti suaminya Diana yang kerjanya dari rumah sambil pakai piyama doang – soalnya buat saya, kurang seru. Bersyukur juga kalau kita bukan termasuk dalam golongan ibu-ibu yang nggak punya kegiatan dan bahan pembicaraan sampai-sampai bikin geng buat gosipin orang – dan harus berempat pula. But than, let’s be positif thinking, karena seperti apapun diri kita, toh kita sendiri yang memilih dan memutuskannya.

Tunggu! Sebenarnya saya mau nge-review film apa curhat sih? Ehm ....

My Stupid Boss
image taken from liputan6(dot)com

Film produksi Falcon Pictures dan disutradarai oleh Upi ini ternyata, diadaptasi dari 4 seri buku berjudul sama terbitan Gradien sejak tahun 2009, My Stupid Boss, dan ditulis oleh chaos@work. Saya malah baru tahu tentang buku ini, setelah kepo-kepo karena judulnya yang mepet-mepet dikit sama salah satu drama Korea yang mohon maaf sekali, nggak bisa saya sebutkan.

Film ini mengajak saya untuk ketawa – lebih menjurus ke ngakak daripada senyum-senyum anggun terus sakit perut sih – karena mengisahkan seorang Bossman dengan kepala menjelang botak dan perut membuncit yang punya slogan kebanggaan, “Impossible We Do, Miracle We Try”. Than, “Bossmas Always Right”. Ketika hidup sang Bossman mengalami sedikit guncangan akibat didatangi oleh seorang Kerani (Head of Administration), dan sering dia panggil-panggil pakai toak sambil ketawa-ketiwi dengan sebutan, “Kera-ni” bernama Diana – yang kebetulan merupakan istri dari temannya semasa kuliah di California. Pertanyaan besar saya adalah ... kenapa Bossman lebih kelihatan tua dibanding suaminya Diana ya?

Saya menikmati sepanjang film ini diputar. Satu jam lebih saya berkali-kali dibuat ngakak. Film ini bagi saya, benar-benar hiburan yang pas untuk pekerja kantoran macam saya. Pahamlah ya, ada ada saja memang kelakuan atasan, walaupun bersyukurnya atasan saya nggak segokil kelakuan Bossman. Coba yuk kita bayangin, kalau kita dapat ujian dengan punya atasan yang ‘Bossman Always Right” begini, lalu nggak ada jalan keluar lain selain menunggu masa kontrak habis atau menghadapi si Boss dengan kekuatan mental. Bisa bisa saya seide sama Diana, dengan bawa bom molotov ke ruangan si Boss – tapi pakai senyum senyum manis sambil minta naik gaji. Hihihi ....

Tapi ada sih, beberapa hal yang menggelitik saya selama menonton My Stupid Boss.


  1. Sekampret apapun si Boss, sebenarnya doi masih punya hati. Lho, kok saya ngasih penyataan begini untuk seorang “Bossman Always Right”? Tanya saja sama Kakak Kerani, bagaimana dia tersentuh dengan kelakuan si Boss yang suatu ketika bikin perkara, saat Kakak Kerani sudah berniat resign. Nah, tonton filmnya dulu makanya.
  2. Di balik Boss yang super nyebelin, tersembunyi Istri Boss yang killer in sweet. Beneran deh. Saya jadi percaya kalau setiap orang yang sudah menikah akan berubah, lalu memunculkan karakter berbeda yang ... bisa jadi positif, bisa jadi juga nyebelin untuk lingkungan sekitarnya. Mungkin dulu Bossman belum paham bagaimana rasanya dimanjakan sama boss-nya ya. Atau ... jangan jangan istrinya doyan nuntut mulu, sampai akhirnya Bossman became a stingy man? Nah, tonton filmnya dulu makanya.
  3. Kekuatan mental adalah kunci kesuksesan. Ehm, kali ini saya mau sedikit agak sok bijak ala ala motivator. Sesungguhnya, orang yang akan sukses itu merupakan orang yang telah ditempa oleh banyaknya kesulitan yang menimbulkan rasa sebal, jengkel, bahkan sampai titik dimana dia ingin menyerah, tetapi malah nggak menyerah. Selain itu, akan dibutuhkan seorang pendukung yang walaupun nggak ikut terlibat langsung, tetapi nggak pernah absen untuk memberi support. Uhuk ... saya tiba-tiba mendapat motivasi ajaib ini setelah menikmati sajian My Stupid Boss. Nah, tonton filmnya dulu makanya.
  4. Banyak hal sederhana yang bisa kita tertawakan. Haduh, kalau poin yang ini, saya nggak tega nyeritainnya. Nah, tonton filmnya dulu makanya.

Ok than, lumayan ya, ada beberapa alasan seru yang bisa jadi poin-poin, kenapa saya akhirnya keluar dari studio dengan wajah merah sumringah, ditambah muka yang rasanya agak kaku, juga mendadak nggak pengen terlalu banyak ngoceh dan becanda sweet sama partner saya,  dan juga teman-teman saya yang menemani saya sore itu. Alasannya, saya capek ketawa.

Saya nggak terlalu mempedulikan seperti apa alur film ini. Bagaimana kerennya Reza Rahadian yang memerankan Bossman, Bunga Citra Lestari yang menjadi si Kakak Kerani, termasuk para pemain dari negeri jiran, Malaysia, ketika mengambil bagian seru dalam film ini. Mungkin, bagi kamu yang kritikus film, akan menanggapi dengan komedinya yang seru di awal lalu datar di tengah. Atau ... tone warna yang dipilih dalam setting cerita. Hmm ... sebagai pekerja kantoran yang menjadikan tontonan sebagai pelepas stress akibat kelakuan bos, atasan, bahkan rekan yang sesekali nyebelin tapi seringnya ngangenin, film ini asik banget.

Saya sedikit menyesal, kenapa saya menonton film ini di akhir pekan ya? Andaikan saya menonton film ini di hari senin, pulang kantor dengan kepala setengah berat akibat banyaknya kerjaan yang menuntut ini itu ... its will heal me i think.

Sebelum Nonton Sambil Nungguin Gengan yang Masih On the Way
image taken from Ari Keling's Facebook Personal Account


Btw, terima kasih banyak untuk teman-teman saya yang sudah menemani saya menonton film ini. Terima kasih untuk ketawa barengnya. Terima kasih untuk satu hari di akhir pekan yang kalian sempatkan untuk kita bercengkerama dan bersenang-senang dengan My Stupid Boss. Especially for my partner, terima kasih sudah menemani dan ikut larut serta berakrab-akrab sama teman-teman se-passion saya. Semoga kita semua selalu berbahagia dan mensyukuri pekerjaan apapun yang sedang kita jalani saat ini. YOSH.