Langsung ke konten utama

Postingan

The SpongeBob Movie : Sponge Out of Water

Khas-nya si kuning SpongeBob Squarepants dan kolega-koleganya, sering bikin saya bingung. Kalau untuk serial-nya di televisi, lucu memang ... kadang. Lebay memang ... sangat. Tapi memang ada beberapa scene yang membuat saya terbahak. Sayangnya, hanya di awal cerita.

Selamat 5 Tahun Fiksimini

Tahun lalu, pertama kalinya, aku mengenal komunitas fiksi mini ini dari Kak @cahaya_sore dan langsung tergoda untuk menantang diriku sendiri. Bisa nggak sih aku menulis fiksimini? Sampai dimana sih kemampuan imajinasiku? Apalagi kisah yang harus dibangun hanya dengan modal 140 karakter. Aih makkk, untuk bisa dapat RT dari account @fiksimini ini jujur saja … dari sekian kali mencoba, aku baru beberapa kali dapat RT. Raeasanya itu … OMG! Bikin makin pengen mencoba terus dan ketagihan. Belum lagi karena banyaknya sosok kreatif nan famous yang ikut berseliweran menuliskan karya fiksimini mereka.

I Run to the Golden Sunset

Di Dataran Tinggi Dieng, sepanjang hari yang kutemui hanya mendung yang memberat di langitnya, tetesan gerimis yang jatuh, serta kabut yang datang lebih cepat. Kupikir, aku mengunjungi istana para dewa dewi di saat yang kurang tepat. Impian untuk melihat golden sunrise dari Sikunir, nggak kesampaian. Rasanya ada yang kurang memang, tetapi waktu libur akhir tahun Icha yang nggak terlalu panjang, memaksa kami untuk lekas meninggalkan Dieng. Membuat kami harus merasa puas, walaupun pulang tanpa disuguhi pertunjukan utama.

Bu Djono-nya Dieng

Aku menemukan referensi penginapan ini dari internet. Banyak sekali pelancong yang merekomendasikannya, selain karena harganya yang murah sesuai kantong backpacker tapi juga karena tempatnya yang bersih. Benar, tempatnya memang cukup nyaman. Walaupun saat itu aku dan Icha menempati sebuah kamar single bed, dan memilih untuk menggunakan satu kamar mandi bersama dengan tamu lainnya, rasanya cukup menyenangkan.

Menyapa Lima Pandawa

Sore terakhir di Dieng, Pak Ardi hanya sebentar saja mengajak kami mengunjungi kabupaten Banjarnegara. Kabut yang perlahan turun, memaksa kami untuk nggak bisa berlama-lama menikmati Museum Kailasa dan Komplek Candi Arjuna. Lagipula, pukul setengah empat sore kala itu, gerimis ikut-ikutan turun bersamaan dengan kabut yang menebal. Khawatir kondisi fisik kami menurun akibat jaket yang kami kenakan nggak terlalu tebal, akhirnya kami memutuskan untuk segera kembali ke penginapan.

Aku dan #ceritaku

Cepat sekali, padahal aku baru mengirimkan #ceritaku pada Leutika Prio di tanggal 4 Februari, tapi sudah dijadikan kultweet semalam. Aku senang, karena account Twiter-ku kembali ramai setelah lama banget nggak ada yang mention, kecuali tawaran nggak jelas juga iklan yang sepertinya dilayangkan oleh account robot.Terlebih, karena kisahku yang dibagi oleh si Leu, miminnya LeutikaPrio. Nah, berikut materi yang kukirimkan pada #ceritaku Leutika Prio ....

Asap dari Sikidang

Sudah kubilang kan, kalau aku ini penakut. Aku sering kehilangan ekspresi saat harus berada begitu dekat dengan sesuatu yang kuanggap membahayakan. Aku ini bukan gadis yang senang difoto juga, sehingga koleksi poseku juga seadanya.
Tetapi sesampainya di Kawah Sikidang, guide kami dan tentunya juga Icha, memaksaku untuk memberanikan diri berada lebih dekat dengan mulut kawah. Jelas sekali aku mendengan suara air belerang yang meletup-letup dalam kawah, juga asapnya yang mengebul ke udara dibawa angin, hingga membuat mataku sedikit perih. Berapa derajat panasnya air kawah ini? Ah, aku merinding. Apalagi, menurut keduanya, untuk mendapatkan hasil foto yang keren, aku harus melompati pagar batas aman kawah dan tersenyumlah di depan kepungan asap yang menjajah udara. Aish ... berhasil juga paksaan mereka.