Langsung ke konten utama

Hadiah dari Langit

  

              Hujan menderas di luar sana sejak pagi buta. Tuhan tahu, aku begitu jatuh cinta pada hujan. Terima kasih atas hadiah-Mu untukku.
                Tuhan pun pasti tahu, aku sedang tenggelam dalam rindu. Kamar kos yang kini kutempati, membuat aku rindu suasana kamarku sendiri di Bogor, memaksa aku menelan rasa sepi itu dengan mengalihkan perhatianku. Tuhan pun menjatuhkan jutaan ribu tetes air dari langit untuk menemaniku merenungi diri. Mengevaluasi apa saja yang sudah aku raih setahun kemarin. Oh, Cha, happy birthday.

                Sederet ucapan yang mampir di ponselku, juga account sosial media milikku, meninju dadaku dan membuatku haru, mengingatkan aku kalau sesungguhnya selama ini aku nggak sendirian. Ucapan-ucapan mereka membuat ingatanku memutar kembali ke beberapa tahun ke belakang, di masa kecil, menjelang remaja, sweet seventeen, juga nyanyian yang pernah kudengar dari setiap orang terkasihku untukku, terutama Mama dan Papa. Lalu hari ini, langit yang bernyanyi untukku.
                Tuhan, terima kasih.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.