Cara Mengembangkan Bisnis yang Sudah Berjalan

Bagaimana sih cara mengembangkan bisnis yang sudah ada sebelumnya? Apalagi tantangan perkembangan dunia digital yang makin meningkatkan persaingan antar sesama pengusaha dengan produk atau jasa yang hampir serupa.

 cara-mengembangkan-bisnis

Ingatan saya terbawa pada beberapa tahun ke belakangan, saat saya masih jadi fresh graduated dan sibuk mencari pekerjaan. Entah bagaimana ceritanya, saya berjodoh dengan salah satu perusahaan jamu yang punya kantor di bilangan Jakarta Selatan. Di sana, saya menikmati masa menjajaki karir sebagai Copywriter in House untuk seluruh brand yang mereka punya.

Kantor lama saya ini sengaja meng-hire beberapa orang untuk membangun tim baru yang di masa itu, mereka masih benar-benar awam soal pemasaran secara digital. Mereka lebih fasih pada pendekatan above the line (ATL) dan below the line (BTL), namun kemajuan jaman telah membuat batas media pemasaran ini butuh sebuah “jembatan” yang kemudian dikenal dengan istilah through the line (TTL).

jenis-iklan

Sebagai bagian dari tim digital yang mendorong pengenalan produk mereka untuk menaikkan segmentasi pasar, maka saya terlibat dalam pengelolaan aset digital mulai dari media sosial di beberapa platform yang sedang hype. Pada masa awal bekerja, saya masih berkutat pada proses mempersiapkan konten untuk Facebook dan Twitter saja.

Instagram baru mulai dikenal selang beberapa tahun setelahnya. Juga dengan Youtube yang kala itu masih menayangkan koleksi dari Television Commercial (TVC) mereka, serupa dengan apa yang mereka sebarkan sebagai iklan di berbagai stasiun televisi.

Di sela-sela kegiatan yang kalau dibaca, kok serasa sibuk banget tadi, saya turut andil dalam mengulik soal sejarah perusahaan hingga urusan wawancara ke para product manager untuk lebih mengenal product knowledge mereka, sehingga bisa saya buatkan copy untuk ditayangkan di website utama perusahaan yang sedang dipersiapkan.

Perjalanan yang panjang. Apalagi bagi saya yang juga masih diajak meraba-raba tentang dunia periklanan secara digital, termasuk pedekate dengan para atasan agar bisa paham maunya mereka bagaimana, juga mengajak mereka bermain-main di dunia saya yang junior, lekat pada perkembangan media anak muda.

Bulan berselang setelahnya, mereka pun mulai membuat microsite untuk beberapa brand andalan yang sudah besar. Hingga di jelang tahun terakhir saya bergabung, mereka membuat e-commerce sebagai wadah khusus penjualan langsung produknya secara online. Disamping tetap melakukan pendekatan pada konsumen dengan membuka official store di market place.

Tiba-tiba saja selama bekerja, saya sudah mencicipi berbagai rasa dalam menjalani kehiduan sebagai ujung tombak brand di media digital.

Pengalaman seru mulai dari tim saya diminta mengelola persiapan webseries yang akan ditayangkan di Youtube. Menghadirkan sebuah iklan dalam bentuk yang berbeda.

Mempersiapkan sesi pemotretan khusus brand untuk Instagram. Menjalankan campaign di aset media sosial yang dipunya. Puncaknya, beberapa kali piagam social media award bisa menghiasi ruang kerja tim saya.

sidomuncul-social-media-award

I am so amaze. Ternyata perkembangan media pemasaran berkembang begitu cepat. Bahkan saya yang – katanya sih – generasi milenial dan cakap pada perkembangan jaman, tetap saja sedikit ngos-ngosan. Luar biasanya, rasa tertantang untuk mengenal lebih dalam, membuat jam kerja padat selalu menyenangkan.

Bersyukur, tim saya yang dulu jumlah pekerjanya termasuk sedikit untuk menjalankan misi besar, diberi keleluasaan menjalin kerjasama dengan beberapa digital agency Jakarta. Pilihan yang bijak, sehingga saya dan tim yang juga masih perlu banyak belajar, jadi mendapat insight dari tim social media agency.

Sungguh … pengalaman kerja yang selalu saya rindukan hingga hari ini. Pengalaman yang membawa saya makin mencintai dunia media, walau sejak memilih menjadi pekerja lepas, saya hanya sanggup memegang sedikit bagiannya saja. Tahulah ya, mengerti hal besar, belum tentu bisa mengerjakan semuanya sendirian dengan benar.

Nah, jika mengambil pengalaman yang sudah pernah saya jalani – walau hanya sebagai karyawati, tetapi cara mengembangkan bisnis yang dipilih oleh perusahaan tempat saya dulu, sungguh caka nan bijak. Mereka menjaga loyalitas pelanggan yang sudah ada, meningkatkan jangkauan pasar, sampai menjadi lebih dekat dengan konsumen pada rentan usia lebih muda dari sasaran segmen sebelumnya.

Ijinkan saya merangkum, pelajaran apa yang pernah saya ambil sepanjang di sana ya.

Memahami Kompetitor Bisnis

Sebelum saya diajak mengenal lebih dalam tentang brand yang saya kelola, pelajaran pertama adalah melihat dulu, siapa sih kompetitor dari brand ini jika dilirik sekilas.

Tujuannya tentu, agar sebelum memulai pengembangan bisnis, tim yang dilibatkan sudah bisa memperkirakan kompetitornya siapa, termasuk gebrakan apa yang sudah lebih dulu dilakukan oleh mereka.

Melihat sekilas begini biar strategi yang dijalankan nanti, bisa bermain dengan blue ocean strategy, alias berusaha untuk nggak gontok-gontokan dengan kompetitor. Usaha yang dilakukan akan lebih fokus pada inovasi yang dimunculkan, bukan mengekori apa saja yang brand lain manfaatkan momentumnya.

Nah, sebab riset begini butuh waktu, maka dulu sih saya dan tim sepanjang proses pengerjaannya, bekerjasama dengan salah satu digital marketing agency Indonesia di bawah bimbingan dari atasan saya.

Sebagai Copywriter in house, tentu kala itu saya belajar menyesuaikan bahasa copy yang saya buat nantinya, dengan segmen pasar, dan branding yang diinginkan oleh kantor tempat saya bekerja. Senangnya, saya juga diijinkan banyak belajar dari senior lain di bidang yang saya geluti.

Setelah data-data mengenai campaign apa yang sedang dijalankan kompetitor, bagaimana tone message mereka di media sosial, lalu kolaborasi mereka dalam pengembangan citra brand agar 360 derajat alias berjalan semua beriringan, saya dan tim mulai melangkah ke bagian pengembangan bisnis selanjutnya.

Mengatur Strategi untuk Meningkatkan Promosi

Di bagian ini, semua dimulai lagi dari nol.

Anggap saja, pengetahuan singkat tentang kompetitor hanya catatan di buku. Sisanya, strategi yang dilakukan untuk meningkatkan promosi, murni hasil diskusi tim, tanpa emel-embel ingin menyaingi pesaing. Manfaatnya tentu, agar campaign yang dijalankan nantinya pure untuk memunculkan jiwa dari brand tadi.

Dengan memanfaatkan jasa digital marketing agency Jakarta, jadi lebih memunculkan banyak ide. Pun ide yang sudah ada, bisa dilaksanakan dengan lebih baik sebab adanya bantuan dari tim jasa digital marketing agency yang sudah lebih dulu paham medan perangnya.

Perluas Jaringan Pemasaran dengan Strategi Komunikasi yang Tepat Sasaran

Inilah bagian yang akan sangat membutuhkan kerjasama dengan agency periklanan, sebab nggak semua perintilan yang perlu dilakukan, mudah dikhatamkan dalam semalam.

Percayalah … kerjasama itu menjadi kunci untuk mengembangkan bisnis yang dimiliki. Namun, nggak perlu terlalu perhitungan untuk bisa lekas balik modal dengan biaya iklan yang nantinya dibayarkan. Sebab, sepengalaman saya, butuh waktu tahunan agar brand-brand yang saya dan tim kelola, mendapatkan awareness dari pengguna media sosial yang disasar.

Urusan penjualan? Oh, nggak bisa langsung melejit sih, tapi … sisi positifnya, si brand yang dikelola, makin mudah diingat, sehingga harapannya, akan menjadi pilihan setiap kali para konsumen ini berbelanja.

Di masa saya bekerja sih, belum ada cukup banyak tools media sosial dan website, jadi dulu tuh … saya dan tim sering bermain trial and error dulu sebelum ketemu dengan trik yang pas dalam menggaet konsumen jadi loyal.

Nah, belakangan, saya mendapatkan informasi mengenai machine learning RED Miles nih.

Penasaran dong saya akhirnya.

Ternyata, RED Miles tadi merupakan tools yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektifitas strategi komunikasi brand di media sosial. Sederhananya, tools ini dapat dimanfaatkan untuk memunculkan strategi komunikasi brand berbasis data, sehingga hasilnya didapat tanpa perlu trail and error berkali-kali, dengan kata lain, strategi dibuat dengan cost-efficient dan efektif di social media.

RED Miles menggunakan teknologi machine learning dan artificial intelligence (AI) a.k.a kecerdasan buatan untuk mengumpulkan data yang nantinya dibutuhkan.

Wah, apa yang RedComm Jakarta lakukan keren sekali.

Wajarlah ya, RedComm kan sudah 20 tahun berkiprah di industri periklanan. Sudah banyak menikmati manis pahit menemukan strategi komunikasi yang tepat dalam membantu brand meningkatkan citra, dan cara komunikasinya pada pelanggan. Walhasil, si brand yang bekerjasama dengan tim RedComm kemungkinan besar merasa senang.

redcomm-award

Asiknya lagi, RedComm sudah dapat penghargaan emas di Campaign Asia’s Award of the Year 2019 dan 2020. Kurang mantap apa, coba?

Kisah lainnya, RedComm mampu menyisihkan agensi periklanan Asia dan Australia. Salut.

Inovasi Brand dan Kolaborasi

Langkah selanjutnya dalam mengembangkan bisnis tentu saja inovasi dan juga melakukan kolaborasi dengan brand lainnya.

Sama seperti apa yang tim saya dulu jalani, berkolaborasi dengan tim dari agensi iklan. Ide-ide yang bermunculan pun makin banyak. Eksekusi pun bisa makin detail.

Tambahan lagi, jika produk yang saya kelola sedang mempersiapkan inovasi baru, berbagai strategi pengenalan dan perluasan juga turut dilakukan. Nah, sebab saya bekerja khusus di tim digital, saya bisa menjalani sesi menemukan konten kreator sebagai key opinion leader juga lho. Huwaaa … kangen sekali masa kerja nih jadinya saya.

Jadi Dekat dan Lekat dengan Konsumen

Di bagian ini, pengalaman saya selama bekerja di kantor lama, belum banyak bersinggungan lebih dekat. Dulu … saya masih berada di balik media sosial yang dikelola oleh tim.

Tapi, sepanjang saya menjadi pekerja lepas, ada pengalaman lain dimana saya bisa berkomunikasi langsung kepada para konsumen baik loyal maupun yang belum terlalu loyal, dalam sebuah komunitas eksklusif milik brand. Pengalaman sebagai community coordinator ini rasanya akan saya kisahkan di lain waktu saja ya.

Sisi uniknya, saya bisa mengulik lebih dalam, apa yang konsumen inginkan, dengan pendekatan personal. Lho, Kak Acha jadi seperti sales dong. No … lebih dari itu. Saya jadi “teman” yang telah disematkan embel-embel brand yang saya bawa dalam keseharian.

Lain waktu deh ya saya ceritanya. Nggak janji dalam waktu dekat tapinya.

Evaluasi Pencapaian

Nggak ada ide besar yang telah dieksekusi, lewat dari sesi evaluasi begitu saja. Bagian ini walau akan melelahkan, menjadi momen penguat dan pengukur, sudah sejauh mana si cara mengembangkan bisnis diterapkan dengan baik.

Evaluasi menjadi masa pendinginan dan menemukan ide baru dalam melanjutkan strategi komunikasi. Melakukan penilaian kinerja, memperhatikan kekurangan dan kelebihan yang ada, dan lain sebagainya. Termasuk dari segi biaya, apa boros atau dana yang dikeluarkan setara dengan apa-apa yang sudah dilakukan, lalu hasil apa yang dipanen kemudian dari komukasi iklan.

Kalau istilah Kak Acha dari dulu sih, bikin report.

Seringnya, hasil evaluasi begini bisa jadi bahan brain storming dengan tim dan atasan saya. Hhh … masa-masa di akhir campaign yang seringnya mengajak saya fokus bekerja. Momen lainnya yang paling bikin saya kangen setelah memilih resign.

Baiklah, semoga poin pengalaman panjang saya ini memberi masukan bagi kamu yang sedang tergerak untuk memperluas cakar bisnis yang kamu bangun. Walau UMKM sekalipun, maju terus untuk memajukan bangsa ya. Ciayo ….

Walau penerapannya nanti nggak akan plek, sama, semoga ada semangat yang tersampaikan bagimu ya.


Komentar

  1. Funia marketing emang berkembang pesat banget ya mbak. Dulu juga belajar ATL BTL hingga khatam bukunya Philip Kotler dan Hermawan Kertajaya.

    Duh jadi pgn bergabung dengan Redcomm deh. Pasti kredibilitasnya ga usah diragukan lagi ya. Soalnya udah 2x jadi agensi digital marketing terbaik di Asia Tenggara. Kereen.

    BalasHapus
  2. Wajib banget klo zaman sekarang menguasai dunia digital ya kak. Kalo nggak bakal ketinggalan banyak apalagi kalau dalam dunia usaha .

    BalasHapus
  3. kantornya Kak Acha dulu keren yaa, udah maju dan mau keluar dari zona nyaman dong ini.
    pengalaman Kak Acha juga udah oke nih bisa jadi modal juga nanti jika ingin bekerja kembali di ranah publik sekelas RedComm yang memang bergerak di bidang digital marketing agency ya.

    BalasHapus
  4. Bareng RedComm nih pas banget buat ngembangin bisnis kita, apalagi jaman digital gini makin mudah promosi via online bareng RedComm

    BalasHapus
  5. Strategi marketing sebenarnya bisa dipakai utk bisnis yang sudah berjalan maupun yang belum berjalan. Justru kalo belum berjalan sbnrnya bs dirumuskan sejak dini. Jadi belum ada kontaminasi apapun. Kita bisa justru leluasa dalam menentukan strategi bisnisnya. Dgn bantuan Red Miles dari Redcomm ini, usaha kita akan berpeluang tumbuh pesat di tengah persaingan bisnis online yang marak.

    BalasHapus
  6. RedComm ini bener-bener ngebantu banget buat pelaku bisnis yang ingin berkembang dengan memaksimalkan ranah digital. Kalaulihat prestasinya sih nggak kaleng-kaleng banget, asli udah terbukti memberikan janji yang memuaskan.

    BalasHapus
  7. Trail and error' ini kudu sabar dan terus bersabar berarti ya kak Acha. Ikhtiar yang dilakukan tersebut bisa bermanfaat saat ini, apalagi ternyata sudah tersedia tools sehingga makin memudahkan lagi

    BalasHapus
  8. Wah asyik banget sih Mba, kerja sesuai passion, pasti akan totalitas. Jadi copywriter itu seru ya.

    Digital agency RedComm bagus nih untuk partner bisnis digital ya.

    Terima kasih atas tips cara mengembangkan bisnis biar bisa bertahan dan semakin berkembang dan bersaing dengan para kompetitor.

    BalasHapus
  9. Dunia digital sekarang memang merajai di segala hal ya, termasuk dalam pemasaran. Dan kalau kita nggak ahli-ahli banget, mending serahkan urusan ini sama yang ahli, contohnya ya ke RedComm ini. Biar usaha yang dijalani lebih maksimal hasilnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels