Langsung ke konten utama

Merasa ‘Belum Bisa’ juga PENTING



Gals...

Setiap hari kini bagiku adalah sebuah pengalaman. Nggak ada lagi rasa aku ini HEBAT atau aku ini MISS SEMUA BISA. Karena pada hakikatnya, di atas langit selalu ada langit lagi. Dari banyaknya bintang yang bertebaran, akan muncul bintang lain yang ternyata bersinarnya akan lebih terang. Dan itulah yang aku pelajari beberapa hari ke belakang. Dan karena jiwaku mulai diasah oleh hal itu, jadilah beberapa hari ini aku jadi takut sendiri untuk memposting tulisanku di blog ini.



Pernah suatu ketika, setelah berhasil memenangkan sebuah piala, aku jadi merasa SANGAT HEBAT dan PINTAR. Aku menjadi bangga pada diriku sendiri. Bahkan mulai tumbuh benih kesombongan yang hanya fana itu. Aku pikir, aku ini tahu banyak hal. Aku merasa lebih mengerti daripada orang lain. Padahal, siapa aku ini? Aku hanyalah seorang manusia bertubuh mungil yang juga punya kekurangan. Dan kelebihan pun nggak selalu lebih HEBAT dari orang lain.

Saat aku mengajukan skripsiku kepada dosen pembimbingku di kampus, dosen itu berkata, “Kamu ngasih materi sebegini luas dan terlihat bagus, tapi sebenarnya ternyata kamu nggak tahu apa apa!”. Dan saat itulah, aku merasa jatuh.

Lalu, suatu sore saat sedang bermain bersama kedua sahabatku di Blok M Square, ada pertunjukan musik di foodcourt mall itu. Aku pun mengajukan diri untuk ikut menyanyi di panggung. Aku memang sering merasa JAGO dalam bernyanyi. Berbekal suara mungilku yang menurut banyak temanku adalah unik. Tapi, tanpa aku sadari, harusnya aku lebih banyak belajar lagi. Ternyata, suaraku ini belum sebagus yang aku harapkan. Masih banyak teknik yang harus aku pelajari. Masih banyak hal yang perlu aku asah. Masih banyak dan sangat banyak. Sadarlah aku, ternyata aku ini belum bisa bernyanyi.

Dan yang terutama adalah dalam bidang menulis yang selama ini aku anggap sebagai bakatku yang paling luar biasa. Kesukaanku akan mengkhayal yang kemudian ku anggap sebagai imanjinasiku yang terus berkembang, ternyata tiba-tiba menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Setiap aku mengikuti lomba-lomba menulis yang tingkatannya kini semakin tinggi, aku nggak pernah masuk nominasi lagi. Dulu, jika aku mengikuti lomba menulis yang pesertanya hanya sedikit, aku bisa, tapi ketika aku mencoba yang lebih besar? Apa hasilnya? Nggak ada! Namaku nggak belum pernah muncul, bahkan walaupun sekedar nominasi yang sedikit dijagokan. Nggak! Dan kembali aku tersadar, kalau aku masih harus banyak belajar dari orang lain. Belajar untuk menjadi penulis yang hebat. Belajar banyak hal yang nggak pernah aku ketahui.

Lalu yang terakhir, kesukaanku mengikuti lomba yang membuat kedua orang tuaku selalu bangga. Dan tanpa aku sadari, kebanggaan mereka telah menjadi sebuah ketakutan untukku. Takut akan kalah dan merasa malu jika aku nggak sanggup memegang dan mengangkat tinggi sebuah piala lagi. Dan itulah yang membuat jiwaku terbebani. Bukan oleh orang lain, tapi oleh jiwaku sendiri yang sempit.

Kadang merasa KOSONG itu PENTING!!! Merasa sedikit BODOH itu BAIK!!! Agar benih kesombongan itu nggak tumbuh subur. Agar semangat untuk lebih banyak belajar lagi itu, terus merambat dan memenuhi jiwamu. Rasa HEBAT nggak perlu terlalu dipupuk, lebih baik memupuk rasa BISA ketika sudah BANYAK BELAJAR.

Gals...

Dari setiap sudut jiwaku kini, aku mengakui bahwa aku ini bukanlah MISS HEBAT. Aku bukan MISS SERBATAHU. Aku juga bukan lagi MISS PINTAR SEGALANYA. Apalagi MISS LUARBIASA.

Gals....

Ternyata, aku masih harus banyak belajar. Aku masih harus banyak mengerti dan memahami. Nggak sekedar memamerkan yang aku pahami, tapi belajar mengerti apa yang orang lain lebih pahami.

Gals....

Merasa ‘Belum Bisa’ itu PENTING agar jiwamu dan jiwaku nggak menjadi kering dan sempit. Agar semangatmu dan semangatku untuk belajar, terus mengembang.  Agar dirimu dan diriku, nggak menjadi sombong. Agar matamu dan mataku terbuka, menyadari kalau kita juga masih belum tahu banyak.

Salam hangat..... ^.^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.