Catatan Perbincangan di Ruang Konsultasi Penderita Depresi dalam Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki dari Baek Se Hee

Lama sekali buku Baek Se Hee berjudul I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki ini saya tamatkan. Begitu banyak drama dan rasa yang ikut bergolak dalam benak ketika buku volume pertamanya ini, satu per satu halamannya saya balikkan. 

Kecepatan baca Ka Acha tuh sudah tergolong pembaca lambat. Ditambah bukunya yang menyedot empati saya berkali-kali, membawa buku ini menemani beberapa akhir pekan saya. Sebuah buku yang menunjukkan dengan gamblang tentang depresi yang dialami penulisnya sendiri. 

Buku self improvement I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

Bagian pengantar buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki versi bahasa Indonesia, ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ. Mengenalkan distimia pada saya. Sebuah problema kesehatan jiwa yang dialami penderita depresi tahap lanjut. 

Profil Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki Volume Pertama

Judul : I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

Penulis : Baek Se Hee

Penerjemah : Hyacinta Louisa

Editor : Lovita Cendana

Penyelaras Aksara : Francisca Ratna

Layouter : Propanardilla

Penerbit : Penerbit Haru

Cetakan : Ketiga puluh satu, Februari 2026

Tebal : 236 halaman

ISBN : 978-623-7351-03-0

Blurb Buku Baek Se Hee I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

Aku : Bagaimana caranya agar bisa mengubah pikiran bahwa saya ini standar dan biasa saja? 

Psikiater : Memangnya hal itu merupakan masalah yang harus diperbaiki? 

Aku : Iya, karena saya ingin mencintai diri saya sendiri. 

-------

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki adalah esai yang berisi tentang pertanyaan, penilaian, saran, nasihat, dan evaluasi diri yang bertujuan agar pembaca bisa menerima dan mencintai dirinya sendiri. 

Buku self improvement ini mendapat sambutan baik karena pembaca merasakan hal yang sama dengan kisah Baek Se Hee sehingga buku ini memdapatkan predikat bestseller di Korea Selatan. 

Mengenal Istilah Distimia Alih-Alih Depresi Semata

Tadinya, buku bestseller Korea Selatan karya Baek Se Hee ini menjadi buku bacaan di malam hari Buat Ka Acha. Saya mengira, batin saya tahan banting menerima isi perbincangan dari seorang penderita distimia dengan psikiaternya. Toh, menamatkan buku Kim Ji Young Lahir Tahun 1982 yang bukunya tipis tapi isinya bikin nangis itu, saya kuat kok. 

Ah, dasar saya terlalu jumawa. Rupanya, saya salah. Ya ... saya kalah sama isi bukunya. 

Sedikit mengutip catatan pengantar yang dihadirkan oleh dr. Jiemi Ardian, Sp. KJ, depresi sendiri merupakan gangguan mood yang menyebabkan perasaan depresif dan kehilangan kesenangan secara persisten. Sebuah kata yang awam digunakan, tetapi nggak sepenuhnya banyak yang memahami. 

Gangguan depresi memengaruhi bagaimana seseorang merasa, berpikir, dan bertindak yang dapat mengakibatkan berbagai masalah emosional dan fisik. Biasanya, gejalanya dirasakan lebih dari dua minggu, serta mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Nggak sampai di situ saja. Depresi dapat membuat penderitanya mengalami penurunan berat badan, aktivitas dan pikiran yang melambat, kehilangan energi, merasa nggak berharga atau bersalah, juga pikiran berulang tentang kematian atau mengakhiri hidup. 

Nah, distimia itu bentuk kronis a.k.a jangka panjang dari depresi. Bisa terjadi minimal selama 2 tahun. 

Seseorang yang mengalaminya dapat kehilangan ketertarikan yang normal pada aktivitas sehari-hari, merasa nggak ada harapan, produktivitas berkurang, harga diri rendah, merasa nggak layak. Inilah yang menyedot empati saya sampai membuat saya menghela napas saja nggak cukup rasanya. 

Beberapa bagian dari buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki menyeret saya pada pusaran renung yang panjang. Terpikir, "aku nggak depresi juga, kan?"

pengantar dr. Jiemi Ardian Sp.KJ di I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

Setiap poin cerita dari Baek Se Hee dengan psikiaternya, ada saja bagian relate-nya. Mulai dari "memakai" standar cantik dan keren ala media sosial, perasaan direndahkan orang lain padahal belum tentu, krisis rasa percaya bahkan sama orang dekat. Hhh ... kamu kalau ikutan baca, siap-siap sering tarik napas juga deh, Dears. 

Pada akhirnya, buku ini saya jadikan sebagai teman mencuci setiap Sabtu pagi. Biar suasana membacanya lebih tenang dan nggak membuat saya memikirkannya terlewat dalam. 

Di antara suara putaran mesin cuci yang pelan nan konsisten, wangi sabun beraroma stroberi yang menguar lembut, cahaya hangat matahari pagi yang merangsek masuk dari atap bening di lantai atas rumah saya, angin sepoi yang meniup pelan punggung saya yang duduk bersandar di dekat pintu menuju balkon, dan sesekali suara burung Pipit yang senang hinggap di kabel listrik sekitar komplek perumahan ini. Begitulah suasana yang menemani saya menamatkan I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki sejak di bab Aku Mengawasi Diriku Sendiri. 

Pantas Banyak yang Merasa Relate dengan Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

Si penulis yang menuangkan percakapannya dengan si psikiater di ruang konseling, menunjukkan bagaimana kebanyakan orang saat ini bersikap terhadap dirinya sendiri. Ka Acha ambil contoh, soal merasa cantik. 

Baek Se Hee menunjukkan bagaimana dirinya merasa curiga ketika ada seseorang yang memuji kalau dirinya perempuan yang cantik. Ia merasa ada yang salah. Selama ini, baginya dia cuma perempuan yang biasa saja. Nggak cantik, tapi cukup enak dipandang. 

Ada perasaan risih yang datang. Termasuk kecurigaan kalau dirinya bukan benar-benar dipuji, melainkan tengah dipermainkan. 

Pikiran akan bergerak cepat, menemukan gambaran cantik yang seharusnya. Menyamakannya dengan diri, lalu merasa dipermainkan oleh orang lain setelahnya. 

Begitulah ketika standar cantik diberlakukan ke diri sendiri atas dasar standar di media sosial. Kurang tirus. Terlalu kurus. Begini dan begitu. Hal-hal yang dicerna dalam kepala, kemudian berubah menjadi rasa rendah diri bagi seseorang. 

Saya merenung sepanjang membaca bagian ini. Betapa Ka Acha sendiri sesekali merasakannya juga. I mean, saya kurang cantik. 

Namun, berbeda bila yang merasainya adalah seseorang dengan masalah kesehatan mental berupa distimia tadi. Dia akan selalu merasa begitu, hingga perasaan rendah dirinya berlangsung lama seolah jadi bagian dari karakternya. Sementara kita yang baik-baik saja ini, mungkin hanya sesekali. Di kali lain, perasaannya berbeda lagi. 

Baek Se Hee I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

Ada pula bagian yang menarik perhatian Ka Acha. Judul babnya, Niat untuk Menjadi Spesial Ternyata Tidak Spesial. 

Di bagian ini saya ikut belajar, bahwa depresi yang berlanjut ke distimia bisa menyebabkan seseorang jadi begitu mudah menyalahkan dirinya sendiri. Segala hal seketika dipersonalisasi. 

Di bagian pengantar dari dr. Jiemi kan sudah dijabarkan, apa saja sikap-sikap penderita depresi dan distimia yang sering terlihat. Nah, inilah salah satunya. Keinginan untuk bisa mengelola segalanya, demi merasa diri aman dam nyaman. Dalam artian, niat untuk jadi spesial. 

Padahal, ada lho hal-hal yang masih bisa diatur, semisal perasaan dan keputusan sendiri. Lalu, ada yang di luar kuasa kita, semisal perasaan orang lain. 

Psikiater yang berbincang bersama Baek Se Hee pun pada akhir buku volume pertama ini, turut mengakui bahwa sebagai tenaga kesehatan, ia juga merupakan manusia biasa yang nggak sempurna. Ada saran yang kurang tepat pula yang ia berikan pada pasiennya. Melalui rekaman dari Baek Se Hee, ia pun baru menyadarinya. 

Kesimpulan yang bisa Ka Acha temukan selepas menamatkan I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki adalah ... penerimaan dari seseorang yang mulanya mendapati ada yang salah dengan dirinya, kemudian punya keberanian untuk memeriksakan kondisi mental, dan menjalani pengobatan. Ia -- tentu saja Baek Se Hee -- membuka ruang konsultasinya bagi lebih banyak orang untuk mendengar dan melihat setiap proses yang ia jalani. 

Buku self improvement yang juga direkomendasikan oleh Kim Nam Joon dari BTS layak untuk kamu baca juga, bila kamu merasa bahwa dirimu sering lelah dan butuh didengarkan juga. Paling nggak, dari I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki, kamu bisa mencicipi bahwa ruang konsultasi nggak semengerikan itu, bila kelak kamu membutuhkannnya juga. 

Komentar