Langsung ke konten utama

Celoteh “Buang Sampah? Ngapain Nyari Tempat Sampah?”

Huaaahhhhh... Jaman sekarang emang jaman edan. seperti kata para tetua a.k.a orang orang yang tua dan yang sok menuakan diri.

Kenapa kok aku niat banget ngomong begitu??? Ya maklum aja ya, abis dapat wangsit nih dari seorang sahabatku hari ini.

Alkisah, di siang hari bolong yang panassss banget di kampus. Aku dengan santainya berjalan bergerombol dengan gerombolanku yang terkenal di kampus (baca : GangGong), sebut saja demikian. Dengan perut keroncongan yang makin lama makin heboh, dengan langkah terseok seok kami menuju sebuah rumah makan padang (baca: PaCeng a.k.a Padang Goceng) yang paling top di kampus kami.


Makan seadanya dengan tangan. Kami semua lupa cuci tangan. Biar lebih higienis dan enak rasa makanannya. Hehehe... (Dasar anak muda :P)

Habis makan, dengan gaya paling cool, kami melakukan ritual kami. Sendawa berjamaah. (Dasar anak muda :P) #gelenggelengkepala

Habis makan, kami cuci tangan, baru cabut balik ke kelas. Dengan niat menggebu untuk belajar, kami berjalan dengan badan tegap dan dagu terangkat. Tapi, karena terlalu semangat, rasanya jadi sedikit lapar lagi. #maklumtadimakannyakurangbanyak.....dasar kuli...

Tukang batagor jadi sasaran kami. Setelah memesan sebungkus batagor yang saus kacangnya dibanyakin, kami berjalan dengan santai dan lebih lelet menuju ke kelas. Dan tiba tiba di tengah jalan...

WARNING : nama disamarkan!!!!
Boy : Rui, ini di Indonesa kan?
Rui : (Dengan muka bodoh dan mulut penuh makanan, aku menoleh) Iya!
Boy : Kalo gitu boleh dong!
Dan tiba tiba..... TUING!!! Boy melempar dengan santainya bungkus batagor miliknya yang sudah ludes dan tercabik cabik olehnya.
Rui : Tidakkkkkkkk......
Boy : Namanya juga anak Indonesia...jadi santai ajalah...!!! Hahahaha... (tertawa seram)

Owh, OK!!! Cukup!!!
Begitulah tingkah anak anak jaman sekarang yang disebut sebagai ANAK GAUL dan BEKEN.

MAAF...AKU HANYA INGIN SEDIKIT MENYINDIR...NYENTIL DOANK....HEHEHE...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.