Langsung ke konten utama

Life Traveler : Buku Tentang Perjalanan Menuju Pulang


Saya percaya, bahwa setiap orang, memiliki alasannya sendiri tentang traveling, jalan-jalan, liburan, atau apalah sebutannya. Ada yang memang mencari pengalaman, menemukan cerita baru, atau hanya sekadar refreshing dari rutinitas sekalian berfoto untuk dipamerkan di akun media sosial yang dipunya. Yap … semua nggak selalu sama soal selera.

Maka, sebab sedang nggak bisa kemana-mana juga, saya mengalihkan diri saya yang sudah kangen jalan-jalan dengan membuka galeri foto lama, menonton, sampai menghabiskan buku bacaan yang seringnya saya semangat beli doang, tapi nggak selalu lekas ditamatkan.

Kali ini, cara saya beralih dari rasa rindu akan perjalanan seru menuju tempat tertentu adalah dengan membaca buku perjalanan. Karya dari Windy Ariestanty dengan judul Life Traveler (Suatu Ketika Di Suatu Perjalanan) saya pilih untuk menemani saya menjelajah Indochina melalui imajinasi dan foto-fotonya.

Sebelum saya berkisah panjang mengenai buku Life Traveler ini, nggak afdol rasanya kalau saya belum mengenalkan bukunya secara lebih dekat kepada kamu dong ya. Biar sefrekuensi dululah kita.


life-traveler-windy-ariestanty

Informasi Buku
Judul        : Life Traveler (Suatu Ketika Di Sebuah Perjalanan)
Penulis     : Windy Ariestanty
Penerbit    : Gagas Media
Cetakan    : Kelima 2014
Tebal         : 411 halaman
ISBN         : 979 – 780 – 465 – 8

Blurb
“Where are you going to go?”, tanyanya sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja saya.

Going home.” Saya menjawab singkat sambil mengamati landasan pacu yang tampak jelas dari balik dinding-dinding kaca restoran ini.

Going home?”, ia berkerut. “You do not look like someone who will be going home.”

Kalimat inilah yang membuat saya mengalihkan perhatian dari bulir-bulir hujan yang menggurat kaca. “Sorry, what do you mean?
(Suatu Malam di Ohare)

Kadang kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan rumah itu untuk kita, apa pun bentuknya.

Tapi yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri : sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing, meski berada di tempat yang asing sekalipun … because travelers never think that they are foreigner.

Pengalaman Membaca
Awal ketertarikan saya pada buku ini, mungkin kamu bisa langsung menebaknya. Ya, kalau tebakanmu bahwa saya mengambilnya dari rak karena penulisnya adalah Windy Ariestanty, maka … seratus … kamu tepat sekali.

Saya mengenal nama Windy Ariestanty, berawal dari rasa penasaran saya pada sesiapa saja yang berada di balik kekecean penerbit Gagas Media, dulu sekali. Lalu semakin saya tumbuh besar, saya mengenal Mba Windy ini dari beberapa kisah perjalanan yang ditulis pada blognya, juga dari beberapa blogger lain yang mengagumi beliau. Termasuk event akbar, Patjar Merah.

quote-life-traveler-windy-ariestanty

Belum lagi beberapa referensi yang saya baca mengenai Windy Ariestanty yang senang sekali melakukan perjalanan ke tempat yang nggak umum dikunjungi wisatawan Indonesia. Kalau boleh, bisakah kita memakai istilah hidden paradise dari destinasi semacam ini? Nah, bagaimana Ka Acha nggak semakin tergoda untuk membaca kisah perjalanan yang disajikan dalam buku Life Traveler, coba?

Beberapa pun merekomendasikan saya untuk membaca habis buku Life Traveler ini di kala sedang merasa entah sekali, antara mau liburan tapi sedang nggak ingin juga liburan. Benar saja, saya sering menemukan makna yang punya benang merah menuju satu kata dalam setiap tulisan pada buku ini, tentang “pulang” di setiap kisah perjalanan yang disajikan Life Traveler.

image-life-traveler-windy-ariestanty
bagaimanalah saya nggak tergoda untuk ikut jalan-jalan?


Makna bahwa sebenarnya pulang bukan selalu kembali ke tempat semula kita berangkat. Tempat dimana kita beberapa hari sebelumnya dibuat sibuk setengah hidup untuk memilah dan memilih barang yang perlu dibawa. Sebuah ritual sulit bagi traveler pemula nan banyak takutnya macam saya.

Awalnya, saya kira, Windy Ariestanty akan membawa saya berkeliling Indochina. Mengunjungi Viet Nam mulai dari Ha Noi, Hue City, sampai ke Siem Reap di Kamboja. Nggak terduga, saya malah dibawa ikut keliling dunia. Menikmati setiap rasa yang sampai ke hati Windy Ariestanty saat menuju suatu destinasi.

Bayangkan. Pembaca kepo macam saya, diajaknya berkunjung ke Ha Noi Old City dengan bangunan-bangunannya yang kebanyakan berwarna Kuning Mangga. Hingga ke kedai kopi tradisional bernama Toi-Toi di desa pinggiran dari Republik Ceko yang ternyata tempatnya belum tentu ada di dalam peta perjalanan.

quote-tentanglife-traveler

Ngocolnya lagi. Eh ternyata, Toi-Toi ini bukanlah nama si kedai kopi, melainkan toilet umum yang ada di sebelahnya. Iya, di Republik Ceko sana, toilet itu disebut dengan kata Toi-Toi. Lha terus nama kedai kopinya apa dong, Ka Acha?


Belum lagi kisah perjalanan menuju dan sepanjang menikmati Frankfrut Book Fair. Para pecinta buku mana yang belum kenalan dengan bazaar buku yang sudah lama dikenal ini?

Di sana, Windy Ariestanty mengenalkan saya pada sedikit banyak, bagaimana caranya editor bekerja untuk menemukan naskah menarik yang bisa dialihbahasakan untuk pembaca di tanah air kita tercinta ini. Juga bagaimana suasana menyenangkan yang ada di sana.

Gaya bertutur Windy Ariestanty yang memang juga merupakan seorang editor, sungguh mampu membuai, mengajak imajinasi saya seolah mengekorinya kemana-mana. Mengunjungi setiap tempat yang telah ia kisahkan dalam Life Traveler. Lagi dan lagi, saya jadi paham, mengapa cukup banyak teman yang merekomendasikan saya untuk membacanya sampai habis di saat haus jalan-jalan, tapi sedang nggak bisa benar-benar mewujudkan niat jalan-jalan itu.

gambar-di-buku-life-traveler-windy-ariestanty
terima kasih sudah mengajak saya ke Eropa

Sayangnya, saya hanya bisa menikmati sedikit gambar berwarna di buku ini. Beberapa di antaranya ber-tone hitam dan putih. Beberapa lagi hanya digambarkan dengan ilustrasi. Namun mungkin bentukan layout seperti ini yang memang pas untuk buku bertema perjalanan ya. Agar pembacanya, bukan hanya menikmati, namun tergerak juga untuk mengunjungi tempat-tempat yang telah dikisahkan sebagai rekomendasi.

Pun rasanya jika kamu membaca buku ini, sebaiknya dalam keadaan yang tenang. Bacalah dengan pelan, dan nikmati setiap katanya. Sebab perpindahan Windy yang smooth dari satu destinasi ke destinasi lainnya, dari bab yang awal dengan bab selanjutnya, saling kait mengait. Kamu akan kebingungan sendiri jika kamu membaca melompat-lompat.

tips-traveling-ala-life-traveler
walaupun gambarnya hitam putih ,,, tapi ada tips traveling-nya lho

Ah ya, kelebihan lain dari buku Life Traveler ini adalah adanya cukup banyak tips traveling di beberapa tempat yang benar saja, bisa kamu praktikkan langsung jika memiliki kesempatan untuk mengunjungi tempat yang pernah dijelajahi oleh Windy Ariestanty. Semisal saat di Viet Nam, lebih nyaman bertanya dengan bahasa inggris pada orang berpakaian hitam putih yang merupakan tanda kalau ia seorang mahasiswa.

Saya pada akhirnya setuju, bahwa sebuah perjalanan baik jauh, dekat, lama, maupun singkat, perlu dinikmati. Dirasakan dengan hati. Sebab selalu saja ada makna yang tersembunyi dari berbagai pengalaman termasuk cerita yang didengarkan dari orang-orang yang kita temui, sepanjang di perjalanan.


Semua elemen tadi mengajak pembaca yang tentunya juga punya hobi jalan-jalan, untuk “pulang”. Menemukan rumah yang sebenar-benarnya, dimana “rumah” tempat untuk pulang tadi, bukan secara harfiah. Rumah itu berada di mana saja, di setiap tempat seorang pejalan merasa aman dan nyaman.


Komentar

  1. Wow jadi dapet perspective baru soal rumah yah mba, jujur saya juga pengen liburan dan keliling dunia tapi untuk saat ini ada prioritas yang lebih penting. Untungnya masih ada buku yang menurut saya juga bagian dari jendela dunia yang tidak membuat orang mengeluarkan bunga-bunga dengki hihi.. Selama masih bisa membaca ya kenapa tidak kita berimajinasi dan yakin suatu saat nanti bisa ke tempat impian kita ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap Mba. Bagi saya, kalau emmang belum bisa sebab kesempatan untuk keliling dunia belum ada, kenapa nggak saya cari pengalaman itu dari membaca buku bertema perjalanan dulu.

      Hapus
  2. Nah saat pandemi, saat kita tidak bisa jalan kemanapun sekiranya memang cocok dong baca buku ini ya? Kita seolah bisa jalan jalan mengikuti Windy dalam kisahnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget Teh. Apalagi gaya bertutur Mba Windy yang asik banget dan bikin betah membacanya. Mengalir sekali.

      Hapus
  3. Menarik bangett bukunya.. Nah aku pun setuju kalao perjalanan yang bermakna dan berkesan bukan hanya karena jaraknya yang jauh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. kadang hanya tempat yang dekat dari rumah saja, sudah bisa ngasih pengalaman, sebenarnya.

      Hapus
  4. boleh juga nih ada buku yang memberikan destinasi menarik yang harus di kunjungi, apalagi di saat covid 19 gini kita tidak bisa kemana mana. buku ini bisa mengajak kita berkeliling

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Jadi walaupun menghabiskan lebih banyak waktu di rumah saja, kita tetap bisa traveling melallui imajinasi.

      Hapus
  5. Buku Life traveller ini menarik banget yah mba. Emang yah kalo udah travelling tuh, ya kudu dibawa happy dan ninggalin yang bikin penat, jadi kudu feelins like home gitu di setiap destinasi ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Being local sih tepatnya ya.

      Itulah fungsinya traveling. Bukan bikin penat, tapi menemukan sesuatu untuk mengatasi penat.

      Hapus
  6. Buku yang cocok buat para pecinta travelling ya. Eh, yang rumahan kaya saya juga pastinya jadi ikutan tertarik ingin nyoba travelling. Walau sudah berumah tangga, siapa tahu kan ya? Bareng-bareng suami dan anak pasti lebih asik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga anak rumahan kok Mba. sama kok kita.

      Nah, bisa jadi penyemangat untuk sebentar saja keluar dari zona nyaman nih, buku ini.

      Hapus
  7. Wah, baca buku ini dibawa keliling dunia rasanya ya? Mau juga dong, siapa tau kesampaian berkunjung be berbagai negara di belahan dunia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.

      Mungkin Mba Nurul juga mau coba rasanya keliling dunia dengan imajinasi?

      Hapus
  8. Ahh Windy Ariestanty. Sejak SMA aku suka baca novel-novelnya. Tapi ngga pernah kepikiran sosmednya. Elaah setahun terakhir nemu sosmednya tapi aku udah jarang baca bukunya somehow hehe mungkin karena aliran bacaku skrg lebuh ke nonfuksi tapi skrg aku lagi ahak boring dg nonfiksi haha. Bisa jadi rekomendasi bacaanku selanjutnya nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pun baru belakangan ini nemu blognya. Parah banget kan ya aku Mba, Hihihi.

      Termasuk wow, ternyata kesuksesan novel Dee berjudul Aroma Karsa juga berkat Mba Windy ariestanty sebagai editornya lho.

      Hapus
  9. lagi masa isolasi ini emang pas banget ya buat baca buku. kalo bacanya buku tentang traveling jadi berasa ikut jalan2 juga... seru!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru banget Teh.

      Di saat bosan nonton, ya baca bisa jadi pilihan.

      Hapus
  10. Mungkin, lantaran buku ini jarang berwarna, maka Acha lupa menyelipkan foto-foto halaman bukunya di dalam blogpost ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sudah mengingatkan Mba Vicky.

      Acha jadi meng-update kembali tulisan ini dan melengkapinya dengan gambar.

      Hapus
  11. Ketika saya membaca nama Windy Ariesta langsung teringat kalau dia juga suka beri beberapa pelatihan menulis. Saya pun follow akun twitternya. Jadi pengen juga baca buku ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh Teh, kapan ya saya bisa ikut pelatihan menulis dari Mba Windy ini? Mau banget.

      Hapus
  12. Ish.. suka banget sama kata-kata ini "yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri". Jadi pengen baca juga hikzz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangeeettt Noel. Makanya kujadikan quote favorit.

      Hapus
  13. Taman rahasia cha seperti cerita cha eaaaa
    Mb windy aku kenal. Tapi salut dirimu ya mba membaca buku dengan baik sampai saat ini. Aku dah jarang bangett

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kesibukan kadang bikin kita nggak sempat baca buku dengan tenang memang ya Mba. Tapi semoga di saat senggang, disempatkan kembali.

      Hapus
  14. Buku2 Traveler seperti ini yang dari awal saya baca (Sekitar usia SMP) saya langsung definisikan sebagai "Jendela Dunia", setiap cerita seakan membawa saya ke Tempat baru dan seolah saya bisa menikmati setiap petualangan, setiap rasa, setiap pertemuan, dll. Dan memang benar, kadang kita dapat lebih mengenali diri kita sendiri justru saat sedang di Tempat yg jauh dari rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget Mba, Memang salah satu cara berkeliling dunia, selain beneran geret koper atau angkat ransel dan merasakan langsung sensasi perjalannnya .... adalah dengan menikmati perjalanan orang lain dalam sebuah buku perjalanan.

      Hapus
  15. hobi jalan-jalan tetap yang dikangenin adalah rumah ya ka... duh lihat ulasan ini, aku jadi kangen jalan2 ke luar kota :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. sabar ya Mba. Akan ada waktunya kita bisa bebas jalan jalan lagi dengan tenang. Aamiin.

      Hapus
  16. Selalu suka deh baca review buku begini. Suka pengen baca juga apalagi ini tentang sebuah perjalanan ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir ke mari ya Teh Lis.

      Hapus
  17. Aku mau baca bukunya. Menyenangkan sekali baca buku travelling sambil memaknai bahwa perjalanan adalah cara kita untuk merindukan kata pulang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan dicari Mba. Judul bukunya Life Traveler, karya Windy Ariestanty terbitannya Gagas Media.

      Hapus
  18. Life traveler ini bagus banget sih, salah satu penulis favotitku juga, Mbak Windy Ariestanty. Kalau cerita rasanya mengalir gitu, jadi betah baca tulisannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget. Nyaman banget dibaca dari awal sampai akhir. Suak banget saya sama gaya penceritaannya.

      Hapus
  19. Aku suk abanget sama buku-buu yang settingnya perjalanan jadi serasa ikut dalam perjalanan tersebut baik dalam maupun luar negeri. DI bukunya indy Ariestanty ini seru ya bisa menikmati berbagai destinasi di belahan dunia lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru banget. Apalagi memang Mba Windy ini kan editor Gagas Media, pun yang membantu lahirnya buku Aroma Karsa milik Dewi Dee Lestari, jadi memang enak sekali sepanjang dibacanya.

      Hapus
  20. Wah bisa jadi rekomendasi baru nih buat ngisi WFH. hehe
    Aku juga suka baca buku yang gendrenya Traveling kak. TFS yaah kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, semoga Bang Ipul juga bisa baca buku ini ya.

      Hapus
  21. Ilustrasi di bukunya keren banget ya, Cha. Windy sendiri juga keren sih nulisnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih Teh Eno, enak. Sayang ada beberapa yang hitam putih, sementara Acha senang yang berwarna.

      Hapus
  22. Aku juga suka banget dengan tulisan-tulisan Windy. Kayaknya koleksi kosa kata di otaknya itu nggak ada habisnya. Tulisannya mengalir dan enak dibaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangeeeettt Mba. Kadang setelah baca buku Mba Windy ini, saya sendiri langsung tergoda untuk nulis juga walau dengan bahasan yang nggak sama tentunya.

      Hapus
  23. Aku belum pernah baca bukunya Windy, Cha. Duh, aku ketinggalan banget yak huhu. Padahal dulu pas sebelahan sama Eva dia punya beberapa bukunya hihi

    BalasHapus
  24. Aku pernah baca beberapa bukunya Mbak Windy dan selalu hanyuuuut kebawa suasana gimana gitu.

    Biarpun aku masih tipe traveler pemimpi (iya masih mimpi jadi traveler), aku suka baca2 buku travelling.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi sama ya Mba. Aku juga masih termasuk banyak mimpinya, nggak bisa sering jalan-jalannya.

      Hapus
  25. wah aq blm pernah baca buka tentang life travelling, aq jadi tertarik nih utk bacanya, thx yaa infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali karena sudah mampir kemari.

      Hapus
  26. Paling suka baca buku tentang perjalanan. Apalagi kyk sekarang jd makin kangen jalan2. Menarik ulasannya mbak.

    BalasHapus
  27. melihat dari alur plot ceritanya memng sangat bagus buku ini dan menarik banget karena memiliki banyak unsur nuansa daerah dan kampung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Umm, nggak kampung kok nuansanya. Lebih kepada destinasi destinasi wisata yang unik alias nggak selalu terjelajah oleh wisatawan asing yang mampir ke suatu tempat di Indochina dan Eropa. Unik sudut pandangnya.

      Hapus
  28. Melalui buku dari kisah yang dituliskan awalnya oleh Windy Ariestanty, pembaca review tulisan ini juga dibuat penasaran oleh buku Life Traveler dan ingin merasakan dan menemukan makna pulang jg dalam sebuah perjalanan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan dicari ya bukunya Mba, Mana tau Mba juga mau baca bukunya seperti saya.

      Hapus
  29. Saya juga suka benget membaca buku maupun artikel yang membahas travelling. Selain bikin pengetahuan bertambah, saya juga jadi bisa membayangkan keindahan suatu tempat yang telah diceritakan di buku/artikel tersebut. Sykuru-syukur, ada rezeki bisa ke tempat yang diceritakan tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya, harapan yang sama dengan saya. Semoga dengan membaca buku traveling seperti ini, kelak saya pun bisa ke sana.

      Hapus
  30. Aku suka bgt baca buku buku travelling,,
    Rasanya saat membaca ikut jalan jalan juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget. Pas jadi hiburan untuk saat ini dimana mau jalan jalan masih banyak was wasnya ya.

      Hapus
  31. Aku suka tulisan Wind tentang cerita perjalanan saat traveling keluar negeri. Lupa ada di buku apa. Sepertinya buku antologi traveling dengan para penulis lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya belum baca nih buku antologi perjalanan beliau. Semoga kelak bisa ketemu bukunya dan bisa baca juga.

      Hapus
  32. Jadi penasaran aku sama bukunya. Pengen bisa merasakan makna pulang yang lain dari buku seperti yang mbanya ceritakan. Apalagi penulisnya senang berwisata ke destinasi yang enggak umum dikunjungi wisatawan. Kedai kopi yang malah ditulisnya nama toilet sebelahnya yang Toi Toi itu unik deh. Mana belum ada di peta perjalanan pula :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naaahhh itu. Seru banget baca buku ini Mba. Semoga kapan kapan Mba bisa baca buku Life Traveler karya Windy Ariestanty ini ya.

      Hapus
  33. wah, menarik sekali ya. mba windy emang kalau kulihat dari postingannya enak sekali untuk dibaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mba. Semoga kelak bisa baca buku yang sama dengan saya ya.

      Hapus
  34. Sy jarang baca novel kak, kebanyakan anime gitu lebih animator..
    Tapi ada sedikit penasaran sih baca buku bergenre romance atau lainnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini buku nonfiksi kok. buku perjalanan.

      Wah anime, saya juga suka sekali nonton anime.
      Mohon lain kali bila mampir kemari, silakan dibaca dengan teliti dahulu ya kontennya Mas Eko.

      Hapus
  35. Punya juga buku ini dan emang seru bacanya. Mana lagi tulisan Mbak Windy enak banget dan runut gitu. Banyak tipsnya juga untuk yang senang traveling

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Kak Mon. Nyaman banget bacanya.

      Hapus
  36. Dulu pernah baca buku ini tapi kemudian lupa isinya .Terima kasih telah mengingatkan kembali .Kak Windy memang asik tulisannya buat pembaca betah sampai akhir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama Mba. Hihihi, saya telat sebenarnya menemukan buku ini.

      Hapus
  37. cocok bangt buku ini utk referensi traveling. Udah lama gak baca ttg traveling ginian, jadi kangen pengen ngetrip kemana gitu, tapi masih belum ada bayangan krn pandemi. Oh ya, klo beli bukunya lewat gramedia apakah tersedia mb?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasanya lewat Gramedia online, ada namun cetakan selanjutnya. Tapi karena buku ini terbitan Gagas Media, jadi beli langsung lewat penerbitnya lebih menyenangkan.

      Hapus
  38. AKu suka baca buku, tapi ngga bisa bikin resensi keren macam kamu mbak hahaha. Baru baca resensinya aja udah kepingin baca satu buku

    BalasHapus
  39. Baca ini tuh rasanya pengen deh jalan-jalan lagi walau nggak ke tempat yg jauh rasanya di masa covid gini susah banget ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dengan membaca buku tema traveling begini, jadi penghibur hati ya Mba Veny.

      Hapus
  40. Penasaran banget ini sama bukunya...

    Btw thanks banget udah ngulas tentang buku tersebut...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama sama. Terima kasih banyak sudah mampir ke tulisan saya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.