Langsung ke konten utama

Kaleidoskop yang Dibawa Hujan

Pelataran Museum Nasional
(dokumen pribadi)

Jakarta. Kota yang lebih sering terasa panas, beberapa hari belakangan menjadi basah. Aku pecinta hujan, sehingga tiap kali hujan turun, ada syahdu yang selalu mampir ke benakku. Saat gerimis pun, seketika kurasa Jakarta menjadi kota yang paling cantik. Sekaligus ... menamparku dengan ... entah.



Setahun sudah aku tinggal di kota metropolitan ini, sendirian. Menghidupi diriku dengan bekerja keras di kantor. Kota ganas ini, selama 12 bulan, sudah mengajarkan aku tentang gegap gempita, kecepatan, berstrategi, sampai cara untuk mengangkat dagu jika tak ingin dikalahkan keadaan. Namun kadang aku sering merasa kehilangan diri. Dibandingkan keramaian, aku lebih mudah jatuh cinta pada kesunyian. Di antara rasa sepi, selah aku menemukan diriku sendiri. Lihat, betapa diam begitu kucandui.

Hujan yang mampir di pelataran Museum Nasional sore itu, meninggalkan rasa yang ingin terus bisa kunikmati. Menghadiri sebuah workshop kepenulisan dalam rangkaian acara Indonesian Reader Festival seorang diri, membuat aku menemukan bahwa diriku berbulan lalu sebetulnya bukan aku. Ramai. Ribut. Tak bisa diam. Semua ... mengacaukan aku. Setahun ini, aku bukan lagi Cha yang produktif menulis. Setahun ini, aku hanya menekan diriku sendiri dan berusaha tampak hebat padahal kalah. Aku kehilangan idealisme dan warnaku sendiri.

Ah ya, bahkan aku mulai tak rajin lagi menyimpan ide-ide dalam buku harianku. Sampai ... segala target itu hilang ditelan keseruan untuk bersenang-senang dan membuang waktu.

Hujan dari awan-awan Jakarta menepuk bahuku untuk kembali. Aku harus mengganti setiap waktu sia-sia itu. Hujan dan cantiknya Jakarta, seketika membawa pulang diriku yang dulu. Seseorang gadis yang lebih banyak menenggelamkan dirinya dalam sunyi malam, derasnya tetesan hujan di balik jendela, bahkan musik-musik instrumental memenangkan.

Tahun depan, aku ingin pulang. Kembali pada diriku yang tenang. Dalam kedalaman jiwa yang selalu haus pengalaman.

Museum Nasional
(dokumen pribadi)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.