Langsung ke konten utama

Kenapa Harus Menulis? Ini Alasannya.

Sebenarnya, ada banyak sekali alasan, kenapa harus menulis. Tentu jawaban dari setiap orang yang  senang menulis, akan berbeda-beda. Pun begitu dengan saya.

kenapa-harus-menulis

Saya yang lahir di Kota Mataram, Lombok, bukanlah anak yang dulu mudah mengakses buku bacaan anak. Lebih banyak saya menikmati cerita semisal Legenda Danau Toba atau Kisah Malin Kundang dari buku materi pelajaran Bahasa Indonesia yang dibawakan oleh salah seorang paman dari pihak Mama saya, seseorang yang kemudian juga saya panggil dengan panggilan akrab Kakek Kecil.

Perpusatakaan daerah memang ada dan jaraknya sebenarnya nggak terlalu jauh dari rumah. Namun jarang saya dapat kesempatan untuk ke sana dan berlama-lama, sebab memang kesibukan kedua orangtua, membuat saya akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu menonton dan bermain saja.

Namun memang, sesekali, orangtua saya membelikan saya majalah Aku Anak Saleh atau Bobo, walaupun nggak berlangganan. Baca berita atau puisi di Koran Kilas, salah satu koran daerah di masa saya kecil dulu,  pun jadi rutinitas, terutama untuk mengisi TTS yang ada di koran tersebut, bersama dengan adik sepupu saya.

Lalu setelah akhirnya saya ikut kedua orangtua saya untuk pindah ke Bogor, barulah saya dapat lebih banyak mengakses buku bacaan, hingga ... di suatu ketika, terpikirlah oleh saya, betapa membaca sungguh menyenangkan. Lalu, bertambahlah salah satu daftar cita-cita yang saya impikan, yaitu menjadi sosok yang bermanfaat bagi banyak orang, dari menulis.

Kemudian, kenapa akhirnya saya merasa kalau diri saya harus menulis? Hmm … mungkin jawaban yang saya berikan, bisa jadi sama dengan alasanmu tetap menulis hingga sekarang.

Penulis Bisa Mengajak Saya Menikmati Imajinasi Mereka. Saya Juga Mau Dong.

Beberapa buku yang saya baca, semisal buku nonfiksi bertema perjalanan karya Windy Ariestanty berjudul Life Traveler, sukses membuat saya lupa akan betapa jenuhnya saya sejak akhir bulan Februari lalu. Benar-benar saya menahan diri nggak kemana-mana, kecuali untuk urusan belanja ataupun hal yang sangat penting sekali.

Fisik saya yang hanya berdiam di atas kasur, berselimut, dan ditemani tumpukan bantal empuk, telah menjelajah Indochina hingga ke sebuah kedai kopi berplang “Toi-Toi” di Republik Ceko sana, hanya dari menikmati sajian imajinasi Mba Windy.

Baca juga : Life Traveler : Buku Tentang Perjalanan Menuju Pulang

Belum lagi, ketika saya melahap buku karya Prisca Primasari yang berjudul French Pink, membawa saya ke sebuah kota di Negeri Sakura yang penuh dengan berbagai warna. Saya diajak berkenalan dengan banyaknya tingkatan warna beserta namanya. Hal yang sebelumnya saya anggap sama, ungu yang ungu  saja, padahal ada ungu mulberry, ungu inggris, ungu anggur, sampai ke warna ungu lavender, dan masih banyak lagi variasinya.

Atau ketika saya sedang terbuai akan tulisan dari A. Fuadi dalam salah satu buku dari trilogi Negeri 5 Menara berjudul Rantau 1 Muara. Penulisnya mengajak imajinasi saya berkeliling di sekitar Washington DC pada saat tragedi WTC di tahun 2001. Terbawa oleh fustrasinya tokoh Alif dalam menemukan keberadaan Mas Garuda. Lalu hati saya dikoyakkan akan kenyataan yang harus Alif terima.

Begitulah sebuah bacaan bagi saya, sungguh senang sekali mengajak imajinasi saya mengekori apa yang digambarkan oleh penulisnya melalui susunan kata, diksi, hingga melompati tanda koma, dan berhenti di tiap tanda titiknya.

Demikian juga dengan membaca tulisan yang ada di blog. Saya menikmati tulisan perjalanan atau tips-tips menyenangkan yang dituliskan oleh Vicky Laurentina, Eva Sri Rahayu dan kembarannya Evi Sri Rejeki, juga sesekali oleh tulisan mengenai pengalaman mengunjungi curug yang ditulis oleh Pringadi Abdi Surya.

Untuk sosok yang terakhir, saya juga suka label fiksi yang ada di blog beliau. Ya, walau hanya mampir tanpa berkomentar, semoga nggak apa kalau beliau baca tulisan saya ini.

Jadi ... inilah salah satu alasan, kenapa harus menulis bagi saya. Untaian kata yang mereka sajikan, membawa saya pada begitu banyak pengalaman melalui bacaan. Lalu apa saya nggak boleh juga seperti mereka? Mengajak siapapun yang mampir ke tulisan yang saya buat, kemudian membawa mereka pada imajinasi yang saya rangkai?

Penulis Akan Selalu Hidup Melalui Karyanya

Saya pernah punya keinginan untuk hidup lama, lalu bisa menjadi penjelajah waktu. Hmm ... rasanya saya terlalu akrab dengan serial Doraemon sehingga saya sering berpikir begini. Bisa punya mesin waktu dan pintu kemana saja, atau malah menemukan tablet panjang umur. Terima kasih Fujiko F. Fujio.

Ngomong-ngomong soal Fujiko F. Fujio, tahukah kamu kalau dibalik nama pena ini, ada kejutannya? Awalnya penulis komik alias mangaka untuk Doaremon ini adalah Fujiko Fujio yang digawangi oleh dua orang, yaitu Fujimoto Hiroshi dan Abiko Motoo. Keduanya berkolaborasi sejak tahun 1951.

Namun karena terjadi perseteruan dan perbedaan misi di kemudian hari, hingga di tahun 1987, keduanya pun memilih jalan yang berbeda di dunia manga. Fujimoto Hiroshi lebih menikmati terjun ke dalam anime genre anak dan memakai nama pena Fujiko F. Fujio, sementara  Abiko Motoo terjun ke genre komedi dewasa. Lalu, Fujimoto Hiroshi menambahkan huruf “F” pada nama pena tadi dan jadilah Fujiko F. Fujio yang sekarang dikenal luas sebagai pencipta karakter Doraemon.

Ish Ka Acha, ini bahas soal penulis lho, doi kan mangaka. Hmm ... memangnya sebelum doi menggambar manga, nggak dibikin dulu plot ceritanya? Ya kan itu ditulis. Gimana gengs? Kalau setuju alhamdulillah, kalau nggak, silakan kasih Ka Acha contoh asik penulis yang tetap hidup sepanjang generasi melalui karyanya ya. Please.

Eh, atau kalau kamu sudah nonton drama Korea berjudul Chicago Typewriter. Hmm, kamu akan menemukan sedikit pesan di sana, bahwa menulis akan membuat penulisnya tetap abadi. Salah satu alasan mengapa saya pada akhirnya benar-benar dibuat jatuh cinta oleh serial drama ini, sebab saya pun menontonnya di kala saya sendiri sedang malas untuk menulis.

Baca juga : Chicago Typewriter (2017) : Kisah Yang Ditulis Akan Abadi

Sayangnya Allah SWT memberikan batas usia bagi manusia, dengan jatah waktu yang berbeda-beda. Fujiko F. Fujio memang sudah tiada. Tetapi karakter Doraemon, Nobita, Giant, Suneo, Sizuka, masih bisa dikenal oleh anak-anak dan dewasa di masa sekarang. Sungguh luar biasa dampak dari sebuah karya, bukan?

ali-bin-abi-thalib

Ada cukup banyak penulis yang memang telah berpulang namun meninggalkan karya-karya yang bisa dikenang dan dinikmati oleh generasi setelahnya. Apa saya nggak boleh punya impian yang sama? Menjadi abadi dengan karya?

Mengaku Sebagai Penulis, Membawa Tanggungjawab untuk Bisa Jadi Pembaca yang Baik

Saya sebenarnya agak deg-degan menulis bagian ini. Saya sering bertanya pada diri saya, apakah sebagai blogger, dimana saya bebas mengocehkan gagasan saya di platform blog, tanpa editor lain atau sebut saja semuanya dilakukan sendiri, sudah jadi pembaca yang baik sebelumnya?

Apa saya sudah menulis tanpa terlalu banyak pemborosan kata, semisal : berkisah tentang, maju ke depan, mundur ke belakang? Apakah tepat penulisan imbuhan “di” yang selama ini saya gunakan, antara “di” yang penulisannya dipisah dengan yang disambung? Pernahkah saya salah menuliskan huruf besar untuk nama kota atau nama negara, lalu kemudian dicontoh oleh pembaca saya?

Jujur, saya takut. Saya khawatir jika saya nggak membaca dengan baik, maka pembaca baik yang berkunjung ke tulisan saya, kelak akan meniru kesalahan yang telah saya lakukan.

Belum lagi, sebelum menulis pastilah dibutuhkan referensi yang cukup, bukan hanya sekadar celotehan berputar-putar tanpa tujuan yang jelas. Ada poin-poin bermanfaat yang kemudian tersampaikan, di tiap epilog yang saya sediakan pada tulisan saya. Sungguh berat.

Ditambah, keterampilan menulis nggak bisa didapatkan begitu saja melalui membaca lalu menuliskannya suka-suka. Penulis tetap butuh latihan. Hmm ... pelatihan sih tepatnya bagi saya. Sebagai ajang, bukan hanya untuk bertemu teman baru dan mengenalkan diri di dunia kepenulisan, tetapi tentunya untuk bisa menjadi penulis yang baik.

Maka alasan saya, kenapa harus menulis adalah ... saya ingin terus bisa belajar jadi pembaca dan pembelajar yang baik. Sebaik-baiknya. Sehingga kemudian tulisan yang saya hadirkan pun menjadi tulisan yang punya nilai. Mana saya tahu jika dikemudian hari, gagasan dalam berbagai tulisan yang saya sajikan, menjadi referensi bagi penulis lainnya, kan?

Sebagai bonus penyemangat, saya sering tergoda oleh foto buku-buku bacaan yang telah lebih dulu singgah ke bagian lain dunia, dibawa oleh para pembacanya. Penulisnya mungkin belum bisa berkunjung ke sana, namun karyanya telah tiba duluan. Terlintas oleh saya, foto tadi serupa doa agar penulisnya pun bisa sampai ke tempat si karya miliknya pernah berpose juga.

Selain itu, ada banyak sekali pekerjaan yang berhasil menghidupi sesiapa yang senang berkecimping di bidang ini. Saya pun pada akhirnya mensyukuri kesenangan saya akan menulis, sehingga saya bisa menyajikan portofolio saya yang hampir keseluruhannya bisa saya capai melalui menulis.

Baca juga : Portofolio Akarui Cha

pramoedya-ananta-toer

Terima kasih bagi kamu yang telah bertahan untuk membaca tulisan saya kali ini. Jika kamu pun punya alasan, kenapa harus menulis seperti saya, mari tuliskan, lalu bagikan pada saya melalui mention di Twiter atau DM di Instagram ya. Di kolom komen pun, boleh sekali. Salam hangat.

PS : Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Catatan Pringadi bekerja sama dengan Tempo Institute

 

 

 



Komentar

  1. Keren Kak! Mengingatkan saya kembali kenapa saya menulis..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Semoga kamu pun tetap semangat menulis ya. Mari saling menyemangati.

      Hapus
  2. buku mbak windy aku suka banget, baca bukunya bener bener membuat aku seolah olah sedang berada disana. dan karna corona ini, aku harus menghanguskan tiket ke indochina, dan malah plannya mau ikuti beberapa aktivitas yang mbak windi ceritakan di bukunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhu turut sedih Mba. Patah hato banget pastinya, harus merelakan tiket begini.

      Kecenya tuisan Mba Windy karena bisa banget bikin pembacanya seperti ikut masuk ke dalam ranselnya dan mengikuti setiap perjalanan yang ia jalani.

      Hapus
  3. Seringkali saya mengalami writer's block saat menulis di blog. Buntu, jenuh gak punya ide, vakum beberapa lama, kemudian kembali menulis lagi. Mungkin saya tidak bisa konsisten menulis setiap hari, tapi saya meyakini suatu saat saya akan selalu kembali menulis :)

    BalasHapus
  4. alasanku menulis adalah terlalu banyak kata dan kalimat indah terekam dalam hati dan fikiranku, membuatku wajib menuliskannya. Entah hanya sekedar ubtuk membagikan kisah demi melegakan hati dan fikiran, maupun kalimat kalimat positif yg bisa bermanfaat untuk orang lain. Karena ada pepatah kata kata itu seperti udara bisa hilang jika tidak segera engkau tuliskan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya. Kalau terlambat dituliskan, kata kata akan menguap serupa uap air.

      Semoga semangat selalu dalam menulis ya.

      Hapus
  5. Saya juga dari kecil sudah senang dan buku mba, buku apapun yg ada di rak buku di rumah pasti satu per satu saya baca. Banyaknya buku-buku tentang agama dan kisah Nabi dan Rasul. Setelah dari situ, SMP saya mulai banyak menjelajah fiksi, sampai Harry Potter pun saya baca saat kelas satu SMP. Nah pas masa-masa SMP menuju SMA itu minat saya terhadap menulis lagi giat2nya. Saya sampe berkeinginan untuk buat novel walaupun pada akhirnya gak sampai tuntas karena management waktu yg kurang baik antara belajar dan sekolah😅 Waktu itu saya mulai merambah ke sastra juga. Kalau sekarang entah kenapa saya lebih tertarik buat tulisan yg personal seputar self-improvement di blog (lebih cenderung ngedumel tapi sih isinya😂) , mungkin karena waktu untuk membaca tulisan fiksi lebih sedikit dibanding dulu. Walaupun begitu semoga semangat nulisnya tetap terus ada sampai nanti bisa berkarir di dunia tulis menulis seperti mba, hehe. Salam kenal ya mba Acha😊🙏🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai salam kenal.

      Semoga tetap semangat menulis ya.

      Saya pun belum punya karya solo nih, karena memang, menulis buku solo itu butuh energi dan waktu yang lebih panjang, juga kesabaran dan ketekunan yang banyak.

      Hapus
  6. tetap menulis agar bisa menuangkan ide-ide brilian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku terharu nih, Bang Deddy mampir ke tulisanku ini. Terima kasih banyak Bang.

      Hapus
  7. bagi saya menulis itu bisa sebagai healing kita pelampiasan diri dari segala jenis emosi, menulis bebas berimajinasi, menulis seakan berbicara kepada pembaca biasanya yang suka menulis pasti suka membaca..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum, membaca itu seperti mengisi amunisi sih ya Mba. Setuju banget, sebab menulis memang bisa jadi healing yang baik.

      Hapus
  8. dulu menulis ya menulis aja,,utk komunikasi sm diri sndiri. tapi skg selang bbrp tahun baru nyadar dgn mnulis bisa mndatangkan pundi2 rejeki. Thanks GOD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi iya banget Kak Gina. Time flies dan saya pun amaze dibuatnya. Ternyata menulis bisa membuat saya bisa hidup nyaman juga. alhamdulillah.

      Hapus
  9. Kalau bagiku, menulis ini benar - benar me time dan melegakan beban dan fikiran. Selain itu dengan menulis setidaknya dapat membagikan berbagai hal positif yang membawa manfaat bagi banyak orang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap, menulis memang merupakan salah satu cara untuk berbagi ya.

      Hapus
  10. Betul bgt
    Kalau saya untuk theraphy stress haha
    Maksdnya dengan nulis, jd tersalurkan apa yg ada di benak, jd ga jd beban
    Yq yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo Bang Sani mah, sekalian merekam cerita perjalanannya yang bejibun dan unik unik memang. Duh Bang, segitu menulis macam terapi stres, huhu ... iri Acha tuh sama Bang Sani.

      Hapus
  11. Salah satu cara buat healing atau terapi diri adalah dengan menulis, selain sharing tentunya. Menulis juga buat menyampaikan pesan kebaikan. Ini tujuan utama saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap, setuju. Menyampaikan pesan, opini, dan lainnya, bisa dilakukan dengan menulis.

      Hapus
  12. Bikin manga, buat skenario untuk drama, ya semua kan di draft juga melalui bentuk tulisan ya kak.

    Makanya daku juga lagi mengusahakan menulis yang bermanfaat, karena dari karya yang ditulis akan meninggalkan jejak sejarah hidup kita yang akan terkenang dan insya Allah menjadi amal jariyah juga buat kitanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget Kak Fenni.

      Dan aku tuh amaze gitu lho sama Kak Fenni. Tetap bisa menghasilkan banyak karya dan tulisan di blog hanya dari smartphone selama ini. Mantap. Semoga impiannya buat bisa punya laptop, lekas tercapai ya Kak Fenni.

      Hapus
  13. Pertama menulis cuma sebagai ungkapan2 hati aja, tapi sekarang malah bisa menghasilkan pundi2 ya. beruntung banget aku bisa punya blog. aku sendiri ga nyangka nulis di blog bisa hasilkan duit di zaman skr.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menulis bikin kita menemukan jalan baru ya Kak Lita. Duh, aku masih panjang nih perjalanannya, Kak.

      Hapus
  14. Betul mba, menjadi penulis itu akan selalu dikenang walopun sudah gak ada. That's why pengen banget bisa buat karya yang bisa dinikmati banyak orang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ya Mba Shynta. Aamiin. Semangat selalu.

      Hapus
  15. Manfaat menulis banyak banget
    Saat harus bicara di depan umum, ngga akan terlalu gagap
    Karena terbiasa fokus di topik dan mearngkai kata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ini salah satunya nih Ambu. Sekalian belajar bagaimana caranya menyampaikan gagasan secara langsung. Duh Acha masih harus banyak belajar untuk bisa bicara dengan tenang di depan umum.

      Hapus
  16. Kak 🤗 aku salut banget! Suka banget sama orang yang justru maju karena kondisinya. Bener, beberapa yang tinggal di NTT NTB memang dulu belum terjangkau buku bacaan, akupun beberapa tahun ini kalo ks NTT pasti sisakan beberapa kilo bagasi untuk bawa buku 💙 bersyukur Sekarang internet lumayan merata ya kak. Makasih udah sangat menginspirasi 💙luv banget

    BalasHapus
  17. Ah benar mbak..
    Klo aw menulis untuk healing dan menyalurkan hobi

    BalasHapus
  18. Menulis untuk kesehatan jiwa :D
    Itu alasanku.

    Tapi manfaatnya memang sangat banyak, dan sudah terbukti selama 12 tahun aku jadi penulis blog, majalah, dan buku. ALhamdulillah.

    BalasHapus
  19. Salah satu alasan saya menulis supaya bisa jadi amal jariyah kalau mungkin ada salah satu pembaca tulisan saya melakukan hal positif setelah mampir ke blog saya :)

    BalasHapus
  20. Kalau buat saya, menulis adalah sarana menyalurkan energi dan ide. Alhamdulillah bisa untuk tambahan pendapatan, gak nyangka bisa sampai di sini hehe

    BalasHapus
  21. Aku sudah suka menulis sejak bisa menulis alias di Sekolah Dasar. Terutama nulis fiksi. Makin dewasa jaid beragam deh minat dan tema yang aku tulis. Bagiku, menulis itu adalah terapi jiwa. Self-healing. Thanks for inspirasinya, Cha!

    BalasHapus
  22. Aq kadang mengalami buntu saat mau nulis, kayaknya masih suka tergantung mood juga ya mbak.

    BalasHapus
  23. Kalau aku, menulis karena menurutku menulis adalah healing therapy sih jadi bener bener lega setelah menulis

    BalasHapus
  24. Benar dengan menulis kita bisa terus belajar agar bisa menyiapkan artikel-artikel yang bermanfaat bagi pembaca

    BalasHapus
  25. Menurut Saya, penulis yang baik adalah pembaca yang baik juga. Memperkaya diri dengan aneka bacaan apapun, mau blog, buku dll. Dan setuju harus menulis, karena tulisan inilah yang akan menjadi warisan kita buat orang lain, semoga tercerahkan & terinspirasi karenanya

    BalasHapus
  26. Hallo Kak Acha...
    salam kenal ya :)
    saya merinding di bagian quote Ali bin Abu Thalib
    Oia selamat ya sudah menang tulisannya :)

    PS: Masih kah kangen dengan kota Mataram, Lombok?

    BalasHapus
  27. Dengan menulis kita bisa menciptakan sejarah sendiri dengan karya yang kita miliki walaupun kita bukan siapa-siapa :)

    BalasHapus
  28. Aku pun masih degdegan mba ada kata blogger di nama belakangku sekarang. Buat ku menjadi blogger / penulis membuat kita juga belajar banyak hal ;) so semangat terus yah mba nulis nya :)

    BalasHapus
  29. sepakat dengan semua itu, salah satu alasan saya tetap menulis salah satunya juga karena sadar betul ini pekerjaan keabadian yang bisa dibaca anak cucu kelak

    BalasHapus
  30. semangat terus menulisnya mba...
    setiap orang punya alasan n motivasi tersendiri ketika mnenulis,
    tp sy yakin menulis merupakan bentuk berbagi yang mungkin tidak kita sadari.
    bsesederhana saat tulisan lebih pada sebuah curhat lalu ada yg comment dan merasa terbantu krn menghadapi hal yg sama dan tak merasa sendiri

    BalasHapus
  31. Walaupun banyak yang bilang kalau bahasa blogger lebih bebas. Buat saya pribadi tetap ada tanggung jawabnya. Jadi apapun bentuk tulisan kita memang harus dilakukan dnegan benar dan berani dipertanggungjawabkan

    BalasHapus
  32. Hai ka acha! salam kenal
    Alasan aku sendiri mengapa menulis, karena ingin semua perjalananku tertuang dalam satu wadah yang di suatu hari nanti bisa ku ulas kembali, ku ceritakan, dan ku kenang. bahwa aku pernah menjadi seorang blogger dan akan tetap menjadi seorang blogger

    BalasHapus
  33. Menulis kerap menjadi healing dan mengungkapkan segala keluh kesah maupun kata yang tak bisa terungkap lewat lisan.

    BalasHapus
  34. I do understand Mbak bagaimana anak daerah dengan keterbatasan fasilitas utk bisa melek literasi dan membaca karena suamiku pengelola relawan d pedalaman :') Btw inu lombanya masuhe berlangsung ngga Mbak? Hehe

    BalasHapus
  35. Buat saya sendiri,menulis sudah jadi hobi sejakengenal pelajaran mengarang di sekolah. Kekinian malah jadi nambah semangat, karena dengan menulis kita bisa berbagi dan menerima

    BalasHapus
  36. Salam kenal kak, duh saya merasa bagai butiran debu, harus mulai lebih banyak membaca supaya lebih mantap menulis , sangat menginspirasi kak , salam kenal yaa.

    BalasHapus
  37. Terima kasih insigth-nya Mba, mengingatkanku juga tentang kebiasaan menulis (curhat) di Diary saat masih SD hingga SMA. Masuk Kuliah mulai kenal Blog karena harus mengerjakan tugas disana, eh keterusan jadi ngeblog sampai sekarang :)

    BalasHapus
  38. Menulis juga bikin percaya diri/menambah nilai
    Di WAG alumni, teman-teman memperkenalkan saya:
    "Masih inget Maria ngga, kelas sekian, dia sekarang penulis lho"
    Omaygat bangga nian, walau belum punya buku solo :D

    BalasHapus
  39. Setuju banget kak!
    Setiap orang punya alasan masing-masing kenapa suka menulis, termasuk aku yang suka menulis karena ingin berbagi informasi terkait destinasi yang telah aku kunjungi biar banyak orang yang tau dan berkunjung hehe. Semangat terus kak :)

    BalasHapus
  40. Akujuga suka menulis. Rasanya puas aja gitu setelah menulis. Menulis membantu kita merunut isi pikiran. Jadi otak kanan kita bekerja dengan baik dan seimbang. Semangat menulis terus ya kak.

    BalasHapus
  41. Alasanku menulis supaya otak ga makin tumpul.
    Makin sering menulis secara gak langsung ilmu pengetahuan makin bertambah.
    Puncak dari tulisan menurutku adalah menelurkan karya, bikin buku! Sebanyak banyaknya!
    Kelak nama kita tidak akan pernah mati seperti para penulis yang hebat itu ...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.