Langsung ke konten utama

Just Write 2 dan Aku Bersyukur



            “Di dunia ini banyak hal tak terduga.”
            Inilah kalimat sukses bin ampuh yang mungkin aja masuk ke klan ‘Jleb’ ya sodara-sodara.
            Eh? Lupa aku kalo kamu semua yang baca blog ini aku sebut tomodachi. Ah, gomen nasai semuanya. Marilah kita kembali ke topik bersama-sama. Yuk bebekin aku!
            Kalimat jreng binti ajaib di atas, sebenarnya cuma balasan tweet dari Mas Guntur Alam yang malam ini mendadak curhat di tweeter tentang suka duka beliau untuk menjadi penulis di titik kehidupannya sekarang. Kalimat yang bikin aku sadar kalau aku juga mengalaminya, menjadi peserta Just Write 2.





            Tanggal 5-8 Juni 2013 terlalu berkesan untuk aku lupakan. Sebuah perjalanan yang bukan hanya sekedar bertemu teman baru, mendapatkan ilmu, sekaligus jalan-jalan. Tapi ... lebih dari itu. Aku menemukan semangat dan jalan terang menuju cita-citaku.
            Di Kaliaurang, daerah sejuk yang dinginnya sama aja dengan Puncak tapi suasananya Jogja banget, tepatnya di Villa Mawar Asri, aku dipertemukan Tuhan dengan teman-teman seperjuanganku. Ada yang sudah punya buku, ada yang belum. Ada yang tekniknya tingkat sastra, ada yang populer, ada juga yang biasa-biasa saja sepertiku. Semua berbaur. Ramah tamah. Nyaman. Didukung panitia penyelenggara yang humble, menyenangkan, dan pastinya bikin aku betah bersosialisasi dengan mereka. Tanyakan padaku penerbit mana yang berani mengadakan pelatihan menulis tingkat nasional yang gratis ini? Belum lagi service-nya yang berasa sedang ngumpul bareng keluarga sendiri. Diva Press Group. Belum lagi kami dsediakan mentor-mentor keren dibidangnya.
            “Di dunia ini banyak hal tak terduga.”
            Jujur, aku nggak pernah menyangka aku akan ada disana. Saat petama kali menerima telpon dari panitia saja aku speechless. Saat sampai di jemput panitia di Stasiun Tugu, aku pikir aku cuma mimpi. Ya Allah, Ya Rabb, nikmat mana lagi yang harus aku dustakan dari-Mu?
            Lagi lagi, di dunia ini memang banyak hal tak terduga. Pulang dari Just Write 2, aku menemukan sahabat-sahabat baru. Orang-orang yang akan saling menyemangati, memberi kritik membangun, dan teman seperjuangan. Tuh kan, semuanya nggak pernah aku duga sebelumnya.
            Di dunia ini banyak hal tak terduga. Memang. Sebab Tuhan yang Maha Adil senang memberi kejutan untuk aku, kamu, dan kita semua.

NB : Terima kasih untuk mas Guntur Alam yang karena tweet-nya malam ini, bikin aku ingat kalau aku belum posting tentang JW2 di blog-ku.
           


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali. 

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya. Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan ? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.