Label

Selasa, 13 Agustus 2019

3 Alasan Nggak Asik Kalau Punya Pasangan Perokok


Beberapa waktu lalu saya mampir ke salah satu blog post milik Mba Rach Alida Bahaweres yang menceritakan pengalaman berliburnya di Thailand, dimana Negara Gajah Putih itu memberlakukan peraturan kawasan bebas asap rokok, termasuk di bandara dan tempat perbelanjaan pun nggak disediakan lagi ruangan khusus untuk merokok. Bahkan rencananya di tahun ini, masyarakat Thailand juga  akan dilarang untuk merokok di rumah. Nah lho, negara yang dikenal sebagai tujuan wisata murah bagi pelancong Indonesia ini, sudah maju selangkah lebih dulu untuk membebaskan warganya dari berbagai masalah yang ditimbulkan dari asap rokok. Indonesia kapan ya? Bagaimana kalau dimulai dari keluarga kecil dulu saja?

Terlepas dari nggak inginnya saya menyinggung tentang salah satu perusahaan rokok yang sedang ramai dibicarakan di media sosial menyoal beasiswa di bidang olahraga yang sudah lama menjadi CSR-nya itu, saya hanya ingin menyampaikan opini pribadi saya mengenai rokok, terutama “Apa sih alasan saya untuk nggak mau membangun cinta dengan calon pasangan yang merokok?”. Jadi, begini ceritanya ….




Nggak bisa dikatakan jarang, saat sedang beraktivitas di luar rumah, hidung saya mengendus aroma khas asap rokok yang sesungguhnya memicu alergi saya kambuh. Ya, saya alergi asap rokok. Sesak dada saya rasanya. Mungkin hal ini diakibatkan oleh riwayat penyakit Pneumonia di saat saya bayi dulu. Ditambah beberapa pengalaman menegur para perokok dengan halus untuk menunda dulu “kebahagiaannya itu” sejenak saja, terutama saat berada di transportasi umum. Lama-kelamaan bagi saya, perokok itu nggak asik. Waktu jaman kereta api lingkar Jabodetabek belum seperti sekarang, uwh … jangan ditanya deh, berapa kali saya menegur dan berakhir dengan antiklimaks ketika muka saya yang disembur asap rokok. Ujung-ujungnya saya memaki mereka dalam hati.

Setelah lulus kuliah dan bekerja, ditambah banyaknya pengalaman akan kerasnya kehidupan saling sikut egois tanpa empati di jalanan ibukota, saya lebih memilih jadi orang waras yang menghindari “para pemilik bibir cerobong asap” tadi. Pun hal ini mempengaruhi bagaimana saya menilai seseorang untuk dijadikan pasangan hidup. Saya nggak mau susah dan berdarah-darah meminta pengertian pasangan saya untuk menyayangi dirinya dengan berhenti merokok. Kenapa?

Sudah Tahu Rokok Berbahaya Tapi Masih Saja Ngeyel
Siapa yang belum tahu tentang zat-zat berbahaya yang terkandung di dalam sebatang rokok? Siapa yang belum sadar akan gambar peringatan mengenai bahaya kesehatan di bungkus rokok? Siapa yang sama sekali belum tahu bahayanya menjadi perokok aktif maupun perokok pasif? Sini yuk, Ka Acha ceritain sedikit! Saya akan membantu kamu memahami hal ini secara sederhana dari informasi yang saya dapatkan melalui berbagai situs kesehatan terpercaya – buat saya lho ya.

Sebatang rokok seenggaknya mengandung 60 bahan kimia yang mampu memicu timbulnya masalah kesehatan, terutama kanker. Bahan berbahaya tersebut di antaranya :

  1. Karbon Monoksida
    Zat ini sedari kecil saya kenal dari Papa saya merupakan zat yang banyak dihasilkan oleh knalpot kendaraan. Dia bisa mengikatkan dirinya pada hemoglobin darah padahal seharusnya oksigen-lah yang mengikatkan dirinya pada hemoglobin. Kemudian si Karbon Monoksida ini akan menghalangi suplai oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, kamu bisa saja merasa sesak napas dan juga lemas.
  2. Tar
    Zat ini biasanya terhisap bersamaan setiap kali seseorang merokok, lalu mengendap di paru-paru. Dia akan menghambat kerja rambut halus yang ada di organ paru-paru, sehingga akan sulit bagi kuman serta partikel asing untuk diusir dari organ paru-paru tadi.
  3. Oksidan
    Kalau kamu sering membaca dan mendengar mengenai gembar-gembor berbagai suplemen anti-oksidan, lalu seenggaknya kamu tahu mengenai masalah kesehatan yang bisa dicegah – melalui klaim dari produk suplemen kesehatan tadi tentunya – maka, sudahkah kamu terpikir akan seberapa nggak baiknya kandungan oksidan ini? Seseorang jadi mudah sakit? Ya. Paling horornya, bisa memicu munculnya stroke dan serangan jantung. Ngeri ya.
  4. Benzene
    Biasanya zat ini ditambahkan sebagai campuran untuk bahan bakar. Bahaya banget lho si Benzene ini, karena bisa merusak tubuh sampai ke tingkat genetik.


Nah, ini baru beberapa saja bahan berbahaya yang terkandung di dalam sebatang rokok. Sudah diberi peringatan juga lho sama si produsen rokok ini melalui gambar seram-seram aduhai yang ada di bungkusnya. Sesekali coba kamu perhatikan baik-baik dan renungkan deh.

Lalu, janganlah pakai penyataan “Lebih Baik Jadi Perokok Aktif Daripada Perokok Pasif Karena Buktinya yang Merokok Saja Nggak Mati Tapi Kebanyakan yang Nggak Merokok yang Mati Duluan” itu ya. Sudah berapa kali saya mendengar ocehan macam begini yang bikin miris. Empatinya disimpan dimana sih? Terus, kamu mau menjalin kehidupan di usia sekarang sampai tua dengan seseorang yang ngeyelnya ampun-ampunan seperti begini? Mohon maaf, I’ll say NEHI so loud, bibeh.

Bagaimana Mau Menyayangi Pasangan Kalau Sayang Diri Sendiri Saja Belum Kelar
Iya iya … saya paham sekali. Perjuangan untuk berhenti jadi perokok itu panjang. Berliku-liku. Nggak bisa sehari dua hari simsalabim sebelum akad nikah, sudah berhenti. Lalu bukan hanya kamu saja yang merokok, toh banyak sekali manusia “bibir cerobong asap” di dunia ini yang punya rumah tangga sukses, anak terurus, istri bergelimang aksesoris dengan senyum sumringah ditebar kemana-mana. Biasa saja lah ya … nggak ada masalah kok kalau jadi perokok itu. Sini yuk, saya ceritain. Bagaimana jika saya ditawari kehidupan pernikahan seperti itu? Kalau begitu, saya akan ucapkan “terima kasih dan selamat tinggal” lebih dulu sama si doi, walaupun tampang dan perilakunya sungguh menggoda hati.

Begini deh. Kalau urusan sama kesehatan diri sendiri saja sudah nggak perhatian, bagaimana dengan kesehatan orang lain yang akan menemani kehidupannya sepanjang hayat? Bukankah menjadi pasangan menikah itu akhirnya nggak hanya soal memedulikan diri sendiri, melainkan juga pasangannya? Apalagi saat jadi suami-istri, urusannya bukan lagi soal cinta-cintaan dan sayang-sayangan saja, tetapi memasuki semua aspek hidup, mulai dari kedua keluarga orangtua, masa depan bersama, anak-anak yang akan terlahir setelahnya, dan masih banyak lagi.

Saya memang termasuk ke dalam golongan yang nggak suka digombalin. Illfeel ujung-ujungnya. Sebab saya senang menemukan kesungguhan seseorang melalui apa yang nggak hanya diucapkan, namun apa yang dilakukan. Apalagi setelah menikah, saya akhirnya menemukan banyak kejutan mengenai karakter dan kebiasaan pasangan saya yang selama masa perkenalan dan pertemanan dulu ternyata nggak terbaca. Maka dari itu, salah satu syarat bagi saya dulu ya … bukan perokok aktif. Soalnya saya nggak mau dijahati karena menjadi perokok pasif. Mumpung masih single dan bisa memilih, kenapa harus terjebak dengan cinta menye-menye sama yang sayang dirinya sendiri saja masih susah?


Egois Soal Urusan Finansial
Ih, kalau si doi sarjana ekonomi yang ngelotok banget sama neraca keuangan, bagaimana? Eh, kan si doi sukses nabung sampai bisa punya rumah sendiri sebelum menikah lho ini. Uhm, doi nabungnya jago kok, mengelola keuangannya juga oke, ya … walaupun selalu ada post dana tersendiri untuk membeli rokok sih.

Uhuk. Saya mau tanya singkat saja ya. Apa menurut kamu, seseorang yang sudah merokok dan menjadi candu pada rokok itu, nggak akan sering membeli rokok untuk menikmati ritual “sebats”-nya? Sudahkah kamu memperkirakan jumlah dana yang dikeluarkan tiap bulan hanya untuk “ngebul-ngebul bergembira” itu?

Khusus bagi calon istri. Apa kamu siap untuk bersabar dengan jumlah penghasilan suami yang kamu kelola, dan rela memenuhi kebutuhannya akan rokok setiap bulan, di antara kebutuhan rumah tangga dan juga kebutuhan anak yang nggak bisa dikatakan “ah, cuma segini kok”. Dana untuk rokok yang sebenarnya akan lebih bermanfaat jika dipakai untuk membeli bahan lauk pauk, sandang, bahkan biaya pendidikan anak? Silakan direnungkan ya.

Hanya tiga alasan ini saja yang saya bisa ungkapkan. Mungkin kamu malah punya alasan lain, silakan ungkapkan di kolom komentar. Akhir curhatan panjang saya ini akan saya tutup dengan … betapa beruntung dan bahagianya seseorang yang pasangannya bukan perokok, terutama jika si dia akan menjadi calon suami. Sebab lelaki yang nggak merokok akan memiliki sperma dengan kualitas terbaik. Pun tangannya nyaman untuk dicium istri dan anaknya sebab nggak sering menjepit batang rokok. Belum lagi, dia seenggaknya sudah menunjukkan rasa sayangnya pada keluarga dengan menghindari rokok sebagai makna ia menyayangi kesehatan tubuhnya sendiri terlebih dahulu. Terakhir, sesulit apapun keadaannya kelak, post dana wajib bayar tiap bulan bukan berasal dari kebutuhan akan merokok yang sebenarnya hanya fana dan sia-sia.


Mari buktikan rasa sayang pada pasangan, dan berjuang bersamanya membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah kelak, dengan memulainya dari kepedulian pada diri sendiri.


79 komentar:

  1. ga Seperti di Thailand, di Indonesia mah mafia rokoknya banyak.. kalah pemerintah.
    malah sedikit banyak mafia rokok ini mensuplai dana untuk membantu pendidikan dan anggaran kesehatan, ntah sebagai rasa tanggung jawab atas bersalahnya mereka atau dalih agar mereka semakin kuat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh ngeri. Kalo bahasannya begini saya mundur.

      Hapus
  2. Wah bener banget nih Mbak emang nggak enak kalau punya pasangan yang perokok gini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya memang dari awal malas buat ribut ribut lucuk hampir tiap hari cuma soal kebiasaan buruk yang baru dijanjiin buat diubah setelah nikah sih Mba.

      Hapus
  3. Wah jangan sampai nih ya Mbak kalau punya pasangan yang merokok, tapi kalau bisa berhenti merokok ya boleh lah hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bisa dan kalau niatnya lebih kuat daripada "nanti ya sayang"-nya.

      Hapus
  4. Memang merokok itu bisa membahayakan dirinya sendiri ya. Karena banyak banget kandungan bahan yang berbahaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Makanya keputusan untuk merokok atau tidak merokok atau segera berhenti itu, rasanya, personal sekali.

      Hapus
  5. Jadi tambah pengen ke Thailand #Eh hahaha
    Aku juga pemilih, say no sama perokok. Aku suka sesak napas juga kalau dekat2 sama Perokok. Pokoknya wajib lah bagiku milih yang bukan perokok. Apakah ada? Aku percaya pasti ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti ada Ji, pasti dipertemukan sesuai doa.


      Aamiin. Semoga kapan-kapan bisa main ke Thailand.

      Hapus
  6. Memang sepertinya agak susah untuk membuat peraturan yang ketat disini ya. Jadi solusinya dimulai dari menyayangi diri sendiri lalu menyayangi orang lain agar mau berhenti merokok untuk diri sendiri dan untuk orang yang disayangi. Mungkin candu pada rokok membuat orang jadi punya banyak alasan untuk lanjut terus merokok. Alhamdulillah pasanganku bukan perokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Iya Zia. Kayaknya memang semua perlu dimulai dari diri sendiri dan memilih lingkungan yang baik juga demi kebaikan kita sendiri ya.

      Hapus
  7. Rokok memang masalah besar yang sulit untuk diatasi ya, tingkat kesadaran masyarakat yang rendah tentang bahaya rokok masih minim, sangat memprihatinkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum Mba. Makanya menurut saya memang sebaiknya dimulai dari diri sendiri terutama yang masih single single ceria. Mana tahu kelak saat ketemu jodohnya, bisa membentuk keluarga yang anti rokok juga kan ya.

      Hapus
  8. Wah di Thailand sampai mau ada larangan merokok di rumah, ya. Memang harus didukung dnegan peraturan juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Teh. Begitu sih informasi yang kudapat dari artikel Mba Alida makanya tergoda buat curhat soal ini.

      Hapus
  9. Aku sukaak bgt nih sm tulisanmu, semoga para perokok membacanya, btw kalo boleh jujur dulu waktu cari calon suami syarat utama aku tuh bukan seorang perokok, setelah muslim dan mapan ya mom

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak Mba. Semoga banyak anak gadis yang punya pendirian sama seperti Mba dalam memilih calon pasangannya. Aku turut mendoakan.

      Hapus
  10. Baca ini aku teringat sama kekasih hati yang sedang didoakan jadi pasangan hidup. Hhehe.
    Dulu dia perokok, berat. Dan memang betul, karena rokok ini kami tak jarang cek cok. Syukurlah, sekarang sudah berhenti dan mulai peduli pada kesehatan pribadi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Mba Efa. Semoga lekas naik pelaminan ya Mba.

      Hapus
  11. Duh, suamiku masih merokok tapi susah banget di suruh berhenti dengan alasan cuma merokok sebatang dua batang aja kok. Moga suamiku bisa berhenti dari candu merokoknya. Salut sama thailand ya, coba di Indonesia pemerintah busa lebih tegas lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga suami Mba lekas tergerak hatinya untuk benar-benar berhenti, sebagai wujud sayangnya ia sama Mba dan anak anaknya. Saya doakan.

      Hapus
  12. Huhuhu mom aku juga punya suami yang ngeyel banget urusan merokok ini biarpun dia ngerokok hanya saat kerja di luar kota. Tetap saja kan bahaya nya itu loh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga suami Mba Natra lekas tergerak hatinya untuk berhenti merokok. Saya doakan.

      Hapus
  13. Bersyukur banget punya suami dan 2 adik lelaki yg gak merokok. Jadi nyaman kalau travelling kemana-mana (gak harus merokok saat makan/ di kendaraan).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Happy banget ya, jadi bebas asap rokok dan kita nggak jadi perokok pasifnya. Salam untuk mereka.

      Hapus
  14. Idem mom, makanya dulu saat mencari pasangan hidup saya langsung skip2 yang perokok hehe. Soalnya udah tau gk bakalan bisa hidup seumur hidup sama perokok. Jd mending say no di awal.
    Menurutku org yanh merokok itu org egois dan gak bisa sembuh krn itu kyk udah ke tergantungan gtu. Bapakku kebetulan perokok. Jd aku usaha stop di keturunanku utk gak pernah kenal rokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus nih artikelnya, nah aku nitip pesen aja buat para jomblowati yang sedag mencari jodoh, usahakan bener jangan cari calon suami yang perokok, krn percayalah habbit itu susah ilangnya, kasihanilah calon2 anakmu kelak :)

      Hapus
    2. Nah iya banget Mba. Kebiasaan merokok itu seperti candu. Jadi, kalau mau punya keluarga bebas rokok ya sebaiknya dimulai dari awal. Hal ini nih yang sebenarnya ingin kusampaikan. Semoga banyak teman single yang tergugah. Aamiin.

      Hapus
  15. Hiks suamiku perokok berat dah pernah dilarang ujung2nya tengkar padahal aku dah sring bilang bahaya merokok ttep aja dilakuin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perjuangan ya Mba. Bantu doa aja nih saya Mba, semoga suaminya lekas bisa berhenti merokok.

      Hapus
  16. Kriteria pasangan ideal memang yang sayang sama dirinya sendiri dulu...baru bisa beneran sayang sama pasangan.
    Kelak kalau punya anak, kan bisa mewarisi sikap baik dari kedua orangtuanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes. Semoga ya Mba. Perjuangan di mulai di kita dan diwariskan pada anak-anak kita.

      Hapus
  17. aku dulu perokok berat, suamiku dari yg ngomel2 sampe akhirnya masa bodo... aku stop karena anak2ku yg dua diatas sudah pada remaja, justru mereka yng ingatkan aku: mom, merokok itu bisa membunuhmu... we want to have you forever mom :( langsung kuat niatku untuk berhenti merokok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya bangga sama Mba. Terima kasih banyak sudah berjuang untuk berhenti merokok. Semangat sehat selalu, Mba.

      Hapus
  18. Rokok itu jadi dilema di Indonesia, sudah tau bikin penyakit dan bikin beban keuangan negara makin besar karena harus cover kesehatan masyarakatnya, tapi tetap di jual bebas , ya karena itu pendapatan besar negara juga. Dilema banget ini yaa, begitu jg dengan perokok tau akibatnya tapi tetep cuek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena ada sesuatu yang bikin candu di dalamnya kali ya Mba.

      Saya sih nggak mau mikir berat soal kebijakan pemerintah. Inginnya dimulai dari hal kecil, dari diri dan keluarga kecil yang dibangun dan pada akhirnya jadi wadah untuk berkembangnya generasi selanjutnya.

      Hapus
  19. Suka sekali sama tulisan ini, keresahan aku serasa disuarakan. Semoga perokok pada baca tulisan ini.
    Memang serba salah masalah rokok ini, pemerintah pun nggak bisa melarang penjualannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak atas apresiasinya, Mba.

      Hapus
  20. Semua Sahabat yang tentunya udah dekat dari dulu sama aku tuh tahu banget gimana cerewetnya aku tentang Rokok, banyak yang bertahan dan setuju, tapi ada juga yang ilfeel dan menjauh, akhirnya lost contact, haha. Wajar sih ya mengingat ketidaksukaanku terhadap rokok ini.
    Alasannya? Banyaak, selain beberapa hal yang disebutkan di atas, ada beberapa alasan personal juga seperti punya Sahabat yang meninggal karena Kanker Otak dan dokter bilang itu bisa disebabkan karena kebiasaan merokok juga. Hal lainnya karena aku punya alergi yang setiap menghirup asap rokok biasanya kambuh alerginya hingga sesak. Dan juga karena, entah gimana, somehow Perokok itu aku anggap Orang yang tidak peka sosial kalau merokoknya di tempat umum dan tidak mengindahkan keberadaan Manula, Bumil, Anak kecil, dll. Tapi ya memang susah sih ya kalau harus melarang orang terus, Alhamdulillahnya Suamiku sama sekali bukan Perokok dan kami sepakat di rumah tidak boleh ada yang merokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Allah, sampai punya sahabat yang sakit berat dan meninggal karena rokok.

      Iya banget. Daripada capek ngelarang terus dan bikin pusing kepala trus sebel sebelan tiap hari, mending dikurangi dengan menemukan calon pasangan yang nggak merokok.

      Hapus
  21. Ampuunnn deh kalau ngomongin rokok sama perokok, rasanya cuman paksu saya aja yang bisa dikasih tahu, tepatnya malas berdebat ama saya hahaha.

    Ngeyeeeelll nyaaa minta ampun, pakai bawa-bawa para petani tembakau dll pula.
    Peduli amat sama petani tembakau, sementara sama anak-anaknya dia nggak peduli.

    Rasanya geram banget pengen nyocolin puntung rokok ke hidungnya hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduw Mba Rey mgeri banget. HiHihi.

      Duh, kalo udah bersinggungan sama petani tembakau, berat deh.

      Semoga suami Mba lekas disadarkan dan berhenti jadi perokok aktif ya.

      Hapus
  22. Kalo aku yaa misal pasangan belum bisa berhenti merokok maka jangan bawa rokok ke dalam rumah. Apalagi kalo udah punya baby, duh kasihan deh. Sebelum dekat baby, dia harus mandi dan keramas juga ganti baju bersih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya tetap sih say no Mba. Soalnya bau rokok di jari sama napasnya nggak enak. Nggak betah lama-lama ngobrol jadinya. Kalau saya lho ini ya Mba.

      Hapus
  23. Pernah baca di salah satu berita bahwa rokok bisa menyebabkan 2000 jenis penyakit. Ya ampuun banyak banget. Makanya saya ketat banget nih soal rokok termasuk kepada suami. Untungnya dia nggak pernah merokok kalau di rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak ngerokok saja bisa sakit apapun sih Mba.

      Tapi ya, kalau buat saya, nggak usah cari penyakit dengan merokok. Kalopun akhirnya sakit, syukur syukur karena bukan perokok aktif yang bisa saja jahatin orang lain dengan asap rokoknya.

      Hapus
  24. Aku punya pengalaman gak enak juga dengan asap rokok. Ibu dan adikku kena paru2nya karena menghisap asap rokok. Untungnya udah pada sembuh sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi perokok pasif aja sebahaya ini ya Mba.

      Dosa dong orang-orang yang tanpa sengaja dulu dulu merokok di sekitaran beliau.

      Hapus
  25. Semoga banyak yang baca tulisan ini, terutama para perokok yang egois-egois itu
    Paling sebel kalau lagi diruang publik, banyak anak kecil, lalu tetap aja ada yang dengan cueknya ngepul2in asap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih banyak dukungannya Mba.

      Hapus
  26. Ingin banget menyebarkan tulisan ini mba, karena aku sebal banget sama perokok. Inginnya mara mara kalo ketemu dan pas banget banyak para wanita juga bayi

    BalasHapus
  27. bener banget mba, suka kesal banget sama pasangan yang merokoknya kayak kereta api sambung menyambung.
    Tapi terkadang kalau dinasihati malah memicu pertengkaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah Mba, kenapa saya nggak mau bersama seseorang yang salah satu kebiasaannya bisa bikin saya pusing kepala karena naik pitam. Diminimalisir sedari awal sebelum pernikahan.

      Hapus
  28. Betul, salah satu kriteria pasangan nanti pasti memilih yang bukan perokok. Karena asap rokok itu sangat menganggu

    BalasHapus
  29. walaupun suami gak merokok depan anak-anak , selalu ngumpet kalo ngrokok, cuman emang ini tuh susah banget bisa di hilangkan nya. padahal anak-anak ku sudah warning ke ayahnya untuk stop merokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga suami Mba lekas tersadar untuk berhenti jadi perokok. Aamiin.

      Hapus
  30. Industri rokok menyumbang banyak untuk perkembangan di Indonesia, mulai dari sponsor olahraga hingga (maaf) asuransi kesehatan untuk masyarakat (BPJS). Karena itulah, agak sulit untuk dihentikan atau dilarang. Langkah terbaik, meskipun sulit, adalah memberi kesadaran jika rokok bisa menimbulkan penyakit bagi diri sendiri dan orang lain dan orang di sekitarnya. Selain juga, kesadaran jika uang yang dihabiskan untuk membakar rokok, paling tidak bisa dimanfaatkan untuk tambahan biaya pendidikan anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah Mba. Karena rasanya sulit, maka dimulai dari keluarga kecil saja dulu. Kalo langsung urusannya sama negara, berat, kepentingannya banyak sekali.

      Hapus
  31. Alhamdulillah paksu gak merokok, kalo ada yg merokok sy gak segan menegur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hebat Mba. Alhamdulillah Mba menemukan pasangan hidup yang nggak merokok.

      Hapus
  32. Hiks suami nih, sedih bgt ya, eh tp untungnya ayahku sudah benar2 berhenti utk merokok, rasanya happy bgt org rumah, semoga suami cepat nih tergerak hatinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga suami Mba, lekas tergerak hatinya untuk berhenti merokok.

      Hebat nih Bapaknya Mba. Titip terima kasih saya untuk beliau, karena sudah sukses berjuang dari keinginan melawan hasrat mulut asem pengen ngisap rokok. Semoga beliau sehat selalu.

      Hapus
  33. Dua belas tahun terakhir ini saya bener-bener terbebas dari asap rokok. Jadi, kalau menghirup sedikit aja asap rokok, langsung sensitif banget hidungnya dan ga nyaman.

    BalasHapus
  34. Iya yah pastinya egois, karena dia ingin menyisihkan uangnya buat beli rokok. Makanya daku berusaha cari calon imam yang nggak perokok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yesss semangat Kak Fenni. Perjuangkan dirimu dengan nggak bersama pasangan yang bikin empet hati karena hobinya ngebul setiap hari.

      Hapus
  35. Alhamdulillah saya punya pasangan yang bukan perokok jadi dari awal sebelum menikah saya sudah berkomitmen salah satunya mencari pasangan yang tidak merokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba hebat. Luar biasa. Semoga langgeng mesra hingga akhir usia. Aamiin.

      Hapus
  36. Semenjak masalah di pernapasan, aku udah gamau deket-deket lagi sama perokok. Alhamdulillah suami ga pernah ngerokok, karena tahu aku tipe yang ga kuat. Malah pernah diangkutan umum ada yang ngerokok, suami udah bayar full waktuu itu, akhirnya turun, karena aku udah sesek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suami Teh Lis hebattttt kalo begitu. Semoga kalian langgeng mesra hingga menua bersama ya, Teh.

      Hapus
  37. Kalo aku memang nggak suka dengan orang yang merokok. Soalnya kalau dekat itu kita juga terkena imbasnya, yang paling ngefek itu baunya asap rokok, nggak banget dech ... hehe ..

    BalasHapus
  38. Aku tuh gak suka juga mbak kalo punya pacar yang perokok. Dulu mantan ku pun perokok berat, gak suka karena bajuku ikutan bau dari asapnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah. So untuk bersama seumur hidup dengan laki-laki kayak gitu, saya nggak kuat Mba. Mendingan cari yang lain.

      Hapus
  39. alhamdulillah aku punya suami yg ga ngerokok mba, karena emang dari awal aku gamau kalo menikah dengan perokok. Bahaya yg d hadapi bukan dirinya doang, karena kita kena dampak negatifnya juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Semoga langgeng mesra hingga menua ya Mba.

      Hapus