Ada banget perubahan besar yang terjadi dalam hidup saya selepas punya travelmate cilik. Mulai dari barang bawaan yang dibawa, hingga pilihan itinerary yang saya siapkan ketika akan berpetualang bersama mereka.
Kalau boleh dianalogikan, level dramanya melebihi masa-masa masih muda belia. Advance dan penuh perjuangan pokoknya. Pantas saja, nggak semua orangtua siap bawa anaknya traveling jauh ya.

Dulu, tanggungjawab Ka Acha kalau jalan bareng travelmate, tentu ya barang bawaan sendiri beserta segala kompromi biar tetap bisa punya cerita seru dari perjalanan itu. Sekarang ... ya Allah, jiwa raga harus disiapkan sepanjang sebelum selama sampai setelah jalan-jalannya.
Say bye bye dulu sama gaya jalan-jalan yang anteng bawa ransel seperti dulu. Kali ini, ransel harus disertai juga dengan koper.
Travelmate Cilik Butuh Comfort Food Tiap Makan
Semenjak Geng Bocil hadir di kehidupan Ka Acha yang tenang dan damai, perlahan tapi pasti saya jadi memahami mengapa Mama Ka Acha dulu jadi orang yang paling ribet sedunia tiap kali kami jalan-jalan keluarga. Pikirannya penuh, berujung pesan beruntun yang diocehkan ke anak-anaknya yang dulu masih kecil semua.
Saya dulu menganggap, Mama saya itu ribet luar biasa. Kenapa sih semuanya harus diurus sebegitunya sebelum jalan? Kan bisa mampir tempat makan.
Berujung saya yang baru selesai dandan, dapat titah untuk cuci piring dulu sebelum duduk manis di bangku tengah mobil keluarga kami akibat aktivitas masak-memasak Mama yang dilakukan pada menit-menit sebelum waktunya keberangkatan. Otomatis, anak remaja macam Ka Acha seketika manyun mukanya.
Ih, Mama, kan aku udah cantik. Luntur lagi deh lotion-nya di tangan aku. Begitulah protes kecil saya dulu.
Sebagai anak-anak yang belum lama jadi remaja, saya pahamnya cuma protes saja. Tanpa saya sadari, pikiran Mama saya sudah penuh dengan segala persiapan kami. Jalan-jalan keluarga dengan anak-anak yang masih kecil semua, pasti ada banget ribetnya.
Lalu perlahan saat semakin besar, ada masanya saya menolak ikut serta. Jelas saya menghindari keribetan yang harus saya jalani sebagai anak perempuan tertua yang apa-apa dilimpahkan pada saya.
Anak laki-laki kenapa sih nggak disuruh juga? Santai banget hidupnya. Begitu protes saya tiap dilimpahi tugas domestik sebelum keluar rumah.
Namun, saat perjalanan jarak jauh beberapa waktu lalu dengan Geng Bocil, saya mengulangi apa yang Mama saya lakukan dulu. Saya ribet menyiapkan menu bekal makan Geng Bocil untuk di jalan. Walaupun, saya menyederhanakan menunya biar cepat, mudah, serta mengurangi kepusingan saya.

Makanan berat, camilan semisal biskuit atau crackers, susu siap minum, air mineral dalam jumlah lumayan, dan saya memastikan kalau bawaan itu nggak boleh sampai kurang. Perut mungil mereka harus selalu saya jaga volume asupannya biar tetap kenyang dan nyaman, termasuk jangan sampai ada drama muntah di perjalanan.
Di sisi lain, ada rasa khawatir mereka masuk angin atau mendadak GTM (Gerakan Tutup Mulut). Itulah pemicu kepusingan sejak sebelum jam keberangkatan.
Kalau mereka sampai nggak makan dengan baik, kesehatan mereka dipertaruhkan. Niat hati jalan-jalan senang, bisa berakhir kebingungan dan maunya segera pulang.
Pakaian Ganti Harus Siap Sedia di Tas yang Mudah Dijangkau Kapan Saja
Kadang, anak-anak nggak bisa ditunda kebutuhan daruratnya. Semisal baju yang basah karena keringat, atau ketumpahan susu yang buat mereka jadi nggak nyaman.
Orang dewasa tentu bisa bersabar dan cuek saja. Selain itu, sudah bisa lebih berhati-hati saat makan, pun sangat bisa duduk tenang.
Travelmate cilik punya energi yang berbeda. Ada masanya mereka minum susu tanpa memperkirakan apakah susu itu akan tumpah saat kotaknya dipencet, atau nggak. Ada masanya mereka minum terburu-buru sampai tersedak. Atau semisal sibuk lari sana-sini berujung mereka mandi keringat.

Apalagi alasannya kalau bukan mendahulukan kenyamanan Geng Bocil sepanjang jauh dari rumah? Walhasil gembolan dan tentengan makin memberat saja sama barang pribadi mereka.
Anak yang lebih kecil malah lebih banyak lagi bawaannya. Saya ingat betul, bagaimana dulu saya harus selalu menenteng popok ganti, susu, air panas dalam termos mini, minyak telon, bedak, dan lain sebagainya. Hal yang membawa saya ogah hunting destinasi wisata keseringan tanpa bantuan orangtua.
Sekarang saat mereka lebih besar, nggak banyak berubah walau sedikit lebih ringan. Masih ada dua pasang baju ganti full set yang harus mudah dijangkau saat diperlukan.
Saya jadi paham sekarang, kenapa selalu ada tas jinjing penuh pakaian ganti kami saat dulu jalan-jalan keluarga. Mama menyiapkannya hampir semalaman. Padahal jalannya jarak dekat, one day trip, atau mentok-mentok ya menginap satu malam doang. Ternyata Mama Ka Acha memikirkan beragam kemungkinan yang ia harap memudahkannya mengatasi kekacauan yang kami cipta sepanjang perjalanan.
Itinerary Padat Berpotensi Buat Travelmate Cilik Kelelahan
Bukan lagi waktu yang pas untuk Ka Acha ketika jalan bareng Geng Bocil, memilih destinasi sepadat-padatnya. Pertaruhannya nggak hanya energi saya yang keburu lowbatt, tapi mood mereka.
Sejak usia saya terasa makin "matang", perjalanan padat merayap penuh jadwal seperti di momen kebut dua hari keliling Yogyakarta langsung saya skip. Kecuali ... jalannya tanpa Geng Bocil.
Serius. Traveling bareng travelmate cilik itu butuh banyak kesabaran, dan kecerdikan buat mengatur kewarasan diri sendiri demi jalan-jalan nggak terasa seperti "ya udah jalan doang tanpa kesan".

Hal yang kemudian saya pelajari dari para teman-teman saya yang sudah lebih berpengalaman adalah ... mengisahkan rencana destinasi tujuan dulu sebelum berangkat, pada Geng Bocil. Harapannya, rasa penasaran mereka pada lokasi tujuan membantu menjaga mood asik mereka biar bebas rewel jadinya.
Berhubung Geng Bocil masih ada di masa usia dini, rupanya poin ini cukup berhasil. Kemudian, saat berada di tempat tujuan, eksplor segalanya perlahan, fleksibel, dan tenang. Segalanya saya ceritakan ala dongeng sebelum tidur semacam rencana berburu dinosaurus.
Saat one day trip pun, saya berusaha aware dengan kondisi diri sendiri, Si Partner, juga rasa level penasaran dan energi Geng Bocil. Apalah jadinya kalau orang dewasa yang membersamai travelmate ciliknya sudah kehabisan tenaga, ya kan?
Barang Pendukung Kenyamanan Si Travelmate Cilik Sepanjang Bertualang
Ada banget keluarga muda yang kalau traveling, selalu menyediakan space di koper atau ranselnya untuk peralatan mewarnai atau menggambar, buku bacaan, juga mainan. Ka Acha pun demikian.
Anak-anak diminta hanya memandangi jendela sepanjang di kereta jarak jauh, wah ... mana bisa tahan sepanjang 8 jam perjalanan. Selain tidur di pangkuan, travelmate cilik saya sering minta ditemani bermain. Makanya, bawa mainan kesayangan atau alat menggambar bisa jadi penolong mereka dari rasa bosan sebelum ngambek atau rewelnya datang.
Kalau diingat, di bagian ini memang lebih mudah membawa anak di usia batita karena cara mainnya nggak banyak versinya. Tetapi saya mempertimbangkan agar perjalanan tersebut jadi cerita saat mereka makin mendewasa, maka selepas balita barulah makin sering saya ajak jalan kemana-mana. Dengan catatan, siap dengan banyaknya barang bawaan.
Pada akhirnya saya menyadari, urusan begini di sepanjang perjalanan bukan hanya milik ibu seorang. Ayah juga butuh paham dan mengambil peran sehingga perjalanan dan petualangan bersama travelmate cilik bisa dibuat semenyenangkan mungkin. Kelak mereka tumbuh besar, mungkin masa ini yang akan mereka simpan rapat dalam benak sebagai kenangan manis yang bisa jadi ingin ia ulang.
Komentar
Posting Komentar