The Davincka Code : Buku Perjalanan Hidup Jihan Davincka

Destinasi Pertama Setiba Di Bumi Gora Jatuh Pada Masjid Al Faradis Lombok International Airport

Mentari sudah meninggi. Saya yang tadinya berdiam cukup lama di salah satu mushola dalam Lombok International Airport, duduk tegak, memperhatikan keluar jendela.

Tubuh Ka Acha serasa rontok, kala itu. Retak. Pegal sekujur badan.

Bagaimana nggak begitu, coba? Sepulang kantor, hanya ada beberapa jam yang bisa saya pakai untuk sekadar beristirahat merebahkan diri. Tepat pukul 2 dini hari, saya sudah harus bersiap-siap berangkat ke bandara Soekarno Hatta. Penerbangan saya dari Cengkareng ke Lombok terjadwal paling pagi.

tempat pertama yang Ka Acha kunjungi setibanya di Lombok

Maka, seusai mendarat di Praya, saya mengajak si partner untuk diam menunggu saja di dalam bandara. Pesawat kecil dan besar yang lalu-lalang menjadi hiburan. Pemandangan yang mengingatkan Ka Acha pada suatu tempat yang berjarak hanya satu bandar udara saja dari sini. Bima.

Di Bandar Udara Sultan M. Salahuddin Bima yang ukurannya jauh lebih mungil jika dibandingkan dengan Bandara Internasional Lombok ini, biasanya hanya pesawat kecil saja yang datang dan pergi. Landasannya pacunya nggak begitu panjang. Namun setiap ingat bandara seukuran kantor kecamatan itu, tandanya saya sedang kangen pulang ke kampung halaman Mama dan Papa.

Sedari muda belia, kedua orangtua Ka Acha sudah merantau meninggalkan tanah kelahiran keduanya. Pun saya lahir di kota Mataram, dan masa kecil saya banyak dihabiskan di Bumi Gora, menikmati naik turun karir Pak Prof dan Mama di tanah ini. Sehingga, ketika telinga saya menemukan dialek Sasak dari beberapa orang yang berseliweran di sekitaran, rasanya saya seperti disambut pulang.

Dana mbojo boleh jadi tempat saya biasa bertandang untuk bermanja-manja dengan keluarga besar dari kedua orangtua saya. Wajar selanjutnya jika kesadaran kalau tempat itu nggak begitu jauh lagi jika ingin disambangi, memercik rindu untuk bertemu kedua nenek nun jauh di pulau seberang.

Tapi Lombok adalah tempat pertama saya mengenal lingkungan sekitar. Masa-masa saya berbaur dengan sesama anak perantau di daerah rumah tinggal kami di Bandega, dulu. Pun lidah saya yang terbiasa mengecap rasa ikan bakar yang dijual beberapa istri nelayan Pantai Tanjung Karang. Kaki saya pun sering berlarian di pasir pantainya yang abu-abu tua.

Kemudian … benak saya penuh oleh sederet destinasi wisata khas Bumi Gora. Mendadak ikut mengetuk-ngetuk pikiran saya. Mengajak saya yang kini sudah tumbuh jadi anak besar untuk bisa menjelajahinya kembali. Mengenang semua masa kecil nan menyenangkan, termasuk menyambangi tempat yang semasa kanak-kanak belum berhasil saya kunjungi.

Sayangnya, hari itu saya nggak bisa melenggang santai keluar bandara sesuai mau saya. Mama yang mendapat tiket penerbangan sedikit lebih siang, belum tiba. Jadilah, satu-satunya pilihan aman agar Pak Prof – papanya Ka Acha – yang sudah lebih dulu berada di Lombok dan akan datang menjemput jadi nggak kebingungan, ya saya nggak kemana-mana.

Sepagian itu, setelah bosan menunggu, sepatu saya dan si partner terhenti di sisi bandar udara Praya yang lain. Agak berseberangan dengan penumpang yang tiba maupun keluar dari kawasan airport. Bangunan kuning muda dikejauhan menggoda mata. Semangat seketika terkumpul untuk bisa mendatanginya.

Tibalah Ka Acha dan si partner di sebuah dinding marmer hitam bertuliskan Masjid Al Faradis Lombok International Airport. dari sana, kami baru tahu kalau bangunan apa yang berdiri di hadapan. Rupanya bangunan beratap melengkung dengan beberapa tiang persis menara pendek yang netra kami temukan dari kejauhan tadi, sebuah masjid. Pas sekali, hari itu adalah hari Jumat.

Dari dekat saya memperhatikan dinding luarnya yang dicat kuning cerah dengan perpaduan warna putih tulang dan cat merah bata tipis di beberapa bagiannya. Dari luar gerbang kecilnya, saya menangkap kalau suasana sejuk melingkupi masjid bandara itu. Ada bukaan besar yang berada di ujung dari lorong samping kamar mandi dan tempat berwudhunya. Belum lagi bebungaan yang ditanam di halaman mungilnya.

Benar saja. Ketika kaki saya masuk, masjid ini sungguh sejuk dan terawat baik. Aih … Masjid Al Faradis di Bandara Internasional Lombok rupanya menjadi pembuka dari perjalanan saya di Pulau Seribu Masjid.

Bagian dalamnya sederhana, namun cukup membuat betah. Suasananya yang sempat sepi mengingatkan Ka Acha pada Masjid Al Istiqomah di Pangandaran yang memberi nuansa tenang yang sama. Pun dari segi ukuran, nggak jauh berbeda.

Dinding dalamnya dicat putih tulang. Lantainya kala itu sedang nggak digelari karpet. Dari obrolan beberapa bapak-bapak yang berada di sana, saya menangkap kalau masjidAl Faradis memang baru saja dibersihkan. Sayang, karpetnya masih lembab sehingga belum bisa digelar untuk shalat Jumat.

halaman samping masjid yang menuju tempat wudhu dan kamar mandi wanita

Beberapa menit setelah saya tiba, serombongan bapak-bapak yang bisa jadi adalah warga sekitaran BIL datang. Adzan pun berkumandang syahdu. Saya memilih duduk di lorong selasarnya, menyembunyikan diri dari jamaah yang datang.

“Acha pulang.” Sepasang kata ini berkali-kali saya lantunkan dalam diam.

Sudah lama sekali saya nggak menikmati momen menghabiskan waktu di masjid seperti saat itu. Bukan karena semenjak dibawa Mama dan Papa merantau ke kota penyangga ibukota, nggak ada lagi momen yang membawa Ka Acha ke masjid, melainkan dialek khas Sasak yang saya rindukan. Bahkan saya menikmati obrolan dari beberapa orang di sekitar saya.

Walau waktu telah meluruhkan segala ingatan Ka Acha akan bahasa Sasak yang saya pelajari di masa Sekolah Dasar, tapi logat dan cara berbicaranya nggak pernah membuat saya lupa. Sesuatu yang mungkin lekas memantik rindu saya akan rumah masa kecil saya di tepi Pantai Tanjung Karang, Mataram. Rasanya, Ka Acha benar-benar pulang sekarang.

“Adek tunggu sini ya.” Pesan si partner jalan saya.

Sayup-sayup khutbah Jumat saya dengarkan. Sembari bersandar pada dinding luar, saya memejamkan mata beberapa saat.

Saya kira, hanya saya satu-satunya perempuan yang akan berada di sana. Rupanya dua orang ibu usia paruh baya datang terburu-buru. Keduanya ikut menjadi jamaah shalat Jumat juga.

Nggak aneh bagi saya, sebenarnya. Pemandangan serupa juga sering saya temui semasa kecil dulu. Walaupun selanjutnya saya nggak mengikutinya. Bagi Ka Acha, perempuan nggak diminta untuk ikut dalam barisan shalat Jumat. Ibadah berjamaah mingguan ini hanya dikhususkan bagi kaum lelaki.

selasar masjid Al Faradis - BIL

Hanya butuh waktu beberapa puluh menit kemudian, jamaah membubarkan diri. Masjid Al Faradis pun lengang kembali.

Seorang bapak usia paruh baya yang nampaknya menjaga Masjid Al Faradis, menyapa saya. Ia memulai dengan pujian pada saya yang dikira sebagai mualaf karena tampilan saya yang persis orang Eropa. Begitulah sapaan pertama yang dihadiahkan beliau pada saya.

Diam-diam Ka Acha menahan tawa. Ingin rasanya saya berseloroh jujur, “Bapak orang ke sekian ratus yang bilang begitu ke saya, Pak.”

Lalu meluncurlah serentetan cerita, seolah beliau paham kalau saya datang untuk mengisi tangki pengalaman sebagai pejalan. Bagaimana beliau merawat masjid Al Faradis agar tetap sejuk di cuaca Praya yang seringnya bikin gerah. Usaha ia mempercantik sekitaran masjid dengan bebungaan warna-warni dan menyusunnya sedemikian rupa. Bahkan kisah unik dari para penumpang yang bertandang ke Masjid Al Faradis saat berkeliling kawasan bandara, seperti Ka Acha dan si partner kala memilih ke sana juga.

Senyum saya mengembang. Sesekali mendapati beliau kebingungan mencari bahasa Indonesia yang pas untuk beberapa kata dalam bahasa sasak, membawa saya mengangguk pelan. Hingga saya bercerita kalau saya lahir di Bumi Gora, ia kemudian mengurai gelaknya.

penampakan bangunan masjid dari arah bangunan bandara yang memancing Ka Acha ingin mendatanginya

Kabar dari Pak Prof – papanya Ka Acha -- akhirnya masuk ke ponsel saya. Pak Prof sudah berjumpa dengan Mama di ruang tunggu bandara dan tengah kebingungan mencari-cari si anaknya yang hobi hilang entah kemana ini. Payahnya, beberapa kali dihubungi, saya nggak menyadarinya sedari tadi sebab asik mengobrol.

“Tunggu di sana saja ya, Nak. Papa yang jemput. Mamanya juga kepengen lihat-lihat masjidnya.”

Eh ternyata bukan cuma Ka Acha saja yang diserang nostalgia saat tiba di BIL setelah sekian lama nggak pulang, tahunya Mama juga. Jadilah, Masjid Al Faradis pun dinobatkan sebagai destinasi wisata pertama yang saya dan Mama kunjungi setelah begitu lama nggak pulang ke pulau Lombok, dala obrolan panjang kami di mobil kemudian. 

Komentar

  1. Ah senanngnya bisa kembali ke pelukan orang tua dengan sambutan hangat dan menjelajah tempat yang mempunyai kenangan indah dengan kehidupan kita. By the way, jadi penasaran, kenapanya papanya Kak Acha dipanggil Pak prof?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Senang banget bisa menemani orangtua napak tilas kehidupan mereka di kota perantauan yang pertama, Kota Mataram. Sekarang menemani mereka merantau di dekat ibukota soalnya. Jadi sekalinya pulang ke sana langsung heboh. Hmm, Papa kupanggil Pak Prof karena memang selain Papa paling bisa menjawab banyak pertanyaan kritis anak-anaknya yaa, semoga dalam waktu dekat juga sudah bisa menyandang gelar profesor dari ilmu yang diampu dan digelutinya selama ini.

      Hapus
  2. Wah aku melewatkan kesempatan utk menginjakkan kaki di masjid ini wkt ke BIL dulu. Soalnya lbh sering dijemput dari bandara sih. Jd ga sempat ke mana2. Paling cmn nyempetin sholat di mushola bandara aja tuh kl lagi pas wktnya sholat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mampir pun aku kemarin ya karena lama nungguin penerbangan Mama dan jemputan Papa sih. Kalo nggak disuruh nunggu mungkin nggak kelilingin BIL dulu.

      Hapus
  3. Pasti menyenangkan bisa kembali ke kampung halaman dan bertemu dengan orangtua. Apalagi datang lagi ke masjid yang indah ini. Bisa sekaligus wisata religi juga

    BalasHapus
  4. Insya Allah tahun ini ada agenda traveling ke Lombok lagi dan mau mencoba solat di.masjid Al Faradis (gusti yeni)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga jadi pengalaman yang menyenangkan buat Mba Yeni dan keluarga ya.

      Hapus
  5. aku Kira tadi Dana mbojo, kata Bahasa Jawa loh kak, terasa nama tempat ya? unik memang ya kebudayaan kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dana Mbojo sebutan lain buat wilayah Bima di Nusa Tenggara Barat sih. Soalnya suku yang mendiami mayoritas suku Mbojo.

      Hapus
  6. Perjalanan menyenangkan nih udah sampai Lombok saja. Eksplorasi pulau Nusa Tenggara sampai nanti ditunggu semua ceritanya ya...

    BalasHapus
  7. Saya pernah ke lombok, cuma belum ke masjid ini kayaknya. Waktu itu fokus ikut lomba sih jadinya ga sampe kepikiran mau sholat di masjid sana. Sholatnya ya di masjid hotel atau masjid tempat penyelenggara lomba

    BalasHapus
  8. Semoga ada kesempatan untuk jalan-jalan ke Lombok. Kalau sudah tiba di Lombok, masjid Bandara Internasional Lombok bisa menjadi destinasi pertama, nih.

    BalasHapus
  9. Kayak saya yang kelamaan merantau di Jakarta, kadang kangen pulang ke kampung halaman di Kuningan. Apalagi sudah berapa tahun saya enggak mudik, soalnya ibu bapak di Jakarta. Mudik ke kampung halaman memang sangat menyenangkan ya. Bisa ketemu sama sanak saudara di sana.

    BTW, saya suka nonton kecimol Irama Dopang yang ada di Lombok Mba. Jadi suka dengan lagu-lagu Sasak yang asyik. Jadi pengen deh ke Lombok ketemu langsung dengan Kecimol yang mengiringi pengantin dalam adat nyongkolan

    BalasHapus
  10. Senangnyaaaa bisa menyusuri kota masa kecil. Eh btw, Acha kan sering dikira orang Eropa gitu ya. Kalo ke tempat wisata, tiketnya sering jadi lebih mahal nggak, Cha?

    BalasHapus

Posting Komentar