Langsung ke konten utama

Semalam di Pekan Rakyat Jakarta Monas 2014

Lagi-lagi, aku menemukan sebuah rasa lain dari monumen kebanggan Indonesia, Monumen Nasional (Monas). Rasa yang ajaibnya selalu saja berbeda, tiap kali aku menjejakan kaki di sekitarnya. Seperti malam kemarin, ketika aku mengunjungi pekan rakyat, sebuah pameran yang diperuntukan bagi UMKM di Jakarta.
                
Senja beranjak, menyelimuti langit dengan warna lembayung. Bulan yang hampir saja bulat, menjadi sebentuk hiasan langit. Sementara Monas, menjulang ungu di kejauhan, seolah memanggilku mendekat padanya, berbaur bersama pengunjung lainnya di sana. Melangkah di tengah jejeran stand mungil beratap putih, seragam, seperti ingin menunjukan, -- Ini pekan rakyat yang sebenarnya.








               
Dalam hitungan detik, ketika cahaya matahari sempurna meninggalkan langit, bulan menjelang purnama malam kemarin, seketika membuatku merasa sepi, sendiri, rindu tapi aku nggak tau kenapa aku merindu, dan kepada siapa rindu ini tertuju.


                
Seolah aku sedang terjebak dalam scene drama cinta, ketika sang tokoh utama melangkah sendirian di tengah keramaian yang remang, setelah memutuskan untuk menjauh dari seseorang yang sebenarnya begitu dia inginkan. Sesak, tapi juga lega.


                I
majinasi itu membuncah, saat aku manaiki komedi putar. Lambat. Dingin. Ramai namun memberi rasa asing.






                
Riuh rendah suara tawa, atau sekedar celoteh mesra sepasang kekasih yang lewat di sekitarku, menambah betah diriku di antara mereka. Hanya terdiam. Membuang pandangan ke setiap sudut. Menemukan seorang waria yang lalu-lalang dengan pakaian tipis dan terbuka. Menghirup aroma-aroma masakan khas kaki lima. Petikan gitar pengamen. Buluh terbang, oh ... benda ini mengingatkan aku pada Alun-Alun Kidul di Jogja. Penjual Kerak Telor, makanan khas Betawi. Ondel-ondel yang berjalan sambil menarik. Badut-badut lucu. Aneka mainan dengan lampu yang berkedip warna-warni. Hamparan tikar yang diduduki sebuah keluarga. Musik yang mengalun nyaring dari panggung utama. Pengunjung yang ask berfoto di tiap sudutnya.










                
Syahdu. Malam kemarin, aku menemukan warna dari perasaan yang berbeda di Monas. Sepi dan sendiri yang nggak selalu berarti sedih.

Komentar

  1. keramaian khas ibukota ya, walau kadang ngerasa kasian juga sama penjual keliling yang kurang laku.

    BalasHapus
  2. g pernah ke ibu kota maklum anak daerah hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku doain, semoga suatu hari kamu bisa mampir ke Jakarta. Selama kamu yakin, kamu bisa kok. Aku tunggu ceritamu tentang Jakarta suatu hari nanti ya ^.~

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.