Langsung ke konten utama

“Hati Untuk Sebuah Nama” di CHIC Magazine edisi 22 Feb – 9 Mar 2012

                Akhirnya. Titik terang dari semua usaha yang aku jalani hampir intensif selama setahun belakangan ini mulai memunculkan titik terang. Gals, betapa Tuhan memang tidak pernah melupakan aku. Tuhan telah menyiapkan waktu dan saat yang tepat untuk aku berkarya. Untuk aku menunjukkan ketangguhanku. Tuhan mendengar pintaku, segala rengekku, dan kini mulai menunjukkan jalan menuju setitik impian yang sedari kecil begitu ingin aku wujudkan.
                Gals, masih ingat rumus GALAU yang pernah aku bagi pada kalian? Ya. God Always Listening And Understanding. Kata yang aku dengar pertama kali dari siaran radio Night of Love di Lesmana Fm yang di announce oleh Kakak inspirasionalku sedari SMA, Nicco Oulya.
                Dan, inilah aku kini. Aku yang telah siap memasuki dunia yang begitu aku ingini. Bukan hanya karena usahaku, tapi juga karena kehendak dan berkat Tuhan, dukungan dan segala doa Mama dan Papa, juga karena kalian semua, para galszt, pembaca blog setiaku. Sungguh, beribu terima kasih kuucapkan untuk kalian semua.Sejuta salam hangat untuk galszt tersayangku.
                Inilah beberapa quote yang disajikan redaktur Chic Magazine dalam cerpenku yang berjudul, “Hati untuk Sebuah Nama” :
+++
Makan malam kami terasa membosankan. Aku dan Alvin tidak membahas apapun lagi. Kami hanya sibuk bermain-main dengan pikiran kami sendiri.
+++
Kulirik wajahnya yang terlihat kaku. Dia terus berkonsentrasi pada jalanan yang ada di depan kami. Kemacetan tidak membuatnya melonggarkan perhatiannya dan sedikit berpaling padaku.

                Ah, sungguh quote manis yang berhasil ditemukan redaktur Chic Magazine. Terima kasih banyak juga aku utarakan pada ilustrator Chic Magazine yang membuat gambar yang sangat manis untuk cerpenku. Aku sangat menyukainya.
                Gals. Aku mohon maaf jika di posting kali ini aku belum bisa menunjukkkan foto karyaku itu. Ini semua karena keterbatasan keadaanku kini. Semoga tabunganku segera penuh untuk membeli kamera. Sudah begitu lama aku menginginkannya. Tentu saja karena aku begitu ingin banyak berbagi dengan kalian semua galszt-ku.
                Jangan lupa buru Chic Magazine edisi ini dan baca karyaku ya. Aku menunggu tangapan dari kalian semua di @Akarui_Cha
Salam hangat
^.^
Tambahan :
Beberapa minggu yang lalu mbak Dheanova Dhea mengirimkan foto karyaku
Inilah dia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.