Langsung ke konten utama

Guru??

                Happy teachers day...

                Ya. Hanya segitu saja yang ingin aku yel-yel kan hari ini. Sedari pagi, aku menemukan berbagai status penghargaan yang disampaikan para facebookers mengenai guru-guru yang pernah mengisi hari-hari mereka, hingga mereka semua mencapai titik kehidupannya saat ini. Bukan hanya itu, ada juga beberapa temanku yang share beberapa artikel mengenai kehidupan guru yang ‘katanya’ jauh dari kata hidup layak dan berkecukupan, terutama yang mengabdi sebagai pendidik di daerah pedesaan, terpemcil dan juga diperbatasan.



                Semenetara bagiku, guru itu nggak punya definisi yang pasti. Bagi seorang murid yang ‘dikatakan’ pernah mengalami ketidaknyamanan batin selama berada dalam bimbingan seorang guru yang kurang kompeten, pastilah akhirnya tidak terlalu menghargai seorang guru pada akhirnya. Berbeda dengan murid yang mendapatkan begitu banyak dukungan dan perhatian dari seorang guru. Pastilah akan lebih mengelu-elukan lagi ungkapan bahwa guru adalah sosok yang sangat berarti dalam kehidupannya.

                Bila dikatakan aku mendukung pendapat banyak orang yang menyatakan bahwa kesejahteraan guru masihlah belum sesuai dengan jasa yang diberikannya, aku mendukung. Bila dikatakan aku berada dalam pihak murid yang kurang menyukai beberapa tindakan kasar dan kurang pengertian yang dilakukan seorang guru terhadap muridnya, aku akan mengangkat tanganku tinggi-tinggi dalam beberapa kasus. Dan bila banyak orang menge-elukan bahwa guru belum sejahtera, aku juga akan mundur dan memilih untuk berlalu begitu saja, dalam beberapa kasus tentunya.

                Jika ada yang bertanya, apakah ‘guru’ itu untukku? Aku akan menjawab RELATIF, kawan. Lalu apa makna Hari Guru itu sendiri untukmu? Bagiku, hari ini adalah hari dimana aku bisa mengenang dan menghormati guru-guru yang begitu berjasa dalam hidupku. Dan hari ini juga adalah hari dimana aku mengenang masa kecilku yang cukup kurang nyaman karena beberapa orang guru yang kurang paham dalam hal mengerti dan memahami kondisi seorang anak.

                Ya. Guru sering hanya menjadi predikat. Dipanggil guru, tapi tak sanggup jadi teladan dan pendidik atau pun pendamping seorang murid yang baik, buat apa? Hanya orang biasa, tapi bisa menjadi pendidik yang baik, boleh dipanggil guru juga kan? Hmm... RELATIF...




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.