Langsung ke konten utama

Warna Apa yang Kamu Lihat Dariku?





                Dunia ini abu-abu, Tomodachi. So grey. Too grey. Sebab orang lain begitu mudah menilai seseorang dengan tingkah polah yang terkadang nggak mencoba di dalaminya. Judge a person with its cover. I mean, bukan cover dalam artian penampilan ya. Sering juga dari sikap seseorang, pilihan hidupnya, tanpa ada yang sadar sedalam apa pemikirannya. Kenapa aku sampai menuliskan demikian? Ah, aku sangat bergairah untuk menceritakannya pada kalian, Tomodachi.


                Ambil saja aku sebagai contohnya. Hmm ... sebenarnya ini curhat terselubung. Setiap hari, aku bersikap layaknya anak-anak, mudah tertawa, dan  mungkin ada yang menganggap aku ‘gila’ karena seolah aku nggak punya kesedihan dalam keseharianku. Ya, anggap saja demikian.
                Apakah ada yang tahu, apa saja yang bergejolak dalam pikiranku di satu malam? Bagaimana aku memikirkan segudang impianku? Sadarkah, bahwa diam-diam aku juga menyembunyikan ‘kesakitan’ yang kupunya dan menjadikannya lelucon? Aku selalu berpikir, kehidupan ini bisa menjadi berwarna ‘cerah’ jika aku memandang dengan mata berbinar dan senyuman lebar. Naif bukan? Tetapi segala sedih dan senang yang pernah menjadi jejak keberadaanku di dunia –masa-masa kecilku—mengajarkan aku, bahwa dunia ini tergantung dari sudut pandang mana kamu memandangnya.
                Kini, apa aku ini terlewat kekanakan? Nggak bisa berpikir dan bersikap dewasa? Lalu apakah egois dan memaksakan pedapat, semudah itu memuntahkan kalimat mengenai diri orang lain yang dilihatnya dari permukaan saja, mencampuri urusan-urusan dan privasi seseorang, mencela dan menilai negatif dengan mudah, itu artinya dewasa? Terserah. Anggap saja aku kekanakan kalau memang begitu yang kalian temukan.
                Bagiku, dunia ini abu-abu. Aku ijinkan sebebasnya kalian melihat, apakah warna diriku. Ijinkan pula, sebebasnya, sekelilingmu melihat warnamu. Tapi, sesungguhnya kamu punya warna sendiri, warna yang cukup kamu bagi dengan dirimu, Tuhan, kedua orangtuamu, juga seseorang di masa depanmu.
               

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.