Langsung ke konten utama

Helaran Hari Jadi Bogor ke-530


                Memang nggak ada habisnya kalau bercerita tentang kota tercinta saya, Bogor. Di kota sejuk ini (walaupun sekarang mulai beranjak semakin menghangat saja), selalu saja ada hal baru yang menyenangkan. Bogor banget gitu!

                Pada tanggal 10 Juni kemarin, di jalan Tegar Beriman, saya dan sejumlah teman saya dari Sanggar Ligar Mandiri, binaan Teteh Hayatun Nisa (Teh Ica), kembali meramaikan helaran (festival budaya) disana. Kami mewakili Kecamatan Ciomas, tempat Sanggar kami berada.
                Ajaib! Itulah kata pertama yang saya ucapkan ketika salah eorang pengurus di Sanggar, Bi Neneng, mengirimkan SMS pada saya pagi itu. Kurang lebih, isi SMS-nya mengatakan bahwa foto kami saat di helaran kemarin, muncul di koran Radar Bogor. Dan kagetnya lagi, saya ada di dalam gambar itu. Satu pertanyaan lagi yang berseliweran setelah menemukan gambar itu. “Apa ya alasan editornya memilih gambar kami? Apa kostum kami dan bakul itu menggambarkan masyarakat Bogor banget?” Ups!
                “Beneran, Bi? Serius?” celetukku. Hal yang sama seperti yang saya utarakan ketika Teh Ica meminta saya datang ke Sanggar untuk berlatih tarian yang khusus di tampilkan saat helaran. Kala itu pun, saya mengirimkan balasan SMS yang hampir senada. Saya nggak percaya, ternyata tahun ini saya diberikan kepercayaan oleh Teh Ica untuk menunjukkan kebolehan saya disana, di depan banyak sekali warga Bogor yang akan menyemuti jalan Tegar Beriman, juga disaksikan Bupati Bogor.
                Disana, di jalan Tegar Beriman, tepatnya di stand bernomor 19, saya dan delapan orang teman saya menunjukkan kemampuan menari kami. Tarian yang khusus kami bawakan untuk helaran kali ini berjudul ‘Tukang Ndul’. Hmm..sedikit aneh memang. Tarian ini mengisahkan tentang para penjual makanan yang masih tetap ada di kawasan Ciomas,  yang begitu setia menjajakkan dagangannya dengan nampah yang dibawa di atas kepala mereka, di antara bangunan toko swalayan yang semakin menjamur di wilayah Ciomas. Tidakkah mereka merasa tersingkir di jaman yang dikatakan semakin modern ini? Sampai kapankah mereka bertahan dengan nampah dan dagangan mereka, sementara kini lebih banyak orang yang memilih membeli roti daripada kue yang dijajakkan oleh mereka? Itulah pertanyaan yang ingin kami ajukan dari tarian ini.
                Selain menampilkan tarian utama kami, Tukang Ndul, yang kami lakukan hampir sebanyak 5 kali putaran, kami juga menampilkan tarian lainnya yang kami kuasai di sela-sela waktu istirahat. Ada yang menari Jaipong ‘Sekar Panggung’, Sancang Gugat’, ‘Midua Hate’, dan lainnya. Sementara para penabuh gendang kami mengiringi kami dengan beberapa kata-kata penyemangat yang memancing penonton semakin menyemut di depan stand kami. Bahkan, salah satu pemain gendang kami, Haris, ikut menari disela-sela waktu istirahat tersebut. Video Haris Ramdani (finalis Indosat Mobile Academy 2012) yang ikut menari kala itu, dapat kamu lihat lengkapnya disini.
                Semoga hiburan yang kami sajikan kepada masyarakat menyisakan kesan yang mendalam di hati mereka. Salam budaya!!!

Komentar

  1. hidup bgooor~ (>O<)7

    cieeh yg msuk koran~~ *colek cha*

    BalasHapus
    Balasan
    1. HIDUP!!!
      Ahahaha...kecamatan Ciomas gitu
      *lebay dikit*
      makasih banyak Ishe >.<

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.