Langsung ke konten utama

Di Batas Pelangi : Apalah Anak-Anak Tanpa Hangatnya Keluarga

Menemukan novel Di Batas Pelangi karya Achi TM yang ada di barisan buku-buku jastip lainnya, saya gembira luar biasa. Saya sedang ingin menikmati buku bacaan ringan, tulisan fiksi bertema keluarga. Begitulah, tanpa banyak menawar, novel ini beranjak dari Gudang Gramedia Bandung menuju rumah saya di Cibinong.

Ah ya, bagi kamu yang juga senang membaca dan membeli buku, saya sarankan untuk membeli buku asli ya. Buku bajakan sungguh banyak merugikan, baik penulis dan juga penerbitan yang ada di balik lahirnya sebuah karya. Menulis itu bukan pekerjaan simsalabim soalnya.

Baiklah, saya langsung saja memulai mengisahkan pengalaman membaca salah satu karya dari novelis sekaligus penulis naskah Achi TM ini yuk. Sini sini, duduk di samping Ka Acha.

novel-islami-di-batas-pelang-achi-tm
                                                   

Informasi Buku

Judul                     : Di Batas Pelangi

Penulis                 : Achi TM

Penerbit               : PT Penerbit Pelangi Indonesia

Cetakan               : Pertama, Maret 2014

Tebal                   : 320 halaman

ISBN                  : 978-602.1627-34-1

Blurb

“Kematian … kematian … ada yang mati.”

Ini bukan kisah sebuah keluarga yang harmonis seperti dalam dongeng, melainkan kisah keluarga yang carut-marut begitu mendapat kekayaan berlimpah. Sang ayah yang gila jabatan bersanding dengan sang ibu yang mata duitan, sementara ketujuh anaknya tak mendapatkan jatah uang yang cukup sehingga selalu bertengkar demi uang.

Keluarga yang berisik, kasar, dan penuh kekerasan! Sementara di tengah mereka ada yang sedang menanti detik-detik maut menjemputnya. Tidak ada yang mau tahu. Mereka tumbuh dengan caranya sendiri-sendiri.

Tanpa kasih sayang … tanpa pegangan ….

***

Orang melakukan beemacam perjalanan dan mengharapkan itu mempertemukannya dengan hikmah, kepada kearifan. Sedangkan ada sebuah tempat yang sering ditinggalkan, padahal di sana berkumpul semua pembelajaran, segala inspirasi, dan perjuangan ; keluarga. Novel ini mengisi kehilangan itu. Cerita tentang sebuah keluarga, bermacam dinamika. Membuat pembaca merasa pulang ke rumah mereka.

(Tasaro GK – penulis)

Pengalaman Membaca Di Batas Pelangi Achi TM

Rangkaian kalimat yang mudah sekali dinikmati, mengikat, membentuk alur imajinasi yang membawa pembaca seperti saya terhanyut seketika itu juga. Tanpa ba bi bu, belum sampai di halaman kelima, saya sudah memutuskan untuk terus membaca hingga novel ini tamat, di antara kesibukan saya lainnya yang sungguh menuntut pemanfaatan waktu seefisien yang saya sempat.

Sepakat dengan apa yang Tasaro GK sampaikan di sampul belakang buku ini, saya pun mengakhiri membaca dengan menghapus airmata haru yang mengalir begitu saja. Sebuah makna tentang betapa keluarga benar-benar segalanya bagi semesta kehidupan, tersemat dalam. Menghujam.

 quote-keluarga

Novel Di Batas Pelangi karya Achi TM menghadirkan tokoh Dayu, anak keempat dari keluarga Wijaya nan pendiam yang memendam segala sakit dan pilunya sendirian. Berjuang untuk membeli “itu” tanpa pembaca tahu, apakah “itu” sebenarnya dan seberapa penting sesuatu yang terus saja disebut dengan “itu” hingga akhir cerita. Jebakan manis yang sungguh membuat saya bertahan hingga akhir cerita.

Baca juga : Hijrah Sakinah : Bahwa Menikah Adalah Sebenar-benarnya Perjuangan

Berada di tengah keluarga Wijaya yang memang kaya mendadak dan semua berubah jadi mengerikan, sungguh anak-anak terjebak dalam kekacauan. Ayah yang terlalu gila jabatan dan terus-menerus bekerja untuk uang bulanan keluarga, juga Ibu yang melakukan banyak hal demi sebuah pengakuan, prestise belaka. Sakit.

Bukan hanya Dayu rupanya. Ada Seto si anak sulung yang terjebak cinta. Betapa anak di usia awal dua puluhan bisa sampai belum paham tentang mana cinta yang pantas diperjuangkan atau hanya dimanfaatkan saja. Patah hati saya mendapati karakter anak lelaki serupa begini. Aih, Ka Acha kan juga umurnya masih di angka muda … hihihi.

Ditambah Anton si anak kedua yang rasanya sudah terlanjur rusak parah. Ia putus sekolah. Ia mantan pemakai narkoba. Suka berjudi pacuan kuda, sampai jadi penjual ganja. Mau dibawa kemana masa depannya, jika hidupnya saja sudah sedemikian rupa, dan orangtuanya tak sedikit pun tahu. Bahkan sampai ke tahap terlalu sibuk untuk sekadar mencari tahu apa yang terjadi pada salah satu anak lelaki di keluarga mereka.

Kemudian Bima, si anak ketiga yang agak melenceng dari kodratnya sebagai lelaki. Kemayu. Namun saya mensyukuri pilihan hidup dari tokoh Bima ini yang masih lebih aman dibandingkan saudara lelakinya yang lain. Memilih membuka salon, berdandan macho walau bicaranya nggak bisa ditanggulangi ala ala bancinya. Sisa didikan penuh sayang kedua orangtua di masa kecilnya yang sulit, masih tersisa bekasnya.

Kemudian Aristy si anak kelima. Awalnya saya terkecoh. Saya pikir Aristy akan jadi anak yang baik-baik saja hingga suatu waktu ia hampir membunuh temannya sendiri. Gila kan?

Belum lagi Anggi si anak keenam dengan paras cantik, sukses membuat ibunya tergerak untuk mempromosikan dirinya sebagai model. Dipaksa meneruskan impian sang ibu yang telah lama terkubur akibat menikah dan membesarkan tujuh orang anak dengan susah payah. Haruskah saya merasa iba?

Si bungsu Yuni paling membuat saya terbawa haru. Bagaimana jadinya seorang anak yang usianya masih cukup kanak-kanak namun dibiarkan saja sendirian di rumah, ditinggal ibu yang sibuk dengan kegiatan ala ala sosialitanya. Menahan rindu akan hangatnya sebuah tempat yang mereka sebut sebagai rumah mewah megah.

Perpaduan semua kisah yang disampaikan dengan sudut pandang orang ketiga benar-benar membuat saya sebagai pembaca terjebak dalam kisah anak-anak keluarga Wijaya yang kesemuanya menyakitkan. Tanpa kebersamaan. Kehilangan rasa utuh untuk mampu disebut sebagai sebuah “keluarga impian”.

Sayangnya di bagian tengah kisah, saya sempat dibuat bingung dengan jumlah tabungan Dayu untuk membeli “itu”. Di awal, harganya sekitar enam juta, namun di bagian tengah sempat menjadi lima juta, tapi terkoreksi menjadi enam juta kembali di akhir cerita.

novel-di-batas-pelangi-penerbit-peangi-indonesia
di halaman awal harga "itu" senilai enam juta

di-batas-pelangi-karya-achi-tm
di bagian tengah, harga "itu" jadi satu juta tabungan Dayu ditambah empat juta yang belum sempat Dayu kumpulkan

Nah, “itu” yang dimaksud di buku Di Batas Pelangi karya Achi TM ini tuh sebenarnya apa sih? Apa yang butuh Dayu beli secepatnya sebelum kematiannya? Kalau kamu penasaran, silakan di cari saja bukunya ya. Tapi, please, jangan beli bajakan.

Belum lagi dengan adanya salah penulisan nama karakter di beberapa bagian. Membuat saya berhenti beberapa waktu sebelum melanjutkan membaca kembali. Namun cukuplah bagi saya, toh pada akhirnya bisa dimengerti maksud ceritanya.

 quote-di-batas-pelangi-achi-tm

Sebuah hikmah dari berbagai quote yang saya temukan dalam buku Di Batas Pelangi karya Achi TM ini benar-benar menyentuh, menggoda saya untuk merekomendasikan novel bersampul cerah dengan gambar rumah-rumah yang saling berdempetan dan hampir runtuh ini bagi kamu yang butuh bacaan ringan.

Baca juga : Pasutri Gaje Season 3 : Menjadi Keluarga Berarti Siap Berjuang Bersama

Jika ingin membaca buku Di Batas Pelangi karya Achi TM ini, mungkin kamu bisa membelinya di toko buku online terpercaya yang menjual buku asli, atau ikutan jastip buku yang pelapaknya langsung berbelanja di gudang milik toko buku atau penerbitan ya.

 

 

 

 

Komentar

  1. dari keluarga memang semuanya akan berawal. Apalagi apa yang diajarkan oleh keluarga itu yang jadi pegangan seumur hidup

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget. Makanya membina keluarga nggak bisa sembarangan. Kasihan anak keturunannya kelak.

      Hapus
  2. Penasaran dengan akhir cerita keluarga beranak tujuh ini bagaimana selanjutnya. Hehehe
    Ga ada keluarga lain kah yang diceritakan, seperti saudara atau kakek nenek? Mungkin juga tetangga sehingga bisa sedikit melupakan kesedihan dan prihatin kita terhadap jalan cerita terhadap ketujuh anak tersebut...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada Nenek-nya sih Teh, tapi dikisahkan dalam ingatan saja karena beliau sudah meninggal.

      Kisahnya benar-benar berputar di tujuh bersaudara ini saja dan satu keluarga Wijaya saja.

      Hapus
  3. buku yang menarik dan memberikan kehangatan bagi yang membacanya ya kak, Keluarga ada titik dari awal kebahagiaan dan dimana kehangatan bisa didapat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bang Don.

      Terima kasih banyak sudah berkunjung ke mari ya.

      Hapus
  4. Testimoni Mas Tasaro ini bikin mikir

    Cerita tentang sebuah keluarga, bermacam dinamika. Membuat pembaca merasa pulang ke rumah mereka.

    Jadi, kita justru bisa bercermin ya dari carut-marutnya keluarga ini. Wah, sungguh kaya makna ya bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Bunda Niar. Baca ending-nya Acha sampai menghela napas dan berpikir banyak tentang membangun sebuah keluarga yang tetap hangat sebagai tempat bernaung anak anak.

      Hapus
  5. ulasan buku yang kembali mendekatkan pembacanya pada kehangatan keluarga meski banyak permasalahan yang ada tetap bisa dilewati dengan baik karena tetap bersama dalam keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sudah berkunjung ke mari Mba.

      Hapus
  6. Pastinya novel ini patut dibaca semua pasangan supaya menciptakan kehidupan yang harmonis agar anak anak tumbuh dengan penuh cinta kasih.
    Pastinya sang penulis novel "Di Batas Pelangi" ini ingin mengingatkan kita betapa pentingnya untuk menjadi sebuah keluarga yang lengkap tanpa ada konflik, KDRT, dan kekerasan lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah. Mba Achi TM pun menyajikannya dengan ringan tapi bermakna.

      Hapus
  7. Agak menyeramkan berada di tengah keluarga yg carut marut, berantem melulu..hehehe . Syukurnya di kehidupan nyata saya gak pernah nemuin hal aneh itu hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulllah ya Kak Gina. Kalau begini pun aku nggak akan sanggup sih Kak.

      Hapus
  8. Wah, teliti banget ya baca novel nya. Sampai-sampai bisa menemukan salah penulisan di beberapa bagian novel. Dan kayaknya menarik banget cerita novel ini

    BalasHapus
  9. Keluarga memang seharusnya tempat terbaik di dunia ini, namun nyatanya hidup tak semanis bayangan kita. Semua tergantung dari kacamata kita dalam memandang hidup.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, iya banget. Dan kacamata ini baliknya ya terbentuk dari keluarga dan lingkungan sekitar juga sih.

      Hapus
  10. Alur ceritanya membuatku teringat pada sebuah bacaan buku, mengenai anak2 dlm keluarga ini yg berubah satupersatu, tapi lupa judulnya, atau malah ini ya yang kubaca? Hehehe. Tp judulnya sepertinya endingnya jg akan bgus, atau tidak yaa, penasaran :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Marfa, endingnya bagus kok. Tebakan yang tepat.

      Hapus
  11. Setelah baca ringkasannya Di Batas Pelangi ini jadi tertarik buat baca bukunya. Dalam keluarga itu penting banget keharnonisan yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sudah berkunjung ke mari ya Mba Maya.

      Hapus
  12. Aku salah satu penggemar karya Mba Achi TM, beruntungnya di perpustakaan kota Pekanbaru ada beberapa karya Mba Achi TM. Bahasanya ringan dan menyenangkan untuk dibaca sekali duduk harus habis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya Mba Muth, karyanya Mba Achi TM selalu ringan untuk dinikmati. Sayangnya karena aku nggak bisa lagi menikmati waktu baca sekali duduk, cukup lama nih novel ini bisa kuselesaikan.

      Hapus
  13. Membaca ringkasannya aja sudah sangat menarik, apalagi baca bukunya langsung. Sebuah keluarga yang harmonis adalah kunci dari sebuah kebahagiaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh dicari bukunya Mas kalau penasaran bagaimana jalan ceritanya.

      Hapus
  14. Belum pernah baca bukunya. Kebayang seru juga nih ceritanya. Bagaimana sebuah keluarga besar bisa kehilangan kehangatan krn materi. Mungkin ini hanya contoh kasus aja ya...Penasaran, "itu" teh apaan?...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ... si "itu" cuma bisa ketahuan kalau baca bukunya memang Mba.

      Hapus
  15. Ini menarik. Permasalahan keluarga yang terlalu komplek. Saya penasaran bagaimana jalaan keluar dari masalah keluarga ini.

    Coba di perpustakaan online dulu lah. Siapa tahu saja bisa dipinjam. Hehehe

    BalasHapus
  16. Sepertinya menarik sih ini ceritanya. Setiap anak ya memang punya karakternya masing2. Btw aku penasaranam sama itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi memang "itu" tuh sebagai kunci yang bikin penasaran untuk menyelesaikan novel ini sih.

      Hapus
  17. Bener banget, kebahagiaan sebuah rumah tangga bukan dari harta benda, kalau saya sendiri jujur mendingan antar anggota keluarga saling mengerti, menjaga, menyayangi dan menghormati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harta itu rasanya hanya alat saja. yang menjadikan keluarga hangat ya insan di dalamnya.

      Hapus
  18. Seru ya ceritanya. Pasti banyak pelajaran yang bisa diambil dengan banyak karakter seperti itu. Pastinya ada kisah nyata seperti keluarga wijaya ini karena saya pun pernah mengalaminya ^_^

    BalasHapus
  19. Ini tentang keluarga rupanya, tipe mamanya Yuni banyak lho sekarang, demi bergaul dg teman-teman sosialitanya kadang anak kesepian di rumah. Jadi Penasaran deh sama buku ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kah Mba? Duh sedih banget kalau ada Ibu yang seperti itu

      Hapus
  20. Keluarga adalah titik awal kebahagiaan. Setuju dengan pnggalan kalimat dari Tasaro GK ini.
    Keluarga impian versi kita tentu berbeda-beda ya kak.

    Btw aku udah lama nih nggak baca novel. Jadi pingin bongkar gudang, karena buku-buku masih di gudang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk direalisasikan Kak Niken. Aku pun mulai berusaha lagi nih biar buku buku yang sudah lama kubeli nggak mubadzir. Sampai aku bikin akun IG @bacha.santai buat jadi penyemangat aku tetap membaca.

      Hapus
  21. Saya belum baca nih... Cerita yang temanya tentang keluarga biasanya memang mengaduk-aduk emosi ya...

    BalasHapus
  22. Belum baca nih bukunya, berkisah tentang keluarga yah, mungkin kalau aku baca pasti baper

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, aku sih nggak baper Kak Ainhy, tapi sering dibuat ngelus dada.

      Hapus
  23. Cerita tentang keluarga dan semua masalah di dalamnya selalu ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Tapi semuanya berawal dari keluarga dan bagaimana pun, kita pulangnya ya ke keluarga, kan ya? Aku belum baca buku ini dan jadi penasaran dengan cara Mbak Achi meramu konflik yang sedemikian memikat. Wajib berburu bukunya nih sepertinya

    BalasHapus
  24. Suka juga baca novel yang isinya ringan. Apalagi tema keluarga. Pasti banyak hikmah yang bisa kita petik dari novel ini terutama sebagai orang tua yang memiliki banyak anak.

    BalasHapus
  25. Kasihan ya...masih bingung keluarga ini nantinya kembali baik-baik saja atau tidak...tapi mungkin ini gambaran nyata. Ada yg tidak bahagia karena kebanyakan uang tapi bingung bagaimana mempergunakannya ada pula yang kehilangan kehangatan karena kemiskinannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya Mba. Kadang berlimpahnya harta pun nggak selalu membuat seseorang jadi bahagia.

      Hapus
  26. duuu bacanya ngeri ya kalau jadi bagian kelarga itu, tapi jadi merenung kami orang tua di mata anak itu seperti apa ya? penuh kasih sayang atau dianggap cuek?
    btw itu teh apa ya? langsung kepo maksimal ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, "itu" memang jadi kunci yang bikin pembaca penasaran sampai di akhir cerita lho Mba.

      Hapus
  27. wah kok mengahrukan ya kak ceritanya,jadi hepi ending kah ini kak? kasihan klo g hepi ending, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Happy ending sih, tapi tetap ada yang dikorbankan untuk sebuah ending yang bahagia.

      Hapus
  28. Cerita yang menarik. Mengulas tentang kehidupan dalam keluarga yang pada kenyataannya banyak terjadi di sekeliling kita.
    Dari perjalanan hidup keluarga Wijaya pembaca bisa mengambil banyak hikmah mengenai pentingnya sebuah keluarga

    BalasHapus
  29. Cerita tentang keluarga dari sudut pandang berbeda. Dari ulasannya, cukup menarik untuk dibaca karena penulis sepertinya berhasil menggambarkan tentang kehidupan keluarga itu dengan tulisannya. Wah jadi pengen baca novel ini deh.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali. 

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya. Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan ? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.