Label

Rabu, 17 Agustus 2016

Ponorogo : Menikmati Senja di Balik Jendela

Dari Stasiun Madiun, gerimis mengajak saya bertemu dengan keluarga sahabat saya, Nurul Djanah – yang datang menjemput. Di boncengan sepeda motor Putri, gadis muda yang begitu ramah dan menyenangkan untuk saya tanya-tanyai ini, saya menikmati aroma tanah basah dan suasana perjalanan Madiun – Ponorogo. Terbersit rasa, betapa saya yang sudah lebih besar ini, nggak seberani Putri dalam menyikapi hidup. Di usianya yang sebelia itu, dia siap untuk mencari pekerjaan selepas sekolah. Sementara saya, apa? Lulus sekolah dulu, langsung berpikir mau kuliah ini di jurusan itu dan di kampus sana. Bahkan, saya semakin sadar, kalau pilihan hidup setiap orang berbeda, jadi ... buat apa banyak bicara tentang ‘yang seharusnya’ kan? Cukup dengar dan mengerti saja.

Setibanya di Ponorogo, matahari bersinar terik. Saya melewati waktu siang sambil berkenalan lagi dengan dua ponakan menggemaskannya Nurul Djanah, Keysha dan Fais. Ah, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dua bocah ini. Fais yang aktif dan Keysha yang menyenangkan. Dua bocah cerdas ini cepat sekali dekat dengan saya. Bicara dengan mereka, seolah menemukan sebuah taman rahasia yang dipenuhi banyak imajinasi. Hmm ... inilah salah satu hal yang membuat saya senang bicara dengan anak-anak. Ada dunia lain yang penuh warna, dunia yang bebas, dunia yang penuh semangat belajar. Keduanya menemani saya menunggu senja cantik di balik jendela.


Menikmati Senja di Balik Jendela Bersama Nurul, Fais, dan Keysha

Saya memang pencinta hiburan langit. Hmm ... maksud saya, langit ciptaan Allah SWT memang sering membuat saya terhenyak karena cantiknya. Menemukan langit senja pertama saya di Ponorogo sore itu, saya seolah menemukan sebuah tempat baru lagi untuk saya sebut ‘rumah’. Suara kodok di sawah yang mulai ribut bersahutan, di antara suara merdu muadzin dari masjid. Ah, diam diam saya kembali mengagumi Nurul Djanah, sahabat saya. Kesederhanaannya, persahabatan kami, walaupun begitu jarang kami jalan bareng, bertemu, ngobrol, tetapi saya selalu menemukan kualitas tersendiri pada waktu kami bisa sekedar duduk diam dan mengocehkan banyak hal.

Di Ponorogo, saya dibuat terkejut senja itu. Ketika memutuskan untuk ikut menjalankan shalat maghrib berjamaah di masjid, Nurul bercerita tentang “Ini masjid Muhammadiyah dan di sana ada masjid NU. Setiap orang akan datang ke masjidnya masing-masing.” dan seketika pikiran saya memunculkan begitu banyak tanda tanya, berseliweran sampai malam datang.

Ya ... masjid itu kan tempat ibadah umat muslim, kenapa sampai harus dibedakan seperti itu? Saya sering nggak mengerti, kenapa sampai harus betah tenggelam dalam dunia perbedaan lalu saling lantang beradu argumen tanpa membuka sedikit celah untuk mendengarkan, padahal sebenarnya kita sama ... sama-sama beragama Islam bukan? Seketika kata ‘kebersamaan’ yang selama ini sering saya ocehkan, menguap begitu saja. Semakin besar kini saya semakin tau, bahwa saling menghargai dan hidup dalam perbedaan itu mengajarkan banyak hal yang sebenarnya sulit dicerna, diterima, tetapi memang begitulah adanya.

Saya teringat cerita Maam Amber Ramah, guru saya saat mengambil kelas di salah satu tempat kursus bahasa asing, bahwa perbedaan suku bangsa dan budaya itu seperti bertemu dengan gunung es di samudra yang luas. Saya ... bahkan kamu – kita – bisa mempelajari bahasanya, kebiasaannya, cara berpakaiannya, selera makanannya, its mean ... segala hal yang bisa tampak dan dicoba oleh kita. Tetapi kalau sudah menyelam ke bawah laut dan menemukan betapa besarnya bongkahan es yang menetap di dasar samudra, mungkin kita akan terperangah. What the hell, hello? Pola pikir dan sudut pandang yang berbeda itu akan sulit sekali diikuti, apalagi kita juga sudah dibesarkan pada keluarga yang berbeda dengan cara dan aturan yang berbeda pula. So ... kunci agar segala sesuatunya bisa berjalan damai ya ... komunikasi dan saling mengerti.

Jadilah, apa yang saya lihat dan temukan senja itu, nggak perlu repot saya perdebatkan bukan? Setiap jiwa bebas saja memilih, ingin kemana dan menjadi apa. Toh sehomogen apapun suatu pola masyarakat di suatu tempat, akan selalu ada yang berbeda dari setiap keluarga yang tergabung di dalamnya, bukan? Inilah salah satu alasan saya, mengapa traveling selalu memberikan makna tersendiri, pelajaran yang lain, kemudian membuat saya semakin jatuh cinta dan ingin mengunjungi lebih banyak tempat lagi.


Senja pertama saya di Ponorogo, di Kota Reog, mengajarkan saya bahwa nggak ada perbedaan yang bisa dihindari, tetapi dinikmati dan coba dimengerti dengan saling bicara. Terima kasih untuk sahabat saya, Nurul Djanah, juga Keysha dan Fais serta adek Putri yang mengajarkan ... bahwa hidup hanya perlu dinikmati dengan syukur dan senang