Perjalanan Menuju Pulih dari Masalah Kesehatan Mental dalam Buku Antologi Pulih

Nggak sering, masalah kesehatan mental yang dihadapi seseorang, sulit disadari oleh orang-orang lain di sekitarnya, kecuali oleh dirinya sendiri. Nggak jarang pula, masalah ini diabaikan alias nggak mau diterima kalau dirinya sedang nggak baik-baik saja, dengan berbagai alasan. Berbeda dengan masalah kesehatan fisik yang sungguh cepat terdeteksi dan bikin lekas mencari bantuan tenaga kesehatan.

Ka Acha sendiri merasa cukup senang akan hype dari kemunculan berbagai bahan bacaan yang belakangan ini banyak sekali menyinggung isu kesehatan mental. Bertebaran sih. Bisa disesuaikan pula dengan selera pembaca yang memang beragam alias antar satu orang dan lainnya nggak selalu bisa disamaratakan.

Buku antologi Pulih yang pembuatannya digagas oleh komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis ini, sebenarnya sudah lama menarik perhatian Ka Acha. Ingin sekali berkesempatan untuk menjelajahi setiap halamannya, namun baru kesampaian selepas menamatkan novel yang juga sama-sama mengangkat tema kesehatan mental berjudul White Coat Syndrome.

Jika di novel yang sebelum Ka Acha lahap tadi merupakan kisah fiksi utuh, nah … kalau di buku antologi bertema kesehatan mental kali ini tuh, kisah di dalamnya memang dituturkan oleh para penulis yang mengalaminya sendiri, pun mengikuti kisah menuju penerimaan diri dari orang terdekat yang tengah berjuang menghadapi masalah jiwa tadi.

Poin terpenting yang membuat keinginan baca saya meningkat adalah proses penulisannya yang turut didampingi sama psikolog dari Ruang Pulih lho, gengs. That’s why, saat momen pre order gelombang kesekian, saya merasa, kenapa nggak ikutan pesan juga.

buku mental health

Identitas Buku Antologi Pulih

Judul : Pulih (Perjalanan Bangkit dari Masalah Kesehatan Mental)

Penulis : Innaistantina, Steffi Budi Fauziah, Wiwin Pratiwanggini, Maria Julie Simbolon, Kingkin B. Prasetijo, Hana Aina, Novi Ardiani, Triana Dewi, Rahayu Prawitri, Henny Ra, Efi R. Suwandy, Yuli Arinta Dewi, Unga Tongeng, Noer Ima Kaltsum, Fuatuttaqwiyah El-Adiba, Dwi Anggraheni, Nitis Sahpeni, Imawati A. Wardhani, Nova Ulya, de Laras, Indah Lestari, Susi Hasan, Qisthy Annisa, Yunita Suryani, Rhein

Penerbit : Wonderland Publisher

Cetakan : November 2020

ISBN : 978-623-7841-76-0

Blurb Buku Kesehatan Mental Pulih

Benarkah Menulis Dapat Menyembuhkan Jiwa?

Nyatanya sering saya temukan tulisan yang justru membagikan luka, menitipkan energi negatif ke tempat pembacanya. Pulih. Ini adalah kontribusi kecil kami di ranah penulisan untuk turut peduli dan berbuat sesuatu terkait dengan isu kesehatan mental.

(Widyanti Yuliandari, S.T, M.T – Blogger, Penulis Buku, Wellness and Health Enthusiast, Ketua Umum Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis)

 

Mengapa Pulih Begitu Penting?

Saya berharap banyak wanita sadar untuk melakukan self-care dan self-healing serta mengambil tanggungjawab pribadi untuk pulih. Satu wanita saja dipulihkan maka dia akan mampu mengurus kesehatan mental keluarga.

(Intan Maria Halim, S.Psi, CH. – Konselor, Founder Ruang Pulih)

 

Belajar Mengkaji Rasa

Tiga puluh hari tanpa henti belajar mengenali rasa. Menggali, mengkaji, menghubungkan dengan yang lalu, mengelola lantas membentuk diri dengan pribadi baru. Perempuan-perempuan luar biasa! Selamat atas terbitnya buku ini, hadiah untuk mereka yang tak henti memaknai hidup bagi diri dan sesama.

(dr. Maria Rini Indriarti, Sp.KJ, M.Kes -- Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa)

 

Art Therapy dan Jurnal Syukur membantu saya untuk merilis beban-beban yang saya rasakan. Bersamaan de,ngan itu, ada keputusan besar yang saya ambil. Sekarang saya lebih mencintai diri saya sendiri, menghadiahkan diri sendiri, merayakan ulang tahun meski sederhana.

(Wiwin Pratiwanggini – Ibu Rumah Tangga, Blogger)         

 

Antologi ini bukan tempat membuang sampah melainkan membangun pembaca. Sekarang saya bisa mengurai pikiran yang selalu penuh dan belajar lebih tenang. Terima kasih.

(Kingkin B. Prasetijo – Guru Biologi)

Pengalaman Membaca Buku Pulih

Awalnya, saya nggak mau berekspektasi banyak pada buku antologi Pulih, sebab kisah di dalamnya saya kira akan berwarna-warni, mengisahkan urusan perasaan yang nggak kelar dan malah berujung beban nggak berkesudahan di diri seseorang. Saya hanya ingin mengapresiasi insan yang begitu tangguh sebab punya keberanian untuk menerima jika dirinya nggak baik-baik saja. Lalu, berani menyuarakannya.

Kisah bergulir dari sebuah cerita perjalanan pulih berjudul A Better Me yang mengawal Ka Acha untuk mencerna, kemana arah alur yang selanjutnya disajikan. Satu demi satu saya tamatkan. Nggak dinyana, Ka Acha ikut merasakan sesak, dan betapa sering air mata tertumpah sepanjang proses membaca. Semua rasa dari luka tadi terasa, namun nggak membekas, melainkan terobati perlahan-lahan di tiap akhir bagian.

Ada kisah dari seorang ibu yang sedari lama sesungguhnya telah menyadari bahwa ada sesuatu yang nggak beres dalam dirinya. Ia tahu, ia terluka, acapkali naik pitam pada hal sepele yang dilakukan putri kesayangannya. Ia juga sadar secara utuh, jika kemarahannya bukanlah sesuatu yang wajar. Rupanya, segalanya berawal dari traumanya di masa kecil, dengan ibundanya sendiri.

Duh … hati Ka Acha serasa diremas kuat ketika sampai di bagian ini. Ya, benar, luka yang dirasakan seorang anak di masa kecil, bisa terus terasa dan menunjukkan dampaknya di masa depannya dalam bentuk entah seperti apa. Mengajak saya kembali teringat kisah dalam novel Di Batas Pelangi yang menceritakan kacau-balaunya sebuah keluarga karena sosok ibunya sendiri.

Beruntunglah, sesiapa saja yang kemudian menyadari atas lukanya tadi, kemudian mencari jalan keluar demi membenahi diri. Berjuang untuk memutus ikatan rantai sakit hati dan ketakutan, sehingga nggak lagi diwariskan pada anak-anaknya kelak. Bagaimana, selalu ada drama mama papa muda di masa awal berkeluarga, tapi … bukankah segalanya harus dihadapi dengan kewarasan?

trauma

Selanjutnya, kisah mengenai kehilangan orang tersayang dan menimbulkan perasaan hampa yang nggak berkesudahan, seketika bikin Ka Acha makin sesenggukan. Sebuah kepergian memanglah kepastian di dunia ini, nggak ada seorang manusia pun yang selamat dari kiamat kecil bernama kematian. Sayangnya, nggak semua orang yang ditinggalkan, sanggup dan berbesar hati menerima takdir yang datang.

Dimulai dari menyalahkan diri, “ah, andai dulu aku begini … begitu … mungkin segalanya nggak akan terjadi,” sungguh nggak ada yang bisa mengulang sedetik saja waktu yang sudah berlalu. Tapi luka batin memang senangnya begitu, menggores dalam, dan membawa nyeri lebam berlama-lama seolah nggak paham perjalanan waktu.

menyalahkan diri sendiri

Ada pesan dari konselor Ruang Pulih yang membuat hati Ka Acha menghangat. Perjuangan seseorang untuk terbebas dari luka batin, dan usaha kerasnya untuk keluar dari dirinya yang terus bermental sebagai korban, merupakan jalan terbaik walau sulit. Jika begitu ingin mengubah keadaan, seberat apapun itu, diri sendiri dululah yang memulai, bukan mengharap lalu diam di tempat.

tentang kesehatan mental

Sembuh dari sakit semacam ini, nggak harus selalu dengan minum obat. Pun ketika menyadari kalau diri sedang sakit, nggak pula lekas self diagnose. Ada proses yang harus dijalani menuju kesadaran, di bagian mana luka itu berada, sebesar apa, juga bagaimana treatment yang bisa dilakukan untuk memulihkannya.

Jika dulu saya percaya sebuah kalimat sederhana, “waktu akan menyembuhkan segalanya,” setelah menamatkan buku Pulih, saya menepis kalimat itu jauh-jauh dari pikiran. Nggak akan datang sebuah kesembuhan, tanpa diusahakan. Walau bisa jadi, prosesnya akan terasa sangat panjang dan nggak menyenangkan.

waktu yang sembuhkan luka

Kenyataan bahwa luka jiwa seringnya digoreskan oleh keluarga sendiri, keluarga inti, menjadi benang merah yang selanjutnya Ka Acha dapati. Dari awal kisah hingga menuju akhir, setiap penulisnya banyak sekali menuturkan proses pulihnya dari masalah inner child. Pola asuh, kejadian yang terjadi di masa anak-anak. Pilihan hidup yang terburu-buru. Hhh … berkali-kali napas saya tercekat sepanjang membolak-balik buku setebal 292 halaman ini.

 

quote pengasuhan diri

Demi memutus semua rasa merana tadi, butuh sosok orang dewasa yang mau mengorbankan diri demi menjadi jiwa yang lebih baik lagi bagi penerus generasi. Sungguh buku ini, walau mengajak saya sebagai pembaca, menangis berkali-kali, berakhir dengan rasa hangat di hati.

Menamatkan sebuah buku antologi nggak selalu terasa nyaman bagi sebagian orang, sebab ada banyak sekali gaya bertutur di dalam satu buku. Tulisan yang singkat dan terus berganti kisah, jadi tantangan selanjutnya bagi penikmat buku. Bacaan apapun itu, memang selalu bermuara dengan urusan selera sih ya.

Font dan ukuran font di dalam buku ini enak dipandang mata dan nggak bikin lelah. Layout-nya cukup rapi sih, walau ada saja kata yang rasanya penulisannya kurang tepat, semisal ‘merubah’ yang seharusnya menggunakan kata ‘mengubah’, atau ‘nafas’ yang seharusnya ‘napas’. Mungkin ini sudah jadi masalah berjamaah sih.

Last, mungkin saya akan kembali mencari buku bertema serupa, fiksi tapinya. Biar lebih bisa menyelami saya sepanjang membaca.

Komentar

  1. Aku pun sbenernya kurang bisa menikmati antalogi mba, tapi masih mau baca apalagi kalo ditulis ceritanya menarik, bisa menjadi motivasi untuk pembaca , ya kenapa ga aku baca.

    Ga semua orang bisa beruntung lepas dari masalah penyakit mental yaaa. Apalagi kalo dia ga mendapat support dari keluarga terdekat dan lingkungan. Kebawa terus sampai punya anak 😔. Sedih sih baca curhatan teman2 yg mengalami ini. Dan itu bikin aku lebih menghargai keluargaku sendiri yg selama ini sangat support.

    BalasHapus
  2. Makasih info yang menarik dari buku ini

    BalasHapus
  3. Saya highlight apa yang dikatakan Mbak Intan Maria ini:
    "Saya berharap banyak wanita sadar untuk melakukan self-care dan self-healing serta mengambil tanggungjawab pribadi untuk pulih."
    Nah ... KESADARAN itu penting .... Mengakui sedang tidak baik2 saja dan perlu mendapat bantuan atau pertolongan penting.

    BalasHapus
  4. Beberapa penulis blogger ya kak. Benerlah memang menulis bisa release ya kak. Btw saya sedang menjadi pendamping keluarga yang menghadapi masalah mental. Bibi saya pernah masuk RS karena skizo. Sekarang ini menunjukkan bipolar. Beberapa bulan lalu sudah saya bawa konsul ke psikiater. Masalahnya karena beliau lebih tua dari saya jadinya saya gak bisa maksa kalo dia gak mau. Kendalanya itu kak. Jadinya dia sekarang sedang fase down. Saya jadi gemes.

    BalasHapus
  5. Ibu Ibu Doyan Nulis adalah komunitas penulis terbesar. Bukan cuma blogger kayak kita kita aja isinya ya mba, tapi juga mereka yang benar-benar penulis. Antologi PULIH ini pastilah isinya sangat menginspirasi, membuat hati tertarik hendak membacanya. Apa ada bedah buku onlinenya mba?

    BalasHapus
  6. Aku belum baca buku pulih, dari review di atas bukunya bagus ya, Mba. Kalau aku sendiri baca antologi nonfiksi tidak ada masalah walau isinya kisah yang berbeda, sebaliknya disanalah nilai lebihnya karena bisa belajar dari kisah hidup orang lain.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Film Tanah Cita-Cita (2016) : Melirik Sedikit Kehidupan Masyarakat Mbojo

Pandora Experience : Escape Game Yang Bikin Lupa Kalau Sebenarnya Saya Hanya Sedang Bermain Game