Langsung ke konten utama

Home



Many times, in my trip, I always think about go home. Not a real home, a place to stay. Think about person who will wait all day long for my return. Wish I find my destiny, because I believe it. And he (or maybe ‘her’ for you) will teach me to growth up, together. We not only have a dream, but also two spesific dreams. A dream about mine, and a dream about us.



And, when someone ask me about this, I just give my sweetest smile ....

Tomodachi tersayang, apa pernah kalian merasa sendirian di tengah riuh rendah canda tawa di sekitar kalian? Menemukan senyum yang memudar di wajah kalian saat bercermin di pagi hari, lalu buru-buru membasuh wajah kalian dengan harapan raut ‘nggak enak dilihat’ itu, hilang dalam satu kali basuhan air dingin? Atau ... ada perasaan sesak abnormal saat kalian mendengar ocehan seru sahabat kalian tentang kehidupan asmaranya yang menyenangkan? Sementara kalian, atau mungkin juga aku, cuma bisa menjadi penonton pasif dengan tatapan kosong yang lalu amnesia pada apa yang sedang disaksikan?

Its not about desperate ....

Not about woe too ....

Its just about process of love ... of life ....

Sometimes, I know, I need a big size teddy bear to cry on its shouldier. Take a weird little party in a library. Singing a song without the keys. Find a magical lighting in the night sky. Or have a bad laugh for something who’re not happen. Every out of the box activity after you find it. That is a love.

Tomodachi, I am sorry because I am not believe in love at first sight. Don’t you?

Honestly, karena ‘cinta’ ternyata sulit didefinisi tapi bisa jadi mudah terdeteksi. Seringkali aku, kamu, kalian, lalai menemukan red signal itu. Perhatian kecil yang terabai, bukan karena ingin mengabaikan, tapi lebih pada bentuk pembentengan diri yang muncul akibat rasa takut dari salah satu pihak untuk memulai percakapan sederhana yang menyenangkan. Orang-orang yang terjebak dalam sejumlah glosariumnya sendiri. Jadi absurd. Menciptakan berderet pertanyaan yang hanya dijawab dengan sebuah gerakan kecil dari sepasang pundak yang diangkat, tanda bahwa jawaban terbaiknya hanyalah ... diam.

In my mind, when I deep down, I wish I’ll go home soon. If I have a sweet home who wait me. Or if I find a home to be mine.

Walau aku tahu, love just not like a home. Its like a mobile van for a long jurney.

Mencari tapi nggak juga menemukan. Diam saja, namun tiba-tiba ditemukan. ^.^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.