Langsung ke konten utama

SMA Taruna Andigha Always In My Memory


                Apa kabar teman-temanku semuanya???? Oh, tiba-tiba malam ini aku kembali teringat masa-masa SMA kita dulu. Masa itu, aku masihlah begitu pemalu. Dan di masa itu pula, aku mendapatkan banyak sekali suntikan warna untuk diary ku.



                Hari pertama aku menginjakkan kaki sebagai calon siswi di SMA Taruna Andigha ku yang tercinta, saat itu aku masih memakai seragam putih biru. Maklumlah, baru lulus SMP dan nyasar ke sekolah yang serba hijau itu. Oh, tahun 2004 itu sepertinya sudah sangat lama terlewati. Dan selama 3 tahun, aku menghabiskan banyak waktu serta mengukir banyak sekali kenangan di tempat itu.

                Kawan.....

                Sudah sangat lama kita nggak pernah bertemu lagi....

                Sudah sangat lama kita nggak membuka komunikasi lagi seperti saat-saat kita masih duduk di bangku putih abu-abu itu.....

                Sudah sangat lama aku nggak pernah memegang LKS lagi, juga buku-buku paket khusus kelas IPA lagi. Bahkan aku sudah lupa sebagian pelajaran yang dulu mati-matian kita pelajari bersama di kelas....

                Adakah yang masih ingat, siapa guru tertegas yang dulu kita voting bersama-sama????? Adakah yang masih ingat, siapa guru musik kesayangan kita??? Kepala sekolah tercinta kita???  Guru-guru yang pelajarannya begitu membekas di jiwa kita saat ini??? Pambina OSIS kita??? Pembina PMR??? Dan semua guru yang nggak mungkin disebutkan namun terbayang selalu setiap mengingat mata pelajaran yang diajarkannya... Juga wali kelas kita yang bergiliran setiap tahunnya mengajari kita menjadi insan kelas yang harmonis....

                Kawan.....

                Masihkan kalian ingat nasihat apa yang pernah disampaikan oleh seorang guru yang sampai saat ini masih kalian ingat dan coba kalian wujudkan?????

                Owh, sungguh aku kangen suara-suara itu. Suara berisik di kantin sekolah. Suara ribut di kelas saat guru nggak ada. Suara saat kita asik mengobrol sementara guru kita sedang serius menerangkan di depan kelas. Suara bola basket yang terpantul di lapangan basket saat jam olahraga kita. Suara tawa kita. Ledekan kita. Protes kita. Keluhan kita. Bahkan bisik-bisik kita sebelum seorang guru datang menyidak kita semua yang berpakaian kurang rapi di sekolah.Bahkan sepinya suara di perpustakaan sekolah.  Ada –ada saja ya tingkah kita semua dulu.

                Aku juga rindu dijemur di lapangan sekolah karena nggak mengerjakan PR Bahasa Indonesia. Aku rindu detakan jantungku yang begitu kuat saat aku disuruh mengerjakan soal matematika di papan, sementara aku nggak bisa. Aku rindu meminjam catatan teman sebangkuku karena aku selalu nggak suka mencatat. Aku bahkan begitu rindu saat aku terlambat ke sekolah dan mendapat hukuman di depan gerbang sekolah. Rindunya, saat kita kelas XII dan kita semua deg-degan menghadapi ujian nasional.

                Kawan....

                Kenangan kita itu begitu banyak ya... Selama 3 tahun kita telah banyak mengalami perubahan disana... Kita ditempa menjadi individu yang seperti saat ini...

                Kawan... Rupanya para guru tercinta kita itu membentuk kita untuk menjadi lebih hebat, lebih berani, kuat dan bertanggung-jawab. Mereka juga ikut andil mewarnai hari-hari kita semua selama 3 tahun itu.

                Hingga pada bulan Juli di tahun 2007 kita semua menitikkan air mata saat perpisahan sekolah. Hari dimana medali berwarna hijau berlogo sekolah kebanggan kita disemantkan di leher kita dan kita semua terharu. Kita menyalami setiap guru sambil mengucapkan selamat tinggal. Upacara terakhir kita, sebelum kita siap meninggalkan almamate kita menuju masa depan. Menuju saat ini dan nanti.

                Untuk teman-temanku tercinta, aku rindu kalian....

                Untuk guru-guru tercinta, salam hangat untukku dan ucapan terima kasih terdalamku atas semua jasa kalian yang kini membuatku berdiri di waktu ini untuk menghadapi masa depanku kini.

                Untuk semuanya...

                Salam rindu....



NB : Aku berjanji pada diriku dahulu... Suatu hari, ketika Akarui Cha telah menjadi seseorang yang hebat. Akan ku katakan pada DUNIA kalau almamaterku inilah yang menempaku menjadi jiwa yang seperti saat ini. Akan ku ceritakan kisah indah, penuh warna-warni milikku di sekoalhku itu. Dan dengan penuh bangga ku katakan pada DUNIA, aku BANGGA menjadi alumni TARUNA ANDIGHA.... Wahai impianku, tunggu aku... Aku akan segera menujumu.... ^.^



               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.