Langsung ke konten utama

Film Tanah Cita-Cita (2016) : Melirik Sedikit Kehidupan Masyarakat Mbojo

Film Tanah Cita-Cita ini pertama kali saya temukan ketika sedang gabut mengganti-ganti channel di TV. Nggak tau mau menikmati tayangan apa, sementara saya sedang lelah untuk menonton dari smartphone. Gara-gara mendengar nggahi mbojo alias Bahasa Bima yang ada dalam suatu adegan, sekeliling saya seakan membeku. Rindu akan rumah Nenek, merekah keluar dari sela-sela hati saya.

poster-film-tanah-cita-cita

Sudah lama sekali saya nggak mudik ke Bima. Pun kalau mudik, mana pernah saya benar-benar menjelajahi keindahan tanah leluhur, alih-alih mengekori orangtua yang mengunjungi banyak sekali rumah sanak keluarga, lalu orang-orang itu seringnya hanya singgah diingatan saya sebentar saja. Ya … saya mudah lupa akan rupa.

Geregetan. Gemas saja sepanjang saya menonton fllm Tanah Cita-Cita. Persis ibu ibu yang ikut mengoceh panjang pada beberapa adegan sinetron. Begitulah saya sepanjang menonton. Nah, daripada saya curhat sementara kamu belum tahu tema apa yang diangkat oleh film Tanah Cita-Cita, maka berikut saya sajikan sedikit sinopsis awalnya untuk kamu.


Sinopsis  Film Tanah Cita-Cita

Film Tanah Cita-Cita dibuka dengan suguhan pemandangan salah satu wilayah di Kabupaten Bima, dimana pantai dan susunan bebukitan menghampar hijau, di bawah teriknya mentari. Seorang perempuan muda dari Jakarta yang datang mengabdi sebagai guru -- tokoh Asta Cita yang diperankan oleh Chyntia Tenges --  mengajak penonton menyusuri Dana Mbojo (tanah Bima) nan eksotik.

Sebuah puisi manis yang dinarasikan oleh tokoh Asta Cita, berpadu dengan suasana pagi khas ujung timur Pulau Sumbawa. Pagi yang sudah cukup terik. Aih, jangan bayangkan akan seperti apa siang hari di sana ya.

puisi-tanah-cita-cita

Asta Cita disambut oleh Pak Zul, seorang guru yang memang diperankan oleh masyarakat lokal di sana, lalu dibawa untuk bertemu tokoh kepala sekolah bernama Rayhan yang diperankan oleh Dwi Surya. Menemukan sekolah yang dipimpinnya benar-benar tampak seperti bukan bangunan sekolah, Bu Guru Cita jadi makin tertantang untuk menunjukkan kemampuan mengajarnya.

Sayang seribu sayang, ternyata cara mengajar Pak Rayhan ini cukup unik. Para siswa malah sering diajaknya belajar di luar kelas. Ke bukit untuk mencari dedaunan hijau demi belajar tentang klorofil si zat hijau daun. Ke pantai. Ke ladang jagung untuk belajar cara menanam jagung langsung dari petaninya. Bahkan sampai ke hutan.

Sungguh tantangan yang bertambah berat sebab Pak Rayhan mengusulkan untuk menggunakan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) bukan untuk memperbaiki bangunan sekolah yang reot, melainkan untuk membiayai praktek para siswanya di luar kelas. Bagi Bu Guru Cita, sungguh itu merupakan pilihan yang kurang tepat, sebab sekolah benar-benar hampir mirip kandang kuda.

Ditambah pula dengan kritikan dari orangtua murid yang menuduh cara mengajar Pak Rayhan ini terlalu aneh. Belajar ya duduk manis di dalam kelas sambil membuka buku, mencatat catatan, menghafal saja. Bahkan sampai ada beberapa orangtua yang sengaja menjemput anak mereka di sekolah dan melarang anaknya belajar karena gurunya dinilai anomali dalam mengajar.

Lalu, apa pesan manis yang didapat oleh Bu Guru Cita selama masa pengabdiannya di Dana Mbojo dari sudut pandangnya sebagai pengajar yang datang dari sebuah kota besar bernama Jakarta?

Jika kamu ingin menyaksikan film Tanah Cita-Cita secara daring, kamu bisa menontonnya di channel Youtube milik Mind8 ya. Selamat menonton dan menemukan jawabannya.

Review Film Tanah Cita-Cita

Saya sejujurnya sangat menikmati sajian pemandangan alam, rumah-rumah tradisional khas Mbojo, juga beberapa Nggahi Mbojo yang muncul di banyak sekali adegan. Kisah yang bergulir tentang bagaimana seorang guru yang sepenuh hati mengajar, bahkan berinovasi dengan lebih banyak belajar di luar kelas. Rasanya, film Tanah Cita-Cita bisa menjadi inspirasi yang menarik bagi banyak tenaga pengajar.

rumah-khas-mbojo
rumah panggung sederhana khas Mbojo
(disadur dari blog pribadi sutradara Anton Mabruri)

Kenyataan miris juga tentang bangunan sekolah di pelosok Indonesia yang seringnya nggak benar-benar tampak seperti sebuah sekolah. Belum lagi tenaga pengajarnya yang terbatas. Tapi ya sudahlah, mungkin memang inilah salah satu tantangan bangsa Indonesia agar bisa menjadi bangsa yang berkembang maju dan berjaya, kelak. Aamiin.

Ditambah sudut pandang masyarakat akan pendidikan dan sekolah. Betapa bersekolah kadang dipandang sebelah mata. Pun orangtua yang nggak ikut banyak terlibat dalam mengajarkan pengetahuan pada anaknya, sebab hal itu dianggap sebagai tugas dari seorang guru, bukan tugas orangtua. Tantangan yang nggak bisa dianggap sepele.

Belum lagi tradisi dari tempat anak-anak tadi dibesarkan, kadang membuat mereka lebih fokus untuk berjuang menghadapi kehidupan di hari ini, bukan bagaimana caranya berjuang untuk mempersiapkan masa depan. Makinlah menggulung persis benang kusut ya segala prombelamita pendidikan yang ada di tanah air kita tercinta.

Sayang sekali, film Tanah Cita-Cita yang berlokasi syuting di Kempo, Dompu ini, nggak menyajikan subtitle tiap kali adegan dengan Bahasa Bima muncul. Setting lokasi yang luar biasa apik – apalagi proses menemukan setting tempat yang makan waktu panjang, jika saya baca dari tulisan di blog Anton Mabrori selaku sutradara – memang cukup memikat penonton, namun kebingungan akan jalinan antar adegannya jadinya missed sebab ketiadaan subtitle tadi.

Saya pun sebenarnya bertanya-tanya. Mengapa film Tanah Cita-Cita disebutkan mengambil tempat syuting di Kabupaten Bima, kalau memang dari yang tertulis di blog Anton Mabruri menyebutkan bahwa tempat pengambilan gambarnya di Kempo, Dompu? Sudah beda wilayah administrasi dengan Kabupaten Bima, namun suku Mbojo memang juga menempati wilayah di Bima dan Dompu sih ya.

Sepanjang menonton, bagi saya yang memang terbiasa mendengar Nggahi Mbojo sedari kecil, nyaman sekali. Saya bisa mencerna semua adegannya dengan smooth. Dialek masyarakat Mbojo yang mungkin terdengar seperti sedikit berteriak itu, sebenarnya sedang berbicara santun atau biasa saja. Tapi, bagaimana dengan orang lain yang boro-boro akrab dengan Bahasa Bima?

Kemudian tentang penyajian beberapa budaya khas Bima seperti permainan bela diri Gantao yang hanya muncul di satu adegan pendek, sebagai sarana bagi para siswa belajar berhitung tambah-tambahan. Padahal saya sangat berharap, ada adegan yang menampilkan permainan Gantao ini saat Pak Rayhan mau disergap oleh anak buah dari Pak Kepala Desa.

seni-gantao-khas-mbojo

Belum lagi perkenalan dengan tembe, kain tenun khas Bima. Selewat sekali. Juga Rimpu yang digunakan oleh kaum perempuan Bima sebagai penutup kepala, sekaligus penanda akan status pernikahannya di masyarakat. Sehingga ada yang namanya Rimpu Colo dan Rimpu Cili.

kain-tenun-tembe-dari-bima

Khusus untuk informasi mengenai Rimpu, silakan kamu klik link yang saya sertakan di bawah ini. Tulisan tersebut merupakan esai yang pernah saya ikut sertakan di ajang International Essay Contest for Young Poeple presented by UNESCO and Goi Peace Foundation.

Baca juga : The Missing Rimpu

Sementara untuk tradisi Paco Jara alias pacuan kuda yang jokinya haruslah anak-anak di daerah Bima, saya rasa cukup. Walaupun suasana kompetisi Paco Jara dari tokoh Bima di film Tanah Cita-Cita, nggak terlalu banyak terlihat. Lebih seperti Bima ke sekolah naik kuda, dan Bima ikut kompetisi Paco Jara saja.

pacuan-kuda-tradisional-bima-dompu
lokasi pacuan kuda tradisional masyarakat Mbjo
(disadur dari blog milik sang sutradara film Tanah Cita-Cita, Anton Mabruri/Mahapatih Anton)

Kalau ditanya, adakah tokok ikonik yang nempel banget sepanjang saya menonton film Tanah Cita-Cita? Oh tentu saja tokoh Pak Kepala Desa yang hobi banget makan pisang dan selalu menambahkan kalimat “maka dari itu” setiap kali ngomong atau perintah-perintah. Saya acungi jempol nih pembawaannya Pak Kepala Desa.

Lagi dan lagi, saya sangat mengapresiasi karya film Tanah Cita-Cita yang memang mengangkat tema pendidikan, dan juga memasukkan sedikit unsur budaya masyarakat Mbojo. Walau memang sepanjang menonton, terkadang saya merasa geregetan karena di beberapa scene seolah ada yang kurang digali lebih dalam. Ya … namanya juga sudut pandang penikmat tontonan, ada ada saja komentarnya.

Baca juga : Film Merry Riana

Terima kasih kepada Pustekkom dan Mind8 yang sudah menghadirkan suguhan tontonan yang cukup menggambarkan bagaimana sebaiknya seorang tenaga pengajar dan orangtua dalam memperjuangkan pendidikan anak, melalui film Tanah Cita-Cita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

  1. Ngomongin soal Bima, saya jadi inget pernah kesana bareng bapak, waktu itu tahun 2013, naik ferry dari Lombok cukup 30 menit aja, dan masih teringat jelas perjalanan dari pelabuhan menuju kotanya kurang lebih 2-3jam, dengan pemandangan bukit-bukit tandusnya berhias lautan biru. Jadi memang cocok sih kalo cara mengajar pak Rayhan ;ebih sering di lakukan di luar kelas, karena memang masih asri sekali alamnya.

    Terkait bahasa mereka, memang gitu nadanya, haha.. Hampir sama kayak bahasa batak gitu. Terdengar membentak tapi sebenernya santun.

    Btw, film-film dengan tema seperti ini memang layak untuk ditonton ya kak. Karena memang mendidik dan menginspirasi kita semua.

    Makasih untuk sharingnya kak Acha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm, mungkin itu ke Sumbawa kali ya Kak. Kalau ke Bima, sepengalaman saya dari kecl tuh, memang naik ferry dari pelabuhan Lembar di Lombok, ke Pototano di Sumbawa. Terus perjalanannya agak lumayan kalau untuk sampai ke Kota Bima. Rumah nenek saya yang masih di kabpaten saja, sekitar 1,5 jam dari Kota Bima, ditempuh kurang lebih 4 - 5 jam. Atau mungkin waktu itu, kendaraan yang Kakak tumpangi ngebut sekali kali ya.

      Sama sama Kak. Senang sekali Kakak bisa mampir ke tulisan di blog saya dan menjadi orang pertama yang meninggalkan komentar.

      Iya. Orang Bima atau Mbojo memang kalau didengar sama telinga kita yang terbiasa tinggal di Jawa, bakalan seperti orang marah-marah sih ya. Hihihi.

      Hapus
  2. Waah masyaAllah yaa, Indonesia ini bisa lhoo bikin banyak film keren seperti ini. Tapi sayang bangett ngga banyak penontonnya seperti tema-tema lain yang hits. Banyak pelajaran dan suka banget dengan film yang mengangkat kearifan lokal daerah. Mendidik banget padahal :( tapi aku baru tahu aja di sini. pas baca blog ini. ya ampun kemana aja ya aku. Thanks reviewnya ka Acha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks juga sudah mampir ke sini ya Kak Jihan.

      Iya. Banyak film Indonesia sebenarnya yang ternyata bagus-bagus banget. Entah kurang promosi atau memang beberapa film begini ini ya sepi peminat penontonnya mungkin.

      Semoga perfilman tanah air makin maju. Aamiin.

      Hapus
  3. Keren ya filmnya selain bahas tentang pendidikan, tapi juga menampilkan budaya dan khas dari Bima. Dari sini bisa lihat Bima meskipun belum pernah ke sana hehe. Semoga bisa ke sana nanti. soal Rimpu yang digunakan oleh kaum perempuan Bima sebagai penutup kepala ini baru tahu juga. Mantul Kak reviewnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak Kak Tri. Senang banget blog saya disambangi oleh Kak Tri.

      Bima memang termasuk daerah yang belum terlalu banyak diekspos, sepertinya. Padahal budayanya sungguh kaya. Saya yang punya darah keturunan Bima (wala ujungnya campurannya banyak juga dari Aceh dan Bugis juga agak agak non Indonesia) namun merasa kalau saya sendiri pun nggak banyak mengenal Bima sebagai asal daerah dari kedua orangtua saya.

      Hapus
  4. Keren pasti filmnya penuh dengan inspirasi nih. Topik tentang pendidikan di daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan memang gak akan ada habisnya untuk menjadi perhatian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlepas dari masih adanya kekurangan, film Tanah Cita-Cita ini memang cukup keren, Kak.

      Hapus
  5. Aku penasaran jadinya mau nonton film ini. Jeli sekali ya memotret sisi kehidupan yang bisa jadi banyak ditemukan di dunia nyata. Sepeerti soal pandangan bahwa belajar itu ya duduk rapi tenang dengan buku di tangan. Cuma, jadi bingung ini nanti memahami bahasanya gimana, hehehe. Ah, pokoknya coba ditonton saja dulu ya, Mbak. Terima kasih sudah berbagi ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya, makanya saya juga agak gimana gitu karena nggak ada subtitle-nya. Kepikiran kalau yang nonton nggak ngerti Nggahi Mbojo. Semoga ada versi selanjutnya dari film Tanah Cita-Cita yang sudah diperbaharui dan diberi subtitle. English pun nggak masalah.

      Hapus
  6. Harusnya tema beginian yang cetar ya Cha, maksudnya yang justru malah menginspirasi karena filmnya di daerah tentang pendidikan pula. Aku pernah nih nulis tema beginian 7 orang di writerpreneur Bekraft tahun lalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu mah selalu menginspirasi deh Nyi.

      Sepakat. Harusnya lebih banyak film seperti ini yang jadi perhatian penonton kita. Mana tau malah menggerakkan ya.

      Hapus
  7. Aku suka film lndonesia yang menampilkan kearifan lokal kayak gini, nggak melulu Jakarta yang selalu menjadi latarnya. Jadi penasaran pengin nonton

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat menonton Mas Achi.

      Iya, nggak melulu Jakarta dengan kehidupan metropolitannya. Sepakat.

      Hapus
  8. Wah jadi pengin nonton filmnya, Bagus banget ini pasti. Zaman sekarang mana ada belajar di sekolah seperti itu. Dan belajar yang langsung praktek pasti lebih melekat daripada anak-anak belajar gambarnya dari buku. Keren nih penulis skenario ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penulis skenario dan sutradara dari film Tanah Cita-Cita ini luar biasa berani mengangkat tema berbau pendidikan dan kearifan lokal begini. Semoga makin banyak sineas yang mengulik berbagai budaya lokal Indonesia, juga makin banyak produser yang siap memproduksinya. Semoga penonton Indonesia pun banyak yang jatuh cinta pada karya bangsanya sendiri. Aamiin.

      Ya, walaupun saya sendiri masih suka tontonan Asia sih ya, Mba. Hihihi.

      Hapus
  9. Keren ih filmnya mengulik ttg Bima sampai ke kainnya segala..dari review ka Icha jadi pengen nonton film ini deh

    BalasHapus
  10. Wah sepertinya perlu nonton film yg keren ini. Saya selalu suka film yg menggambarkan keindahan daerah2 di Indonesia. Saya sendiri belum pernah ke Bima, hanya sempat ke tetangganya yaitu KSB.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayo Mas Daniel, semoga kelak ada kesempatan untuk mengunjungi Dana Mbojo.

      Hapus
  11. Paling suka nonton film Indonesia yang menyuguhkan pemandangan tanah Indonesia yang eksotis, fiks film ini jadi waiting list buat tontonan

    BalasHapus
  12. Wah enggak ngira ternyata asalnya dari Bima. Baca sinopsis kakak menarik bgt, Kalau melihat filmnya langsung kayaknya seru deh. Apalagi ada tokoh iconic yg menggemaskan dengan pisang hihihi... Kalau soal pemandangan, enggak dipungkiri Bima bagus banget!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sudah berkunjung ke mari Kak Dewi.

      Hapus
  13. Kadang suka kesel yah kak,kalau cerita gak sesuai dengan kenyataan yang ada tuh suka kesel ya. Haha,aku juga suka gitu kak. Haha,kata suamiku udah tulis deh kalau cuma merepet gitu mana orang tahu,hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Makanya saya menulis review-nya di sini biar nggak ngomel sendiri. Tapi tersampaikan. Mana tau kelak sutradara atau penulis naskahnya ada yang sempat mampir untuk membaca tulisan saya ini.

      Hapus
  14. Film seperti ini yang harusnya bisa tranding nih di indonesia :) selain filmnya tentang budaya dan pendidikan, jelasnya keindahan alam bima awesome banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mba. Duh saya jadi kangen pulang nih.

      Hapus
  15. Ciri khas mudik sekali ya. Jadwal pulkam selalu penuh dengan agenda bertamu ke rumah sanak saudara. Kalau dipikir lagi, sih. Kapan lagi bisa bersilaturrahmi. Tapi ya harus benar-benar atur waktu supaya tujuan mudik sendiri tidak terlupakan 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, seringnya sebagai anak ya ikut ikut saja kemana orangtua membawa.

      Hapus
  16. Jadi endingnya guru Cita jadi ngajar di sana dgn caranya ato ngikut gaya kepala sekolah nih mbak? Jadi penasaran

    Kalo baca cerita ini jadi keinget tempat kursusan saya kmrn pas di pare. Dulu tempat kursus ya tuh sampe dibilang kandang ayam Karen bekas kandang dna tmptnya udha kurang layak sih. Saking pemiliknya pengen ngasih pendidikan yg murah biar yg miskin pun tetep bisa ikut kursus. Masih termurah se pare sampe skrg pun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga banyak berkah buah tenaga pengajar temat les Kak Ghina di Pare itu ya. Memeng pendidikan itu sebaiknya cukup, karena apa apa yang dipelajari akan membawa menuju masa depan yang dibentk sedari muda.

      Hapus
  17. wah makasi udah review, aku makin penasaran sama jalan ceritanya full

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak juga sudah berkunjung ke mari ya Mba.

      Hapus
  18. Filmnya ngasih liat ke kita tentang cara belajar yang anti mainstream ya. Baca reviewnya jadi penasaran mau nonton full movienya nihh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan Mba. Bisa langsung berkunjung ke channel Youtube-nya Mind8.

      Hapus
  19. Aku suka nih film kaya Tanah Cita-Cita. Apalagi menyajikan keindahan alam Bima. Jadi nambah ilmu dan sekalian jalan-jalan virtual. Kapan-kapan coba nonton ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeay, asik.

      Makasih Jiah, teman nonton dan ngeracun tontonan kesayangan.

      Hapus
  20. Masya Allah keren ya Cha filmnya. Mengangkat kebijakan dan kearifan lokal dari Bima. Saya penasaran dengan Bima sejak bertahun lalu ketika mengenal kawan2 adik ipar yang asal dari sana. Sampai sekarang ada yang masih kontak-kontakan dengan suami saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bunda Niar. Lumayan keren film-nya.

      Wah, senangnya kalau silaturrahmi terjaga ya Bund.

      Hapus
  21. Saya suka juga sama film Indonesia yang berbasis kearifan lokal. Sayang kelewat terus pas tayang di TV

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih bisa ditonton via Youtube channel-nya Mind8 kok, Bang Raja.

      Hapus
  22. Mungkin tak hanya di sekolah Bima yang hampir mirp dengan kandang kuda, tapi juga daerah lain nya yang pembangunan nya tak tersentuh oleh pemerintah setempat.
    Oh ya mba Film Tanah Cita Cita keluaran tahun 2016 ya,tapi aku kok belum dengar ya judul film ini.
    Tapi pastinya keren ya film ini karena menceritakan tentang kearifan lokal Bima Sumbawa yang terkenal indah, dan yang pasti super ekstra sang guru bernama Asta Cita mengajar disana ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun baru eungeuh sama film Tanah Cita-Cita ini Mba Rohmah. Kalau nggak tayang di TVRI manalah aku tau. Bahkan pas selewat di TV dan sudah di tengah tengah film saja, awalnya saya masih belum tahu film yang sedang tayang itu judulnya apa.

      Hapus
  23. Film tanah cita-cita ini sangat menggambarkan kondisi Indonesia saat ini, di mana fasilitas pendidikan yang belum merata begitu pula dengan tenaga pendidikannya. Semoga semakin cepat berbenah agar Indonesia semakin maju.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.

      Terima kasih sudah mampir ke mari, Kak Rizki.

      Hapus
  24. Memang masalah pendidikan masih banyak ketimpangan ya di Indonesia itu. Baik sarana fisik maupun tenaga pengajar yang kurang dan dukungan orang tua siswa juga. Tapi memang itu kenyataannya. Tontonan semacam ini penting agar dicarikan upaya pemecahannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, mantap Mba Sapti.

      Terima kasih sudah berkunjung ke mari ya Mba.

      Hapus
  25. Sebaga murid, cara mengajar pak Rayhan biasanya menyenangkan. Tetapi, cara mengajar begini memang suka menimbulkan berbagai problem. Jadi penasaran juga dengan endingnya

    BalasHapus
  26. uwaaa jadi pengen nonton sendiriii
    belum kenal Bima banget soalnya
    referensiku minim soalnya
    kan jadi pengen mengenal dan nonton sendiri yak
    atau bahkan kalau boleh datang langsung ke Bima, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Referensi soal Bima juga rasanya minim nih Kak. Kemarin googling pun data yang saya dapat sungguh seadanya.

      Hapus
  27. Film yang lumayan lama ya, namun dgn unsur tradisional membuat tak lekang oleh wktu

    BalasHapus
  28. FIlm ini jadi seperti kritik pada kondisi pendidikan di Indonesia berikut dengan harapan masyarakatnya, ya. Memang lazimnya, ortu ingin anak sekolah dengan duduk manis saja, tapi pengen hasil terbaik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal akan lebih terasah kreatifitas dan kritisnya anak anak jika belajar d luar ruang kelas. Mungkin begini ya maksud yang ingin disampaikan oleh tokoh Pak Rayhan.

      Hapus
  29. Wah film basis kearifan lokal nih jadi pengen nonton, lihat foto rumah2nya jadi terkenang waktu tersesat di sebuah desa Flores, suasananya ternyata tidak terlalu jauh beda dengan NTB ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, gimana ceritanya Mba Ida tersesat di Flores? Saya jadi penasaran nih.

      Hapus
  30. Yang aku suka dari film kayak gini, iya itu pemandangannya ya. Banyak eksplor tempat-tempat cantik yang selama ini gak sering dan malah gak kita tahu. Jadi tersadar kalo Indonesia memang indah. Jadi penasaran deh dengan filmnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul selain edukatif sekaligus mempromosikan destinasi wisata lokal juga.

      Hapus
    2. Selamat mencari tahu dengan nonton flmnya juga Mba Nia. Terima kasih sudah berkunjung ke blog Acha.

      Hapus
    3. Nah, sepakat sama Mba Sapti.

      Hapus
  31. Wah filmnya edukatif bgt kak. Apalagi mengenalkan lbh ke kita ttg bbudaya2nya.


    Ini wajib ntn sih aku masukin ke list . Makasih kak rekomen nyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak juga sudah berkunjung ke mari Kak Rini.

      Hapus
    2. Terima kasih banyak juga sudah berkunjung ke mari Kak Rini.

      Hapus
  32. Aku sangat suka film dengan latar budaya lokal yang kuat kayak begini, Kak. Apalagi bertema pendidikan di tanah air. Serasa ingat Laskar Pelangi ya, pendidikan kita memang banyak PR. Sampai sekolah kayak kandang kuda. Automupeng, langsung cus nih ke akun Mind8 buat nonton. Thankx infonya, benar-benar menghibur pagi yang beku, di sini cuacanya malu-malu matahari muncul tenggelam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuaaa terima kasih banyak Bang Rudi. Senang kalau tulisan saya malah menggoda Bang Rudi untuk lekas menonton film Tanah Cita-Cita sebagai hiburan pagi.

      Hapus
  33. Loh Mba Acha orang Bima tah? Saya ada saudara dari Woha hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Yof, darah Bima-nya banyak, walaupun nggak 100% Bima. Kalau keluarga saya dari Sila dan Kampo sigi di Rato.

      Hapus
  34. Ternyata film lama ya. Nontonnya pasti seakan-akan sedang ada di Bina sana. Jadi terbawa suasana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Mba. Saya mendadak kangen rumah Nenek jadinya.

      Hapus
  35. Terima kasih sudah mengulas Film Tanah Cita-Cita ini mbak. Mengingatkan saya pada seorang sahabat lama yang dulu kerap bertutur tentang Bima, tentang budaya dan tradisi yang ada di masyarakatnya, tentang ia yang rindu Bima tapi tak bisa pulang. Saat itu saya sampai menulis cita-cita ingin bepergian ke Bima selama satu bulan, tapi sampai sekarang belum kesampaian :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak memang anak anak Bima yang merantau. Menurut Papa saya, anak Bima itu seperti punya keharusan tersendiri untuk merantau.

      Semoga ada kesempatan untuk Mba Katerina dan suami kelak menjelajah Bima ya. Saya pun berharap begitu, agar setiap mudik, bukan hanya silaturrahmi sana-sini, melainkan bisa melihat keindahan Bima dari sisi di luar rumah rumah sanak saudara.

      Hapus
  36. Kujadi penasaran dengan film tentang Bima ini. Belum pernah ke Bima sih tapi kan melihat adegan di film yang Susah Sinyal mupeng banget melihat keeksotisan daerah Timur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, Sumda di Susah Sinyal saja sudah sekeren itu.

      Kalau mau intip sedikit, bisa mampir ke blog sutradaranya film Tanah Cita-Cita nih Teh Tanti, nama sutradaranya Anton Mabrori. Blognya belum TLD tapi isinya sungguh kaya tulisan bermakna.

      Kemarin Acha riset sebelum tayangkan artikel ini, mampir dulu ke sana.

      Hapus
  37. Maka bersyukur lah, ketika mendapatkan gedung sekolah beton, bertingkat. Karena ternyata masih ada sekolah yang mirip kandang hewan. Langsung cek channel nya untuk nonton.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Mas Taumy.

      Silakan Mas. Selamat menonton.

      Hapus
  38. Jadi, Dana Mbojo itu artinya Tanah Bima ya mba? Hihihi. Saya punya beberapa teman dan adik kelas kuliah dari Bima. Orang Bima cantik cantik dan ganteng ganteng yaaa. Kekekeke.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Mutia, betul sekali.

      Iya, yang 100% Bima biasanya mirip Arab dan cantik cantik.

      Kalau saya sendiri sudah ada campuran luar Bima jadi orang sering nggak menyangka saya keturunan Bima.

      Hapus
  39. Selain ceritanya yang bagus, pastinya film ini memanjakan diriku yang rindu travelling and memang mupeng sih pengen jalan-jalan ke Sumba, bagus banget yaa alamnya disana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Shynta paham banget sih sekangen apa Acha sama jalan-jalan. iya bangeeeetttttt. Kangennya udah numpuk banget ini.

      Hapus
  40. Temanya hampir serupa dengan laksar pelangi ya. Cuma bedanya disini memperjuangkan bangunan sekolah kalau berdasarkan sinopsis yg mba buat. Memang tanah indonesia itu kaya dan indah. Rasanya akan banyak sekali film yg di uat kalau mau mengeksplore budaya indonesia ya. Salut sama sutradara dan penulis yang mau menggarap itu. Jangan film hantu atau film cinta2an yg terlalu metropolis banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi iya, seringnya film apalagi sinetron kita setting-nya di sekitaran ibukota memang.

      Hapus
  41. Wahh ini film yg inspiratif ya nbak...
    Bisa semakin membuat kita mrngenal indonesia...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Mba.

      Terima kasih sudah berkunjung ke mari ya Mba.

      Hapus
  42. Suka sama temanya, Mbak. Nggak banyak tema yang mengusung pendidikan di luar Jawa. Paling ya Laskar Pelangi dan film-film produksinya Alenia. Jadi penasaran pengen nonton. Untung di Youtube yah, nggak perlu ke bioskop atau download aplikasi lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan Mba Alfa. Selamat menonton dan semoga suka.

      Hapus
  43. wah jadi lebih tahu dengan daerah bima ya. Lumayan ini filmnya menginspirasi . thx untuk reviewnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama Mba.

      Terima kasih banyak juga sudah berkunjung ke mari.

      Hapus
  44. wah masuk wish list tontonanku nih, terimakasih sudah berbagi infonya ya kak :D

    BalasHapus
  45. Nonton ini berasa pulang kampung ya Cha.
    Sebenarnya setuju sih dengan cara belajarnya Pak Guru Rayhan, yang mendekatkan anak-anak pada alam dan kekehidupan nyata ketimbang cuma teori doang ya. Toh di kota besar aja sekarang lagi ramai sekolah alam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, sepakat.

      Iya banget Mba Diah, Acha kangen pulang tapi masih pandemi, kasihan Nenek kalau ternyata Acha nggak sengaja bawa virus.

      Hapus
  46. Seneng banget ya mba kalau ada film Indonesia yang mengeksplor keindahan alam Indonesia apalagi saya belum.pernah ke Bima jadi terbayang indahnya alam di Bima

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Mba Yanti.

      Ada rasa rindu tersendiri yang muncul seusai menonton film Tanah Cita-Cita ini.

      Hapus
  47. penasaran dengan kehidupan masyarakat Mbojo jika difilmkan.. kebetulan saya punya teman yg berasal dari daerah Dompu, memang agak kurang ngerti bahasanya, tapi saya senang mendengar mereka berdialog..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, kebetulan lokasi syutingnya di Kempo, dompu nih Kak.

      Hapus
  48. Selama ini saya penasaran dengan pemandangan Bima soalnya teman-teman saya banyak juga dari sana. Nah, sepertinya rasa penasaran saya ini bisa terjawab dengan nonton film ini apalagi bisa dinonton secara daring ya jadi gak susaj carinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan Mba.

      Selamat menonton dan semoga suka.

      Hapus
  49. Seru banget filmnya ya bacanya aja aku antusias bgt. Jadi pengen main kekota bima....

    Memang sering banget diliput tradisi begini cuma karena belum pernah liat langsung aku masih penasaran aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kapan kapan ada kesempatan main ke Dana Mbojo ya Mba. Aamiin.

      Hapus
  50. wah ini film tentang pendidikan ya? keren nih pastinya. btw ini film Indie bukan sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya deh Mba. Soalnya nemunya pun di Youtube Channel Mind8 yang produksi filmnya. Kemarin pun awalnya lihat dari tayangan di TVRI.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali. 

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya. Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan ? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.