Langsung ke konten utama

Taman Koleksi IPB : Duduk Senang di Taman Sore Sore

Apa serunya coba, main ke taman doang? Tamannya depan salah satu perguruan tinggi negeri yang cukup terkenal di Bogor sih.  Tapi sampingnya ada mall yang mepet banget lho, Botani Square. Kenapa juga milihnya malah Taman Koleksi IPB?



Yeay ... kami sampai

Main ke Taman Koleksi IPB ini sebenarnya merupakan bagian kecil dari perjalanan nostalgia saya semasa SMA. Pernah beberapa kali saya duduk sambil belajar kelompok di sini. Pernah pula semasa SNMPTN saya duduk merenung di sini, memikirkan masa depan saya, impian saya. Tentunya nggak sendirian.

Saya nggak pernah ke taman ini di malam hari. Sederhana alasannya. Karena saya penakut. Tetapi jika menikmati suasana sore sehabis hujan di sini, bisa dibilang ... sangat membekas di ingatan saya. Masa dimana saya idealis sekali ingin jadi diplomat dulu. Masa saya aok sokan bijak sedari dini dengam.nggak mau punya pacar.

Maka kali ini saya datang lagi kemari bersama partner saya, suami saya. Mengajaknya larut dalam sejuknya suasana seusai hujan turun di taman ini. Duu ... saya jadi teringat naskah novel yang saya tulis semasa kuliah dan belum juga selesai sampai hari ini. Bergenre fantasi, friendship. Hhh ... semoga setelah menikah ini, akan ada banyak waktu bagi saya untuk mencoba aktif menulis fiksi seperti dulu.

Oh ya, jika kamu mengunjungi taman ini, bawalah kantong plastik untuk alasmu duduk di bangku bangku tamannya. Bangkunya yang terbuat ddari semen, seringkali lembab dan terkadang ada genangan airnya di kala hujan. Bawa pula camilan dan minumanmu sendiri jika ingin berlama-lama. Terakhir, waktu terbaik untuk berkunjung ke sini adalah sore hari. Menunggu langit memerah di barat Kota Bogor. Kalau memang nggak mau repot bawa makanan sih nggak apa. Ada mall kok persis di sebelahnya.

Saya dan partner di taman ini sebenarnya nggak terlalu lama. Kami mengobrol sebentar. Membiarkan dia menikmati cerita jaman saya sekolah dulu, pun ocehan ocehan saya yang lebih mendominasi. Juga sedikit rencana masa depan kami.

Enak euy, duduk duduk santai di bawah pohon gini


Aahhh ... kapan kapan jika kamu ke Kota Bogor, mampirlah sebentar untuk menikmati ssore di sini. Langit Bogor di kala sore selalu cantik dan menenangkan hati.

Komentar

  1. Huaa asyik nya main di taman udah ada gandengan... hehehe

    Kirain bawa plastik buat apaan gitu, ternyata buat alas yaa... Tapi kayaknya lebih asyik kalau duduknya di rumput-rumput gitu deh, jadi berasa piknik.. Hehehe...

    Kalau saya IPB cuma numpang lewat doang, gak pernah mampir kampusnya apalagi ke Tamannya. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi kalau duduk duduk di rumputnya, khawatir merusak mba. Kan kasian rumputnya sudah lelah lelah dirawat biar cantik, eh didudukin sama pengunjungnya.

      Hapus
  2. duduk di takol memang bikin adem hati :)

    BalasHapus
  3. Dulu aku sering keliling IPB waktu nganterin adikku yang baru masuk kuliah disono. tempatnya luas dan hijau. sungguh nyaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaap. Nyaman banget buat jalan jalan pagi. Tapi kalau malam, rada serem. Apalagi kalo udah sepi.

      Hapus
  4. Ini di pinggir jalan rayakah? Kok tidak pernah ngeh saya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Di pinggir jalan. Persis banget di samping Botani Square.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.