Label

Selasa, 03 Maret 2020

Forest Cuisine Blogger Gathering : Peran Besar Perempuan untuk Keberadaan Hutan


“Siapapun yang berani merusak hutan kami, akan kami kejar sampai dapat!”, seketika mata saya turut berkaca-kaca mendengarkan ujaran Ibu Tati dengan nada suara bergetar. Ibu Sri Hartati yang berdiri di depan dengan mengenakan pakaian khas Minang itu berurai air mata. Bahwa betapa hutan begitu berharga, tempat ia dan beberapa temannya membesarkan komunitas pemelihara hutan Bundo Kanduang di Nagari  Kapujan Koto Berapak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat.



Perjuangan Ibu Tati demi sebuah pengakuan untuk mempertahankan keberadaan hutan masihlah panjang. Ia aktif dalam program Pengelolaan Hutan untuk Kesejahteraan Perempuan bersama Walhi Sumatera Barat dan Women Research Insitute, bersama sekitar 68 ibu lainnya, menggalakkan produksi sirup dan selai Pala.

Ibu Tati yang menggetarkan hati saya
(image by : Akarui Cha)

Berangkat dari keadaan masyarakat di sekitarnya, dimana biasanya buah Pala hanya diambil bijinya saja untuk dijual, dan daging buah seringnya hanya menjadi onggokan sampah. Kemudian sirup dan selai Pala ini dibawa ke salah satu penginapan di Padang yang menerimanya, dan telah melalukan pemesanan secara berulang. Aih, betapa hutan, merupakan salah satu tonggak berkembangnya ekonomi masyarakat, bukan hanya onggokan pohon dan cerita-cerita mistis yang sering ditiupkan, berdiam di dalamnya.
 
Forest Cuisine Blogger Gathering
(capture by : Lidia Hayaty)

Pikiran saya terbang menuju hutan nan rimbun dan penuh berkah bagi kehidupn, seperti yang beberapa menit sebelumnya, digambarkan secara jelas oleh Mba Khalisa Khalid – atau biasa disapa Mba Alin – dalam Forest Cuisine Blogger Gathering yang diselenggarakan oleh Walhi, bekerjasama dengan Blogger Perempuan pada 29 Februari, bertempat di Almond Zucchini, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Hutan sejatinya merupakan sebuah ruang hidup bagi masyarakat adat, sebagai identitas mereka, pun termasuk bagi tanaman yang tumbuh di dalamnya, hewan, air, bahkan jika boleh dikatakan, keberadaan hutan adalah berkah bagi kita sebagai manusia ciptaan Allah SWT.

Ternyata, hutan yang kita kenal dengan tanaman monokultur semisal hutan jati, hutan akasia, hutan kelapa sawit, dan lainnya itu bukanlah hutan. Sebab hutan yang sebanar-benarnya hutan adalah kumpulan dari berbagai jenis tanaman yang hidup dan berkembang di suatu lokasi yang fungsinya banyak sekali bagi keberlangsungan kehidupan, di antaranya :
  • Fungsi orologis
    Mencegah terjadinya erosi dengan mempertahankan keberadaan bunga tanah agar tak hanyut sehingga dapat melindungi lapisan tanah bagian atas (top soil) untuk mencegah terjadinya longsor, banjir bandang, dan bencana lainnya.
  • Fungsi hidrologis
    Keberadaan hutan akan menjaga, mengatur peredaran, dan menyimpan air tanah pun memunculkan mata air
  • Fungsi klimatologis
    Hutan dan segala tanaman yang tumbuh di dalamnya dapat membantu menjaga kelembapan udara, menjaga suhu udara agar nggak terlalu tinggi, termasuk mengurangi penguapan air tanah

Hutan dan Perempuan
Hutan merupakan berkah bagi manusia sebab bermanfaat sebagai pemyelamat pangan, sumber ekonomi keluarga, apotek hidup untuk kesehatan masyarakat di sekitarnya, dan masih banyak manfaat lainnya yang bisa dinikmati, jika keberadaan hutan tetap lestari. Walhi dengan Salam Adil dan Lestari, sadar akan hal ini dan turut memperjuangkan agar hutan Indonesia sebagai salah satu Rimba Terakhir tetap ada, berdiri kokoh di antara kita, bukan hanya bagi masa kini, namun bagi masa depan dimana generasi selanjutnya meneruskan perjuangan sebagai insan Allah SWT untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di Bumi.

Jika boleh dikatakan, hutan merupakan sumber pengetahuan bagi para perempuan. Dimana berbagai tanaman di dalamnya, bisa menjadi apotek hidup,untuk  menjaga kesehatan keluarga yang menjadi salah satu tugas perempuan. Hutan adalah tempat perempuan di sekitarnya, untuk belajar mengenal alam, mencari dan menemukan sumber pangan yang kemudian diolah dalam rumah. Hutan mengajarkan begitu banyak cara arif untuk berbagi, pun menjaga. Hutan dan perempuan sesungguhnya amatlah lekat, bukan?

Seperti yang dikisahkan oleh Tresna Usman Kamaruddin, Amd – Mba Tresna – yang berjuang demi keberadaan hutan di Kolaka, Sulawesi Tenggara, tempat ia lahir dan menikmati masa kecilnya di sana. Walau kini sudah bertempat tinggal di kota Depok, namun ia masih sering pulang ke kampung halamannya untuk menengok, pun ikut andil dalam memperjuangkan keberadaan hutan adat di Kolaka.

Sebagai seorang survivor cancer, Mba Tresna bercerita tentang hutan yang menyembuhkannya. Bahwa udaranya yang sejuk dan bersih, makanan dan berbagai herbal yang ada di sana, membuatnya bisa bertahan dan akhirnya menggerakkan hatinya untuk mendukung masyarakat di sekitar hutan mencintai keberadaan hutan.

Banyaknya sampah plastik dari buangan masyarakat di sekitar tanah kelahirannya kini memang masih menjadi masalah besar, apalagi anak-anak digoda berbagai iklan untuk mencicipi minuman teh kemasan yang mengandung lebih banyak gula, padahal mengonsumsi gula berlebihan bisa memicu timbulnya masalah kesehatan. Belum lagi, berubahnya jenis makanan yang dinikmati para pecinta alam yang menjelajah dan memasuki hutan, sebab bukan lagi makanan khas hutan, melainkan berbungkus-bungkus mie instan.

Rupanya pekerjaan rumah bagi Mba Tresna masihlah banyak, namun semoga kelak perjuangannya berbuah manis. Sesederhana, munculnya kembali makanan khas masa kecilnya yang terbuat dari sagu dan kini sudah serasa punah, kembali. Cako-Cako namanya. Ah, saya juga turut penasaran dengan makanan khas Kolaka ini, jadinya.

Serupa dengan penuturan Windy Iwandi, seorang food blogger sekaligus selebgram dengan akun @foodirectory. Mba Windy mengisahkan pengalamannya menjelajah hutan di Kalimantan, dimana ia bisa minum air segar secara langsung tanpa perlu dimasak terlebih dahulu, dan ia baik-baik saja setelahnya, padahal ia punya masalah pencernaan. Pun, semua buah yang jatuh d atas tanah hutan, aman untuk dimakan jika buah itu juga dikonsumsi oleh orangutan dan masyarakat sekitar hutan. Nah kan, padahal bagi kita masyarakat perkotaan, kalau makanan sudah jatuh, sudah terkena kuman dan sebaiknya nggak dikonsumsi, bukan?

Ah ya, terakhir, pesan yang mengena sekali dari Mba Alin untuk saya, sebagai anak yang menghabiskan hidup lebih banyak di perkotaan, bahwa mungkin sebagai perempuan perkotaan, masih sulit bagi kita untuk mengenal hutan lebih dalam, namun … mari bijak dalam penggunaan berbagai produk yang kita konsumsi. Kalau bisa mengonsumsi produk yang dihasilkan oleh produsen dan komunitas yang menjaga hutan maupun petani, lebih baik lagi. Jika sulit, batasi penggunaannya sebaik dan semampu yang dibisa, semisal penggunaan lipstik yang bahan bakunya salah satunya merupakan bahan dari kelapa sawit.

Pangan dari Hutan untuk Keluarga
Selepas acara pembuka yang diisi dengan begitu banyak pengetahuan baru untuk saya yang masih belum terlalu lekat mengenal hutan, saya dan peserta gathering lainnya digiring ke dapur untuk memasak seru bersama Chef William Gozali. Siapa yang belum kenal dengan Chef tampan dan aktif di akun Youtube-nya ini?
 
Chef Willgoz memandu kami memasak Fettucine Mushroom Ragut
(image by : Akarui Cha)

Saya yang masih awam soal urusan dapur, bersama beberapa teman bloger lainnya yang tergabung dalam kelompok dua, ditantang untuk memasak ulang resep Fettucine Mushroom Ragut yang salah satu bahannya memang berasal dari hutan. Apalagi kalau bukan mushroom alias jamur.  
 
bahan - bahan
(image by : Lidia Hayaty)

Dengan atraktif, Chef Willgoz membimbing kami, mulai dari memotong bahan, sampai mengolahkan di atas wajan. Humm … menjelang siang, aroma aroma daun bawang, dan jamur yang ditumis bersamaan dengan jam makan siang, membuat saya otomatis merasa lapar.

Bahan :

  • Paste Fettucine
  • Cream
  •  Jamur
  • Keju Parut
  • Butter
  • Daun Bawang
  • Daun Kucai
  • Bawang Putih
  • Minyak zaitun

Cara Memasak

  •  Iris tipis daun bawang, daun kucai, jamur, dan bawang putih.
  • Tumis bawang putih hingga sedikit kecoklatan, lalu campur dengan daun bawang, daun kucai, juga jamur. Masak hingga berwarna kecoklatan, lalu tuangkan cream dan aduk hingga mengental.
  •  Sementara itu, rebus pasta fettucine dengan garam, baru tambahkan minyak saat sudah matang agar bisa terurai manis di piring saji.
  •  Campurkan paste dengan bumbu, lalu hidangkan.
  • Taburi dengan keju parut

Ka Acha memang belum terampil masak
(image by : Lidia Hayaty)

Alhamdulillah ada Mba Refika Z. Artari yang ngertiin
(image by : Lidia Hayaty)

belajar masak
(image by : Lidia Hayaty)

Sebagai yang belum akrab-akrab banget dengan dapur, saya merasa tertantang dan gembira luar biasa. Paling nggak, saya jadi kenal salah satu pangan dari hutan yang ternyata nggak sulit sulit banget untuk dihidangkan, termasuk mewah juga untuk disajikan.
 
Kelompok Dua
(image by : Nurul Sufitri)

Senangnya lagi saya mengikuti acara Forest Cuisine Blogger Gathering ini, sebab saya bisa mengenal lebih banyak hasil hutan yang dikelola dan didukung produksinya oleh Walhi. Walau kebanyakan dari produk tadi, masih terkendala distribusi kepada calon konsumen yang tinggal di perkotaan. Semoga kelak, kamu yang membaca tulisan saya ini, bisa ikut tergerak pula ya.

Keseruan di Almond Zucchini Cooking Studio

Saya membawa pulang selai pala, teh rosella, dan kopi biji yang dikelola di Wilayah Kelola Rakyat Distrik Ciwidey. Sepanjang saya menulis kisah ini pun, ditemani setangkup roti dari Selai Pala karya Ibu Tati dari Bundo Kanduang. Enak deh. Manis asam ada krenyes-krenyes yang kalau digigit, keluar sedikit aroma khas buah Pala.

Hasil Hutan Indonesia
(image by : Akarui Cha)

Hasil Hutan Indonesia
(image by : Akarui Cha)

Roti dengan Selai Pala
(image by : Akarui Cha)

Semoga kelak kamu pun bisa mencicipi hasil hutan Indonesia sebagai pangan yang sehat seperti saya. Karena kita masih tinggal di Planet Bumi, dan kita adalah manusia-manusia yang punya andil dalam menjaga Planet Bumi ini sebagai rumah yang nyaman untuk dihuni manusia, maka … mari dukung WALHI dan para Walhi Champion dengan berbagai hal sederhana yang kita bisa.




130 komentar:

  1. Senang banget ya mbak bisa ikut gathering ini. Jadi nambah pengetahuan ttg fungsi2 hutan dan bahan2 dari hutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget Mba. Alhamdulillah happy banget bisa ikutan Gathering ini.

      Hapus
  2. Ibu Tati sangat membanggakan. Meskipun sebagai seorang wanita, tapi kelantangan dan keberaniannya tidak kalah dg kaum pria.
    Lantang dalam bersuara, untuk menjaga keasrian ekosistem hutan kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat mas Kholis. ibu tati sangat membanggakan. Semoga semakin banyak yang tercerahkan ya mas

      Hapus
    2. Iya Mas, Mba, suara lantang beliau langsung membuat saya berkaca-kaca.

      Hapus
  3. wah acara walhinya masak-masak begini? asyik bangeet hihi, pasti seru ya sekalian kenyang deh. sukses terus mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, jadi belajar masak. Pas buat saya yang awam banget soal masak memasak.

      Hapus
  4. Gatheringnya lengkap banget ya mba, selain diskusi dan belajar soal hutan tapi juga sekalian mencoba hasil kekayaan hutan. Pengen coba selai pala gimana rasanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Unik Mba rasanya. Mungkin bisa dipesan melalui Walhi. Seingat saya, bisa deh.

      Hapus
  5. Acara gathering yang memberikan banyak ilmu ya mbak. Dari sini kita tahu bahwa hutan harus tetap dijaga dirawat dan dilestarikan, karena didalam hutan tersimpan sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Kalau hutan punah entah bagaimana manusia bisa bertahan hidup untuk mencukupi kebutuhannya....semoga manusia makin sadar untuk saling bahu membahu merawat hutan dengan baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya banget Mba. Kalau hutan Indonesia hilang, entah akan bagaimana dan seperti apa kehidupan kita kelak.

      Hapus
  6. Ah rasa selai palanya manis asam gitu ya, kirain ada sensasi hangat2nya gitu. Seru sekali ya ada sekalian demo memasaknya, dan hasilnya dari hutan sebagai sumber pangan. Harus senantiasa dijaga, nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Marfa. Unik banget rasanya. Pertama coba, deg degan, eh ternyata bisa nyam nyam sampai gigitan terakhir.

      Hapus
  7. Asik nih acara gathering nya, bisa ketemu teman-teman sekaligus mendapatkan ilmu. Bener bgt nih kita harus menjaga hutan karena hutan berperan penting dalam kehidupan manusia, terutama penghasil oksigen dan menjaga cadangan air.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Maka, saatnya kita berjuang sebisa kita, semisal dengan membuat tulisan saja dulu.

      Hapus
  8. Wah bisa memperkenalkan 'makanan-makanan' dari hutan ya. Dan sambil masak-masak. Seru banget kayaknya ya!

    BalasHapus
  9. Bloggers Gathering-nya seruuuu banget!
    Congrats yaaa, sudah terpilih menjadi kontestan terbaik.
    Hutan Indonesia memang harus kita jaga dan lestarikan, ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih banyak.

      Benar. Harus.

      Hapus
  10. Mudah-mudahan dari ibu, bisa diturunin ke keluarga dan keluarga menularkannnya ke masyarakat. Menjaga hutan demi anak-anak kita juga.

    BalasHapus
  11. ka acha, aku suka nonton Chef Willgoz di akun youtubenya. Menarik banget deh cara masaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Simple pula kemarin resepnya. Ramah dan nyenengin juga Chef-nya.

      Hapus
  12. Beruntung sekali mba Acha dapet hadir di acara gathering itu. Seru banget pastinya belajar masak fettucini bareng chef handal.
    Btw, ternyata banyak banget produk dari hutan yang dikenalkan di sana ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Mba Ina, Bahkan aku jadi lebih banyak tahu lagi setelah hadir di Gathering ini. Sesederhana, ternyata buah Pala nggak cuma bisa dijadiin permen saja, tapi jadi selai juga sirup dan memang ini unik.

      Hapus
  13. Asik ya bisa ikutan gathering sambil belajar tentang hasil hutan, Cha. Aku bakal bergetar kalo mendengar suara tegas Ibu Tati. Trus hasilnya gimana masak ulang Fettucini Mushroom ragut, aku jadi laper malam-malam bacanya, hahaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah aku sukses belajar motong-motong bahan bahannya Budhe. Selama ini kan tahunya motong bahan ya udah begitu aja, ternyata ada seninya juga. Happy banget.

      Terima kasih sudah mampir di tulisanmu ini Budhe wati.

      Hapus
  14. Acaranya kerennnn... beruntung banget bisa ikutan gatheringnya Kak.
    Memang hutan Indonesia ini sangat kaya ya, andai saja kita bisa lebih peduli dan berbuat lebih nyata, masih ada harapan kok soal hutan ini. Dimulai dari diri sendiri dan di lingkungan terdekat di rumah, ayo kita lebih peduli agar hutan kita masih eksis buat anak cucu kita kelak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget.

      Dan luas hutan kita ini semakin menyempit, jadi sebenarnya berbahaya juga untuk kehidupan kita yang tinggal di perkotaan.

      Hapus
  15. Pekerjaan rumah banget nih, :
    anak-anak digoda berbagai iklan untuk mencicipi minuman teh kemasan yang mengandung lebih banyak gula, padahal mengonsumsi gula berlebihan bisa memicu timbulnya masalah kesehatan.

    Eniwei acaranya menarik banget ya, saya subscriber Willgoz karena resepnya mudah tapi hasilnya maknyuz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh iya banget deh Ambu. PR yang besar banget, karena kita nggak cuma melawan kebiasaan, tapi juga gempuran dari iklan.
      Sejujurnya sebagai Copywriter yang biasa nulisin iklan, aku jadi sedikit mikir juga. Apa iklan yang kubuat bisa merusak alam secara nggak langsung, dengan memunculkan kebiasaan para konsumen cilik untuk minum minuman kemasan dan lupa untuk mencicipi panganan lain dari hutan -- atau lainnya --- di sekitar tempat mereka dibesarkan.

      Hapus
  16. Saya kira yang hadir di acara gathering WALHI ini adalah para nominasi sebagai pemenang lomba blog WALHI dan Blogger Perempuan ya Mbak?
    Selamat ya, semoga dengan adanya reportase yang detail dan lengkap ini menjadikan Mbak juara serta banyak manfaat yang diambil. Sekali lagi selamat ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih banyak doanya Teh Okti.

      Acha termasuk yang terpana sama tulisan Teteh tentang buah Kepayang alias Pucung, kemarin. Jadi terngiang-ngiang kalau ada buah yang cara mengolahnya butuh treatment luar biasa agar bisa sampai ke meja makan, pun kemudian kalau kebanyakan bisa bikin agak mabuk juga. Membekas diingatan nih tulisan Teteh.

      Hapus
  17. Acara ini pasti juga sangat bermanfaat buat para perempuan ya mbak..
    Bisa lebih tahu banyak ttg beragam panganan dari hutan ya

    BalasHapus
  18. Iya, Cha. Miris banget lihat sampah plastik di mana-mana, termasuk di hutan dan gunung. Sering yang ngakunya pencinta alam pun malah nyampah di sana :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget Teh Eno. padahal mencintai alam itu dengan menjaganya, bukan dengan gaya-gayaan ya. Dan nggak semua orang yang bilang demikian pun bisa melakukan hal itu.

      Hapus
  19. Seru banget acaranya. Nambah pengetahuan, dan pastinya jadi reminder banget tentang pentingnya fungsi hutan bagi kita. Terutama dari segi sumber pangan. Semoga ya kita semua selalu ingat dengan fungsi ini dan bisa menjaga kelestariannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semangat berjuang untuk kita para perempuan hebat, ya Mba.

      Hapus
  20. Paling baper pas lihat Bu Tati menangis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Otomatis deh. langsung berkaca-kaca gitu.

      Hapus
  21. Aku suka banget nih kalau ada gathering kaya beginian. Selain nambah wawasan, menambah kesadaran diri kita juga akan pentingnya mencintai alam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali. Doain yaaa, aku bisa ikut gathering tema cinta alam lainnya Mba. Mana tau kapan kapan kita bisa ketemu.

      Hapus
  22. Acaranya bergizi dan seru banget. Beruntung saya bisa baca reportasenya disini. Jadi makin cinta dengan hasil hutan kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sudah mampir untuk membaca ya Mba.

      Hapus
  23. Beruntung bgt bisa ikutannn
    Untung ada postingan ini ya, jd tau dsana ngapain hehe

    BalasHapus
  24. Seneng bgt bisa ikut event Forest Cuisine Blogger Gathering ini, jadi bisa mengenal lebih banyak hasil hutan yang dikelola dan didukung produksinya oleh Walhi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget. Kebahagiaan dan kesempatan keren yang datang bersamaan kalau buat Ka Acha sih, Mba.

      Hapus
  25. hutan emang wajibnya dilindungi dan bagaimana cara kita merawatnya dengan tidak merusaknya apabila bepergian ataupun membuang sampah disana. Menariknya saya suka dengan chef wilgoz dengan telaten ya mbak ngajarin para peserta bahan makannya pun sehat sehat. Perempuan juga bisa menunjukkan kepeduliannya melalui makanan enak dan bergizi buat keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Telaten dan seru banget, jadi buat aku yang nggak terlalu akrab sama dapur jadi merasa penasaran sama masak masaknya.

      Hapus
  26. Saya suka dengan manisan pala. Kayaknya rasa selainya mirip dengan manisannya ya, Mbak?

    Acara gatheringnya seru ya, ada acara masak-masaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ummm mirip mirip deh Mba, rasanya. Beda di tekstrurnya aja pas ngegigir roti yang udah diolesi selainya.

      Hapus
  27. Akan sangat menyenangkan & menyegarkan kalau hutan bisa terjaga kelestariannya sampai anak cucu kita kelak. Kita sebagai perempuan, harus mengajarkan kpd mereka bahwa huta perlu dilestarikan dengan cara2 tertentu. Agar lingkungan tetap terjaga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Dan hal ini nggak semudah yang kita ucapkan, sebenarnya.

      Hapus
  28. Hutan, sebuah wilayah yang makin terkikis makin ke sini. Aku jadi ingat dulu waktu masih kecil, sering bermain-main di sebelah masjid dengan berbagai makanan hutan yang langsung bisa dikonsumsi, padahal kalau sekarang makanan sembarang bisa bikin sakit, itu waktu aku kecil gak pernah sakit gara-gara makan makanan hutan. Memang sih, penting banget kita buat jaga hutan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, dulu Mas Rifqi besar dimana? Asik banget pulang dari masjid bisa mampir ke hutan untuk cari camilan. Buah buahan yang Mas, biasanya?

      Hapus
  29. hai acha... kita baru jumpa yaa. seneng banget bisa ikut seru2an bareng kemarin.
    kemarin dapet hadiah isinya produk walhi ya. aku ngiler :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haiii Mba.
      Semoga nanti bisa ketemu lagi dan kita bisa lebih banyak ngobrol ya.

      Kemarin isinya paket Teh Rosella, Selai Pala, sama Kopi dari Ciwidey. Alhamdulillah jadi bisa bawa oleh oleh buat Bundo yang bantu dititipin anak anak kalau aku keluar rumah.

      Hapus
  30. Masakan khas dari daerah atau hutan tertentu dibahas WALHI gak pada saat acara itu? Siapa tahu ada dan bisa jadi wisata kuliner juga hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ummm ... lebih ke Mba Tresna sih Teh, yang mengenalkan para peserta gathering sama Cako--Cako. Selebihnya, ada di meja pamer berbagai hasil hutan yang dibantu pengelolaannya sama Walhi di luar.

      Hapus
  31. Acara gathering kemarin emang seru banget. Dimulai pemutaran video sampai demo masak. Ilmunya dapat pengalaman nya juga dapat. Keren sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak udah jadi super chef buat kelompok dua ya Mas Taumy. Moga kapan kapan kita bisa bertemu lagi dalam event yang lain. Hebat deh Mas Taumy masaknya, aku yang anak perempuan aja, kagum, soalnya dari kecil memang nggak terbiasa main main di dapur.

      Hapus
  32. Setuju dan terharu dengan closing ini:

    "... mari dukung WALHI dan para Walhi Champion dengan berbagai hal sederhana yang kita bisa"

    Sederhana yang kita bisa, kata koentjinya, Markonah!

    C-A-T-A-T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Catat. Hihihi ....

      Makasih banyak sudah berkunjung ke tulisanku ini ya Mba Anna. Senaaanggg sekali.

      Hapus
  33. Fokus sama selai pala, rasanya gimana mba? Pernah coba manisan nya aja karena kk saya suka bawa oleh-oleh manisan pala

    BalasHapus
    Balasan
    1. Umm teksturnya khas selai. Trus ada asem-asemnya sedikit seperti selain nanas, tapi ada kayak grunful-grundulnya dikit yang kalau kegigit, blesss langsung aroma khas Pala-nya menguar dan amaze deh sepanjang menikmati selai pala dan setangkup rotinya. Enak lagi kalau pakai roti bakar ternyata. Kemarin baru coba pakai roti tawar tanpa diapa-apain. Lebih nyummy ternyata.

      Hapus
  34. Ibu Tati dan sederet narsum perempuan yg lainnya sangat menginspirasi yah mba. Semoga semua manusia menyadari bahwa kita masih di planet bumi agar bisa lebih pedulu lg terhadap lingkungan. Terimakasih atas informasi menariknya yah mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak juga sudah berkunjung ke tulisanku kali ini ya Mas.

      Hapus
  35. Wah enak itu selai pala. Pedes manis kah? Jadi pingin coba euy. Hutan memang harus dijaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Umm, lebih ke asam manis segar gitu Mba. Ada grundul grundulnya yang pas kegigit, blesss langsung tercium aroma khas Pala tapi lembut aromanya, enak pokoknya kalau pakai roti bakar.

      Hapus
  36. Memang sayang ya seiring pertumbuhan penduduk n kebutuhan hutan menipis. Padahal hutan bukan hanya sumber oksigen bersih tp pangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan segalanya ternyata.

      Hutan itu manfaatnya lebih banyak dari yang kita kira, termasuk hutanlah penyangga kehidupan kita, sesederhana mencegah terjadinya longsor dan banjir bandang di pemukiman warga.

      Hapus
  37. Akhirnya kita bertemu wajah di acara ini ya, mbak Acha 😍😍🤗 Dapat pencerahan dari Walhi Champion, nambah wawasan juga plus masak bareng chef Willgoz. Pengalaman yg ga akan terlupakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa. Sayang kemarin nggak sempat ngobrol panjang dan banyak-banyak ya Mba Nurul. Semoga ada kesempatan selanjutnya untuk ngobrol ya Mba.

      Hapus
  38. Saya terharu banget dengan ungkapan bu Tati di paragraf pertama itu. Kelihatan sekalai kalau beliau adalah sosok yang strong. Seharusnya kita semua memang seperti beliau untuk semangat menjaga kelestarian hutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Teh. Aku sampai ikut berkaca-kaca. Menggetarkan hati banget, apalagi beliau sampai pakai pakaian khas Minang sebagai wujud beliau adalah Bundo Kanduang bagi hutan di tanah kelahirannya.

      Hapus
  39. Keren mb, bisa ikut acara seperti ini. Memang hutan Indonesia sangat kaya. Berbagai hasil hutan non kayu bisa kita nimati sebagai hidangan. Jadi sudah sepatutnya kita jaga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget. Aku termasuk yang amaze dengan begitu banyaknya hasil hutan Indonesia yang membuatku terpukau. Belum lagi keberadaan hutan yang krusial banget untuk kehidupan kita, terutama bagi kita yang tingga di perkotaan, ada saja manfaatnya ... sesedrhana bantu menjaga kita dari kedatangan banjir atau banjir bandang dari daerah hulu sungai. Makanya, hutan ternyata nggak bisa dicuekin, malah keberadaannya sudah sangat kritis.

      Hapus
  40. Wah, asyik banget belajar masak sama chef willgoz, yummy... Semoga hutan kitap terus terjaga ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa Mba. Apalagi aku kan nggak jago ya, jadi senang gitu diajarin masak yang mudah tapi enak.

      Hapus
  41. alhamdulillah, jadi blogger itu dapat privilege bisa ikutan acara gathering yang memberikan banyak ilmu ya mbak.

    Dari sini kita tahu bahwa hutan harus tetap dijaga dirawat dan dilestarikan, karena didalam hutan tersimpan sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.

    Kalau hutan punah, duhhh.... entah bagaimana manusia bisa bertahan hidup untuk mencukupi kebutuhannya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Mba. Inilah salah satu rejeki non fee untuk blogger. Selalu ada pengetahuan baru yang akhirnya didapat jika menghadiri gathering yang sarat ilmu pengetahuan.

      Duh, nggak sanggup ngebayanginnya. Akan serupa apa Bumi kita tanpa hutan yang merupakan paru-paru dunia. Tanah yang kita tempati nggak akan lagi aman akibat ancaman longsor, banjir bandang, ataupun abrasi (hutan mangrove).

      Maka, sebagai yang tinggal di perkotaan, semoga kita bisa membantu penyelamatan hutan walau hanya melalui tulisan, tapi pengetahuan ini perlu disebarkan.

      Hapus
  42. Dengan adanya hutan bisa membuat masyarakat memanfaatkannya untuk kelangsungan hidup mwreka y mba semog Selalu terjaga kelestariannya ya tidak ada kebakaran hutan lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga nggak ada kebakaran yang dibuat juga hanya demi kepentingan kita, tanpa berpikir untuk mengembalikan apa yang sudah diambil dari alam kembali. Ya ... paling nggak, dilakukan penanaman kembali.

      Hapus
  43. Semoga hutan di planet ini terlindungi dan bertahan sampai anak cucu kita kelak ya. Ko jadi sedih aku ngebayangin banyak hutan udah pada ilang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku kebayang salah satu scene film serial Dorameon dimana pohon yang besar di Bumi hanya tinggal satu satunya dan itupun dalam keadaan terancam deh jadinya.

      Hapus
  44. Terharu banget dengan dedikasi para pejuang lingkungan ini, semoga selalu diberikan kekuatan dan kesehatan aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga kita semua pun bisa turut serta dan bersinergi bersama dengan segala hal yang kita bisa walau sederhana, sekadar menulis betapa hutan memberi begitu banyak manfaat bagi kehidupan kita.

      Hapus
  45. Wuah, saya kok jadi semakin suka dengan nuansa hutan setelah membaca tulisan ini. Enggak takut lagi, heheh. Biasanya kan hutan ini akan dijadikan tempat mistis di film horor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya. Di hutan selalu dijadikan latar cerita horor. Tapi mungkin memang ada benarnya.

      Hapus
  46. Begitu bermanfaatnya bermanfaatnya keberadaan hutan ini bagi keberlangsungan hidup manusia, maka marilah kita bahu membahu demi kelestarian hutan. Apalagi kita sebagai perempuan bisa memiliki andil yang besar dalam hal ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Mba. Mari semangat bersama untuk jaga hutan Indonesia sebagai salah satu "Rimba Terakhir" milik Bumi.

      Hapus
  47. Masya Allah.. salut sama kegigihan Ibu Tati dalam menjaga hutan Indonesia, bukti bahwa masih ada yg peduli dan semoga semakin banyan yg peduli dengan hutan Indonesia ya Mbak.

    Btw acaranya seruuu, meskipun ngga ikut tapi Kk ikut merasakannya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga makin banyak yang punya kepedulian akan keberadaan hutan ya, Mba.

      Hapus
  48. Resep pastanya gak sulit, nih. Kalau baca beberaoa resep yang menulis tentang ini. Jadi pengen saya praktekin juga di rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk Teh dipraktikkan.

      Kemrarin sih rasanya gampang banget dicoba. Tapi belum nyobain lagi nih di rumah. Semoga percobaan kedua dan tanpa bantuan, hasilnya tetap enak. Hihihi.

      Hapus
  49. Kereen ibu tati. Sayangnya banyak perusakan hutan akibat kebijakan yg tidak tepat. Acaranya sarat ilmu ya mba, saya juga biasa makan dari hasil hutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ilmunya penuuuhhh sekali, dan bikin hati tersulut semangat untuk mendukung apa apa yang dilakukan para Walhi Champion yang punya visi besar untuk menjaga salah satu Rimba Terakhir Bumi yang ada di Indonesia ini.

      Hapus
  50. Wab mba. Acaranya itu mengedukasi ada tentang hutan, ada juga seru-seruannya yaitu ada masaknya apalagi masaknya ama tokoh yang pernah menang di master chef dulu ya. Keren. Komplit. Ngoming-ngomong mba, aku ga dateng ke acara itu, tapi semangat bu Tati itu kerasa ama aku di sini dari cerita mba. Apalagi sekarang sedih ama keadaan hutan kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya Teh. Keadaan hutan sekarang bikin pengen berkaca-kaca kalau dibaca atau dilihat beberapa video tentang hutan yang tersebar di dunia maya. Miris dan sedih jadinya. Padahal keberadaan hutan itu sebagai paru paru dunia.

      Hapus
  51. Adeuh masak bareng master chef rasanya kaya apa mbak? Hehehe
    Penasaran deh aku sama olesan selai pala itu, soalnya kalo manisan pala aku nggak terlalu doyan hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasanya asam asam krenyes yang kalau biji kecilnya kegigit langsung keluar aroma pala gitu, walaupun nggak kuat kuat banget aromanya.

      Hihihi ... seru banget pokoknya Mba Ven.

      Hapus
  52. Wah beruntungnya bisa hadir di acara gathering dari WALHI mba. Ketemu pula sama chef keren ❤️ ternyata banyak sekali hasil hutan yang belum banyak kita tahu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget. Dan ternyata lagi, nggak semua hasil hutan dikisahkan juga di acara ini yang sebetulnya semakin bikin ingin tahu lebih banyak dan mendalam mengenai hutan.

      Hapus
  53. Wah, beruntung banget bisa ikutan acaranya ya, Mbak. Pastinya dapat ilmu banyak, dan seru bisa belajar masak dari chef Willgoz.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Mba.

      Terima kasih sudah mampir ke tulisanku ini ya, Mba.

      Hapus
  54. Asyiknya bisa hadir di acara ini, jadi kita akan lebih paham tentang hasil hutan selama ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya pun merasa senang sekali bisa ikut seru seruan dalam acara ini.

      Hapus
  55. lihat gathering walhi sama BPers ini seru banget ya, apalagi berbagi pengalaman bersama mba Windy itu bisa survive dengan hasil hutan yg tentu fresh itu ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget. Dan aku awalnya nggak pernah kepikiran untuk jalan jalan ke hutan seperti Mba Windhy lho. Eh setelah dari acara ini, jadi kepikirn pengen tau juga bagaimana rasanya main ke hutan yang beneran hutan.

      Hapus
  56. Keren ya acaranya. Ada demo masaknya juga. Nambah pengetahuan tentang hutan juga sekaligus pengetahuan memasak.

    BalasHapus
  57. Wah, fungsi hutsn banyak, ya, selain menyimpan tanah,enyimpan air, juga srbagai sumber makanan manusia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, banyak banget. Makanya perlu banget keberadaannya dijaga dengan sebaik-baiknya.

      Hapus
  58. Aku penasaran dgn selai pala...
    Ternyata banyak bgt ya sumber pangan dari hutan, makanya hutan harus terus dijaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarin ada Blogger yang nulis tentang keberadaan Toko Walhi juga nih kalau Mba mau coba bagaimana rasanya selai pala. Mana tau disediakan di sana. Lokasinya kalo nggak salah sih, di wilayah Jakarta Selatan.

      Hapus
  59. Banyak sekali ya fungsi hutan salah satu nya adalah sebagai sumber pangan. Hutan juga salah satu kekayaan alam Indonesia jadi salah besar jika kita tidak merawatnya.

    BalasHapus
  60. Semoga ya, campaign Walhi ini menjadi langkah nyata untuk memperbaiki kelestarian hutan ini. Ikutan sedih karena alam semakin lama semakin berubah peran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Mari kita doakan sama sama yuk Mba.

      Hapus
  61. Keren sekali ya bun campaignnya walhi ini, sudah seharusnya kita menjaga kelestarian hutan

    BalasHapus
  62. wah seru bingits mba acaranya ini, aku salfok sama masak barengnya apalagi ada Chef favorti aku Wilgoz heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kapan kapan Mba juga punya kesempatan untuk ngerasain rasanya masak bareng sama Chef Willgoz ya.

      Hapus
  63. Jadi penasaran sama selai palanya, bakalan ada rasa asem dan sedikit mirip ada mint nya gitukah mba? Terakhir makan daging pala yang sudah diolah jadi manisan itu jaman aku masih SD

    BalasHapus
  64. hutan memang memiliki sejuta manfaat ya untuk kelangsungan hidup manusia. sedih banget kalau baca berita semakin berkurangnya populasi hutan di bumi

    BalasHapus
  65. Hutan memang punya peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia.itu sebabnya penting juga untuk menjaga dan melerestasikannya ya Mbak apalagi di dalamnya kaya akan pangan. Btw serunya Mbak bisa menghadiri gathering bersama Walhi.

    BalasHapus
  66. wah.. keren mba ini. sukses terus deh...
    jadi ngiler deh say ake masak-masakannya ,. yummy

    BalasHapus
  67. Ternyata banyak produk hutan yang bisa dijadikan bagian dari hidangan sehari-hari yaaa :) Jadi pengen coba jugaa hihi

    BalasHapus