Langsung ke konten utama

Yuk Jaga Hutan Dengan Adopsi Hutan

“Gimana ya rasanya kalau bisa adopsi hutan?”

Hidup di perkotaan dengan pepohonan yang hanya tumbuh satu dua saja di sekitar tempat tinggal saya, lebih sering membuat saya merindukan rumah nenek saya di Sila, Bima. Almarhum Kakek menanam begitu banyak jenis pepohonan di halaman belakangnya yang cukup luas.

Alasan Kakek dulu, selain untuk ketahanan pangan rumah tangga, juga menjaga ketersediaan air tanah, dan penyejuk udara di sekitar rumah tinggal. Padahal rumah Kakek saya berdiri tepat di tepi jalan besar, dekat jalan trans sumbawa – Bima.

jaga-hutan-adopsi-hutan

Jika saya ingat masa kecil saya, memang Kakek selalu berkata “Ngaha Aina Ngoho” dengan makna, manfaatkanlah alam secukupnya saja, jangan berlebihan apalagi serakah. Ya … saya sepakat. Namun semakin besar, saya menyadari, saya nggak sanggup mengikuti jejak Kakek yang menyediakan lahan kebun bahkan tanah di bebukitan untuk penghijauan, apalagi saya kini tinggal di Kota Penyangga dari Ibukota Indonesia.

Diam-diam, saya masih sering teringat pesan almarhum Kakek. Betapa kadang manusia begitu serakah, sehingga nggak lagi terlalu peduli akan sumber daya alam yang habis habisan dimanfaatkan. Lupa akan keberadaan flora dan fauna yang juga tinggal dan tentunya hidup di sana. To be honest, deforestasi masih terus terjadi.

Maka, sejak menemukan informasi tentang adopsi hutan, saya turut senang. Angin segar bagi kita semua, bukan?

Apa Sih Adopsi Hutan Itu?

Adopsi hutan merupakan sebuah gerakan yang digagas pada Hari Hutan Indonesia yang jatuh pada 7 Agustus. Adopsi hutan ini bertujuan agar saya – juga kamu – sebagai generasi Indonesia, turut ambil andil dalam menjaga kelestarian hutan. Tahukah kamu bahwa hutan Indonesia, terutama yang berada di Kalimantan, merupakan salah satu dari paru-paru dunia?

Adopsi hutan merupakan gerakan yang dilakukan secara gotong royong dalam menjaga kelestarian hutan yang masih ada. Bukanya hanya menjaga pepohonannya yang masih tegak berdiri, berbagai fauna dan flora yang hidu di hutan, termasuk keanekaragaman hayati lainnya yang ada di sana. Bukankah segala sesuatu yang dilakukan secara bersama, akan memberi daya agar misinya lekas terlaksana?

Ngapain Sih Adopsi Hutan?

Berat ya, pertanyaan ini? Tapi baiklah, Ka Acha akan menjawabnya dengan pembahasan sederhana yang semoga bisa lebih mudah kamu mengerti. Harapan saya, selepas berkunjung ke tulisan saya ini, kamu ikut tergerak juga untuk adopsi hutan. Jadi, marilah saya mulai saja ya.

Hutan memiliki banyak sekali manfaat bagi keberlangsungan hidup manusia di Bumi. Ih, Ka Acha suka hiperbola deh. Eih, beneran.

manfaat-hutan

Hutan dengan segala keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya, sungguh menunjang kehidupan manusia, bukan? Lagipula, bukan hanya saya – juga kamu – saja yang bermukim di Bumi. Sang Maha Pencipta juga menjadikan Bumi ini sebagai tempat bagi berbagai macam flora dan fauna. Berbagai bentukan ekosistem pun dicipta-Nya. Termasuk di hutan.

Saya jadi teringat akan fiksimini yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu. Berkisah tentang Orangutan bernama Delilah yang begitu penuh duka hidupnya, akibat deforestasi, berupa pembakaran hutan untuk pembukaan lahan.

fiksimini-karya-akarui-cha

Nah, bagaimana, masih mau menunda untuk nggak ikut ambil bagian dalam adopsi hutan?

Bagaimana Sih Cara Ikutan Adopsi Hutan?

Cara yang cukup mudah, sebab pada pelaksanaannya, saya – juga kamu – nggak perlu jauh-jauh berkunjung ke hutan untuk menjadi adopter. Hanya dengan rebahan santai di rumah saja, dengan ucapan Bismillah sebagai pembuka, kamu sudah bisa turut serta dalam kampanye adopsi hutan ini.

Kamu bisa bergabung dengan banyak orang dalam gerakan adopsi hutan ini melalui Kitabisa. Atau, jika kamu sudah berkunjung ke situs harihutan.id, kamu bisa scroll ke bawah hingga menemukan image link donasinya, seperti di gambar berikut ini.

donasi-kitabisa-adopsi-hutan

Mudah bukan? Yuk ikut bergerak jaga hutan dengan adopsi hutan.

Adopsi Hutan Untuk Bergerak Bersama Lestarikan Hutan

Saya teringat akan ucapan Ibu Sri Hartati yang beberapa bulan lalu, hadir dalam sebuah acara yang juga diselenggarakan Blogger Perempuan. Sebuah kegiatan yang sepulangnya dari sana, kembali mengingatkan saya akan sosok almarhum Kakek. Membuat rindu saya membuncah hingga tumpah ruah.

perempuan-pejuang-jaga-hutan

Ada sosok Ibu Sri Hartati yang sambil menahan tangis, berujar kepada seluruh peserta yang hadir, “Siapapun yang berani merusak hutan kami, akan kami kejar sampai dapat!”. Nggak perlu menunggu, bulir airmata terbit di mata saya.

Betapa hutan adat di Sumatera Barat yang ia kelola dengan kelompoknya, Bundo Kanduang, begitu berharga. Perjuangan masih panjang bagi beliau, untuk sebuah pengakuan demi mempertahankan keberadaan hutan di sana. Bahkan hutan, menggerakkan Ibu Sri Hartati dan kelompoknya untuk menghasilkan sirup pala. Ya … hutan bisa menjadi salah satu sumber ketahanan pangan kita.

Ada pula Mba Tresna Usman Kamaruddin, Amd yang walau sudah bertempat tinggal di Depok, tapi masih terbilang cukup sering pulang ke tanah kelahirannya di Kolaka, Sulawesi Tenggara, demi semangat untuk turut memperjuangkan keberadaan hutan adat di Kolaka.

Tambahan kisah yang membuat saya menahan haru, ketika Mba Tresna berkisah, bahwa dirinya yang seorang cancer survivor bisa sembuh, dengan bantuan hutan. Bagaimana caranya? Sebab Mba Tresna mengonsumsi berbagai herbal dari hutan, untuk mendukung kesehatannya. See? Hutan itu sungguh luar biasa. Lalu mengapa keberadaannya nggak kita jaga?

Pekerjaan rumah bagi para penjaga hutan, masihlah banyak. Membiarkan seseorang atau segelintir orang berjuang untuk hutan kita semua, hutan Indonesia, bukanlah karakter anak bangsa ini, bukan? Bukankah semangat gotong royong telah mengakar dalam tiap budaya dari berbagai suku di tanah air tercinta kita?

Memangnya, Apa Manfaatnya Kalau Saya Ikut Adopsi Hutan?

Kamu tentu sudah lebih banyak tahu jawabannya. Pertanyaan ini, tentu bisa dijawab sendiri olehmu, bukan?

Sebab mempertahankan keberadaan hutan Indonesia yang kini tersisa, merupakan cara kita bersama-sama untuk bersyukur atas alam luas yang diamanahi Sang Maha Pencipta, sebagai tempat kita semua hidup bersama-sama. Ada berbagai keanekaragaman hayati yang sama-sama bisa kita jaga, walau kita secara utuh nggak bisa berada di sana.

Hutan, sebagai salah satu lumbung bagi ketersediaan pangan pun, tetap terjaga. Hutan, dengan fungsi orologisnya untuk mencegah erosi tanah, tetap terjaga. Hutan, dengan fungsi hidrologisnya, mampu menyediakan air untuk umat manusia, tetap terjaga. Hutan, dengan fungsi klimatologisnya, sehingga kelembaban udara yang sesuai untuk keberlangsungan hidup kita, tetap terjaga.

jaga-hutan-dengan-adopsi-hutan
Mereka Butuh Kita

Mungkin saya nggak bisa seperti almarhum Kakek yang menyediakan halaman belakang rumahnya untuk dibuat serupa hutan mungil. Mungkin saya yang terlalu terbiasa tinggal di perkotaan ini, nggak bisa benar-benar berbuat banyak untuk turun langsung dalam menjaga keberadaan hutan. Namun saya percaya, melalui tulisan saya, semoga semangat saya untuk turut meniru apa yang Kakek lakukan, tersampaikan.

Hanya dari sesuatu yang sederhana dan nggak butuh waktu lama, saya – juga kamu – sudah bisa berbuat banyak untuk hutan Indonesia, untuk kita semua. Yuk, ikut gerakan adopsi hutan bersama-sama!

 

 

 

Komentar

  1. Penting di sebar luaskan ini, karena tak semua generasi muda paham tentang adopsi Hutan, Dengan adanya program ini tentu kelestarian hutan dapat di wujudkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap. By the way, terima kasih banyak sudah mampir ya.

      Hapus
  2. Moga dari pemerintah sendiri bisa mengkonsep lebih baik mengenai pemanfaatan hutan dan lahan hutan. Karena selama ini hutan emang lebih banyak digunakan sebagai target untuk membuka perkebunan perusahaan2 besar yang mengajukan ijin pemanfaatan

    BalasHapus
  3. Di saat pandemi ini banyak masyarakat yang mencintai tanaman. Ya semoga aja kemudian dibarengi dengan kepedulian terhadap hutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya nih Teh. Bahkan aku belakangan lagi norak noraknya belajar bertanam. Dimulai dulu dari cabe.

      Hapus
  4. Kitabisa makin keren karna yang bisa dibantu lebih universal, contohnya peduli hutan dengan adopsi hutan kyk gini. Semoga aja makin banyak adopter dari kitabisa 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih sudah mampir ke mari ya.

      Hapus
  5. terima kasih kakak sudah membantu menjaga semesta dengan baik :D

    BalasHapus
  6. Oh, bisa lewat kitabisa ya, Cha? Dari kemarin penasaran gimana caranya kalo mau ikut program adopsi hutan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Teh, bisa. Alhamdulillah kalau info dari Acha bisa membantu Teteh. Senang sekali.

      Hapus
  7. Gerakan ini perlu disebarluaskan agar banyak orang sadar pentingnya hutan buat kita.
    Mirisnya sampai sekarang ini masih seringkali terjadi pembalakan liar, ini harus ditindak tegas pelakunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya. Walau katanya sih menurut data mulai berkurang deforestasinya. Tapi rasanya, ya ... tetap saja ada. Semangatlah buat adopsi hutan demi Indonesia maju. Hutan Indonesia Juara!

      Hapus
  8. Sebagai pecinta hutan dan sejak kecil pernah punya keinginan hidup di hutan haha (serius ini cita-cita waktu kecil banget :D) saya selalu tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan hutan. Adopsi pohon untuk hutan merupakan sesuatu yang menarik bagi saya. Ikutan ah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah Mba Lina, gimana ya kalau benar benar bisa ngerasain sensasinya tinggal di hutan? Udara segar terus yang dihirup tiap hari.

      Hapus
  9. Baru tahu info mengenai adopsi hutan :) menarik sekali nih gagasannya, meski kita di tengah perkotaan tapi tetap bisa ikut serta dalam pelestarian alam, terutama hutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Mba. Semoga banyak yang tergerak untuk adopsi hutan juga ya. Aamiin.

      Hapus
  10. Wah ada program yang sangat menarik nih "adopsi Hutan". Semoga generasi milenial bangsa ini banyak yang tertarik dan sadar serta ikut serta mensukseskan program positif ini. Amiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih sudah mampir ke tulisan saya ini ya Kak.

      Hapus
  11. Terobosan baru untuk menjaga kelestarian hutan kita ya. Saya baru pertama ini dengar mba, biasanya jaga hutan dengan tidak menebang pohon sembarangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum mba, sama sama. Semoga adopsi hutan ini bisa menjadi gerakan lanjutan dari jaga hutan, sebab hutan jadi milik bersama, bukan hanya orang orang yang benar benar terlibat langsung mengurus keberadaan hutan kita yang terancam terus oleh deforestasi.

      Hapus
  12. Sebelum Adopsi Hutan ini digelar, aku sempat ketemu sebuah non profit organization yang melakukan konsep hampir mirip begini. Senang sekali kalau sekarang semakin banyak komunitas dan organisasi yang juga menjalankan donasi untuk hutan. Bagaimanapun kita yang lebih membutuhkan hutan, maka kita pula yang harus merawat dan menjaganya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya Mba Marita. Kalau nggak salah ingat, dulu pernah ada gerakan pelihara pohon atau adopsi pohon deh ya. Nah kalau ini lebih luas lagi cakupannya, bukan hanya pohonnya saja namun benar benar hutannya.

      Hapus
  13. Setuju, dengan peduli pada hutan adalah wujud syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan saya fokus ke pesan kakeknya Kak Acha: “Ngaha Aina Ngoho” dengan makna, manfaatkanlah alam secukupnya saja, jangan berlebihan apalagi serakah....wah bagus banget!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kalau pesan dari almarhum Kakek Acha, turut berkesan juga di hati Mba Dian.

      Hapus
  14. setuju,, kita gak boleh serakah, termasuk dalam menggunakan hutan dengan segala sumber daya alamnya, karena isinya milik bersama, gak hanya bersama manusia, tapi juga makhluk hidup lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, iya banget Mba. Bumi dan segala isinya ini hanya amanah dari Sang Maha Pencipta untuk mendukung kehidupan kita sebagai manusia di muka Bumi ini. Maka, memperlakukan alam, hutan misalnya ... nggak baik kalau serakah dan mau untungnya sendiri saja ya. Sepakat deh sama Mba.

      Hapus
  15. Aku pernah mencoba sedikit jaga hutan dengan pemanfaatan limbah sagu di Sulawesi sana
    Semoga aku juga bisa adopsi hutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah Mba Amma. Hebatnya. Mau tau dong Mba cerita lebih lengkapnya.

      Hapus
  16. Sebagai penggemar Nicholas Saputra yang menyukai dengan keindahan alam Indonesia, aku harus ikutan andil dalam adopsi hutan Indonesia nih. Apalagi ini tuh caranya mudah sekali ya mbak tinggal berdonasi lewat Kitabisa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, kujasi teringat sama film dokumenter yang NicSap bikin tentang kearifan lokal masyarakat hutan deh. Lupa tapi judulnya apa, Mba.

      Hapus
  17. Aku suka sedih kalau mendengar hutan rusak dibabat atau kebakaran krn oknum, padahal untuk menumbuhkan perlu waktu bertahun2. Rasanya senang mendengar adopsi hutan ini krn gotong royong, kerja sama, dan bisa berkontribusi dengan donasi jsebagai alternatif jika tenaga dan waktu belum memungkinkan ya kak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Marfa. Hutan aja menghijaukannya kembali lama banget. Ya ... nanam cabe di pot aja lama, gimana hutan. Huum Mba, aku pun senang dengan adanya kampanye adopsi hutan ini.

      Hapus
  18. Nah benar sekali mbak, sudah saatnyalah kita sebagai generasi muda untuk ikut serta menjaga pelestarian hutan. Salah satu caranya yang mudah yaitu dengan berdonasi agar hutan kita terawat dan terjaga kelestariannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Sebab berkontribusi langsung belum tentu semua orang bisa, maka dengan cara berdonasi begini, secara nggak langsung, kita pun bisa turut bergerak.

      Hapus
  19. Gerakan Adopsi Hutan ini bagus banget buat tetap menjaga kelestarian hutan. Bergerak dan bekerja bersama-sama untuk menjaga kelestarian, dengan begitu kita juga bekerja bersama bagi keberlangsungan hidup manusia di bumi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget. Terima kasih sudah mampir ke tulisan ini ya.

      Hapus
  20. Kondisi hutan sudah memprihatinkan ya. Jadinya, adopsi hutan ini harus banyak dilakukan. Pas nih program yang dibikin di hari Hutan Nasional ini, Adopsi hutan. Program sederhana yang bisa menyelamatkan hutan. Mana bisa dilakukan dengan nominal yang kecil. Tapinya tentu, perlu banyak dukungan kita. Semoga banyak yang ikutan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Mba. Itulah salah satu alasan, gerakan adopsi hutan ini digalakan. Semoga memberi banyak dampak bagi penghijauan hutan dan perlindungan terhaap hutan dan masyarakat adatnya ya. Aamiin.

      Hapus
  21. Gak perlu bingung lagi memikirkan cara berkontribusi merawat hutan dengan gerakan adopsi hutan ini, ya. Dari rumah pun bisa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget Mba Ina. Sambil rebahan main smartphone-pun, kita sudah bisa berkontribusi dalam kegiatan adopsi hutan.

      Hapus
  22. Program yg maenarik dan mudah untuk dilakukan oleh siapa saja...
    Skrg siapa saja bisa bantu kelestarian hutan

    BalasHapus
  23. Istilah adopsi hutan aku baru dengar mba. Dan satu sisi aku dukung kampanye ini. Bagaimana pun pelestarian hutan ini harus kita lakukan ya bersama sama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Alida. Semoga gerakan ini bisa berlangsung masif, demi keletarian hutan Indonesia.

      Hapus
  24. Ternyata...hutan sangat kaya. Banyak yg hidup darinya, banyak yg selamat berkat obat darinya. Sungguh kejam yg berani rusak hutan, rusak harapan para insan lainnya...pun makhluk hiduk yg tinggal di dalam hutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin mereka pun melakukan deforestasi karena kepentingan ekonomi juga sih ya. segala hal pasti ada dua sisinya. Nah, sayangnya, setelah dimanfaatkan habis-habisan, nggak dihijaukan kembali sih, sepengetahuan saya yang masih awam ini.

      Hapus
  25. Jujur tentang adopsi hutan baru tau dengan istilah ini, tapi aku setuju banget dan kegiatan ini patut untuk disebarluaskan yah mba, ada perasaan sedih juga ketika banyak hutan sekarang yang dirusak hanya untuk kepentingan pribadi, dari situ banyak banget ekosistem yang mati.. tapi dari kita yang kecil ini gak bisa ngapa-ngapain selain dri apa yang bisa kita lakukan dulu... terima kasih mba dengan ulasannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba. Satu batang lidi nggak akan sanggup membersihkan dedaunan kering di halaman. Namun jika batang lidi disatkan menjadi sapu, maka akan bisa melakukannya. Mungkin inilah makna dari adopsi hutan. Menjadikan hutan milik bersama secara masing-masing personal, membuatnya punya makna sentimentil ke setiap adopternya. Semoga gerakan adopsi hutan, memberikan dampak yang cukup berarti untuk keberadaan hutan Indonesia. Sedih, deforestasi masih berlangsung terus setiap harinya.

      Hapus
  26. Semoga makin banyak yang berdonasi lewat adopsi hutan ya agar hutan kita makin lestari dan terjaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes. Aamiin. Semoga makin banyak yang tergerak untuk adopsi hutan.

      Hapus
  27. Aku setiap bahas masalah ini suka greget... Betapa banyak masyarakat kita yang belum sadar manfaat hutan, dan pohon disekitar kita. Maen tebang kadang...

    Padahal selama tidak membahayakan kita semua berhak hidup, bahkan menurut aku kita yg kebih banyak bergantung pada hutan dan tumbuhan.

    Semoga programnya sukses ya mba...
    Dan semakin banyak program seperti ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum Mba, sama nih.

      Keinget berita di televisi tentang banjir akibat hulu sungai mulai botak karena deforestasi. banjir bandang, dan masih banyak bencana alama lainnya yang salah sat penyebabnya ya karena deforestasi hutan.

      Aamiin. Semoga sukses kampanye adopsi hutan ini ya. Saya juga mendoakan hal yang sama, Mba.

      Hapus
  28. Masya Allah, ulasan ini benar adanya. Hutan amat sangat butuh kita, begitupun sebaliknya dengan kita. Gak sanggup aku membayangkan apa yang akan terjadi jika ke depannya hutan kita makin berkurang bahkan habis, hiks...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak Mba Qoty.

      Entah keseimbangan alam ini akan bagaimana jika hutan terus berkurang. Semoga kampanye adopsi hutan ini cukup membawa perubahan.

      Hapus
  29. Pakai platform kita bisa ya? Jadi lebih mudah untuk adopsi dan juga melestarika hutan dari jauh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya Mba, karena kolaborasi dengan KitaBisa jadi memudahkan untuk para adopter hutan yang mau berdonasi di kampanye adopsi hutan ini.

      Hapus
  30. Hutan memang paru-paru dunia, tanpa hutan banyak sekali bencana yang akan datang. Mengadopsi hutan memang bisa jadi pilihan untuk membantu memberdayakan hutan dan memang strateginya sudah diadopsi negara-negara luar untuk memberikan awareness untuk masyarakat. Salut banget ada yang menulis tentang topik ini. Terima kasih banyak atas infonya <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga sudah mampir ke mari ya.

      Semoga kampanye adopsi hutan ini memberi banyak perubahan atas deforestasi yang masih terus terjadi.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.