Langsung ke konten utama

Ikutan Tur Virtual Ke Lokasi Peristiwa Kemerdekaan Indonesia di Jakarta

Bagaimana ya rasanya, kalau ikutan tur virtual ke lokasi peristiwa kemerdekaan? Keliling Jakarta untuk mengenang detik-detik proklamasi? Apa saja cerita yang kemudian bisa saya “bawa pulang” setelah ikut menjelajah tempat-tempat bersejarah di Ibukota?

Pertanyaan yang juga muncul dalam benak saya ketika menemukan e-flyer ajakan tur virtual ke lokasi peristiwa kemerdekaan yang diselenggarakan oleh Komunitas ISB, bekerjasama dengan Kinokuniya Indonesia dan Wisata Kreatif Jakarta.

tur-virtual-tema-kemerdekaan-ISB

Saya sebelumnya nggak berekspektasi banyak, sebab namanya juga tur virtual, tentunya secara fisik, saya hanya akan duduk manis di depan laptop. Berdandan alakadarnya sebab memang saya hanya akan diajak berkeliling secara maya. Pun urusan berfoto, hanya wajah hingga pundak saya yang akan nampak. Akhirnya, persiapan saya pun nggak banyak.

Namun ternyata, di beberapa menit pertama ketika tur virtual ke lokasi peristiwa kemerdekaan yang dipandu oleh Ira Latief ini dimulai, saya nggak bisa duduk dengan santai. Rasa penasaran saya membuncah-buncah luar biasa. Saya terhenyak, ternyata setelah hampir 20 tahun tinggal dan besar di Bogor, Ibukota belum pernah benar-benar saya eksplor. Duh, Bogor saja belum kelar. Huhu ….

Jadi, saya berkunjung ke mana saja sih di tur virtual ke lokasi kemerdekaan Indonesia kali ini?

museum-sumpah-pemuda-di-jakarta
image via : museumsumpahpemuda.kemendikbud.go.id

Mengenal WR Soepratman di Museum Sumpah Pemuda

Berawal dari persinggahan pertama di Jalan Kramat Raya, peserta virtual tur dibawa memasuki pelataran Museum Sumpah Pemuda. Sebuah bangunan bercat putih gading, bernomor 106, menunggu saya turut menyambanginya. Saya menarik napas dalam, bersiap menikmati penjelajahan sejarah kemerdekaan.

Mba Ira Latief mulai membawa saya pada haru biru kisah hidup Wage Rudolf Supratman, sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu yang beliau ciptakan dengan perenungan dan shalat malam nan panjang. Lagu yang kemudian, di masa kini, sering diperdengarkan setiap kali apel bendera.

Saya terbawa arus kisah seorang pemuda bernama Wage Supratman yang dikemudian hari mendapatkan nama tengah Rudolf, dari kakak iparnya yang kemudian memperkenalkan pula beliau pada biola. Salah satu alat musik yang kemudian menjadi jalan perjuangan beliau.

Sosok WR Supratman lebih jauh dikenalkan dalam film berjudul WAGE. Film biopik yang katanya sepi penonton, namun seusai tur virtual ke lokasi peristiwa kemerdekaan ini, malah ingin sekali bisa saya tonton. Sayangnya belumlah jua dapat saya temukan di jagad maya keberadaannya.

Dikisahkan, Wage, pemuda yang tinggal di Makassar dan tergabung dalam sebuah grup band yang seringnya manggung di café dan hidup berkecukupan, memilih berpindah ke Bandung untuk hidup sebagai wartawan.

Perkelanaannya membawanya bertemu sosok Sosro Kartono, kakak dari Raden Ajeng Kartini. Sosok yang mendukung penuh Wage untuk keluar dari zona nyamannya, lalu berpindah ke Batavia. Hingga pada suatu ketika, Wage Rudofl Supratman, muncul sebagai pemain biola yang memperdengarkan lagu Indonesia Raya, di gedung yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda.

Saya memejamkan mata saat alunan lembut biola WR Supratman dalam scene film Wage, memainkan lagu Indonesia Raya. Ada rasa haru yang menyeruak, bersamaan dengan semangat nasionalisme yang turut meletup-letup. Ah, sungguh, kemerdekaan bangsa mungkin dulu merupakan perjalanan panjang, dan kini, saya yang milenial ini, bisa menikmati jerih lelah para pendahulu.

lagu-indonesia-raya-wr-supratman

Semoga WR Supratman diterima segala amal ibadah dan perjuangannya. Betapa seseorang yang kemudian dipanggil Sang Maha Pencipta, 7 tahun sebelum Indonesia merdeka, pada 17 Agustus 1938, selalu dikenang melalui lagu-lagu kebangsaan ciptaannya. Seseorang yang berjuang dengan musik yang ia cintai sejak pertama mengenal biola.

gedung-pancasila-jakarta
image via : travel.kompas.com

Berkunjung Ke Kantor Para Calon Diplomat Di Gedung Pancasila

Saya nggak percaya, ternyata saya bisa mampir walau hanya secara maya saja ke Gedung Pancasila, tempat lahirnya dasar negara kita. Bangunan yang dulunya merupakan Gedung Vokstraad alias Dewan Rakyat, tempat satu-satunya pribumi, putera Betawi bernama Muhammad Husni Thamrin pernah berkantor. Sang pejuang tanah air yang kelak namanya diabadikan sebagai nama jalan, MH Thamrin.

Baca juga : Silent Delegates is Me in Indonesian Model United Nation 2011

Sebuah gedung berpilar besar dan bercat putih, tempat dimana kini para calon diplomat Indonesia sering beraktivitas. Hhh … gemuruh bermain-main di hati saya. Bagaimana ya rasanya menjadi seorang staf diplomatik?

Gedung Pancasila ini, sebab merupakan kantor, bagan dari Kementerian Luar Negeri, nggak dibuka untuk umum, kecuali di Hari Pancasila. Rasanya ada keistimewaan tersendiri bagi sesiapa saja yang bukan merupakan staf diplomatik Indonesia, jika berkesempatan memasuki gedung nan bersejarah ini ya.

Di gedung inilah, pada 1 Juni 1945, Bung Karno mengucapkan pidato “Lahirnya Pancasila” dihadapan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang kemudian menjadi dasar negara. Pun pidatonya dimunculkan dalam sebuah film berjudul Pantja-Sila Cita-Cita dan Realita. Nah, saya juga hanya menonton cuplikannya saja nih, dari yang Mba Ira tampilkan.

rumah-lasamana-maeda
image via : travel.kompas.com

Menyambangi Sebentar Rumah Laksama Maeda, Si Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Cerita seru dari Mba Ira Latief membawa imajinasi saya pada suatu malam, di sebuah rumah mewah dengan tirai-tirai berwarna biru gelap. Cat kuning cerah pada kusennya, berpadu dengan ornamen di bagian pegangan tangga yang makin memperlihatkan, betapa artistiknya Rumah Laksamana Maeda ini. Ditambah sebuah grand piano, tempat Bung Karno menandatangani naskah proklamasi hasil ketikan Sayuti Melik.

Di rumah mewah pada masanya inilah, Mba Ira Latief membawa ingatan saya pada seorang tokoh nasionalis yang menjadi Menteri Luar Negeri pertama Indonesia, sang diplomat Achmad Soebardjo. Seseorang yang nggak sering diingat namanya, namun berpengaruh besar dalam peristiwa proklamasi. Beliaulah penjamin Bung Karno dan Bung Hatta dalam peristiwa Rengasdengklok.

museum-joang-45-jakarta
image via : mediaindonesia.com

Tur Virtual Berakhir Di Museum Joang 45 Kawasan Cikini

Perjalanan sepanjang dua jam, sudah memancing saya untuk berdoa lebih kencang lagi, berharap pandemi ini lekas berakhir agar berbagai museum dan bangunan bersejarah lainnya di Ibukota kelak bisa jua saya sambangi secara nyata. Ya … masa perjalanan saya hanya berakhir di sekitaran Kota Tua Jakarta. Payah ya.  

Baca juga : The Colour of Fine Art and Ceramic Museum Kota Tua Jakarta

Tanpa terasa, Museum Joang 45 di kawasan Cikini menjadi perhentian terakhir dalam tur virtual ke lokasi peristiwa kemerdekaan kali ini. Kunjungan yang membawa saya lebih bisa membayangkan, bagaimana Bung Karno menjalani masa masa perjuangan demi kemerdekaan Indonesia kala itu. Hingga saya diajak berkenalan dengan beberapa mobil mewah presiden pertama Indonesia, di sini.

Nggak terbayang, bagaimana pawai kemerdekaan yang Mba Ira Latief kisahkan sepanjang tur, menjadikan Museum Joang 45 ini sebagai titik pemberhentian terakhir. Pasti meriah sekali. Apalagi akan nampak banyak peserta pawai yang bergaya ala ala pahlawan kemerdekaan.

Dan … Mba Ira juga mengajak saya dan teman-teman mampir sejenak ke Es Krim Baltic, Hotel Cikini tempat Es Krim Tjan Njan kesukaan Bung Karno berada, masuk sebentar ke rumah Achmad Soebardjo yang masih dihuni keluarganya hingga kini, rumah Bung Hatta, Gereja imanuel, sampai ke kawasan Kwitang yang hits karena film AADC pertama. Eh, sempat lewat di depan Megaria juga lho.

Baca juga : Film Ada Apa Dengan Cinta 2 : Kisah Cinta yang Klasik

peserta-tur-virtual-ke-lokasi-peristiwa-kemerdekaan
peserta tur virtual berfoto bersama


Saya benar-benar ketagihan dengan tur virtual ke lokasi peristiwa kemerdekaan kali ini. Perjalanan yang walau hanya dinikmati secara virtual sepanjang dua jam, tetapi sudah membuat saya ingin mencari tahu lebih banyak lagi mengenai Indonesia. Sekaligus menyesal, padahal Jakarta cukup dekat, tetap belum benar-benar saya jelajahi lebih lekat.


Akhir kata, terima kasih untuk komunitas ISB yang sudah menghadirkan acara jalan-jalan seseru ini. Kinokuniya Indonesia dan juga tentunya Wisata Kreatif Jakarta yang sudah membuat malam minggu di bulan Agustus saya, jadi lebih berwarna. Terima kasih untuk petualangannya yang sungguh menyenangkan.

Komentar

  1. Senang ya bisa jalan jalan virtual. Nambah ilmu dan wawasan. Raga kita bisa terkurung PSBB tapi otak dan pikiran tetap mengembara kemana saja ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huwaaa Teteh, Acha suka sekali kata-katanya. Iya banget Teh, walau kta terkurung di rumah saja, tapi dengan tur virtual begini, sudah bisa menambah wawasan soal tempat tempat yang ingin dijelajahi.

      Hapus
  2. wuih berasa jalan-jalan yah, aku belom pernah ikut tur virtual..next klo ad agenda seperti ini ku mau daftar juga ah..pen merasakan sensasinya hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuuusss Kak Gina.

      Main main ke akun instagramnya Wisata Kreatif Jakarta deh Kak. Ada banyak infonya di sana.

      Hapus
  3. Kreatif banget ya bisa jalan-jalan secara virtual. Jadi penasaran sama gedung Pancasila karena susah masuknya🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum sama banget. Saya masuknya virtual sih ya. Pengen juga kapan kapan bisa benar benar masuk secara fisik, entah untuk liputan atau perawayaanlah ya. Aamiin.

      Hapus
  4. Solusi keren untuk hilangin suntuk, sekaligus sarana belajar menyenangkan di masa PSBB begini ya kak 🙂.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Mba. Mungkin bisa dicobakan ke anak anak juga, biar nggak lelah belajar terus di rumah. Belajar sambil jalan jalan sepertinya menyenangkan.

      Hapus
  5. Belajar sejarah paling seru adalah lewat virtual, meski tidak langsung ke lokasi kita akan diinformasikan lewat pemandu yang asyik tentunya, sehingga belajar secara virtual di saat pandemi seperti sekarang ini menjadi sebuah pilihan yang sangat penting. Untuk lokasi Museum Sumpah Pemuda berada di Jalan Kramat Raya, bukan di Jalan Kramat Jati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya, terima kasih banyak sudah mengoreksi ya Mas Ilman. Senang sekali dapat koreksian begini.

      Iya nih. Kadang kalau cuma dari buku bacaan saja, belum bisa benar benar terserap.

      Hapus
  6. solusi untuk bisa jalan jalan dengan cara virtual dan sama menariknya ya kak. jadi pengen ikutan next time

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cusss Bang Don, kali aja bisa jadi bahan tulisan juga karena sedang nggak bisa jalan jalan secara langsung nih, saat ini.

      Hapus
  7. seru yaa kemarin kita tur virtual, akhirnya rasa penasaranku terbayarkan sudah, seru juga mayanlah mengobati kerinduan travelling

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haiiii Kak Shinta, terima kasih sudah mampir ke tulisanku ini ya Kak.

      Iya, seru banget. Bikin terpana beberapa kali dan jleb .... ya ampun, Jakarta sedekat ini tapi belum pernah benar benar terjelajahi. Eh, Bogor juga sih, hehehe ....

      Hapus
  8. Ya Allah Mbak... baca ini, jadi bahagia sekaligus nelangsa. Merasa tidak beruntung karena baru tahu. Huhuhu
    Semoga next virtual tour saya tahu dan bisa ikut. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga Mba Susi juga bisa merasakan pengalaman yang sama ya. Mungkin bisa coba berkunjung ke akun IG nya Wisata Kreatif Jakarta. Banyak jadwal tur virtual menarik di sana.

      Hapus
  9. Wah asik banget ya bisa jalan-jalan virtual begini. Tetap bisa dapat banyak pengetahuan secara praktis tanpa harus pergi jauh2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba. Badan sih diam di rumah, tapi segala imajinasi dan wawasan baru, mondar mandir di pikiran. Sekaligus bikin hati senang. Lumayanlah jadi penghiburan karena belum benar benar aman untuk jalan jalan jauh.

      Hapus
  10. Wah aku jadi penasaran nih kak pengen ikut tur virtual belum pernah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cusss Mba. Bisa daftar di akun IG @wisatakreatifjakarta lho kalau mau ikutan tur virtual juga.

      Hapus
  11. wah memang kalau lihat museum itu kita seperti banyak belajar hal baru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Mba. Banyak yang sebenarnya sudah dipelajari tapi ternyata belum benar benar mendalam.

      Hapus
  12. Insya Allah amal para pahlawan kita menjadi amal jariyah yang tak putus, Aamiin ya Rabb karena terus kita lanjutkan perjuangannya dengan mengisi kemerdekaan melalui hal yang positif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya rabbal alamin.

      Terima kasih banyak sudah mampir ke mari ya, Mba Fenni.

      Hapus
  13. Asyik juga ya menikmati hari kemerdekaan dengan tur virtual. Kalau acara ini di share meluas, bakal banyak yang berminat dan sayang kalau dilewatkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya demikian Mba. Ide acaranya seru banget soalnya.

      Hapus
  14. Chaaaa....kabari aku dong kalo ada tur virtual ke lokasi bersejarah gini. Aku minat banget. Tur virtual lebih "aman"buatku juga kayaknya. Tau sendirilah, hubunganku dengan museum itu kayak gimana :D Aku suka jalan-jalan ke museum. Tapi "penghuni" museum juga suka nyapa aku sampai akunya ngibrit >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huwaaa Teteh Eno baru kasih tau Acha. Hmm, bsa banget Teteh ikutan tur virtual nih dari Wisata Kreatif Jakarta kalau Teteh berminat.

      Duh iya ya, Acha ngerti banget kalau Teteh suka dicolek. Jangankan di mall, ini di museum mah ya, hihihi.

      Hapus
    2. Hahahah...iya. Nggak di museum, nggak di mall angger weh aya nu nyolek. Yang paling epik itu di sebuah museum di Bandung. Nggak kutulis di blog sih. Tapi jadi salah satu cerita di bukuku "The Shy".

      Hapus
    3. Mantap Teteh. Ujung ujungnya dijadikan karya. Acha ngefans ih sama teteh.

      Hapus
  15. Aku belum pernah nih ikutan tur Virtual. Apalagi mengunjungi bangunan2 sejarah. Menarik banget. Jadi tambah pengetahuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kapan kapan bisa nyobain juga ya Mba. Bisa banget daftar dan cari cari infonya di akun Instagram dari @wisatakreatifjakarta kalau pengen coba merasakan sensasinya tur virtual kok Mba.

      Hapus
  16. Solusi jalan2 di masa pandemi nih, jadi ke pengen ikutan tur virtual.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan Mba, bisa daftar dan cari infomrasinya di akun IG @wisatakreatifjakarta kalau mau coba tur virtual juga.

      Hapus
  17. Senang sekali bisa tur virtual, Alhamdulillah saya pernah mengunjungi tempat-tempat tersebut di atas. Seru memang kalau napak tilas sejarah itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Mas Raja keren sekali sudah mengunjungi berbagai museum ini. Hebat.

      Hapus
  18. Seruuu bangeeet ini belajar sejarah secara virtual. Kalau pas hari biasa malah nggak ada ya tour ini, duh kesempatan bagus bgt. Aku nggak tau infonyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang tau sih Mba Marfa kalau hari biasa. Rasanya tur virtual ini disusun hanya untuk merayakan hari kemerdekaan. Atau, mungkin Mba Marfa bisa cari informasi lebih lanjut di akun IG @wisatakreatifjakarta kali ya.

      Hapus
  19. Aku nyeseeel ga ikut virtual trip ini :(. Menarik ihhh. Dan aku jadi tau kalo bapak WR Supratman meninggal sebelum Indonesia merdeka. Keliatannya aku ga nyimak saat pelajaran sejarah tentang beliau -_- .

    Laah, aku yg tinggal di JKT malah belum pernah lgs masuk ke museum2 di atas mba. Tau sih tempat2nya, tp cuma lewatin doang. Kecuali eskrim baltic yg prnh aku coba :). Duuuh emang enaaak banget, es krim jadul yg aku msh suka Ampe skr, ya cuma Baltic ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, kalau nggak ikutan virtual tour gini, aku juga nggak bakalan tersadar kalau ternyata WR Supratman wafat sebelum kemerdekaan lho.

      Waaaa apa ya rasanya. Penasaran. Tapi mau kelua keluar eh belum berani.

      Hapus
  20. beberapa museum di Jakarta sudah pernah aku kunjungi, mostly saat SD sih hehehe.. kalo Istana Merdeka biasanya waktu SMP jadi tim paduan suara sampai SMA langganan terus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah Mba, hebat sekali. Duh jadi kagum.

      Hapus
  21. Ah benar.. kalau sudah nyanyiin Indonesia Raya, ada haru, mengalir dalam hati. Itu saya rasain malam 17 Agustus pas ada acara di Komplek. Sebelum Corona, saya ada niat buat main ke Jakarta karena pengen liat Monas, gak tau lagi dah sekarang hihi.. Semoga cepat ada solusi yang efektif :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga setelah kondisi Jakarta aman, Mba bisa jalan jalan sama keluarga ke Jakarta ya. Saya juga berharap yang sama.

      Hapus
  22. Lagi situasi pandemi, tapi masih bisa jalan-jalan yang aman ya Kak. Via virtual wkwk. Ini menarik banget sih, terutama destinasinya tempat-tempat bersejarah dengan peristiwa kemerdekaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Mba Mut. Boleh nih kapan kapan Mba cobain sensasinya tur virtual. Murah meriah sih biasanya biayanya.

      Hapus
  23. Meskipun pandemi seperti ini tetap khidmat ya merayakan tujuh belasan. Kalau tur virtual gini sesuai event atau diadakan secara berkala dengan lokasi berbeda?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya kemaran Wisata Kreatif Jakarta mengadakan tur ke beberapa lokasi begini, sesuai tema kemerdekaan. Kurang paham saya kalau bisa request.

      Hapus
  24. Ingat banget awal Maret sudah berencana mau tur ke museum dan gedung2 bersejarh di Jakarta, sudah dapat hotelnya pun
    eh pandemi, ga kesampaian deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan akan kesampaian di waktu yang tepat ya Kak Pring. Aku pun berharap sama. Sayangnya masing ngeri ngeri cihuy kalau jalan jalan di masa sekarang.

      Hapus
  25. Saya belum pernah ikutan Tur Virtual, Mbak. Tapi sangat penasaran. Makanya kalau ada ingin ikutan.
    Membaca tulisan Mbak ini, saya langsung bilang, ya ampun.. ke mana saja saya ini. Jangankan Mbak yang di Bogor, saya yang tinggal di jakarta timur dan selalu lewat jalan Kramat Raya, Proklamasi, Cikini, sampai Raden saleh, belum perna mampir ke gedung-gedung di atas. Dan sekarang saya sudha jauh di Kebumen hehehe.

    Tapi walau masa pandemi, Tur Virtual ini sangat keren ya, Mbak. Termasuk untuk anak-anak sekolah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi Mas Bams sudah mem-branding Kebumen sebagai salah satu destinasi wisata keren untuk dikunjungi selama ini lho. Salut sama Mas Bams. Semangat selalu.

      Hapus
  26. Keren yaaaa memfasilitasi yang tetap ingin wisata dan menambah ilmu melalui tur virtual gini
    .. Aku jadi pingin ikut kalau ada tur virtualnlagu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cusss cari tur virtual yang Mba mau di akun Instagram Wisata Kreatif Jakarta ya.

      Hapus
  27. Saya juga belum menuntaskan perjalanan di Kota Jakarta. Ternyata banyak tempat menarik yang belum saya kunjungi.
    Selama ini lebih sering berwisata di Bandung saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau Bandung, wisata kulinernya sih yang surga banget kayaknya kalau main di daerah kotanya ya Mba.

      Hapus
  28. wisata virtual wow baru kali ini saya baca haha ternyata bisa mengunjunginya secara online sekaligus tempat peristiwa kemerdekaan Indonesia kerenn abiss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Ini pengalaman yang luar biasa banget. Senang bisa tetap jalan jalan di masa pandemi begini. Tanpa perlu keluar rumah.

      Hapus
  29. Beberapa kali diajakin tur virtual tapi belum pernah pas waktunya. Seru juga ya ternyata.. alternatif buat meredam keinginan buat jalan-jalan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget nih Mba Marita. Asiknya bisa jadi bahan tulisan juga.

      Hapus
  30. Ah sayangnya belum rezekiku ikutan ini
    Soalnya pas waktu itu laptop ngelag Zoom-nya karena dipakai anak tugas sekolah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhuhu semoga bisa ikutan di lain kesempatan ya Mba Amma.

      Hapus
  31. Ini mah jalan-jalan virtual plus plus sih. Soalnya bisa dapet banyak insgiht dan pengetahuan soal negeri kita. Jadi inget cerita soal pertama kali lagu Indonesia Raya dikumandangkan, hanya lewat biola. Ternyata selain karena alasan masih ada tentara Jepang, juga karena penciptanya juga seorang pemain biola ya. Jujur aku baru tahu hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu rejekiku juga ini mah, jadi bisa belajar banyak lagi dari ikut tur virtual begini. Alhamdulillah.

      Hapus
  32. Jadi sambil belajar sejarah juga ey :D ini mah kalau turnya offline seru banget ya seprrtinya, namun virtual juga nggak kalah seru kok vibenya :D menyenangkan ey kegiatannya mengisi hari kemerdekaan virtual tour gini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Mba Marfa. Malah habis tur virtual, aku berdoa kencang, semoga pandemi ini lekas udahan. Pengen ngerasain menjelajah langsung museum museumnya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.