Langsung ke konten utama

Postingan

I Know I Am In My Quarter Life Crisis ....

Mungkin saya sedang mengidap Quarter Life Crisis ....
Pikiran dan perasaan saya terjebak oleh berbagai macam problematika usia 20-an. Ya, I agree with ... being twenty something is hard. Kebetulan saya pernah membaca buku karya Dewi Pravitasari ini ketika usia saya masih belasan, belum punya KTP pula, tapi saya jadi terpikir buku ini lagi setelah bertahun-tahun. Quarter life crisis, suatu periode dimana seseorang mengalami kekhawatiran, rasa kacau, dan rasa ketidakpastian dalam hidupnya. Fase transisi menuju dewasa. Ok, I am in side it right now.

Kapan Ke Jepang? Kapan Bisa Main Ke Nikko?

Sudah berapa tahun ya saya memimpikan Jepang sebagai salah satu destinasi liburan yang ingin saya kunjungi dan sampai masuk ke dalam bucket list saya? Belum lagi saya yang jatuh cinta pada anime, J-Music, termasuk style fashion ala Negeri Sakura ini? Hmm ... andaikan saya boleh menghitung mundur, mungkin sejak saya pertama kali menonton serial Doraemon di Televisi saat masih kelas 1 Sekolah Dasar, sepertinya. Bagi saya, budaya Negeri Matahari terbit ini sangat menggoda. Bahkan saya sampai membaca beberapa novel berlatar sejarah Jepang, seperti Mawar Jepang karya Kei Kimura yang mengisahkan tentang seorang pilot kamikaze perempuan, The Last Concubine karya Lesley Downer tentang seorang selir terakhir sang shogun saat jepang mulai memasuki abad modern, bahkan sampai Sapporo no Niji karya penulis dalam negeri Hapsari Hanggarini yang mengisahkan kisah cinta modern gadis Indonesia dan seorang Nihon-jin berlatar Sapporo yang sejuk.

Catatan untuk Nona Muda tentang Masa Depan

Saat menuliskan postingan yang pertama di tahun 2016 ini, saya sedang mendengarkan nyanyian saya sendiri ... judulnya Mirai E (masa depan) ...yang saya rekam menggunakan aplikasi karaoke Smule, dan kemudian berhasil saya unduh dan saya simpan di smartphone saya sendiri dalam format mp3 dengan bantuan aplikasi VT View Source. Semua aplikasi ini saya temukan dalam Google Play Store lho.

Resolusi 2016 : Jangan Lupa Bahagia

Tahun ini, ternyata banyak sekali langkah besar yang berani saya ambil dalam kehidupan saya, alasannya ... karena saya hanya ingin membahagiakan diri saya sendiri. Usia dua puluhan membuat saya berpikir banyak, bahwa hidup bukan hanya tentang bersenang-senang, ceria, berisik, kemudian menghilang untuk menenangkan diri. Saya menemukan bahwa hal-hal terpenting di dunia ini bukanlah hanya tentang berpoin-poin target yang harus saya capai dalam setahun. Mungkin, jika dilihat mundur ke belakang, saya pernah begitu, memamerkan banyak sekali target saya ke khalayak luas tapi di akhir tahun malah nggak banyak terjadi perubahan dalam hidup saya. Ujung-ujungnya, hanya beberapa target terpenuhi, lalu saya kecewa dan sakit hati pada diri saya sendiri. Hasilnya, saya merasa nggak bahagia.

Camilan Pantai Ala Pangandaran

Sambil memutar lagu Judy & Mary – Kaze ni Fukarete, saya berpikir keras, apa lagi ya yang keren di Pangandaran? Tempat-tempat yang saya kunjungi rasanya sudah habis saya bahas, mulai dari Pantai Batu Hiu, Pantai Barat Pangandaran, Masjid Besar Al-Istiqomah Pangandaran, sampai Pantai Timur Pangandaran yang sunrise-nya cantik banget. Hmm ... bagaimana dengan camilannya?

Sunrise Perpisahan di Pantai Timur Pangandaran

Aroma pagi menyeruak, ketika Nurul Djanah membuka pintu kamar nomor 11 kami di Pondok Wisata Arwana, menaikkan mood saya. Matahari yang belum meninggi. Langit masih kebiruan dengan udara dingin pagi yang khas sekali. Ah, kalau boleh, rasanya saya ingin menari-nari. Tetapi suara seorang Ibu Penjual Nasi Kuning menghentikan saya. Aha, inilah menu sarapan pagi kami, sepertinya.

Pluviophile Petrichor Desember

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi di balik awan hitam Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini Menanti seperti pelangi setia menunggu hujan reda Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember Di bulan Desember -Efek Rumah Kaca-