Postingan

Menyapa Lima Pandawa

Gambar
Sore terakhir di Dieng, Pak Ardi hanya sebentar saja mengajak kami mengunjungi kabupaten Banjarnegara. Kabut yang perlahan turun, memaksa kami untuk nggak bisa berlama-lama menikmati Museum Kailasa dan Komplek Candi Arjuna. Lagipula, pukul setengah empat sore kala itu, gerimis ikut-ikutan turun bersamaan dengan kabut yang menebal. Khawatir kondisi fisik kami menurun akibat jaket yang kami kenakan nggak terlalu tebal, akhirnya kami memutuskan untuk segera kembali ke penginapan.

Aku dan #ceritaku

                Cepat sekali, padahal aku baru mengirimkan #ceritaku pada Leutika Prio di tanggal 4 Februari, tapi sudah dijadikan kultweet semalam. Aku senang, karena account Twiter-ku kembali ramai setelah lama banget nggak ada yang mention, kecuali tawaran nggak jelas juga iklan yang sepertinya dilayangkan oleh account robot.   Terlebih, karena kisahku yang dibagi oleh si Leu, miminnya LeutikaPrio.                 Nah, berikut materi yang kukirimkan pada #ceritaku Leutika Prio ....

Asap dari Sikidang

Gambar
Sudah kubilang kan, kalau aku ini penakut. Aku sering kehilangan ekspresi saat harus berada begitu dekat dengan sesuatu yang kuanggap membahayakan. Aku ini bukan gadis yang senang difoto juga, sehingga koleksi poseku juga seadanya.                  Tetapi sesampainya di Kawah Sikidang, guide kami dan tentunya juga Icha, memaksaku untuk memberanikan diri berada lebih dekat dengan mulut kawah. Jelas sekali aku mendengan suara air belerang yang meletup-letup dalam kawah, juga asapnya yang mengebul ke udara dibawa angin, hingga membuat mataku sedikit perih. Berapa derajat panasnya air kawah ini? Ah, aku merinding. Apalagi, menurut keduanya, untuk mendapatkan hasil foto yang keren, aku harus melompati pagar batas aman kawah dan tersenyumlah di depan kepungan asap yang menjajah udara. Aish ... berhasil juga paksaan mereka.

Telaga, Goa, dan Doa

Gambar
Menyambangi telaga warna dari dekat. Membiarkan penciumanku dihinggapi aroma telur busuk khas aroma Belerang. Mendapati udara yang sebenarnya dingin, namun matahari begitu tinggi di atas langit. Gerimis yang sesekali turun, tak membubarkan orang-orang yang datang dari berbagai tempat untuk mengunjungi telaga ini, sekedar memuaskan hasrat berpose mereka.                  Berada di tepian telaga, tanah lembab becek yang kupijak terasa begitu menggoda. Dengan berpegangan pada batang pohon yang berlumut, aku terus mendekati tepian. Pada dasarnya, aku ini penakut. Ketika Icha mengajakku berpose di batang kayu yang setengahnya terendam di telaga, aku menolak. Alasan lainnya, karena aku kurang terlalu senang di foto dan bergaya macam-macam, sebaliknya aku lebih suka mengatur orang untuk berpose di tempat dan dengan gaya yang kumau. Parah sekali.

Telaga Warna Dari Bukit Ratapan

Gambar
Pertama kali aku menyambangi Telaga Warna, bukan dengan mendekatinya, tetapi menikmati keindahannya dari atas bukit Ratapan, di dalam Wana Wisata Petak 9 Dieng. Bunga Pancawarna yang tumbuh di tepi jalur trekking memancing senyumku. Mahkota bunganya yang bergerombol, tampak gemuk dengan warnanya yang putih bersih. Bunga ini mengingatkan kalau sekarang aku benar-benar berada di alam, dan sadar betul kalau modal backpacker-an kali ini cuma nekat. Aku nggak banyak berolahraga dan kurang tidur.

MERRY RIANA

Gambar
dokumen pribadi Jujur boleh ya? Aku belum pernah baca bukunya Mba Merry Riana, cuma ... pernah megang-megang aja sih di toko buku tapi nggak pernah bisa beli. Jadi, aku menonton film ini dalam keadaan blank dan belum punya ekspektasi apapun. 

Menuju Tanah Dieng

Gambar
Terminal Mendolo ( Dokumen Pribadi ) Bus Sinar Jaya yang membawaku dari Depok, pukul 5 pagi terparkir di pemberhentian akhirnya, Terminal Mendolo, Wonosobo. Lengang. Sepagian itu hanya aku, Icha, dan seorang pemuda yang turun di pemberhentian terakhir ini.