Langsung ke konten utama

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok


Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.

Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….



“Papa mau kemana?” tanya saya bingung, saat Papa memilih menepi lalu turun dari mobil. Langkah Papa tegas menuju ke sebuah warung beratap daun Enau yang tak jauh dari sana. Mengobrol sesaat dengan para bapak bapak bersarung, kemudian membawa sebuah botol besar berisi air yang berwarna keruh namun beraroma manis. Tuwak Manis, namanya.

Jangan pikir kalau Tuwak Manis yang Papa saya beli di tengah malam larut, ditambah … didapatnya di tepi hutan Pusuk pula, merupakan minuman beralkohol, seperti yang kebanyakan orang pikirkan saat mendengar kata Tuwak. Minuman Tuwak Manis ini adalah air nira yang baru saja disadap dari pohon Enau yang ada di sekitar tepi hutan lindung Gunungsari. Aroma dan rasanya manis. Paling nikmat diminum dalam keadaan dingin, atau di pagi hari. Namun, agar minuman ini tidak segera terfermentasi dan berubah menjadi minuman beralkohol, perlakuan yang perlu dilakukan adalah segera memasukkannya ke dalam lemari es.

Ingatan inilah yang akan saya kisahkan lebih panjang dalam tulisan saya kali ini. Tentang Tuwak Manis yang punya andil besar pada perjalanan karir Papa saya, saat dulu bertugas sebagai dosen pembimbing untuk praktik kerja lapangan mahasiswa Universitas Mataram pada era akhir tahun 90-an. Papa menjadi salah satu sosok berkembangnya ekonomi masyarakat di sekitar tepian hutan lindung Gunungsari, dengan mengembangkan salah satu pangan dari hutan yang mudah sekali didapatkan di sana, namun dulu, selain jadi Tuwak Manis maupun Tuwak beralkohol, hanya dimanfaatkan buah Kolangkaling-nya, pun air nira-nya dijadikan gula cakep yang kurang tahan lama jika disimpan.
 
Pohon Enau penghasil Air Nira
(image via pixabay)

Berkenalan dengan Pohon Enau
Pohon Enau, atau dikenal pula dengan sebutan Pohon Aren merupakan tanaman serbaguna. Pohon Enau cukup besar, dengan tinggi sekitar 25 m, dan berdiameter kurang lebih 65 cm. Batang pohonnya kokoh, dengan bagian atasnya yang diselubungi warna kehitaman dari pelepah daun yang disebut dengan Ijuk. Bentukan daunnya majemuk menyirip, persis menyerupai daun kelapa.

Tanaman Enau ini berumah satu. Bunga-bunga jantan terpisah dengan bunga betina dalam tongkol yang berbeda, dan muncul pada ketiak daun sebagai untaian buah buni yang tidak dapat dikonsumsi langsung sebab getahnya bisa membuat gatal. Buah inilah yang kelak setelah diolah sedemikian rupa, menjadi Kolangkaling.

Air nira dari Pohon Enau, diperoleh dengan menyadap tandan bunga jantan yang mulai mekar dan menghamburkan serbuk sari berwarna kuning. Tandan ini mula-mula dimemarkan dengan dipukul selama beberapa hari, hingga keluar cairan dari dalamnya. Tandan kemudian dipotong dan pada ujungnya digantungkan tabung bambu untuk menampung nira. Sebab si air nira ini kurang tahan lama, maka perlu diambil dua kali sehari, saat pagi dan sore, lalu segera diolah menjadi gula.

Bukan hanya buah dan air nira saja, tetapi bagian ijuknya sering dijadikan sebagai sapu, sementara daunnya bisa dijadikan atap, seperti yang nampak pada warung pinggir jalan di tepi jalan Pusuk malam itu. Belum lagi batangnya yang diolah menjadi serupa sagu untuk bahan pangan masyarakat. Sementara, jika Pohon Enau ini mati, kembali batangnya akan dimanfaatkan sebagai kayu untuk bangunan tempat tinggal.

Pohon Enau inilah yang banyak ditemui pada daerah tepian hutan yang berbatasan langsung dengan Gunung Rinjani, tumbuh liar di kawasan hutan lindung, di bibir tebing, sekitar tepian sungai, termasuk pada kebun-kebun masyarakat di Desa Pusuk Lestari, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Papa berujar kalau sewaktu kecil, pernah mengajak saya ke sana, sepanjang melakukan pembinaan masyarakat pun membimbing para mahasiswanya. Sejujurnya, saya sedikit lupa, namun saya ingat sekali kalau saya selalu bahagia jika diberi sebongkah kecil briket aren yang akan saya emut persis seperti makan permen.
 
Papa bersama Tetua Adat Desa Pusuk, Gunungsari pada akhir 90an
(dokumen pribadi DR Ir. Abubakar Ahmad, MP)

Mengolah Air Nira Menjadi Briket Aren
Awalnya masyarakat Desa Pusuk hanya mengolah air nira menjadi gula cakep, sebab hanya cukup direbus hingga mengental saja, lalu dicetak pada cetakan tempurung kelapa. Lebih mudah dan tak menghabiskan cukup banyak waktu dalam pengolahannya. Sayangnya, gula cakep dihargai rendah sebab seperti yang saya sebutkan pada beberapa paragraf di atas tadi, gula cakep ini cepat sekali rusak.
 
Nira diolah menjadi Briket Aren
(dokumen pribadi DR Ir Abubakar Ahmad, MP)

Atau, menjual Tuwak Manis dalam botol botol air mineral berukuran besar, seperti yang malam itu Papa saya beli. Sayangnya, air nira yang terlalu lama dibiarkan pada udara bebas dengan suhu hangat seperti di Lombok, akan segera terfermentasi alami menjadi cuka, lalu lama kelamaan menjadi Tuwak beralkohol setelah beberapa hari.
 
Makasiswa Universitar Mataram era 90an mengolah briket aren
(dokumen pribadi DR Ir Abubakar Ahmad, MP)
Mahasiswa Universitan Mataram PKL di Desa Pusuk, Gunungsari
(dokumen pribadi DR Ir Abubakar Ahmad, MP)

Kemudian, entah bagaimana cerita detailnya, Papa dengan beberapa dosen, membawa mahasiswa bimbingan mereka ke Desa Pusuk Lestari, Gunungsari ini. Papa mengujicobakan pembuatan briket aren, dengan alat cetak briket yang bentuknya mirip papan tebal dengan lubang-lubang kecilnya. 

Penggunaan Alat Cetak Briket Aren
(dokumen pribadi DR Ir Abubakar Ahmad, MP)

Setelah si briket aren mengeras, papan tadi akan ditutup dengan sisi lainnya yang dipenuhi oleh kayu-kayu bulat kecil untuk mendorong briket aren keluar dari cetakan. Cukup dijemur sebentar di bawah matahari, briket aren bisa langsung dibungkus rapi. Sengaja dibungkus dengan plastik tebal lalu di-pres sehingga udara tidak terlalu banyak berada di dalam plastik, dan membuat briket aren menjadi tahan lama.



Kandungan Nutrisi Dari Gula Aren
Gula Aren dianggap lebih baik dibandingkan dengan gula pasir, sebab mwmiliki indeks glikemik yang terbilang rendah. Saat mengonsumsi gula aren, kadar gula tak lekas mengalami kenaikan, seperti ketika mengonsumsi gula pasir. Gula aren juga mengandung kalium yang membantu mengendalikan tekanan darah, walau tidak disarankan untuk mendapatkan manfaat kalium hanya dengan mengonsumsi gula aren saja. Belum lagi kalium tadi bermanfaat untuk menjaga kesehatan tulang. Terakhir, mengonsumsi gula aren akan tetap menjaga berat badan ideal, sebab kandungan kalorinya yang lebih rendah dibandingkan dengan gula pasir. Namun, kembali lagi, sebaiknya mengonsumsi gula aren dalam jumlah yang cukup saja ya.



Olahan Lezat Dengan Campuran Gula Aren
Duh, kalau sudah masuk di bagian ini, saya jadi kangen Mama, ingin sekali pulang ke rumah untuk merengek dibuatkan camilan dan makanan yang salah satu campurannya menggunakan briket gula aren.

Bentuk bongkahan briket aren yang kecil-kecil inilah yang sering diolah oleh Mama saya menjadi Kolak Pisang favorit saya sedari kecil. Atau dilelehkan sebagai cocolan untuk Singkong Rebus. Mantap sekali rasanya. Sesekali saya pun iseng mencampurnya dengan teh hangat, atau air perasan lemon saat tenggorokan saya sedang terasa kurang nyaman. Rasa manis yang selalu saya rindukan, dan saya cari setiap punya kesempatan pulang ke Kota Mataram, Lombok.

Belum lagi kalau diolah menjadi Klepon. Hmm … saat digigit, blasss, gula aren yang sudah mencair, meleleh memenuhi dengan rasa yang manis, berpadu dengan gurihnya parutan kelapa. Belum lagi kalau  dijadikan campuran dari Bolu dengan taburan bubuk cokelat di atasnya. Ehm … jangan ditanya, seberapa lekas saya akan memasukkannya ke dalam mulut. Pun belakangan ini, muncul minuman boba dengan campuran gula aren. Manisnya sangat saya sukai.

Pada akhirnya, Pohon Enau dengan segala manfaatnya yang turut menemani perjalanan karir Papa saya sebagai dosen, bukan hanya membuat masyarakat menikmati rejeki yang lebih baik setelah dijadikan sebagai briket aren. Di balik itu semua, ekonomi keluarga kami turut menanjak, seiring penelitian dari Pohon Enau yang Papa saya lakukan dulu.  Sungguh Allah SWT begitu Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, menghadirkan tanaman Enau dengan berjuta berkahnya untuk kehidupan.

Pohon Enau ini juga merupakan salah satu tanaman konservasi, sehingga semangat dalam menjaga keberlangsungan dari terjaganya lingkungan hidup oleh masyarakat sekitar hutan lindung yang digalakan oleh WALHI turut diamalkan pula di sini. Pohon Enau tumbuh di lahan milik masyarakat maupun kawasan hutan secara alami dan memang dibiarkan tumbuh, bahkan dirawat oleh masyarakat, sebab manfaat ekonominya yang cukup tinggi. Penyebaran bibit Pohon Enau pun  dibantu oleh binatang pemakan buah, sehingga tumbuh menyebar di tepian hutan hingga ke dalam hutan lindung sekitar Gunung Rinjani. Sungguh keberadaannya menjadi berkah bagi alam dan masyarakat di sekitarnya.

Nah, jika kamu sedang mampir ke Lombok dan melewati kawasan Pusuk menuju pelabuhan Bangsal untuk berkunjung ke Gili Terawangan, mampirlah sebentar untuk mencicipi Tuwak Manis dan membeli briket aren di sana ya. Kamu pun bisa membawa serta buah-buahan lokal hasil kebun masyarakat yang biasa dijajakan di sepanjang jalan Pusuk arah Monkey Forest.


Komentar

  1. Akupun suka sekali olahan camilan dengan gula aren❤️ hebat sekali papanya ka Acha 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Semoga jadi amal jariyah Papa ku. Beliau mau coba kembangin hal yang sama nih di Cianjur, karena udah pindah tugas di Universitas Singaperbangsa Karawang. Semoga DIKTI memudahkan tujuannya mengembangkan masyarakat. Doakan ya Teh.

      Hapus
  2. potensi daerah memang hrs dikembangkan ya

    BalasHapus
  3. Waahh, dari hutan banyak dihasilkan Sumber Daya Alam yg luar biasa.
    Banggaaaa banget jadi warga Indonesia :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget. Indonesia ini kaya banget hasil hutannya.

      Hapus
  4. Aih kerennya papanya ya Mbak...berhasil menjadi orang yg berjasa dalam berkembangnya ekonomi masyarakat di sekitar tepian hutan lindung Gunungsari. Keren ah, hutan sebagai sumber pangan memang wajib kita lestarikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget. Banyak rejeki dari Allah SWT yang sudah diberikan kepada kita, salah satunya melalui hutan.

      Hapus
  5. Nah setuju tuwak pangan hutan..dan aku pikir tuak hanya ada di sumut selama ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada dimana-mana Mba. Di Cianjur Jawa Barat pun ada. Rencananya Papa ku mau penelitian lagi ke sana nih.

      Hapus
  6. Mesti dicatat ini..mampir buat beli briket aren, tuwak manis dan buah-buahan...wah, hasil hutan memang menggiurkan ya. Segar dan membawa manfaat untuk masyarakat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga beneran bisa mampir ya Mba. Ada banyak pengalaman seru kalau wisata ke Lombok, karena Lombok bukan cuma tentang pantai dan gili.

      Hapus
  7. Hiks jadi ingat sering makan asinan di Sukabumi pakai cuka aren
    Dan itu enak pisan
    Lebih enak dibanding pakai cuka pabrikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak banget emang Mba. Segar segar manis enak gimanaaaa gitu ya. Ngangenin ya. Udah lama juga nih saya nggak makan asinan buah pakai cuka aren.

      Hapus
  8. Wahh baca ini jadi kangen Mataram, kota kelahiranku. Mbak Cha juga pernah tinggal di Lombok ya :)
    Tapi aku belum pernah masuk-masuk sampai daerah Pusuk sana sepertinya. Atau aku mungkin sudah lupa ya karena masih kecil banget waktu itu.
    Gula aren memang berbeda dan harganya juga lebih mahal dari gula pasir & gula merah biasa. Tampilannya juga kekuningan, lebih cantik daripd gula merah yg pekat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Mba Hastin, berarti kita lahir di kota yang sama lho Mba.

      Saya juga pindah ke Bogor setelah jelang remaja. Masa kecil di sana, sering nggak eungeuh tempat dulu Pas ada kesempatan pulang ke sana baru mulai diperkenalkan lagi tentang Lombok sama orangtua.

      Hapus
  9. Sekarang ini industri kuliner kelihatannya sedang menggalakkan konsumsi gula aren sebagai pengganti gula pasir karena diklaim lebih sehat. Di jaman yang penyakit begitu mudah berdatangan begini, upaya pencegahan melalui perubahan pola hidup dan makanan memang patut dimulai. Sayangnya, kabarnya banyak gula aren yang nggak murni jadi mesti hati-hati saat membeli.

    Untuk membedakannya gimana ya, Kak? Kan sayang kalau sudah niat beralih ke gula aren tapi ternyata tetap saja mengandung gula pasir. Aku buta nih soal penampakan gula aren yang asli. Satu lagi ditemukan sumber pangan dari hutan yang menyehatkan ya, Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Umm, sepertinya agak unik ya kalau embuatan dicampurkan dengan gula pasir. Mungkin kalau mau benar benar terpercaya, seperti yang keluarga kami lakukan, kami terbiasa membeli langsung dari pembuatnya.

      Atau bisa juga dengan membli produk yang sudah memiliki merk lokal, semisal briket aren atau gula semut yang juga sama sama terbuat dari air nira, namun bentukannya berbeda.

      Hapus
  10. Hasil pangan dari hutan nyatanya banyak sekali ya mbak ragamnya, unik dan kaya manfaat pula, btw aku juga suka makan briket aren. Dulu kakakku suka bawain kalau pulang dari rantau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diemut-emut seperti permen kayak saya waktu kecil nggak nih Mba? hihihi.

      Hapus
  11. Ini di Jimbaran juga dikembangkan mba, gula aren. Duh, kalo sekiranya habitat enau ini dijaga, kita gak perlu impar impor gula yaaa. Apalagi gula rafinasi. Banyak kok sumber bahan pangan, khususnya pemanis yg bisa diolah di negara kita. Lombok kereeen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali. Semoga produk dan produksinya makin baik dan dikenal masyarakat lebih luas. UMKM yang memproduksinya juga makin terpercaya, sehingga kita -- termasuk masyarakat Indonesia secara lebih luas -- percaya pada produk hasil olahan dan produksi dalam negeri.

      Hapus
  12. Masya Allah Gula Aren gitu ya prosesnya. Aku pernah ke rumah ARTku yang keluarganya membuat gula aren dan dicetak gitu. Seru banget melihat prosesnya. Mantap ini informasinya lengkap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru banget memang Mba Naqi. Semoga apa yang diusahakan sama keluarga ART-nya Mba, makin berkembang.

      Hapus
  13. Hihi.. Kebayang horornya ya mbak saat tengah malam pula. BTW gula aren ini bagus buat dikonsumsi. Harganya memang lebih mahal.. Bagi yang diet pun masih amanlah asal jangan dicemilin cem Permen.. 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha padahal saya termasuk yang suka ngemil gula aren ini tapu nggak sering sih sesekali doang abisnya manis hehe

      Hapus
    2. Hihihi saya nih dulu. Tapi semakin besar, paham juga kalo kebanyakan nyemilimn gula aren juga nggak bagus.

      Iya Mba. Sepi. Lengang. Duh, Papaku memang.

      Hapus
  14. Di bali kemarin juga ada Tuwak, tapi aku ga minum wkwkwk
    aduh Lombok, kemarin padahal udah di Padang Bai tinggal nyeberang doang sampe Lombok
    tapi belum ada kesempatan semoga lain kali aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ada kesempatan.

      Kayaknya kalo di Bali, setauku, difermentasi dulu, jadinya mengandung alkohol, dan kalau sudah begitu ya nggak kuminum juga Nyi. Kalau masih baru, ya segar, belum terfermentasi. Makanya treatment-nya ya buru buru disimpan di lemari es. Kalau telat, tamat sudah.

      Hapus
  15. Kalau disana murah ya, tapi kalau udah jatuh ke pasar di Jakarta harganya lumayan mahal juga mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba.Makanya kalau berkunjung ke sana, atau daerah penghasil gula aren lainnya, lebih baik beli dan dibawa sebagai oleh-oleh. Kalau saya ya Mba.

      Hapus
  16. Bangga banget ya mba punya ayah, sebagai salah satu dosen yang mengembangkan gula cakep menjadi briket aren. Mau donk pas jalan-jalan ke Lombok singgah minum tuak manis dan beli oleh-oleh briket arennya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Papa saya sudah pindah tugas ke kampus yang di Karawang nih. Beliau berencana kembangkan hal yang sama di daerah Cianjur, dan semoga dapat dana pengembangan masyarakat dari DIKTI seperti semasa kecil saya dulu. Mungkin kita jadi bisa lebih dekat nih jalan-jalannya.

      Hapus
  17. Sumber pangan yang berasal dari hutan ini memang banyak banget ya mbak dan khasiatnya juga tak kalah banyak seperti pohon Enau ini yang bisa menghasilkan gula aren yang terbukti lebih 'sehat' ketimbang gula pasir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Banyak sekali sampai nggak semuanya kita tahu banget banget.

      Hapus
    2. Iya ya tapi setidaknya dengan mengetahui betapa kayanya hutan Indonesia ini kita bisa memanfaatkannya ya dan punya kesadaran untuk merawat dan melestarikannya

      Hapus
  18. Wuahhh menarik euy cerita papanya. Saya sering nih lewat jalur Pusuk kalau ke Lombok Utara. Apalagi dulu sewaktu suami kerja di Gili Air. Mesti jalurnya menantang, asyiknya lewat pusuk ini yaa karena udaranya segar dan sejuk banget. Namanya juga hutan ya kan. Dan benar, sepanjang jalan ada banyak penjual tuak manis di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba. Kalau nggak salah, sampai ada festival minum Tuwak Manis deh sekitar entah awal tahun ini atau sekitar akhir tahun lalu.

      Hapus
  19. Saya juga lebih suka rasa gula aren ini dibandingkan gula lainnya. Tapi memang secara harga lebih lumayan juga ya mb, hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Mungkin karena pengembangan dan produksinya masih skala kecil dan menengah kali ya. Pun belum terlalu hits untuk penggunaan kita sehari-hari.

      Hapus
  20. Hutan memang sumber pangan yang menakjubkan ya. Berbagai komoditas ada di sana. Jadinya sedih kalo hutan semakin berkurang dari tahun ke tahun. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Btw, aku dulu sering juga nih minum air enaw langsung gitu. Yang disimpen di bambu panjang. Dulu malah suka ada tukang yang keliling kampung. Sekarang udah gak ada. Tapi di kampung deket gunung masih ada. Enak ya seger.

      Hapus
    2. Nah yang di kampung itu, kebetulan punya sodara. Kalo lebaran suka sowan ke sana. Sering disuguhi minuman enau ini. Enak, seger.

      Hapus
    3. Wah seru banget. Sampai ada yang menjajakkannya keliling kampung begini. Pengalaman yang menarik sekali.

      Segar memang ya Mba. Manis manis gimanaaaa gitu. Kalau dingin lebih enak lagi.

      Hapus
  21. Aku juga suka olahan dari gula aren mbak. Soalnya enak-enak plus lebih sehat dibandingkan gula tebu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi kalau kebanyakan nampaknya sama saja ya Mba. Jadi secukupna deh ya. Hihihi.

      Hapus
  22. Enau di Buton juga banyak, dulu di Minahasa juga sering minum, eh itu bukannya Legen ya kalau di Jawa?

    Sayangnya untuk di Buton, justru orang lebih suka dibuat tuak, terus mabuk-mabukan, duh.

    hanya sedikit yang mau bikin gula aren :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi dapat stigma negatif dong ya air nira di sana, karena hanya dijadikan sebagai tuwak saja. Duh duh. sayang sekali.

      Hapus
  23. Ternyata nama Gunungsari itu dari Lombok ya. Masya Allah papanya Cha rupanya pelopor dalam hal pengolahan aren di sana, ya. MOga berkah terus bagi beliau dan masyarakat di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. In syaa Allah. Terima kasih banyak doanya, Bunda Niar.

      Hapus
  24. Saya di Cianjur Selatan masih punya tanaman aren, atau disini disebut Kawung. Kami maish mengolahnya menjadi gula merah. Alhamdulillah meski sudah modern tapi saya masih berkutat dengan kebiasaan ortu jaman dulu ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, Teh, kebetulan Papaku sekarang tugasnya di kampus Karawang. Lagi menyasar daerah Cianjur untuk mengembangkan pembuatan briket aren dan gula semut du sana. Doakan dapat dana dari DIKRTI dan lancar perjalanan projeknya. Mana tau aku bisa ikut menemani dan ketemuan sama teh Okti. Aamiin.

      Hapus
  25. MasyaAllah inspiratif sekali ayah kak Acha. Semoga apa yang beliau lakukan menjadi amal jariyah ya Mba karena ikut mengembangkan potensi daerah di sana.

    BalasHapus
  26. Belakangan makai gula aren untuk bikin kopi. Hehe. Senang deh baca tulisan ini mba jadi bisa tahu juga ttg aren :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga sudah mampir ke mari Mba Alida.

      Hapus
  27. Wah, mantep nih Papanya bisa mengembangkan potensi dari suatu wilayah, ikut bangga deh. Gula aren kayaknya sekarang juga lagi naik daun. Kebanyakan kopi kekinian banyak yang pake gula aren menggantikan gula putih, kayaknya prospek ke depan dari gula ini bakal mantep deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kelihatannya demikian nih. Mudah mudahan ya. Mana tau jadi komoditas ekspor untuk Indonesia. Saya turut berdoa untuk hal ini, agar para masyarakat yang tinggal di tepian hutan, punya penghasilan yang lebih baik. Tapi semoga penanganannya pun baik ya, biar nggak merugikan lingkungan dan juga masyarakat sekitar kawasan hutan.

      Hapus
  28. Seneng banget pasti jadi mahasiswa bimbingan papah mu mba, bisa mengunjungi langsung Desa Pusuk Lestari untuk uji coba briket aren. Anyway kolak pisang selalu menjadi favorit ku tuh mba hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaan dong, Cuma kalau saya, sukanya Kolak Pisang yang dingin. Enak manis segar mengenyangkan.

      Hapus
  29. Terharu bacanya, amal jariyah buat papanya, Mba

    BalasHapus
  30. Menarik banget mba. Ibu saya selalu sedia gula aren di rumah dan biasanya saya jadikan bekal buat naik gunung. Sekarang jadi tahu seluk beluk si gula aren ini. Anyway bangga dengan papamu ❤️❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak Mba.

      Iya banget. Pengganti cokelat ya kalau lagi naik gunung. Cepat me-recovery tenaga kita sepanjang mendaki.

      Hapus
  31. Memorable banget ya mba kebersamaannya dengan pohon enau. Semoga gula aren makin trend di kemudian hari, karena potensinya yang sebenarnya lebih baik daripada gula tebu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga dikembangkan dengan cara yang lebih menjaga potensi daerah dan nggak terlalu membabi buta hanya demi kapitalisme semata ya. Biar hutan tetap terjaga.

      Hapus
  32. Ceritanye keren dan baca ulang gak nyesal hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sudah dua kali mampir ya Mba Uli.

      Hapus
  33. Sekarang gula aren selalu jadi favorit ya, karena dibeberapa jajanan yang aku beli selalu menggunakan gula aren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, kelihatannya gula aren ini makin hits saja.

      Hapus
  34. Luar biasa enau ini ya, semua bagian tubuhnya bisa dijadikan hal yang berguna. Katanya kelebihan gula aren itu bisa lebih tahan lama ya dibandingkan dengan gula kelapa ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergantung pengemasannya deh sepengetahuan aku, Bang Aip.

      Kalau dikenas dengan daun kering juga, nampaknya sama. Makanya dibuat briket aren, agar pertama, lebih cepat mengering, dan bisa dibungkus lebih rapi dalam plastik bebas udara. Eh, apa ya istilahnya, setau saya, dulu Papa dan tim membungkusnya dalam plastik kedap udara dan di pres, biar lebih awet.

      Hapus
  35. Aku baru tau aku kalau air nira bisa cepat berfermentasi. Aku juga baru tau tentang gula aren ini terbuat dari enau. Thanks infonya ya mbak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama Mba Iren, Semoga bermanfaat info ini ya.

      Hapus
  36. Gula aren ini skrg lagi hits..
    Banyak minuman yg pake gula aren..
    Aku pun skrg di rumah juga suka pake gula aren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga terus hits dan mana tau jadi salah satu komoditas ekspor Indonesia ya.

      Hapus
  37. Aku suka gula aren apalagi kalo di cinnamon roll kak. Enaaak banget. Sekarang lagi happening ya gula aren ini karena boba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, kan jadi kepengen ngemil cinnamon roll juga deh.

      Hapus
  38. Wah ternyata banyak banget manfaat dari Pohon Enau. Selain bisa dijadikan atap, ternyata bisa jadi Gula Aren juga yaah hahah. Baru tau aku hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bang Ipul.

      Hapus
  39. sudah menahun berarti ini ya kak dari generasi lama, di lombok ya? Gula aren skrg juga bukan hanya di minuman boba aja kak tapi di kopi juga, rasanya memang jadi beda dibanding sama gula biasa, dicocol makanan spt klepon atau olahan singkong juga enak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget, apalagi singkong rebus, waw banget rasanya pas masuk ke mulut.

      Hapus
  40. Salam takzim untuk Ayahnya. Perjuangannya berbuah manis, semanis gula aren. Aku pun suka banget manis gula aren, legit engga bikin giyung. Duh, mau klepon, bubur sumsum, dkk, yang dikasih kinca terbuat dari gula aren leleh...

    BalasHapus
  41. Percaya ga, waktu masih TK aku kalau minta bekel sekolah ya bawa gula aren. Iya gula aren aja yang aku aku emut hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah samaan nih kita Mba. Diemut seperti emut permen ya dulu.

      Hapus
  42. Lombok, aduuhh aku rindu sekali sama Pulau yang cantik nan mempesona ini. Menarik sih membahas sesuatu selain wisata alam nya, misalnya Pohon Enau, yg saya kira pohon kelapa dijadikan atap, ternyata selain bisa dijadikan atam rumah juga bisa dibuat Gula Aren. Aku suka minum kopi susu pakai Gula Aren, enak loh mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesekali perlu mampir ke kawasan hutan lindung di Gunungsari nih Mba berarti. Borong yang banyak di sana.

      Hapus
  43. baru tahu ada pohon bernama "ENAU". he..
    Kok keliatan mirip dengan pohon kelapa ya? Bukanya kalo penghasil gula aren itu biasanya dari pohon aren jugaa? #maafkepo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, nama lain dari pohon aren ya pohon enau ini, Bang.

      Hapus
  44. Pohon enau ini daku familiarnya karena ada di soal TTS, hihi. Nggak menyangka bahwa banyak manfaat yang dihasilkan dari pohon ini. Kuy selalu dilestarikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, mari lestarikan.

      Paling nggak, kita sebarkan dalam bentuk tulisan yang positif.

      Hapus
  45. OalaH nira ada juga d Lombok? Kukira hanya d NTT karena selama pengabdian di NTT banyak kulihat berprofesi sebagai penyadap nira. Waah pengalaman masa kecil dengan hutan yabg tak terlupakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Cianjur juga ada lho, Mba. Cukup tersebar banyak di Indonesia, potensi air nira ini. Bahkan sampai ke Sumatera Utara juga.

      Hapus
  46. Saya juga sangat suka air nira ini, Mbak. Apalagi pas diajak liburan ke rumah nenek teman saja di Sinjai, itu air nira baru diambil. Dari tabung bambu dituang ke gellas, nikmat sekali.
    Nah, di Makassar, kalau air nira yangg dipermentasikan namanya Ballo. Kalau gula aren juga banyak saya gunakan di rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sudah terfermentasi, saya nggak minum nih, Bang Bang. Iya ya, kadang dibelokkan sebagai Ballo alias Tuwak nih di beberapa daerah.

      Hapus
  47. Wah hasil pangan hutan yang berguna banget. Bisa dibikin macam-macam. Aku selalu suka gula aren. Biasanya kujadiin karamel. Hehe

    BalasHapus
  48. Salam kenal, sudah masuk grup blogger Lombok ?

    www.lazwardyjournal.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mas laz. Wah, saya memang kelahiran Mataram Lombok, tapi kini berdomisili di Bogor, apa nggak masalah kalau saya ikut bergabung ke sana?

      Hapus
  49. Gula aren favoritku. Kalau ada minuman yang ada embel-embel gula arennya, sering banget aku beli.

    BalasHapus
  50. Itu pohon enau ya? Kayak pohon kelapa? Enau itu nama lain dari Aren kan kak?

    BalasHapus
  51. Buah enau dengan buah lontar itu sama ngga ka? aku baru tau kalau air nira dari pohon enau ini bisa cepat terfermentasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya keduanya berbeda deh Mba. Tapi aku juga kurang begitu paham dengan pohon lontar.

      Hapus
  52. Gula aren itu gula merah bukan Mba? Sama tidak ya?

    Keren papanya Mba, zaman 90an jadi mahasiswa, ada dokumentasinya pula. Kalau di keluargaku tahun segitu habis SMA ya kerja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Papa saya dosennya Mba.

      Umm, gula merah dari kelapa sama gula aren ya, hmm ... saya kurang tahu detail dan paham paham banget soal hal ini, tapi bisa jadi sama ya kalau penampakannya.

      Hapus
  53. Saya masih kecil juga suka minum tuwak aren. Tapi kayaknya ga beralkohol. Wong anak2 minum. Enak rasanya manis. Pas dijadikan gula aren pun saya suka. Apalagi dicampur kopi, jadi kopi kekinian deh. Xixixi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap. Iya, kalau belum terfermentasi, in syaa Allah aman Mba. Belum beralkohol.

      Hapus
  54. duh ngomongin gula aren, daku pecinta berat ketan saus gula aren atau serabi saus gula aren, kedua makanan itu nikmaaat banget kalo pake gula aren. Ya Allah, aku ngidam seketika gini caranya. makasih mba infonya keren sekali. kalo ke lombok mau lah ke jalan pusuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, mbak jadi kangen camilan pakai gula aren ya.

      Semoga kapan kapan bisa main ke daerah sekitar Pusuk sana ya.

      Hapus
  55. saluuuuuut dan keren banget papahnya di mba, mensejahterahkan warganya lewat sebuah penelitian, dan inilah bentuk kontribusi nyata dari mahasiswa mengabdi kepada masyarakat.

    BalasHapus
  56. Jadi inget jaman masih kecil suka nyemplungin Singkong ke kuali berisi gula aren yang lagi dimasak hehe.
    Manfaat gula aren banyak ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap banget tuh rasanya ya Mba. Manis gurih hangat. Yummy.

      Hapus
  57. Olahan dari aren/ enau ini menggiurkan banget yah mba, saya pun suka. Tapi kalau tuwak aren belum pernah coba. Kalau tuwak dari pohon kelapa sudah. Ya manis asem gitu. Minuman penghangat 🥰. Hutan memang memberikan banyak manfaat yah kak terutama untuk bahan pangannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hampir sama deh sepertinya rasanya.

      Allah SWT memang selalu menciptakan segala sesuatu dengan fungsinya masing-masing ya.

      Hapus
  58. Rasa gula aren pun enak. Saya malah kadang-kadang suka ngemilin. Paling sering untuk campuran kopi atau roti tawar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Teh. Balakangan banyak yang dicampurin ke kopi ya.

      Hapus
    2. Soalnya lebih enak kalau memang pengen ada manisnya. Kalau dikasih gula pasir malah saya gak suka

      Hapus
    3. Jadi unik ya rasanya kalau pakai gula aren.

      Hapus
  59. Wah baru lihat pohon aren nih. Ternyata bisa dijadikan minuman juga ya. Selama ini cuma tahu udah jadinya aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senang kalau Mba jadi bisa dapat informasi lebih dengan mampir ke mari. Terima kasih banyak sudah berkunjung ya.

      Hapus
  60. Sekarang Gula Aren lagi naek daun yaa Cha. Apa2 di Brown-sugar in. Tapi emang enaak sih ��

    Kalo kolang kaling disini gimanaa ca? Kan hasil produksi pohon enau juga yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di Lombok, sepertinya dulu masih dijual di pasar saja deh.

      Kalau di Bogor nih, kurang paham. Mamaku sudah lama banget nggak beli Kolang-Kaling sejak kami pindah ke Bogor.

      Hapus
  61. Rasanya tuwak itu gimana ya? Apakah bisa memabukkan kalau lama disimpan?
    Saya juga suka masak dengan gula aren karena lebih sedap menurut saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau terlalu lama disimpan memang kurang baik. Paling bagus ya langsung dikonsumsi seusai disadap, atau dimasukkan buru buru ke lemari es aar nggak lekas terfermentasi.

      Hapus
  62. Gula aren emang jadi primadona ya sekarang, apalagi dgn bbanyaknya warung kopi dan minuman boba2an hehehe, btw kereen hasil hutannya aku tertarik sama briket arennya nanti klo bisa mampir jalan2 ke sana mau ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan. Semoga masih banyak masyarakat yang memproduksinya setelah hampir lebih dari 20 tahun lallu dikembangkan oleh Papa saya yang timnya di bawah naungan Universitas Negeri Mataram.

      Hapus
  63. Aku masih inget dlu pertama kali tau pohon enau dari buku eh novel yang aku baca jaman SD.

    Dari situ aku tau klo mantaat enau ini byk bgt di berbagai bagian pohonnya..

    Tapi belum pernah tau lgsg pohon enau itu yg kayak apa. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kapan kapan bisa punya kesempatan untuk melihat langsung pohon enau ya Ka Rin,

      Hapus
  64. Dari hasil hutan, banyak banget ya bahan pangan yang sebenarnya bisa dimanfaatkan. Sayanglah itu Tuwak tidak dijadikan produk yang mendunia. Padahal enak banget. Di Banjarmasin, papaku juga suka sekali ini tuwak, biasanya beli dari supir-supir truk yang baru turun dari hutan gitu. Enaak diminum dingin-dingin juga.

    BalasHapus
  65. Hutan emang memberi banyak banget pada sekitarnya termasuk kita manusia. Gula aren ini favorit banget. Selalu sedia di rumah, untuk pemanis masakan, juga kdang sesekali bikin kopi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, keren sekali kalau selalu sedia di rumah.

      Hapus
  66. Gula aren banyak yang menggunakan dan jadi pilihan utama untuk menghasilkan makanan enak

    BalasHapus
  67. Wuih, berkah sekali ya ilmu papamu, bisa membantu banyak orang.

    Saya juga suka gula aren. Untuk sekarang ini, favorit saya itu gula aren dicampur kopi yang kekinian.

    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi minuman hits ya Kopi Gula Aren saat ini.

      Terima kasih banyak Bang. Terima kasih juga sudah berkunjung ke mari.

      Hapus
  68. Apakah gula aren aman bagi penderita diabetes kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum, memang nggak setinggi gula pasir sih kandungannya. Tetapi apa apa yang dikonsumsi berlebihan sebenarnya kyrang baik bagi kesehatan.

      Hapus
  69. baru tau kalau Pohon Enau itu ya Pohon Aren, awalnya dari dulu ngira gula aren tuh dari sejenis tebu ternyata bukan. saya musti banyak baca-baca lagi hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga tulisan ini memberi banyak informasi bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung ke mari.

      Hapus
  70. Betul3x, kangdungan kalori gula aren lebih rendah dibandingan dengan kalori pada gula pasir. Tapi karena kita sudah terbiasa manis yang berasal dari gula pasir, terkadang makan gula aren gimanaaa gitu rasanya ya, padahal sangat menyehatkan. Pangan dari hutan sangat berkhasiat bagi kesehatan tubuh kita. TFS.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih. Kalau sudah kebiasaan, memang perlu adaptasi dulu beberapa waktu ya Mba.

      Hapus
  71. Dari akar, pohon hingga buahnya
    pohon enau ini beragam manfaat
    Pemberdayaan kekayaan hayati seperti tanaman ini harus dijaga pelestariannya
    agar bisa dirasakan mamfaatnya bagi banyak pihak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga banyak yang berpikiran sama, walau bukan hanya untuk Pohon Enau saja, melainkan Hutan dan Sumber Daya Hutan pada umumnya.

      Hapus
  72. Jadi kangen camilan dengan gula aren. Dulu waktu aku kecil masih banyak banget itu yang memproduksi gula aren. Tapi lambat laun hilang, terus berganti gula kelapa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya. Saya pun kalau mau makan Gula Aren, kudu pulang ke Lombok dulu nih.

      Hapus
  73. Banyak sekali ya manfaat Pohon Enau. Iya, gula aren memang lebih sehat untuk mereka yang diet. Btw, jadi sebenernya Tuwak Manis itu bisa jadi minuman beralkohol ya kalo kita mau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bisa banget Mas. Tinggal didiamkan di udara terbuka dan setelah mulai terfermentasi dengan sendirinya, berubahlah jadi minuman beralkohol.

      Hapus
  74. hmmm.... lapar ngebayangin makanan dengan kandungan gula aren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba ngebayangin makanan apa nih yang pakai Gula Aren?

      Hapus
  75. Wah ternyata banyak banget manfaat dari Pohon Enau yaa kak. Aku suka es pake gula aren kak, lebih alami rasanyaa heheh

    BalasHapus
  76. Baru dengar pertama kali ini tentang kata briket, dan kata tuwak manis. Sayang fotonya kecil-kecil, jadi nggak bisa menangkap fokus gambarnya dengan baik. Terus, bagaimana membedakan pohon enau dari pohon kelapa yang sangat mirip?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba. Ini fotonya foto lama banget yang di-scan oleh adikku dari album foto Papa di jaman sebelum masuk tahun 2000, jadi resolusinya pun kecil biar nggak pecah. Beda Pohon Enau sama Pohon Kelapa ya. Hmm, pohon Enau ini lebih mirip Pohon palem sih sebenarnya. Terus buahnya pun mengumpul di bawah ketiak daunnya. Beda sama kelapa yang buahnya gede, kalau aren, buahnya kecil. Itu lho, yang isian dalamnya itu kita sebut Kolang-Kaling.

      Hapus
  77. Huaaaa aku telat nih baca ini
    Kalau baca dari kemaren-kemaren, pas ke Lombok aku pasti bakalan borong gula arennya deh
    Catet baik-baik dalam ingatan, kalau ke Lombok lagi kudu jajan gula aren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ... main main ke Pusuk nyobain Tuwak Manis juga, Mba.

      Hapus
  78. Sekilas pohonnya mirip pohon kelapa ya mbak. Aku baru tahu loh bentuk nya pohon aren kek gitu ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mirip. uma kalau boleh dibayangin lagi, lebih mirip palem gitu bagian atasnya.

      Hapus
  79. Aku pengen bergabung dengan walhi kapan-kapan ah cha
    biar ketularan pinternya hahah biar jaga lingkungan dan lebih sayang sama alam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa bergabung ya Nyi. Ceritain dong gimana nanti kalau udah bergabung sama Walhi.

      Hapus
  80. Wah ayahnya mbak Akarui Cha kereen... pasti bangga sekali menjadi anaknya. Sekarang ini gula aren sedang meningkat permintaannya. Alhamdulillah mulai banyak yang sadar dengan bahan makanan yang lebih sehat.

    BalasHapus
  81. Kalau ibuku suka bikin bubur candil pake gula aren. Kadang juga bikin cendol. Duh jadi kangen sama ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dibikin bubur candil lagi Ramadhan begini ya Di.

      Hapus
  82. Ternyata tulisan ini yg bikin aku bisa ketemu sama akarui Cha ya . Selama ini cm tahu dari sosial media saja.. xixi akhirnya bisa ketemu dan satu kelompok cooking class

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ada kesempatan untuk kita ketemuan lagi ya Mba Fika.

      Hapus
  83. kalau di Surabaya ini namanya legen kak. enak banget diminum dingin dengan es batu. dulu waktu aku kecil sih banyak dijual di pinggir jalan, tapi sekarang semakin susah karena sudah gak boleh jualan di pinggir jalan. sudah lama sekali gak pernah liat orang jualan es legen. membaca cerita ini jadi ingat masa lalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ouw, legen ya namanya, unik sekali. Iya, enak diminum dingin memang.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.