Kenalan dengan White Coat Syndrome Lewat Fiksi Romance Indonesia Bernapas Korea

Dalam hidup, manusia yang satu, kenal atau pun nggak, sebenarnya saling memberikan pengaruh. Iya nggak sih? Sesederhana, sebuah karya yang dihadirkan oleh seorang penulis, bisa ngasih pengaruh tersendiri ke pembacanya.

Menemukan novel White Coat Syndrome di aplikasi Cabaca yang biasanya menjadi lahan bagi Ka Acha untuk melewati masa lapang belakangan ini – jika kamu sering berkunjung ke Taman Rahasia Cha pasti eungeuh deh – memberi Ka Acha sedikit banyak pemahaman baru mengenai fobia, salah satu isu dari mental health.

Masih suka dengar celotehan para orang dewasa yang menakut-nakuti anak-anak dengan berbagai profesi semisal Dokter atau Satpam? “Hayo, kalau kamu nakal, nanti disuntik lho sama Dokter!” Pernah dengar kalimat begini?

Ada satu pengalaman personal Ka Acha ketika mengunjungi sebuah kantor urusan administrasi, dimana saat mengantre, ada ibu dan ayah yang menakut-nakuti buah hati mereka yang nggak bisa diam, dengan ocehan, “Duduk diam! Kalo nggak, nanti kamu dimarahi sama Pak Satpam!”

Hey … salahnya Pak Satpam apa, coba? Kemudian, memangnya nggak ada cara lain buat ngajarin si adik ini duduk tenang? Entahlah. Ka Acha yang dulu merasa terlalu muda untuk mengerti kenapa mereka demikian, cuma bisa melirik sambil diam-diam mengelus dada.

Ckckck. Kasihan kalau setelah dewasa, jadinya ia mengalami ‘ketakutan tanpa alasan’ sama salah satu profesi tadi lho. Nggak bisa disepelekan sih rasa takut yang begini. Payahnya, kelak bisa jadi ia  mengeliminasi salah satu atau beberapa profesi yang ditakutinya alias sebenarnya bisa jadi opsi untuk karir impian si anak.

Balik ke novel digital yang Ka Acha baca ya. Dalam novel White Coat Syndrome karya Salma Balqis yang diterbitkan oleh Penerbit Haru ini, penyebab traumanya beda lho. Bukan akibat ditakut-takuti oleh orang dewasa di masa kecil, melainkan muncul setelah dewasa. Momen traumatik yang ternyata ngasih efek ‘kacau’ bukan hanya di keseharian, melainkan memori ingatan si tokoh utamanya juga.

Ada banyak pembelajaran yang bisa didapatkan dari novel berlatar Korea Selatan ini, selain juga sukses bikin dag dig dug, serasa lagi nonton drama korea ber-setting rumah sakit. So, lets go kita kulik bareng!

novel white coat syndrome penerbit haru

Identitas Novel White Coat Syndrome

Judul : White Coat Syndrome

Penulis : Salma Balqis

Penerbit : Penerbit Haru

Cetakan : Oktober 2021

Tebal : 14 Bab (bisa dibaca via aplikasi Cabaca)

Blurb White Coat Syndrome Karya Salma Balqis

Namaku Claudy Lee. Sebelum bertemu dengan Sungjin, duniaku gelap gulita. Aku adalah seorang penulis yang penuh luka – yang berhasil menyelundupkan luka itu ke dalam berbagai tulisan.

Sungjin menerangi jalan keluar dari kegelapan yang membelengguku dengan cara yang tidak biasa : dia pandai bersandiwara. Dia mampu mengubur ‘kebenaran pahit’ dengan ‘kebohongan manis’ untuk membuat hal buruk terlihat ‘baik-baik saja’ di mata orang lain.

Kenalan Dengan Fobia Bernama White Coat Syndrome

Karya fiksi nggak hanya berisi khayalan semata, dan inilah salah satu alasan bagi Ka Acha untuk memasukkan karya-karya fiksi sebagai referensi belajar. Anggap saja, mengenal dunia baru lewat cara yang menyenangkan ya. Toh, menulis fiksi juga nggak jauh berbeda dengan menayangkan tulisan non fiksi yang membutuhkan proses riset bagi penulisnya.

Kali ini, pilihan Ka Acha jatuh pada White Coat Syndrome yang dihadirkan oleh Penerbit Haru. Sebelumnya, Ka Acha memang sedikit tahu tentang rasa takut pada tenaga medis ini sih, dan ketika mendapati buku dengan sampul dominan ungu nan sudah menggambarkan isinya ini, nggak pakai menunggu … saya langsung beli semua babnya dengan mengorbankan jumlah kerang Cabaca yang tersisa.

Saya menarik napas saat membuka bab pertamanya saja yang sudah berbayar, mengharap adanya insight yang bisa saya dapati, bukan hanya sekadar hiburan ala ala kisah romansa picisan. Gaya penulisannya yang cukup mengalir, pelan-pelan mengajak saya berenang di dalamnya.

Sebagai perkenalan juga bagi kamu, Ka Acha ingin sedikit berbagi pengetahuan terlebih dahulu mengenai iantrophobia yang salah satu gejalanya ini berupa white coat syndrome ya. Biar sefrekuensi dulu nih kita, sebelum curhatannya makin panjang sampai seribu kata.

Fobia atau phobia sendiri, berasal dari bahasa Yunani phobos yang bermakna takut. Maka, fobia adalah ketakutan akan suatu objek atau situasi yang nggak sepadan dengan ancaman yang dimiliki. Gampangnya, fobia ini tuh rasa takut yang melampaui penilaian rasional alias rasa takut yang muncul secara berlebihan. You got it?

Salah satu jenis fobia spesifik yang dikenal dalam ranah psikologi abnormal adalah rasa takut pada tenaga medis, atau nama kerennya iantrophobia tadi. Rasa takut nggak beralasan yang sebenarnya disadari juga sama penderitanya ini, seringnya diremehkan lho sama awam.

Pernah dengar ocehan, “ya ampun gitu doang aja ditakutin?”. Hadeuh … padahal orang yang mengalaminya nggak merasa ‘gitu doang’ lho, melainkan sebegitunya banget.

White Coat Syndrome atau dikenal juga dengan sebutan White Coat Hypertension, merupakan kondisi yang membuat penderitanya mengalami tekanan darah tinggi ketika berjumpa dengan tenaga medis semisal Dokter, atau berada di lingkungan layanan medis semisal Rumah Sakit. Bayangin kalau si penderitanya ini sakit dan butuh penanganan medis. Repot kan?

Dari saduran yang Ka Acha ambil pada salah satu post Instagram Kak Salma Balqis, ternyata ya … white coat syndrome atau kalau bahasanya disederhanakan, ya … rasa takut berlebihan saat melihat orang mengenakan snelli alias jas putihnya para dokter itu, hanyalah salah satu gejala dari iantrophobia. Perasaan yang seketika jadi nggak nyaman dan menyiksa bagi penderitanya.

Si orang tadi, bisa seketika mengalami lonjakan pada tekanan darahnya. Detak jantung yang menjadi lebih cepat. Napas mendadak sesak hingga dada seolah dihantam sesuatu yang berat. Keringat dingin. Ketakutan yang nggak sederhana, bukan?

Tuh, masih mau meremehkan fobia? Udah deh, kalau punya teman atau sesiapapun yang kamu kenal punya masalah ketakutan seperti begini, fobia apapun itu jenisnya, nggak perlulah dijadiin bahan becandaan. Empati yuk!

Sebelumnya, senang sekali Ka Acha menemukan novel Indonesia yang mengangkat soal kesehatan mental dan berfokus pada fobia seperti White Coat Syndrome. Daebak, Kak Salma Balqis.

Pengalaman Membaca Novel White Coat Syndrome

Ringan. Ka Acha menganggap, proses menamatkan buku digital berdurasi 14 bab di aplikasi Cabaca ini, seolah sedang marathon nonton drama Korea. Jumlah babnya beneran nggak banyak, tetapi dengan gaya membaca Ka Acha yang cenderung lelet – efek tsundoku ya nggak sih hadeuh – butuh waktu agak lama dikit lah ya dari pembaca pada umumnya.

Ada satu quote dari novel White Coat Syndrome yang berkali-kali mendengung dalam pikiran saya selama beberapa hari. Potongan kalimat yang akhirnya sukses saya tayangkan sebagai post feed di akun khusus baca saya, sebagai penanda untuk saya menamatkan buku tipis ini.

quote kesehatan mental

See? Bagaimana bunuh diri kadang sering terlintas dalam pikiran orang-orang yang merasa terhimpit keadaan. Tertekan. Tekanan akibat depresi ditambah berbagai ketakutan lainnya. Nah lho, kenapa ini si tokoh utama mendadak memutuskan untuk bunuh diri?

Sebenarnya, penyebab utamanya bukan karena Claudy Lee ini tertekan akan white coat syndrome yang dialaminya sih. Tetapi akibat dari jebakan yang dia buat sendiri, efek dari segala kejutan yang dia rasakan sepanjang dipertemukan takdir dengan Dokter Choi Sungjin.

Euh, gimana?

Sepanjang menikmati jalinan kisah yang dibangun sama Kak Salma Balqis di novel ber-cover ungunya ini tuh, banyak banget kejutan dari masalah mental akibat trauma yang sesungguhnya menjebak penderitanya lho. Bikin nggak nyangka, trauma berat itu bisa sebegitunya mengacaukan ingatan penderitanya.

Agar bisa sembuh pun, nggak bisa diperjuangkan seorang diri saja. Ditolak dan disepelekan apalagi, ckckck … bahaya.

Di sinilah peran utama dari Choi Sungjin yang bikin melongo, dan mendadak geregetan sama tindakannya yang kadang bikin Ka Acha mikir, “Dih, ini dokter kenapa segininya banget sih sama Claudy Lee?” He try to make a new sweet memory for Claudy Lee.

Mengambil latar tempat di Korea Selatan, sebenarnya nggak selalu mudah Ka Acha cerna sih. Beruntung, pengalaman menonton drama Korea membantu membangun imajinasi pada setting-nya. Saya terbayang betapa tampannya Choi Sungjin yang saya imajinasikan serupa Jo Jung-Suk ahjussi masa. Efek nonton Hospital Playlist sih ini kayaknya.

Sementara tokoh Claudy Lee yang seorang penulis ternama – gils banget dalam empat tahun, karir menulisnya bisa semoncer itu, huhuhu diriku apa kabar gaes – hidupnya serupa selebriti yang wara-wiri di berbagai iklan dan televisi. Mungkin memang, begitulah kehidupan para penulis terkenal di Korea Selatan sana? Seperti yang dikisahkan di drama korea Chicago Typewriter gitu.

Dari sini, kelihatan kalau memang tokoh Claudy Lee ini bukan perempuan sembarangan. Dia cerdas. Sayangnya, white coat syndrome bikin kehidupan cintanya amburadul. Maka … diperlukan sedikit sentuhan magic dari seorang dokter bedah jantung bernama Choi Sungjin untuk menormalkan kembali detak jantung Claudy Lee setiap menemukan segala hal bernuansa Rumah Sakit.

Sederhana sih idenya. Tapi pengolahan ceritanya lumayan daebak.

Membaca novel White Coat Syndrome lebih jauh, ngasih Ka Acha pengetahuan baru tentang post traumatic stress disorder. Suatu keadaan dimana penderitanya mengalami gangguan mental selepas melalui momen traumatis. Kalau kamu membaca novel ini, bakalan ternganga, sebab efek dari ‘trauma’ itu beneran segitunya lho.

Sayangnya, sebagai pembaca manja nan minta dimanjakan, penggunakan bahasa Korea-nya masih kurang bikin gereget. Bisa Ka Acha pahami sih, tujuannya pastilah demi menyamankan para pembaca Indonesia yang nggak selalu familiar dengan bahasa dari Negeri Ginseng, termasuk lelah juga kalau sedikit-sedikit lirik footnote.

Ka Acha jadi teringat akan novel berjudul French Pink yang mengangkat latar Jepang tapi juga minim sekali penggunaan bahasa dari negeri asalnya Doraemon ini. Padahal harapan pembaca – Acha, ini sih kamu doang kali ya – yang maunya bisa sekalian belajar bahasa baru dari karya berlatar di luar Indonesia.

But than, salah satu novel terbitan Penerbit Haru pada akhir tahun 2021 ini layak kamu pertimbangkan untuk jadi bacaan saat santai. Nilai plus-nya, penulisnya merupakan seorang sarjana psikologi,  jadilah kamu diberi kesempatan mengenal salah satu dari masalah kesehatan mental, fobia, langsung dari seseorang yang mendalami masalah kesehatan mental. Asik kan?

Novel White Coat Syndrome, pada bagian ending kisahnya, bahkan memunculkan tabel perkembangan dari proses terapi pasien. Serasa ikutan kelas umum mata kuliah psikologi nggak sih?

Komentar

  1. Naaah aku sukaaa kalo baca buku yg penulisnya memang menguasain bidang tersebut. Jadi seolah bener terjadi ya mba 👍. Dulu pernah baca buku yg ttg suatu profesi, tapi kliatan jelas penulisnya ga riset dan ga tau apa2 ttg profesi tersebut. Aku sebel baca buku yg begitu.

    Menarik nih ceritanya. Phobia memang bukan becandaan sih. Masih ada aja orang2 yg anggab itu hanya ketakutan biasa dan harus disembuhkan dengan semakin sering ketemu Ama benda yg ditakuti. Trus malah jadi bahan prank. Cth nya takut Ama ular, malah ditakut2in pake ular. Alasannya supaya ntr sembuh, jadi ga takut. Dokternya sendiri ga pake cara begitu utk nyembuhin pasien phobia 🤬.

    Bagusnya review-nya mba Acha... Bikin aku jadi tertarik mau baca 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak Mba Fanny.

      Huum, karena lihat background si penulis ternyata memang terjun ke bidang psikologi, makanya aku tergoda sekali buat baca buku ini, Mba.

      Hapus
  2. ceritanya bertemakan kesehatan ya kak, tapi sepertinya gampang dicerna tanpa harus paham istilah medis yang banyak. Tema kesehatan mental begini emang jarang jarang nih diangkat yes

    BalasHapus
  3. Aku suka kalau ada novel yang bermuatan psikologis, karena jadi serasa merasakan langsung apa yang dialami tokohnya, jadi kayak nyata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Eni punya rekomendasi bacaan sejenis lagi nggak? Pengen baca yang tema begini tapi gaya berceritanya ringan dan asik deh Acha belakangan ini.

      Hapus
  4. Novel yang ngga ringan dan ngga berat ya ka ini.. kalo dari tulisan kakak ini sebenernya tinggal kita memahami dengan jernih setiap peristiwa ya ka.. tapi kadang traumatik emang ngga bisa dianggap sepele, butuh waktu untuk bisa mengembalikan keadaan menjadi normal.. daebak deh kakak sukses bikin aku mau baca novelnyanya juga

    BalasHapus
  5. Phobia ternyata bisa banget jadi materi penulisan novel. Aku udh lama banget belum baca novel lagi nih, bisa jadi alternatif bacaan di akhir pekan.

    BalasHapus
  6. Wah baca aplikasi Cabaca juga ya. Novelku ada satu di situ. Baca juga ya xixixi. Kalo aku fobia sama yang bolong2 banyak itu. Merinding geli kalo liat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Novel punya Mbak Leyla udah aku tandain doooongg. Temanya lingkungan pula.

      Hapus
  7. hooh kak, baca novel emang bisa jadi media belajar yang menyenangkan yaa, terutama kalau sang penulis bener-bener menguasai bidang yang ditulis dalam cerita nya itu. Makasih review nya ya kak.

    BalasHapus
  8. Betul, jangan jadikan phobia jadi becandaan. Aku aja phobia sama kupu-kupu, banyak yang aneh sama hal itu. Dan aku baru tau ada phobia macam white coat syndrome ini. Penasaran ingin tau cerita lengkap novelnya.

    BalasHapus
  9. Seneng banget baca buku yang ada insight barunya begini.
    Memang sejatinya, kita gak boleh meremehkan phobia orang lain yaa.. Karena masing-masing punya luka yang melatarbelakangi.
    Sedih banget...tapi semoga ending bukunya bahagia yaa..

    BalasHapus
  10. Kupikir ini novel ditulis orang Korea ternyata orang Indo dg latar di Korsel.

    Eh ya white coat bisa parah juga saking nervous-nya, lihat baju dokter atau berasa di RS padahal sehat pun bisa darah tinggi. Ga bisa disepelekan.

    BalasHapus
  11. Sekarang baca buku makin mudah ya bisa lewat aplikasi juga, tertarik untuk baca yang ini deh jadinya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandora Experience : Escape Game Yang Bikin Lupa Kalau Sebenarnya Saya Hanya Sedang Bermain Game

Antologi Romantika Cinta Pertama