Langsung ke konten utama

Pentas Evaluasi Sanggar Tari Ligar Mandiri Juli 2012


                Well. I have finishing my first traditional dance study at Ligar Mandiri and this time I must to show it in front of all of jury who will give me a ranking. I am so exited, even though I am not being the first in this competition. It just about how to give a soul in my dance and I must to understand it with all of my brain, soul, and body again and again.
                Hari itu menjadi hari yang sangat menyenangkan. Aku telah menunggu kedatangan hari itu dengan jantungku yang selalu berdegub kencang di setiap latihan pemantapan selama dua bulan ini. Dan akhirnya, saat hari itu datang, aku merasa sangat tertantang dengan persaingan ketat yang terjadi di antara kami, sesama teman dalam kelas tari Jaipong ‘Midua Hate’. Sometimes, I felt they want to make me down and make me lost all of my spirit. But sometimes, I felt they want to explore this dance together. Namanya juga teman sekaligus saingan. Its not a big problem for me ... just make me feel uncool one day.

                Acara dimulai pukul 9 pagi. Kami semua berkumpul di halaman kantor kecamatan Ciomas dengan jantung yang serasa ingin copot saja. Menunggu giliran untuk naik pentas itu ternyata cukup melelahkan, terkadang ingin rasanya mempercepat waktu.
                Empat orang juri – aku lupa nama mereka semua – duduk di bangku terdepan yang disiapkan dan mulai menilai setiap gerakan dan penghayatan kami. Sayangnya aku tidak bisa merekam semua video tarian yang ditampilkan. Hanya video saat adikku menarikan tari kijang saja yang bisa terekam dengan cukup baik. Lets see and enjoy it.

                Dan walaupun akhirnya aku tidak mendapat juara 1, 2 atau 3. Aku cukup bahagia karena sudah bisa menari dan membuat beberapa penonton tersenyum melihat gerakanku yang belumlah segemulai teman-teman sekelasku yang lainnya. Bukankah masih ada banyak kesempatan untuk mempelajarinya lebih dalam? Maka aku tidak akan menyerah, kawan.
^.^

Komentar

  1. Waaah, asik ya acaranya.
    Waktu kecil saya pernah pengen ikutan nari, tapi gerakan saya kaku. Akhirnya gak jadi deh :)

    Kunjungan perdana nih
    Salam kenal yah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Welcone mbak Sri
      Salam kenal dan salam hangat untukmu..
      Selamat bergabung di blogku ^.^
      Wah, kenapa nggak dilanjutin ... seru lho XD

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.