Label

Jumat, 28 Juni 2019

Pentingkah Foto Pre-Wedding Itu? Coba Tanyakan Dulu Pada Dirimu


Selama mempersiapkan proses pernikahan, tepatnya setelah menentukan jumlah budget yang akan saya dan si partner keluarkan untuk acara akad dan resepsi pernikahan kami beberapa waktu lalu, jangan ditanya ya … saya juga ingin lho punya foto pre-wedding dengan konsep maid and butler ala ala Jepang dengan setting di rumah pohon. Keinginan yang sudah lama sekali. Apalagi kan tren sekarang, kalau nggak bikin sesi foto pre-wedding sama calon pasangan sebelum menikah itu … kok kayak kurang ya?


Foto Pre-Wedding Ala Ala Akarui Cha dan Nofeldy Kakao

Memang sih, terpikir juga untuk membuat dengan budget seminim mungkin. Bekerjasama dengan teman yang jago fotografi, lalu mengharapkan dapat “harga teman” juga untuk sesi ini. Belum lagi ada deretan konsep yang nggak harus selalu pegang-pegangan sana sini jadi kesannya tetap manis dan nggak pamer kemesraan. Tapi, apa iya perlu? Butuh? Atau hanya memenuhi rasa ingin?

Saya melemparkan beberapa pertanyaan ini kepada diri saya sendiri di suatu malam, sebelum bersiap “merengek” pada si partner. Soalnya saya rasa, partner saya ini senang mengiyakan kalau memang saya merasa bahagia karenanya. Jadilah … saya filter dulu di diri saya sendiri. Nah, mungkin pertanyaan yang sama bisa kamu berikan untuk dirimu, sebelum mengajak calon pasanganmu melakukan sesi foto pre-wedding kelak.

Apa Sih Tujuan Kamu Melakukan Sesi Foto Pre-Wedding?
Pamer. Kalau saya yang ditanya begitu, saya akan menjawab dengan jujur … ya pamer. Nggak perlulah saya bertele-tele diplomatis dengan … oh, tujuannya menyimpan kenangan manis berdua sebelum sah saat akad nikah. Atau … umm, biar lucu-lucuan aja sama si calon pasangan.

Kalau budget saya berlebih sih, lalu kedua orangtua merestui, mendukung, juga ada waktunya, hayuk saja. Kan seru, bisa pamer calon pasangan sebelum hari H di media sosial sambil berucap dalam hati, “Nih, aku udah laku. Akan segera sold out.” Ya kan? Ya kan? Terus akan dapat banyak ucapan selamat juga doa dan bla bla bla. Atau … kalau dipamerinnya setelah menikah, hmm … rasanya sih tujuannya jadi sama saja ya.

Mungkin kamu akan memiliki jawaban yang berbeda dengan saya. Silakan saja, sebab bagi saya setiap orang memiliki latar belakang dan pilihan juga keputusan yang berbeda. Namun secara personal, saya selalu terpikir, apa dengan menyimpan kenangan dalam bentuk foto pre-wedding begini, lalu pamer betapa sweet-nya saya dan si partner di media sosial kami sebelum menikah, lalu di-up terus setiap tanggalnya berulang sebagai history post di masa setelah menikah, akan tetap membuat hubungan saya dan si partner semanis di foto? Saya melemparkan pertanyaan yang sama di insta stories saya beberapa waktu lalu, dan ya … banyak yang sanksi soal ini.

Belum lagi … sederet kenyataan menunggu kami setelah kata “sah” sudah diucapkan para wali dan dua orang saksi di saat akad nikah. Mulai dari kesiapan mental kami untuk sebenar-benarnya menjadi sepasang suami istri dengan berderet tanggung-jawab, hak, kewajiban, disesuaikan dengan visi dan misi yang sudah disepakati bersama sebelum memutuskan untuk menjadi pasangan. Belum lagi kebutuhan masa awal menikah yang “bikin kaget”, mulai dari urusan lahir, batin, sandang pangan papan, bahkan jalan-jalan?

Kalau dilirik dari sebuah foto viral yang menggambarkan sebuah keluarga beranak dua, naik motor berempat umpel-umpelan dengan latar sepasang kekasih yang sedang melakukan sesi foto pre-wedding … uww, nyindir banget sih ini ya. Kenyataan yang nggak manis-manis amat tapi bagaimanapun harus tetap dibuat manis biar langgeng sakinah ma waddah wa rahmah menunggu setelahnya lho. Uhuk, jleb juga sih buat saya.
Tapi … Sesi Foto Pre-wedding Kan Bisa Buat Seru-seruan Sama Calon Pasangan
Eh iya lho, bakalan seru pastinya.  Seru banget. Hitung-hitung menyuarakan banyak hal hal manis nan romantis yang diingkan berdua, ditambah berbagi rejeki sama teman-teman yang menghidupi keluarganya dari bisnis fotografi. Saya juga maunya begitu. Tapi … karena sederet acara akad dan resepsi yang saya dan si partner bermula dari penentuan anggaran alias budgeting dulu,  jadi … dengan penuh kesadaran akhirnya hal ini saya kesampingkan.

Bagi saya pribadi, biarlah hubungan manis saya dan si partner jadi konsumsi kami berdua saja. Mungkin ditambah dengan anak-anak kami kelak ketika mereka makin dewasa dan masuk usia matang. Lagipula, nggak ada ruginya kalau nggak melakukan sesi foto pre-wedding, kan?

Mau seru-seruan sekarang tapi setelah menikah jadi basi dan nggak seru lagi? Nah ini nih yang Pe-eR banget. Bahwa ternyata, setelah saya menjalani sebuah prosesi akad nikah dan menikmati masa-masa terkejut karena ternyata sekarang saya harus bertanggung-jawab pada pilihan saya untuk menikah dan menjalani visi misi hidup saya dengan si partner, seru-seruan ini malah perlu selalu diperjuangkan. Biar apa? Biar nggak saling bosan. Waktunya kapan? Kalau bisa selalu diusahakan. Sesering apa? Kalau bisa, sering dan selalu. Bentuknya seperti apa? Umm, setiap pasangan punya caranya sendiri dan selamat menjalani saja ya … saya turut doakan bagi kamu yang sudah menikah dan mampir ke tulisan saya ini … semoga langgeng mesra selalu.

Bisa Nggak Sih Melakukan Foto Pre-Wedding Dengan Dana Nol?
Bisa. Bisa banget. Sejujurnya saya dan partner pernah melakukan ini, namun urung memajangnya di ruang resepsi pernikahan kami. Merasa … ya … foto-foto kami yang banyak berderet dengan nuansa romantis ala ala kami yang diambil secara welfie itu … kayaknya nggak bakalan jadi point of interest di ruang resepsi. Secara tamu resepsi pastinya kebanyakan muncul dari kolega kedua orangtua kami. Pun mereka memiliki sudut pandang yang berbeda-beda juga kan dalam urusan tren foto pre-wedding ala ala anak muda jaman sekarang begini.

Biasanya tuh, kalau para bapak-bapak senangnya mengobrol. Nah … kalau ibu-ibu, sukanya menjadi komentator rasa makanan dan dekor. Ini menurut sepengetahuan saya lho ya … mana tau kamu beda, soalnya mainnya lebih jauh dibandingkan saya. Hihihi ….

Kenyataannya, setelah urung memajang hasil welfie norak saya dan si partner, ternyata resepsi pernikahan kami berlangsung aman-aman saja. Ramai, alhamdulillah. Makanan cukup, alhamdulillah. Acara lancar dan teratur, alhamdulillah. Sudah … kelar … beres.
Menyesal Nggak, Karena Nggak Bikin Sesi Foto Pre-Wedding?
Buat apa? Malah momen-momen setelah wedding itu yang berharga. Bagaimana menghargai pasangan? Bagaimana berusaha membuatnya merasa senang walaupun hanya dengan hal-hal sederhana? Tertawa dan saling menertawakan kekonyolan berdua, tanpa harus masuk ke dalam album foto, melainkan tersimpan lama dalam ingatan hingga saya dan si partner sama-sama menua, menunggu waktu siapa yang akan dipanggil “pulang” terlebih dahulu. Itu sih yang lebih saya hargai saat ini.

Kalau punya kesempatan untuk melakukan sesi foto setelah menikah, bagaimana? Wah, kalau ini, masa saya tolak. Foto keluarga kan seru. Paling nggak, menunjukkan betapa kami mulai menua, punya anak, cucu, dan terus saja begitu agar bisa seenggaknya wajah kami dikenali oleh anak keturunan kami kelak. Nah kalau kamu, akan berpikir seperti saya juga nggak ya?

Pada akhirnya, hubungan dalam pernikahan … untuk saya yang masanya masih belum lama lama banget begini … ya, waktunya untuk berjuang sama-sama. Toh saya dan si partner sudah menetapkan visi bersama. Maka menjalani berbagai misi yang ada tentunya dengan kerjasama kan, bukan dengan kerja sama-sama. Menyadari fungsi kami masing-masing dalam sebuah keluarga … yang dijalani tanpa melakukan sesi foto pre-wedding. Sebab hidup nggak sedrama itu … maka saya memilih menjalaninya sesederhana yang saya dan si partner mampu. Doakan ya.

Semoga kamu yang sedang mempersiapkan acara akad dan resepsi pernikahanmu, memulai segalanya dengan menentukan anggaran terlebih dahulu, serta memikirkan berbagai tahap demi tahapnya dengan matang biar nggak pusing berdua. Semoga kamu memilih keputusan yang tepat untuk mempersiapkan kebutuhan kamu dan partner-mu selanjutnya setelah sah menikah.

10 komentar:

  1. Saya juga setuju. Pada intinya mah sesuai selera dan dana .
    Memang ada rasa kepuasan dan kebanggaan punya sesi photo praweding, dan pastinya juga akan menjadi kenangan dihari tua nanti.
    Soal yan viral itu, lucu juga ya, mengiburlah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, yang viral lucu banget. Beneran berasa jadinya.

      Hapus
  2. Aminn Allahumma Aminn
    Semoga dan semoga hhehee
    Kalau buat aku pribadi malah nggak kepikiran mau bikin foto pre-wedding mbak
    Kepikirannya misal mau bikin foto ala2 pre wedding bisa bikin2 sendiri, sprti punyaknya Mbak Acha sama Mas Noverldy itu, atau pakai tripod pun wkkwkwk

    TFS yah mbak ^_^

    BalasHapus
  3. Kalau saya pribadi sih lebih baik foto post wedding ketimbang foto pre wedding karena klu post wedding kan sudah SAH ya jadi mau pose romantis gimana sah-sah saja

    BalasHapus
  4. Menurut saya sih sesuai keputusan kedua pasangan. Mau bikin foto pre wed atau tidak. Tapi emang bener sih, para tamu bakal didominasi oleh golongan tua kolega orang tua kedua mempelai. Dan tentu mereka lebih tertarik untuk mengobrol dan menikmati penganan yang disediakan sambil lalu bernostalgia daripada mengomentari foto prewed pasangan yang di pajang.

    Dan yang penting juga tentang selera dan dana juga sih :D

    BalasHapus
  5. Sebagai fotografer tentu saya gak setuju hahaha. Buat saya pribadi minimal orang ingin terlihat bagus dalam sebuah frame foto, dengan apapun konsep yang dia inginkan, mungkin alasan nomer duanya adalah pamer.
    Tapi ini opini pribadi saya sih.
    Terima kasih mbak, atas tulisannya, salam kenal ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga sudah sharing Mas.

      Senang dapat sudut pandang baru.

      Hapus