Langsung ke konten utama

Gelar Jepang UI 2012

Udara menjelang jam 3 sore di stasiun UI menyambut langkahku menuju ke kemeriahan Gelar Jepang UI yang diadakan tahun ini. Festival besar dari FIB UI ini telah menjadi daya tarik tersendiri bagiku, dan juga bagi para pecinta kebudayaan pop jepang lainnya. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, aku selalu berusaha menyempatkan waktuku untuk menghilangkan stress di tempat ini. Kali ini, aku hanya dapat mengunjungi kemeriahan GJ UI di hari terakhir acara diadakan. Dari waktu 3 hari (13 – 15 Juli) hanya ada waktu senggang di hari minggu saja ternyata. Kecewa, tapi nggak apa-apalah.

Hiasan Kertas
Lampion

Pengunjung Gelar Jepang UI 2012

Di antara orang-orang yang lalu lalang disana, ada cukup banyak para cosplayer yang selalu bersedia untuk diajak berfoto bersama. Dandanan yang unik, juga kostum yang menampilkan berbagai karakter anime yang sudah lebih dikenal oleh para pecinta anime, tentu saja memancing antusias pengunjung untuk mengejar mereka lalu mengajak berfoto bersama. Beruntunglah, mereka semua sangat ramah.
              
Ada kepuasan berbeda ketika bisa ikut berekspresi bersama mereka. I cant say this with many words. Just like, amazing time and so WOW moment for me. Yeah, its on the tip on my tongue.

Danbo

Cosplayer Power Ranger

Cosplayer Power Ranger

Hunting Cosplayer

Hunting Cosplayer

Hunting Cosplayer

                GJ UI bukan sekedar untuk bersenang-senang buatku. Tapi untuk belajar juga. Aku sedari dulu selalu penasaran, bagaimana caranya membuat takoyaki dan ternyata ....

Jajan Dulu
              
Pokoknya, suasana kemarin di GJ UI 2012 sangat WOW.

Senja Pun Datang
              
Semoga di Gelar Jepang tahun depan, aku bisa kembali menikmati suasana yang lebih meriah lagi. Dan semoga kalian yang kemarin tidak datang, bisa ikut berbaur bersama disana nantinya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.