Langsung ke konten utama

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels


Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.


Mercusuar Cikoneng - Anyer Dibangun Pada 1885

Ada kebahagiaan membuncah yang terselip diam-diam di benak saya, saat mobil yang dikendarai oleh Datuk – panggilan sayang saya dan anak-anak untuk Papa Mertua saya – terparkir di halaman penginapan Menara Suar Cikoneng. Sebuah bangunan bercat putih tinggi menjulang, menyapa saya, bersama semilir angin siang yang kala itu digelayuti mendung. Sesekali terdengar lembut deburan ombak yang bertabrakan dengan deretan pemecah ombak yang sengaja diletakkan di sekitar bibir pantai. Saya sangat tergoda untuk segera berkeliling.

Tapi namanya sedang ikut menemani orangtua ya. Apalagi kedatangan kami semua dalam rangka menemani Bundo – panggilan sayang untuk Mama Mertua saya – tadabur alam dengan rekan-rekan pengajian beliau. Maka, urusan berkeliling sedikit diundur. Fokus saya beralih ke urusan barang bawaan dan juga para bayi yang belum disuapi makan siang. Menjelang dzuhur barulah saya dan partner punya waktu senggang untuk berkeliling, mumpung si bayi bisa dititipkan sebentar pada Bundo.

Mercusuar Cikoneng dari arah pantai

Di kawasan penginapan Menara Suar Cikoneng ini, selain ada mercusuar Cikoneng yang menjulang di lapangan parkir dan bisa dimasuki pula oleh pengunjung – dengan catatan, hingga ke lantai 2 saja, juga terdapat Tugu Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels. Terjawab sudah, ternyata di wilayah Anyer, pembangunan Jalan Raya Pos dahulu, bermula dari tepian Pantai Cikoneng.


Pintu Masuk Mercusuar Cikoneng

Imajinasi membawa saya pada bagaimana Gubernur Herman Willam Daendels di tahun 1825 melakukan prosesi peletakan batu pertama yang hanya berjarak beberapa langkah dari menara suar Cikoneng lama yang sebelumnya telah dibangun dan digunakan sejak 1806. Kini, akibat dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada 1883, Menara Suar Cikoneng Lama telah berubah menjadi monumen peringatan, dan menara suar yang saya temukan di sana adalah menara suar baru yang dibangun kembali dua tahun kemudian, sekitar tahun 1885. Pun Menara Suar Cikoneng ini masih difungsikan hingga saat ini sebagai mercusuar untuk wilayah gugus tugas Kantor Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Priok, Direktorat Kenavigasian, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan.

Peraturan Pengunjung di Mercusuar Cikoneng

Cukup tua ya? Itulah mengapa, maksimal jumlah pengunjung yang bisa memasuki menara suar dengan tinggi sekitar 75,5 meter dan memiliki 286 anak tangga tersebut,  hanya dibatasi untuk dimasuki hingga maksimal 10 orang saja di siang hari. Selain itu, pengunjung pun dibatasi hanya naik hingga ke lantai 2 saja, tentu saja sebab semakin ke atas ruang gerak pun akan semakin sempit. Jadi, kamu nggak perlu mencoba iseng melanggar peraturan dengan memaksakan diri naik hingga puncak mercusuar, sebab tentunya akan membahayakan dirimu sendiri ya.

Lalu, apa saja yang Ka Acha temukan di dalam Menara Suar Cikoneng? Saat pertama kali memasuki pintu, sebuah poster cukup besar di dekat langit-langit, dimana di bawahnya ada sebuah pintu lagi yang hanya diijinkan untuk dibuka oleh petugas penjaga mercusuar, menyambut saya, Poster tersebut mengingatkan kembali akan sejarah pembangunan Jalan Raya Pos yang hingga kini masih digunakan oleh umum, walaupun nggak berfokus sebagai Jalan Raya Pos (Grote Postweg) untuk pengiriman komoditas lagi, seperti di masa masa sebelum kemerdekaan Indonesia. Tetapi keberadaannya tetap menjadi penting untuk keberlangsungan transportasi masyarakat kita, bukan?

Deretan Informasi Berbagai Mercusuar Satuan Tugas Kantor Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Priok

 Satu fakta sejarah yang saya baru tahu kemudian, ternyata Menara Suar Cikoneng tersebut, merupakan hadiah dari Raja Belanda Z. M. Willem III. Wah, noraknya saya, bisa mencicipi rasanya memijakkan kaki di dalam bangunan tua bersejarah yang bahkan lebih tua dari usia kemerdekaan Indonesia, merupakan hadiah dari Raja Belanda, dan masih difungsikan pula hingga hari ini oleh Kementerian Perhubungan Laut Indonesia.

Selanjutnya, di bagian dinding, ada banyak sekali informasi mengenai menara suar lain yang juga sama bersejarahnya, dan tentunya masih pula difungsikan hingga saat ini. Maafkan saya yang nggak memotret semua informasinya satu per satu, sebab pengunjung hanya diperkenankan berada paling lama sekitar 30 menit saja di dalam.

Pemandangan Laut dari Lantai 2 Mercusuar Cikoneng

Selain nggak diperkenankan untuk berlama-lama, tentunya untuk memotret di dalam menara suar pun perlu saling pengertian. Sabar menunggu giliran. Ada sebuah jendela di menara suar yang dibiarkan terbuka dan seringnya pengunjung betah berpose di sana, menjadikan pemandangan Pantai Cikoneng, autan lepas. dan dermaga, juga Tugu Titik Nol Kilometer sebagai latar di kejauhan. Sayangnya kamera ponsel saya belum mendukung sekali untuk mengambil gambar yang bagus. Doakan saya bisa meng-upgrade-nya ke seri terbaru yang punya dual kamera ya.

Tugu Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Pada senja hari, para pengunjung senang menghabiskan waktu untuk duduk-duduk, sekedar berpose di sekitaran Tugu Nol Kilometer. Ada sedikit bagian pantai yang cukup terlindung dari garangnya ombak yang menggulung dari arah lautan lepas, dan di pagi harinya dipenuhi pengunjung yang ingin berenang. Gugusan kecil batu karang pun membuat bagian ini jadi lebih aman untuk mandi, dibandingkan sisi pantai Cikoneng yang lain.

Uniknya, di senja dan pagi menjelang siang, banyak sekali masyarakat lokal yang memasuki area penginapan untuk menawarkan dagangannya sebagai oleh-oleh. Mulai dari seikat petai, ikan segar, dan lainnya. Jika kamu pandai menawar, kamu bisa membeli langsung oleh-olehmu dari mereka. Tapi ya nggak menawar dengan setega mungkin ya … kasihan juga kan, mereka sudah berlelah-lelah bawa banyak barang dagangan dan berdoa agar hari itu dapat keuntungan yang cukup untuk makan.

Rumah Dinas Staf Kemeterian Perhubungan di Kawasan Mercusuar Cikoneng (Tidak Disewakan untuk Umum)

Oh ya, mengenai bentuk rumah mungil yang disewakan untuk pengunjung, nggak sempat saya potret. Sebab saya sekeluarga menginap di rumah dinas yang khusus dimanfaatkan hanya bagi staf dari Kementerian Perhubungan saja. Bersyukur Datuk yang sekarang jelang pensiun, sempat mengajak kami menikmati sedikit rasanya menginap di rumah dinas mungil di tepian Pantai Cikoneng. Di bagian samping penginapan pun, ada semacam “gedung pertemuan” yang juga hanya dimanfaatkan untuk kepentingan dari staf Kementerian Perhubungan saja.

Sisa Reruntuhan Mercusuar Cikoneng Lama yang Dibangun Pada 1806


Sayangnya, ada satu hal yang membuat saya memasang raut wajah kurang bersemangat sepanjang berkeliling dan menikmati suasana di sana. Sampah. Padahal tempat sampah ukuran besar sudah cukup disediakan oleh pihak pengelola di sekitaran taman, di dekat Tugu Nol Kilometer, nggak jauh dari Menara Suar Cikoneng, tapi … duh, itu yang pada minum air mineral gelas dan makan camilan, kok pada malas bergerak sedikit untuk buang sampahnya di tempat sampah ya? Besar harapan saya, bagi kamu yang membaca tulisan saya ini, untuk nggak melakukan hal yang sama. Paling nggak, sebagai generasi muda, kita yang belum banyak ilmu dan pemahamannya untuk melestarikan bangunan bersejarah, ya … nggak berbuat seenaknya sampai buang sampah suka suka. Apalagi kalau sampai niat melakukan vandalisme, duh … hargailah lingkungan sekitarmu, agar kelak dimanapun kamu berada, kamu juga akan dihargai sebaik-baiknya. Oke?

Ayolah ... Buang sampah Pada Tempatnya, Buang Memori Tentang Mantan Pada Masa Lalu Saja


Akhirnya, salah satu destinasi yang nggak saya bayangkan sebelumnya ini, memberi saya banyak sekali pembelajaran. Apakah kelak saya akan mengunjungi berbagai tempat lagi yang punya hubungan sejarah dengan Jalan Raya Daendels? Saya berdoa soal ini. Mana tahu kan, suatu hari nanti, saya dan partner saya berhasil menginjakkan kaki di titik akhir pembangunan Jalan Raya Daendels di Panarukan, ya kan?



Komentar

  1. Cakep nih twin buat setting cerpen. 😍

    BalasHapus
  2. Mbak cha, aku beberapa kali ke Anyer to blm pernah mampir ke Mercusuar Cikoneng. Itu ada tiket masuknya ga mbak Cha?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena di sini ada penginapannya, biasanya yang bisa naik yang nginap di sana. Atau mungkin bisa ijin sama petugasnya dulu kalo mba nggak nginap di sini.

      Hapus
    2. Sama mba, saya juga pernah ke Anyer dan belum mampir kesini bahkan baru tau ada Mercusuar Cik oneng :(

      Hapus
    3. Mudah mudahan di lain waktu pas main ke Anyer, bisa mampir ya.

      Hapus
  3. MasyaAllah cakepnya pemandangan laut dari lantai 2 mercusuarnya ya mbak. Btw semoga ada rezeki buat beli hp dengan dual kamera ya mbak, biar bisa mengabadikan foto dengan lebih keren. Walaupun sekarang juga sudah cakep kok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Ya Allah semoga ada tambahan rejeki buat bisa beli peralatan tempur yang lebih mantul.

      Hapus
  4. Tugu 1000 km nya udah pernah kukunjungi. Krn dulu selalu lewat pas sampling untuk riset tesis. Wkwkwk. Kalo nol km nya nih, masih penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nahhh saya kebalikannya malah Mba. Sekarang berharap suatu waktu bisa berkunjung ke Tugu 1000 km nya. Semoga ya.

      Hapus
  5. Kapankaaahh saya bsia nyampe Anyer, sungguh ku pengen hahaha.
    Saya belum pernah sama sekali dong tahu seperti apa tuh mercusuar, taunya baca doang hahaha.

    Btw itu jadi semacam daya tarik penginapannya ya, bisa sekalian ke mercusuar.
    Menarik banget buat dicoba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangettt. Mba Rey, semoga kapan kapan bisa merasakan main ke mercusuar ya. Aamiin.

      Hapus
  6. Ini di dekat Anyer ya? Saya belum pernah ke mercusuar ini. Jadi penasaran nih. Saya selalu penasaran dengan bangunan-bangunan bersejarah begini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sekitaran pantai Anyer mba. Di salah satu penginapan yang dikelola sama Perhubungan.

      Hapus
    2. Jadi kapan-kapan kalau ke Anyer mau ke titik nol kilometer juga ah.

      Hapus
  7. Wah, berarti sudah hampir berusia 200 tahun ya mercusuar Cikoneng, saya baru tahu kalo mercusuar itu titik nol jalan raya Daendels.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tua banget. Jadi kalo mau masuk ya wajar maksimal 10 orang di dalamnya. Kalo kebanyakan, khawatir ambruk.

      Hapus
  8. Aku jadi membayangkan andaikan aku naik ke mercusuar Cikoneng dan bisa melihat pemandangan sekitar di atas ketinggian...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga yang tadinya cuma dibayangkan, bisa jadi kenyataan ya.

      Hapus
  9. Aku baru tau nih biasanya kalau ke Anyer cuma ke Marbella atau tanjung lesung. Boleh juga next time jadi tujuan jalan2 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo nggak salah ingat, ini malah sebelum Tanjung Lesung dan Marbela deh Mba. Nggak jauh jauh amat menyusuri jalur pantainya.

      Hapus
  10. Wah tempat ini sepertinya jarang disinggahi atau malah banyak? Pernah ke Anyer tapi kok ga kepikirian mampir ke sini ya hehehe, padahal spot foto2nya keren bgt. Anak2 bagus diajak ke museum ini biar tau sejarahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ramai sih pas kemarin ke sana. Ada semacam gathering dari kantor mana entah yang juga lagi menginap di sana. Cuma mungkin karena nggak setenar pantai lain jadi masih agak lengang sedikit.

      Hapus
  11. Masalah sampah ini sudah jadi tradisi bahkan budaya. Cukup sulit untuk diterapkan. Semoga anak kita, yang selalu dididik, diingatkan, dan dibiasakan buang sampah pada tempatnya bisa jadi menular kepada anak lain. Saat generasi pembangkang hilang, tergantikan dengan generasi baru yang sudah terbiasa menjaga lingkungan dan buang sampah pada tempatnya. Amin....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Riyeut ya Teh kalo udah urusan sampah apalagi di tempat wisata. Ada plangnya aja teuteup aja dicuekin.

      Hapus
  12. Karena 0 km nya di pinggir pantai, jadinya sekalian bisa main air ya mba..
    masalah yang hampir selalu sama di tempat wisata itu adalah sampah. Kadang masyarakat kurang kesadaran untuk menjaga kebersihan tempat wisata, padahal kalo bersih, yang nyaman kan kita semua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya, sedih ya, kalo udah ke tempat wisata terus ketemunya sampah berserakan melulu.

      Hapus
  13. Waahh, sekolahnya di Spendu, SMP favorit pantes pelajaran sejarahnya ngletek. Aku sekolah di pinggiran Lombok, gak inget apa-apa soal Daendels gurunya aja jarang masuk, wkwk *tutup muka*

    Mungkin yang buang sampah sembarangan itu punya motto, kotor itu baik, gak kotor gak belajar -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah lho sapa tuh gurunya. Wkwkwk.

      Hai mba. Salam kenal.

      Aduh ampun. Coba doi motonya minta direvisi biar nggak jadi ngeri begitu.

      Hapus
  14. Aku selalu suka datang ke tempat-tempat bersejarah semacam ini .
    Apalagi klo tempatnya juga instagramble..
    Cocok buat konten ya mbak

    BalasHapus
  15. Wah kalau ke sana namanya wisata sejarah ya mbak? Mbayangin zaman itu babnyak org dipaksa kerja buat bikin jalan yang sekarang bisa kita nikmati itu.
    Ternyata ada titik nol dna peninggalan mercusuar yang tua sekali di sana yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Plus mercusuarnya masih kita manfaatin juga mba. Makin kece. Sayang bukan resort primadona di Anyer.

      Hapus
  16. Aku paling seneng nih baca cerita perjalanan gini.. jadi ikut merasakan perjalanannya.. thanks mbak sudah berbagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak juga sudah mampir untuk baca.

      Hapus
  17. Ih, aku dari dulu penasaran pengen ke sini, tapi belum kesampaian. Sampai sekarang udah merantau ke luar jawa barat hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduw makin jauh dong. Semoga pas balik ke jawa barat, kesempatannya ada ya.

      Hapus
  18. Oh ternyata titik 0 nya ada dipinggir pantai ya. Dulu pelajaran ips ga perhatikan nih ... Haha malu akh tutup muka

    BalasHapus
  19. Saya jg suka sebel bgt kalo di tempat wisata banyak yg buang sampah sembarangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah harus dipasang pengumuman segede apa lagi ya mba. Tapi semoga banyak yang eungeuh kalo buang sampah harus pada tempatnya.

      Hapus
  20. Nice travelling. Menarik, ada nilai nilai sejarah yang mungkin terlupakan

    BalasHapus
  21. Aku baru tau loh mbak tentang mercu suar ini, kayanya patut didatangi untuk foto-foto nih hehehe

    BalasHapus
  22. Jalan penuh sejarah dan jadi ujung tombak perekonomian bangsa juga ya. Sedih kalau mengingat jalan itu tercipta berkat cucuran keringat darah bahkan nyawa rakyat jelata yang dipaksa untuk kerja romusha dan rodi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah dulu bagaimana kisah pembangunannya. Namun manfaat penggunaannya masih terasa oleh kita hingga saat ini.

      Hapus
  23. Baru tau mercusuar cikoneng ini, Teh. Ternyata sudah lama juga ya..
    Jadi inget waktu gowes sore ke pantai pandansari Jogja, yang ada mercusuarnya juga. Kalau sore cakep banget pemandangannya. Apalagi bisa melihat pemandangan dari mercusuar gitu..

    Coba rumah dinasnya di sewakan ya, Teh. Asik tuh bisa tinggal disistu sepertinya..he

    Coba ada fotonya, kok aku penasaran ya sama rumah mungil yang disewakan itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada penginapan atau rumah yang lebih kecil yang disewakan juga kok di sini, Mas Andi. Jadi kalau kapan kapan mau menginap, bisa banget. Tapi saya kurang paham soal range harganya.

      Hapus
  24. Ini ternyata ya wilayah titik nol kilometer jalan Anyer - Panarukan. Dulu juga sewaktu masih belajar udah ngbayangin kayak apa titik nol dan titik akhirnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama. Penasaran malah sekarang sama penampakan titik akhirnya.

      Hapus
  25. Aku pernah lewatin nig sayang ga mampir. Ada tiket masuk jugakah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena di sini penginapan, paling ijin aja kalau cuma mau coba naik ke atas mercusuar. Sepertinya tapi ya, Mba. Prakteknya di lapangan yang belum saya coba.

      Hapus
  26. Pemerintah Daerah Banten mestinya bisa mengendalikan rakyat supaya tidak buang-buang sampah di sekitaran Mercu Suar Cikoneng ini, minimal dengan mengerahkan pemuda setempat untuk jadi sukarelawan penjaga lingkungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ya mba. Termasuk pengunjung yang menginap juga nih, rasanya masih kurang peduli. Habis ngobrol pinggir pantai atau dekat tugu sambil minum air mineral saja, ditinggal sampahnya. Padahal tempat sampah tinggal bangun berdiri trus jalan sedikit doang kok.

      Hapus
  27. Baru tau juga nih klo di Anyer ada mercusuar, klo anakku kesitu pasti seneng deh dan digambar tuh mercusuarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaahh, semoga kapan kapan mba sekeluarga bisa ke mercusuar ini ya.

      Hapus
  28. tuh kan gak boleh naik sampai puncaknya. padahal pengen. tapi kaki saya belum tentu kuat juga sih. sebab makin tinggi makin capai, hihi. walau bakal seru banget sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa soalnya udah tua mercusuarnya. Saya pun penasaran pengen coba naik sampai ke atas.

      Hapus
  29. Wah bagus nih catatan perjalannya. Jarang2 ada yg ngangkat tempat wisata ini.

    BalasHapus
  30. Sering lewat, tapi gak tau ada destinasi wisata keren ini. Besok-besok mau lihat dan nikmati secara langsung ah.. pasti menjadi pengalaman yang menarik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga pas lewat, ingat untuk mampir ya mba.

      Hapus
  31. Pemandangannya tiada tara banget. Rasanya enak buat foto-foto di sini

    BalasHapus
  32. Aku baru tau juga, ternyata di titik 0 km ada mercusuarnya. Tapi aku masih penasaran katanya mbak ada penginapannya ya, nginap disana kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Saya menginap di sana. Ada penginapan juga yang bisa disewa umum.

      Hapus
  33. Belajar sejarah jadi semakin asik kalau datang ke tempatnya langsung, ya. Kadang-kadang saya juga jadi suka berkhayal di tempat tersebut ada kejadian apa aja. Tapi, kalau naik ke mercusuarnya kayaknya saya bakal mikir-mikir. Lumayan takut sama temoat tinggi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mercusuarnya cuma dibuka sampai lantai dua kok Teh. Di dalamnya seru. Teteh pasti berani.

      Hapus
  34. Fix ini masuk wishlist wisata sejarahku. Baru tahu juga ada titik 0 ada mercusuarnya, dan mau banget ke sini buat ngerti lagi sejarahnya. Semoga tahun depan aku bisa ke sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Sekalian nginap biar berasa suasana malam pas mercusuarnya beroperasi ya Mba.

      Hapus
  35. bisa lihat banyak hal dari menara mercusuar, sayang gak boleh naik ya. hmm pengen ke sini deh. semoga bisa ke provinsi sebelah, hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma mentok sampai lantai dua doang mba. Tapi sudah cukup bikin happy.

      Hapus
  36. Aku pernah sampai ke mercusuar di Anyer ini, waktu itu masih kecil, jadi menaranya terlihat besaaarrr banget, kalau skrg mgkn ya seperti mercusuar pada umumnya. hahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuaaa pas mba kecil, udah ada tugu 0 km nya belum ya?

      Hapus
  37. baca artikel diatas serasa membaca cerpen yang mengalir dan seolah-olah saya ikut berada disana. Kayaknya asik ya kak? Btw bisa minta tolong dong untuk informasi bagaimana cara menuju ke tempat tersebut kalo tidak keberatan, he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarin kebetulan pas ke sana, saya naik kendaraan pribadi. Tempat ini ada di titik awal jalan Anyer kok. Nggak jauh jauh amat dari pintu keluar tol. Dari jauh sudah kelihatan mercusuarnya.

      Hapus
  38. Patut dilestarikan ini.. Ternyata selain pantai, ada juga tempat wisata menarik di Anyer. Mbak, itu 10 orang perhari ato bisa lebih banyak tapi dibatasi per trip 10 org?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 10 orang sekali masuk Kak Jas. Jadi ya harap bergilir dan maksimal 30 menit saja main main di dalam. Biar pengunjung lain kebagian.

      Hapus
  39. Cerita dan fotonya sangat memikat, Mbak. Saya paling suka sekali wisata ke bangunan-banguna tempo doeloe yang ceritanya sangat melekat dengan sejarah Bangsa Indonesia, Mbak. Dan saya ingin sekali ke Mercusuar, hanya belum kesampaian. Dan Mbak Cha beruntung sudah ke Mercusuar Cikoneng ini. Semoga segera diberi kesempatan saya bisa ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Saya bantu doa ya mas. Semoga kapan kapan bisa kemari juga.

      Hapus
  40. Belum pernah kesini deh, seneng juga ternyata bewisata ke mercusuar ya bisa sambil belajar dan mengenang pelajaran sejarah lagi nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget. Selain lepas penat, namabah pengetahuan juga.

      Hapus
    2. liburan sambil nambah pengetahuan ya mbak, jadinya double double dapetnya.

      Hapus
  41. Wahhh kok ternyata lengkap bet yak, cocok nih utk target wisata berikutnyaaa

    BalasHapus
  42. Aku beberapa Kali ke anter tapi Paling cuma menginap di hotel yg ada fasilitas private beach. Nah ternyata Ada Hal menarik jugaa ya disini. Salah satunya mercusuar cikoneng. Ini kalau kita menginap di guesthouse yg disediakan sama penduduk. Bisa masuk Dan menjelajah mercusuarnya Cha? Atau hanya khusus keluarga staff kementrian perhubungan saja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sini ada penginapannya untuk umumnya juga kok Mba. Bangunannya ala ala rumah kayu. Sayangnya saya nggak sempat keliling penginapan yang bisa disewa umumnya.

      Hapus
  43. Aku sangat suka wisata sejarah dan setelah membaca artikel ini jadi pengen kesana, semoga ada rejeki untuk kesana, aamiin.

    BalasHapus
  44. Sering lewat jalan daendels. Tapi belum pernah sampai ke titik nol kilometernya. Ternyata menarik juga ya untuk dijelajahi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah kebanyang road trip sepanjang jalan daendels, Kang.

      Hapus
  45. Waahhh keren kk, aku belum penah naik mercusuar, karena takut ketinggian, tapi kalo mercusuarnya sebagus ini jadi pengen

    BalasHapus
  46. wuah keren banget punya kesempatan jalan-jalan ke mercusuar
    bisa naik ke mercusuar
    enak banget yaaa
    pengeeen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ada kesempatan buat mba juga kapan kapan yaaa.

      Hapus
  47. Kirain tadi jalan Raya daendles di Kebumen dan sekitar nya sini. Jalur Selatan. Hihu ternyata di panarukan ada toh kak..


    Pengen liat mercusuar nyaaa

    BalasHapus
  48. Ternyata ada ya, titik nol nya. Waah aku baru tau loh kak. Pengen kesana juga nih kalau ada kesempatan nanti.

    BalasHapus
  49. Mengunjungi bangunan tua menarik ya .... apalagi kalo didirikannya tahun 1800-an. Wuih, jadi berfantasi tentang kehidupan masa lalu. Ternyata Mercusuar Cikoneng ini titik nolnya wilayah Anyer ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama Bunda Niar. Acha kebayang begitu sepanjang di sana.

      Hapus
  50. Tempat yang indah akan tidak indah kalau ada sampah atau banyak sampah. Dukungan semua sih, bukan cuman pengelola tapi pengunjung yang tergerak buat selalu membuang sampah pada tempatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Faktor penentu utama rasanya pengunjung yang sadar kebersihan sih rasa rasanya.

      Hapus
  51. Ini wisata historis ya mba, btw itu mercusuarnya tuh masih dipake nggak sih mba sebenarnya? Jd pengen nyanyi lagu antara Anyer dan Jakarta mba rasanya liat titik 0 jalan Anyer ini hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masiiiiiihhhh banget. Untyk wilayah satuan kerja Tanjung Priok lho ini. Masih difungsikan sampai hari ini.

      Hapus
  52. Saya suka bgt kl dah nyangkut wisata and sejarah. Moga kelak bisa kemari hehe

    BalasHapus
  53. Keistimewaan bangunan Belanda, ya. Kokoh bahkan hingga ratusan tahun. Terpukau lho aku karena menara suarnya saja masih dioperasikan meskipun untuk pengujung terbatas. Aku nggak paham nih sama daerah Pantai Cikoneng dan Panarukan. Belum pernah kesana, hihihi ... Kalau menara suarnya itu dipakai buat memantau datangnya kapal dari arah mana, sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk wilayah operasi di sekitaran Selat Sunda nih, menara suar Cikoneng ini.

      Hapus
  54. Berwisata dan belajar sejarah, sekaligus foto-foto jangan lupa. Ah, paket lengkap ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangeeettt. Pulang nggak cuma bawa foto tapi bawa banyak cerita.

      Hapus
  55. Agar ngga nyampah, apa perlu ada petugas yang melarang pengunjung membawa makanan/minuman yang berpotensi nyampah ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya sulit Ambu. Soalnya tugu ini ada di dalam kawasan penginapan milik kemenhub yang bisa disewa umum.

      Hapus
  56. Saya juga serung mengalami hal yang kayak gitu. Mendapat pertanyaan yang di kemudian hari baru menemukan jawabannya. Btw seru ya perjalanannya Mbak. Jalan-jalan sambil menengok sejarahnya. Btw sayang sekali kalau ada tempat yang biasa dijadikan wisata dipenuhi dengan pemandangan yang tak mengenakkan masyarakat. Pengunjungnya sepertinya masih perlu diedukasi dan diingatkan lagi nih agar jangan membuang sampah sembarangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih. Budaya buang sampah pada tempat sampah masih harus digalakkan lagi di masyarakat kita.

      Hapus
  57. Sudah tua ternyata ya mercusuarnya makanya untuk menjaga kondisi bangunan serta pengunjung ada aturan yang harus dipatuhi semoga saja pengunjung sadar untuk menaati peraturan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa tua banget. Tapi masih nampak terawat dan masih dimanfaatkan pula.

      Hapus
  58. Kalau baca tentang Daendels harus diingat pelajaran sejarah pada proses pembangunan jalan dan kerja paksa Romusha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kerja rodi kali ya. Sepengetahuan saya, romusha itu di jaman Jepang.

      Hapus
  59. Seruuuu!
    Aku mauuk banget pan kapan main ke Mercusuar iniii
    Pastinya banyak hal yg bisa jadi poin menarik yaa

    BalasHapus
  60. Wow, keren banget ya wisata ke Menara Suar Cikoneng pastilah wisata sejarah begini sangat banyak ilmu yang terkenang. Kalau aku dan keluarga juga senang wisata sejarah. Nah, belum pernah ke Menara Suar Cikoneng bikin pengen deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kapan kapan bisa ke Anyer ya mba naqi dan keluarga. Aamiin.

      Hapus
  61. Jakarta saya taunya Bandara, bundaran HI, HI, Depok, Cibinong hahahhaa.
    Semoga diberi kesempatan ke Anyer tahun ini biar bis amampir ke Cikoneng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Hahaha sama nih. Cibinong saya khatamnya malah Cibinong City Mall.

      Hapus
  62. Pengen banget masuk ke yang namanya mercusuar. Sampai ntar lagi usia 30 tahun gini saya belum pernah lho masuk mercusuar, di mana pun itu. Hahahaha. Makanya suka norak norak pengen kalau lihat foto orang di mercusuar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga diberi kesempatan untuk mencicipi rasanya masuk ke menara suar ya mba. Di Lombok ada nggak ya? Payahnya aku kurang tau banyak soal tempat kelahiranku itu.

      Hapus
  63. Panarukan di Jatim kak Cha, deket rumah saya Probolinggo. Tapi saya nggak paham apa ada menumennya juga ya, berakhirnya Jl Anyer Panarukan, Pak Dendless ini.

    Btw tugu titik nol km Jl Anyer Panarukanbya memesona banget tempatnya,ya mbak
    Jadi kepo pingin ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengar dengar sih tugu penanda 1000 km Anyer Panarukan ini ada. Wahhh kapan kapan kalo ada kesempatan ke Panarukan, yuk eksplor bareng.

      Hapus
  64. Salut sama pemerintah membangun mercusuar cikoneng di sini keren banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemerintahan masa VOC ya mba. Hihihi. Kita cuma merawat dan terus memanfaatkannya sebagai menara suar.

      Hapus
  65. Wah baru tahu, ternyata lokasi tepatnya di Cikoneng. Saksi sejarah yang baru kuketahui

    BalasHapus
  66. Aku paling senang baca tulisan bermuatan sejarah. Mencerahkan dan menghibur juga. Pernah sekali ke Anyer tapi belum sempat ke sini. Yang berbau titik nol di kota mana aja selalu menarik. Kapan ya bisa sekalian ke panarukan. Makasih ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga sudah membaca tulisan saya.

      Hapus
  67. kemaren waktu mampir ke Baron pas ada mercusuarnya dijelasin juga tentang mercusuar lain termasuk si Mercusuar Cikoneng ini. tangga-tangga ke puncaknya mungkin udah rapuh ya, jadi ga boleh naik lebih tinggi. tapi bisa masuk aja rasanya seneng banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya.

      Duuu saya jadi ingin mencicipi rasanya mampir ke mercusuar lainnya deh.

      Hapus
  68. AKu tuh ke Anyer udah sekian tahun yang lalu dan belum pernah lagi. Pernah nginep di Sol Elite Mrbella masih ada ga tuh ya? Nah kepengen ke murcusuarnya nih. ajak anak2 dan keluarga bakalan seru ya. Banyak cerita sejarah bagus nambah wawasan kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa mampir dan menginap di penginapan ini ya mba dan keluarga.

      Hapus
  69. dua kali ke anyer dan pantai carita, tapi belum sempet aja mau lihat mercusuar. kirain ga boleh masuk dan naik. ternyata boleh ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ayok Mba ke Anyer lagi dan mampir ke mercusuar Cikoneng.

      Hapus
  70. Tulisannya bagus. Anyer-Panarukan ini emamng nggak asing di telinga. Saya juga jadi pengen berkunjung ke mercusuarnya deh.

    Soal sampah, ini memang selalu jadi masalah utama. Jangan bosan dan ragu untuk menegur para pelaku pembuang sampah sembarangan ya, dengan cara yang santun tentunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang nggak enak hati negurnya kalau yang meninggalkan sampah itu udah baya atau paruh baya Bang. Entah harus gimana lagi ya sosialisasinya. Humph.

      Hapus
  71. Mauuu banget ke sini kalau ada waktu...

    Saya suka banget ke tempat tempat yang ada cerita sejarahnya, jadi kayak bisa flashback gituuu, ya kan Mbak...

    Mercusuar Cikoneng yaaa, aku inget inget dehhh...masukin bucket list...

    Thanks for sharing Mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga sudah mampir ke tulisanku mba.

      Hapus
  72. Penasaran memang. Sejak SD saat belajar sejarah, saya paling hafal nih nama Anyer - Panarukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ada kesempatan berkunjung ke mari ya mba dan keluarga.

      Hapus
  73. Meski cuma boleh naik sampai lantai 2, ternyata pemandangannya udah bagus ya. Di Pantai Pandansari, Jogja, ada mercusuar yang bisa dinaiki sampai atas. Bisa dicoba kalau masih antusias menjelajah mercusuar :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah boleh nih masuk ke dalam list kalau kapan kapam saya punya kesempatan ke Joh]gja. Terima kasih banyak informasinya ya Mas.

      Hapus
  74. Baru tau banget tentang monumen ini mba.. thanks for sharing.. selama ini cuma suka denger tentang monumen titik nol km nya Indonesia di Sabang, nggak kepikiran tentang titik nol km jalan raya Anyer-Panarukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada banyak O km yang Indonesia punya, dan berharap banget bisa punya kesempatan untuk menjelajah semuanya.

      Hapus
  75. Aku belum pernah mengunjungi area mercusuar ini tapi pernah baca-baca bangunan ini bis disebut menjadi saksi bisu pembuatan jalan Anyer-Panarukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget. Soalnya di sinilah titik awal pembangunan Jalan Anyer- Panarukan.

      Hapus
  76. Pemandangannha asri ya mba.. Oya apakah penginapan yg disewakan itu bangunan lama atau bangunan baru ya? Penasaran saya..hehe .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm, sepertinya sih bangunan baru. Soalnya sepanjang menginap di sana, taste gaya bangunannya aja udah modern era sekarang sih. Ya mentok mentok tahun 90 jelang dua ribuan.

      Hapus
  77. Saya belum pernah kesini. Menarik juga dikunjungi. Dapat pemandangan dan sejarahnya. Tapi lebih afdhol nginep disana ya Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap. Ada juga bangunan kayu yang disewakan untuk umum, sayangnya aku nggak sempat ke bagian lainnya untuk foto foto.

      Hapus
  78. Waaa...saya beberapa kali ke Anyer ngga pernah ngeh kalo ada mercusuar. Asyik juga ya bisa tau sejarah Indonesia dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kapan kapan kalau ke Anyer lagi, sempat untuk mampir ke mari ya Mba.

      Hapus
  79. Ini di Serang Banten kan, ya? DUh, aku sering ke anyer tapi gak pernah mampir ke Mercusuar ini. Sedih banget rasanya. Huhuhu....
    Malah baru tau kalau ini jadi tempat wisata yang boleh dikunjungi. Kukira cuma sebatas monumen gitu aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, ini Anyer yang di Serang Banten. Semoga kapan kapan ada kesempatan untuk menginap di sini ya.

      Hapus
  80. Aduuuuuh. Aku belum pernah kesana. Kayaknya seru banget karena dekat pantai. Jadi berasa sejuknya. Sejujurnya aku baru tau ada monumen ini. Kirain mah nggak dibikin. Cuma jadi penanda jalanan aja. Semoga suatu hari bisa kesana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga ada kesempatan untuk ngerasain main ke mercusuar cikoneng ini ya, Af.

      Hapus
  81. Anakku penasaran pengen tahu mercusuar itu bagaimana bentuk aslinya. Setelah baca tulisan mbak, jadi tertarik ingin ke sana menjawab penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ada kesempatan untuk bawa anak Mba belajar sekalian liburan di sini ya.

      Hapus
  82. Aku tahunya cuma curug cikoneng
    Di kampung cikoneng di arah ke sukabumi dari bogor..

    Yang ini bikin ingat pelajaran sejarah anyer panarukan... Thanks infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama Kak Pring. Aku malah belum pernah ngerasain main ke Curug Cikoneng.

      Hapus
  83. Seru banget, beruntungnya bisa mengabadikan moment ini, semoga semuanya bisa berjalan dengan lancar ya,, dan masyarakat disekitar juga turut menjaga dan melestarikannya dengan baik.. aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga jadi perhatian bagi pihak yang memang bertugas dalam menjaga dan mengelola Mercusuar Cikoneng sana.

      Hapus
  84. Senang banget kak Acha bisa menjelajah lihat mercusuar secara langsung. Kapan ya bisa ke sana, melihat kondisi sekarang yang masih harus di rumah aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga lekas ada kesempatannya ya Kak Fenni.

      Hapus
  85. Yang namanya mercusuar itu selalu bikin penasaran.pengen lihat secara lamgsung apa yang ada di dalmnya. Trus pengen langsing lihat ke atas pucuknya. Seru ya bisa ke mercusur ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seruuu. Sayangnya di Mercusuar Cikoeng ini, pengunjung cuma diijinkan main sampai ke lantai dua aja. Ada banyak alasan kali ya, makanya cuma bisa sampai situ aja. Cuma kan, udah bisa ngerasain senangnya karena bisa ngerasain masuk ke dalam mercusuar.

      Hapus
  86. Kalau udah masalah sampah ini kayanya sudah mendarah daging ya mba, mendarah daging perihal kesadarannya. Yang sadar ya buang pada tempatnya, yang ngga punya yaa suka suka dimana mau dibuang. Semoga makin banyak yang sadar ya mba :"(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget. Sampai speechless sebenarnya, entah perlu dibiasakan bagaimana lagi ini. Padahal tinggal sepelemparan dikit doang, udah bisa menclok itu sampahnya ke tempat yang seharusnya.

      Hapus
  87. Udah tua banget ya mercusuarnya. Udah lama rasanya gak wisata sejarah kayak gini, seru banget pulang-pulang dapat pengetahuan baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, alhamdulillah senang banget bisa punya kesempatan untuk berkunjung ke mercusuar sikoneng di Anyer ini.

      Hapus
  88. wah aku belum pernah kesini! semoga usai pandemi bisa mampir ke Mercusuar Cikoneng ini, aamiin!

    BalasHapus
  89. terakhir kali ke daerah ini waktu SD, udah lama sekali belum pernah ke daerah ini lagi. Tapi waktu tu juga belum pernah mampir ke Tempat Mercusuar ini. Semoga ada kesempatan untuk bisa mampir ke sini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ada kesempatan untuk mampir ke mari ya di lain waktu.

      Hapus
  90. Melihat gambar2nya jadi pikiran ke mana2, jaman dahulu tempat itu berbeda banget dengan yang sekarang. Dulu ada nggak ya orang yang penasaran kalau di masa depan tempat ini bakal jadi tempat kunjungan salah satu wisata sejarah

    BalasHapus
  91. belum pernah nih untuk kedua tempat baik anyar dan panarukan, juga untuk kunjungan ke 0 kilometernya plus mercusuarnya, rasanya pengen explore kesana deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ada kesempatan ya Gandys. Aku pun mau banget ke Panarukan kalau ada kesempatannya.

      Hapus
  92. Wah bagus banget buat referensi setelah berakhir pandemi belum pernah kesana sih semoga berkesempatan

    BalasHapus
  93. Pernah ke sini, tapi nggak masuk ke dalam mercusuar nya. Menarik banget ya Kak di sana, jadi kangen berkunjung lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget. Semoga di kunjungan selanjutnya, Uni bisa ngerasain main ke mercusuarnya juga.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.