Langsung ke konten utama

Ke Bandung Cuma Sama Ransel Bagian 2



An adventure is start inside yours. When you push yourself to go a head.
-Akarui Cha-

Sore menjelang senja, aku dan Natha sudah memulai perjalanan kami. Jadwal sore itu, hanya ingin melihat sedikit keindahan kota Bandung yang rasanya tak seramai Jakarta. Menemukan nuansa kota tua. Ya ... Kawaii Angel memang menyukai nuansa ini, dan selalu kami sertakan dalam setiap perjalanan dan kebersamaan kami.




                
Braga di sore hari, tanggal 30 Juli 2014. Jalan yang terkenal dengan suasana vintage-nya ini, sepi di hari kesekian libur lebaran. Belum banyak toko-toko yang buka. Tetapi para penjual lukisan masih setia duduk di emperan, memamerkan hasil karyanya pada para pejalan ... atau seenggaknya, bisa dilirik seseorang yang duduk manis dalam mobil yang sekedar lewat.  
                
Dan inilah sosok Braga yang kami temukan.












               \ 
Berlanjut dengan rasa penasaranku dan Natha, berbekal google maps, kami menikmati kota Bandung yang sedikit lengang. Menyusuri jalan menuju Balai Kota Bandung, menemukan taman tematik yang baru saja dibangun Kota Kembang ini, Taman Vanda. Nama Vanda yang kutahu adalah nama untuk salah satu jenis tanaman Anggrek. Seunik taman ini.








                
Sore pertama kami di kota Bandung ini, membawaku kembali pada jalan impianku yang sudah lama kurindukan. Sebuah petualangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.