Label

Selasa, 13 Agustus 2019

3 Alasan Nggak Asik Kalau Punya Pasangan Perokok


Beberapa waktu lalu saya mampir ke salah satu blog post milik Mba Rach Alida Bahaweres yang menceritakan pengalaman berliburnya di Thailand, dimana Negara Gajah Putih itu memberlakukan peraturan kawasan bebas asap rokok, termasuk di bandara dan tempat perbelanjaan pun nggak disediakan lagi ruangan khusus untuk merokok. Bahkan rencananya di tahun ini, masyarakat Thailand juga  akan dilarang untuk merokok di rumah. Nah lho, negara yang dikenal sebagai tujuan wisata murah bagi pelancong Indonesia ini, sudah maju selangkah lebih dulu untuk membebaskan warganya dari berbagai masalah yang ditimbulkan dari asap rokok. Indonesia kapan ya? Bagaimana kalau dimulai dari keluarga kecil dulu saja?

Terlepas dari nggak inginnya saya menyinggung tentang salah satu perusahaan rokok yang sedang ramai dibicarakan di media sosial menyoal beasiswa di bidang olahraga yang sudah lama menjadi CSR-nya itu, saya hanya ingin menyampaikan opini pribadi saya mengenai rokok, terutama “Apa sih alasan saya untuk nggak mau membangun cinta dengan calon pasangan yang merokok?”. Jadi, begini ceritanya ….




Nggak bisa dikatakan jarang, saat sedang beraktivitas di luar rumah, hidung saya mengendus aroma khas asap rokok yang sesungguhnya memicu alergi saya kambuh. Ya, saya alergi asap rokok. Sesak dada saya rasanya. Mungkin hal ini diakibatkan oleh riwayat penyakit Pneumonia di saat saya bayi dulu. Ditambah beberapa pengalaman menegur para perokok dengan halus untuk menunda dulu “kebahagiaannya itu” sejenak saja, terutama saat berada di transportasi umum. Lama-kelamaan bagi saya, perokok itu nggak asik. Waktu jaman kereta api lingkar Jabodetabek belum seperti sekarang, uwh … jangan ditanya deh, berapa kali saya menegur dan berakhir dengan antiklimaks ketika muka saya yang disembur asap rokok. Ujung-ujungnya saya memaki mereka dalam hati.

Setelah lulus kuliah dan bekerja, ditambah banyaknya pengalaman akan kerasnya kehidupan saling sikut egois tanpa empati di jalanan ibukota, saya lebih memilih jadi orang waras yang menghindari “para pemilik bibir cerobong asap” tadi. Pun hal ini mempengaruhi bagaimana saya menilai seseorang untuk dijadikan pasangan hidup. Saya nggak mau susah dan berdarah-darah meminta pengertian pasangan saya untuk menyayangi dirinya dengan berhenti merokok. Kenapa?

Sudah Tahu Rokok Berbahaya Tapi Masih Saja Ngeyel
Siapa yang belum tahu tentang zat-zat berbahaya yang terkandung di dalam sebatang rokok? Siapa yang belum sadar akan gambar peringatan mengenai bahaya kesehatan di bungkus rokok? Siapa yang sama sekali belum tahu bahayanya menjadi perokok aktif maupun perokok pasif? Sini yuk, Ka Acha ceritain sedikit! Saya akan membantu kamu memahami hal ini secara sederhana dari informasi yang saya dapatkan melalui berbagai situs kesehatan terpercaya – buat saya lho ya.

Sebatang rokok seenggaknya mengandung 60 bahan kimia yang mampu memicu timbulnya masalah kesehatan, terutama kanker. Bahan berbahaya tersebut di antaranya :

  1. Karbon Monoksida
    Zat ini sedari kecil saya kenal dari Papa saya merupakan zat yang banyak dihasilkan oleh knalpot kendaraan. Dia bisa mengikatkan dirinya pada hemoglobin darah padahal seharusnya oksigen-lah yang mengikatkan dirinya pada hemoglobin. Kemudian si Karbon Monoksida ini akan menghalangi suplai oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, kamu bisa saja merasa sesak napas dan juga lemas.
  2. Tar
    Zat ini biasanya terhisap bersamaan setiap kali seseorang merokok, lalu mengendap di paru-paru. Dia akan menghambat kerja rambut halus yang ada di organ paru-paru, sehingga akan sulit bagi kuman serta partikel asing untuk diusir dari organ paru-paru tadi.
  3. Oksidan
    Kalau kamu sering membaca dan mendengar mengenai gembar-gembor berbagai suplemen anti-oksidan, lalu seenggaknya kamu tahu mengenai masalah kesehatan yang bisa dicegah – melalui klaim dari produk suplemen kesehatan tadi tentunya – maka, sudahkah kamu terpikir akan seberapa nggak baiknya kandungan oksidan ini? Seseorang jadi mudah sakit? Ya. Paling horornya, bisa memicu munculnya stroke dan serangan jantung. Ngeri ya.
  4. Benzene
    Biasanya zat ini ditambahkan sebagai campuran untuk bahan bakar. Bahaya banget lho si Benzene ini, karena bisa merusak tubuh sampai ke tingkat genetik.


Nah, ini baru beberapa saja bahan berbahaya yang terkandung di dalam sebatang rokok. Sudah diberi peringatan juga lho sama si produsen rokok ini melalui gambar seram-seram aduhai yang ada di bungkusnya. Sesekali coba kamu perhatikan baik-baik dan renungkan deh.

Lalu, janganlah pakai penyataan “Lebih Baik Jadi Perokok Aktif Daripada Perokok Pasif Karena Buktinya yang Merokok Saja Nggak Mati Tapi Kebanyakan yang Nggak Merokok yang Mati Duluan” itu ya. Sudah berapa kali saya mendengar ocehan macam begini yang bikin miris. Empatinya disimpan dimana sih? Terus, kamu mau menjalin kehidupan di usia sekarang sampai tua dengan seseorang yang ngeyelnya ampun-ampunan seperti begini? Mohon maaf, I’ll say NEHI so loud, bibeh.

Bagaimana Mau Menyayangi Pasangan Kalau Sayang Diri Sendiri Saja Belum Kelar
Iya iya … saya paham sekali. Perjuangan untuk berhenti jadi perokok itu panjang. Berliku-liku. Nggak bisa sehari dua hari simsalabim sebelum akad nikah, sudah berhenti. Lalu bukan hanya kamu saja yang merokok, toh banyak sekali manusia “bibir cerobong asap” di dunia ini yang punya rumah tangga sukses, anak terurus, istri bergelimang aksesoris dengan senyum sumringah ditebar kemana-mana. Biasa saja lah ya … nggak ada masalah kok kalau jadi perokok itu. Sini yuk, saya ceritain. Bagaimana jika saya ditawari kehidupan pernikahan seperti itu? Kalau begitu, saya akan ucapkan “terima kasih dan selamat tinggal” lebih dulu sama si doi, walaupun tampang dan perilakunya sungguh menggoda hati.

Begini deh. Kalau urusan sama kesehatan diri sendiri saja sudah nggak perhatian, bagaimana dengan kesehatan orang lain yang akan menemani kehidupannya sepanjang hayat? Bukankah menjadi pasangan menikah itu akhirnya nggak hanya soal memedulikan diri sendiri, melainkan juga pasangannya? Apalagi saat jadi suami-istri, urusannya bukan lagi soal cinta-cintaan dan sayang-sayangan saja, tetapi memasuki semua aspek hidup, mulai dari kedua keluarga orangtua, masa depan bersama, anak-anak yang akan terlahir setelahnya, dan masih banyak lagi.

Saya memang termasuk ke dalam golongan yang nggak suka digombalin. Illfeel ujung-ujungnya. Sebab saya senang menemukan kesungguhan seseorang melalui apa yang nggak hanya diucapkan, namun apa yang dilakukan. Apalagi setelah menikah, saya akhirnya menemukan banyak kejutan mengenai karakter dan kebiasaan pasangan saya yang selama masa perkenalan dan pertemanan dulu ternyata nggak terbaca. Maka dari itu, salah satu syarat bagi saya dulu ya … bukan perokok aktif. Soalnya saya nggak mau dijahati karena menjadi perokok pasif. Mumpung masih single dan bisa memilih, kenapa harus terjebak dengan cinta menye-menye sama yang sayang dirinya sendiri saja masih susah?


Egois Soal Urusan Finansial
Ih, kalau si doi sarjana ekonomi yang ngelotok banget sama neraca keuangan, bagaimana? Eh, kan si doi sukses nabung sampai bisa punya rumah sendiri sebelum menikah lho ini. Uhm, doi nabungnya jago kok, mengelola keuangannya juga oke, ya … walaupun selalu ada post dana tersendiri untuk membeli rokok sih.

Uhuk. Saya mau tanya singkat saja ya. Apa menurut kamu, seseorang yang sudah merokok dan menjadi candu pada rokok itu, nggak akan sering membeli rokok untuk menikmati ritual “sebats”-nya? Sudahkah kamu memperkirakan jumlah dana yang dikeluarkan tiap bulan hanya untuk “ngebul-ngebul bergembira” itu?

Khusus bagi calon istri. Apa kamu siap untuk bersabar dengan jumlah penghasilan suami yang kamu kelola, dan rela memenuhi kebutuhannya akan rokok setiap bulan, di antara kebutuhan rumah tangga dan juga kebutuhan anak yang nggak bisa dikatakan “ah, cuma segini kok”. Dana untuk rokok yang sebenarnya akan lebih bermanfaat jika dipakai untuk membeli bahan lauk pauk, sandang, bahkan biaya pendidikan anak? Silakan direnungkan ya.

Hanya tiga alasan ini saja yang saya bisa ungkapkan. Mungkin kamu malah punya alasan lain, silakan ungkapkan di kolom komentar. Akhir curhatan panjang saya ini akan saya tutup dengan … betapa beruntung dan bahagianya seseorang yang pasangannya bukan perokok, terutama jika si dia akan menjadi calon suami. Sebab lelaki yang nggak merokok akan memiliki sperma dengan kualitas terbaik. Pun tangannya nyaman untuk dicium istri dan anaknya sebab nggak sering menjepit batang rokok. Belum lagi, dia seenggaknya sudah menunjukkan rasa sayangnya pada keluarga dengan menghindari rokok sebagai makna ia menyayangi kesehatan tubuhnya sendiri terlebih dahulu. Terakhir, sesulit apapun keadaannya kelak, post dana wajib bayar tiap bulan bukan berasal dari kebutuhan akan merokok yang sebenarnya hanya fana dan sia-sia.


Mari buktikan rasa sayang pada pasangan, dan berjuang bersamanya membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah kelak, dengan memulainya dari kepedulian pada diri sendiri.


19 komentar:

  1. ga Seperti di Thailand, di Indonesia mah mafia rokoknya banyak.. kalah pemerintah.
    malah sedikit banyak mafia rokok ini mensuplai dana untuk membantu pendidikan dan anggaran kesehatan, ntah sebagai rasa tanggung jawab atas bersalahnya mereka atau dalih agar mereka semakin kuat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.

    BalasHapus
  2. Wah bener banget nih Mbak emang nggak enak kalau punya pasangan yang perokok gini

    BalasHapus
  3. Wah jangan sampai nih ya Mbak kalau punya pasangan yang merokok, tapi kalau bisa berhenti merokok ya boleh lah hihi

    BalasHapus
  4. Memang merokok itu bisa membahayakan dirinya sendiri ya. Karena banyak banget kandungan bahan yang berbahaya

    BalasHapus
  5. Jadi tambah pengen ke Thailand #Eh hahaha
    Aku juga pemilih, say no sama perokok. Aku suka sesak napas juga kalau dekat2 sama Perokok. Pokoknya wajib lah bagiku milih yang bukan perokok. Apakah ada? Aku percaya pasti ada

    BalasHapus
  6. Memang sepertinya agak susah untuk membuat peraturan yang ketat disini ya. Jadi solusinya dimulai dari menyayangi diri sendiri lalu menyayangi orang lain agar mau berhenti merokok untuk diri sendiri dan untuk orang yang disayangi. Mungkin candu pada rokok membuat orang jadi punya banyak alasan untuk lanjut terus merokok. Alhamdulillah pasanganku bukan perokok.

    BalasHapus
  7. Rokok memang masalah besar yang sulit untuk diatasi ya, tingkat kesadaran masyarakat yang rendah tentang bahaya rokok masih minim, sangat memprihatinkan.

    BalasHapus
  8. Wah di Thailand sampai mau ada larangan merokok di rumah, ya. Memang harus didukung dnegan peraturan juga

    BalasHapus
  9. Aku sukaak bgt nih sm tulisanmu, semoga para perokok membacanya, btw kalo boleh jujur dulu waktu cari calon suami syarat utama aku tuh bukan seorang perokok, setelah muslim dan mapan ya mom

    BalasHapus
  10. Baca ini aku teringat sama kekasih hati yang sedang didoakan jadi pasangan hidup. Hhehe.
    Dulu dia perokok, berat. Dan memang betul, karena rokok ini kami tak jarang cek cok. Syukurlah, sekarang sudah berhenti dan mulai peduli pada kesehatan pribadi

    BalasHapus
  11. Duh, suamiku masih merokok tapi susah banget di suruh berhenti dengan alasan cuma merokok sebatang dua batang aja kok. Moga suamiku bisa berhenti dari candu merokoknya. Salut sama thailand ya, coba di Indonesia pemerintah busa lebih tegas lagi.

    BalasHapus
  12. Huhuhu mom aku juga punya suami yang ngeyel banget urusan merokok ini biarpun dia ngerokok hanya saat kerja di luar kota. Tetap saja kan bahaya nya itu loh

    BalasHapus
  13. Bersyukur banget punya suami dan 2 adik lelaki yg gak merokok. Jadi nyaman kalau travelling kemana-mana (gak harus merokok saat makan/ di kendaraan).

    BalasHapus
  14. Idem mom, makanya dulu saat mencari pasangan hidup saya langsung skip2 yang perokok hehe. Soalnya udah tau gk bakalan bisa hidup seumur hidup sama perokok. Jd mending say no di awal.
    Menurutku org yanh merokok itu org egois dan gak bisa sembuh krn itu kyk udah ke tergantungan gtu. Bapakku kebetulan perokok. Jd aku usaha stop di keturunanku utk gak pernah kenal rokok.

    BalasHapus
  15. Hiks suamiku perokok berat dah pernah dilarang ujung2nya tengkar padahal aku dah sring bilang bahaya merokok ttep aja dilakuin

    BalasHapus
  16. Kriteria pasangan ideal memang yang sayang sama dirinya sendiri dulu...baru bisa beneran sayang sama pasangan.
    Kelak kalau punya anak, kan bisa mewarisi sikap baik dari kedua orangtuanya.

    BalasHapus
  17. aku dulu perokok berat, suamiku dari yg ngomel2 sampe akhirnya masa bodo... aku stop karena anak2ku yg dua diatas sudah pada remaja, justru mereka yng ingatkan aku: mom, merokok itu bisa membunuhmu... we want to have you forever mom :( langsung kuat niatku untuk berhenti merokok

    BalasHapus
  18. Rokok itu jadi dilema di Indonesia, sudah tau bikin penyakit dan bikin beban keuangan negara makin besar karena harus cover kesehatan masyarakatnya, tapi tetap di jual bebas , ya karena itu pendapatan besar negara juga. Dilema banget ini yaa, begitu jg dengan perokok tau akibatnya tapi tetep cuek

    BalasHapus
  19. Suka sekali sama tulisan ini, keresahan aku serasa disuarakan. Semoga perokok pada baca tulisan ini.
    Memang serba salah masalah rokok ini, pemerintah pun nggak bisa melarang penjualannya.

    BalasHapus