Langsung ke konten utama

The TEAM’s Last Journey Part 4

                Asrama... Kata yang biasa banget buat kamu yang pernah merasakan tinggal di asrama. Biasa banget juga buat kamu yang pernah dikarantina.. Hehehe... Ternyata nggak cuma hewan yang di karantina ya.. Hehehe....
                Suasana di asrama sangat berbeda daripada di rumah atau di tempat penginapan yang lainnya. Suasana di asrama ini yang aku dan TEAM dapatkan. Merasakan rasanya tidur sekamar dengan orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Merasakan bagaimana caranya berbagi tempat dengan orang lain. Dan, mengajarkan cara untuk cepat membuat diri sanggup beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dalam waktu yang sangat singkat.
                Inilah bagian yang sangat berkesan buat aku. Dan tentunya berkesan pula untuk TEAM. Karena atmosfir dari suatu kompetisi yang sedang kami jalani, seperti hilang. Aku menemukan anak anak dengan berbagai karaker mereka. Menemukan teman-teman yang cepat akrab, teman-teman yang saling berbagi cerita di tiap kamarnya.  Banyak...banyak sekali yang bahkan sulit aku ungkapkan. Rasanya.......seperti menemukan dunia baru.
                Aku salut sekali dengan teman-temanku dari berbagai kampus itu. Mereka semua menyenangkan. Mereka dengan mudah dan nggak malu malu untuk berbagi ilmu apa saja yang mereka tahu. Mereka yang datang dari berbagai tempat di Indonesia itu, membawa budaya daerah mereka masing-masing pula. Ada yang berlogat Jawa, ada yang dari Makassar, wah....pokoknya seru banget!!!!
                Malam sebelum lomba, mereka semua kompak dengan rekan satu tim mereka untuk belajar dan makan bersama. Ada juga yang segera memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan melihat kota Surabaya. Mumpung ada kesempatan jalan-jalan ke kota lain ya di manfaatkan sebaik-baiknya dong!! ^.^ Bahkan dalam beberapa jam saja, mereka sudah saling berbaur dan seperti lupa kalau kami ini dalam kompetisi. Kami seperti teman lama yang bertemu lagi. Asik sekali.
                Aku merasakan betul, bagaimana rasanya makan bersama. Kekuatan apa yang muncul ketika menemukan orang baru yang lebih banyak tahu daripada kamu. Ingin rasanya mendengarkan temanmu itu bercerita banyak tentang hal yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Dan...banyak hal lagi.
                Bagaimana rasanya mandi bergantian? Bagaimana rasanya saling menghargai dan mengerti? Aku juga diajari hal yang sama oleh suasana itu. Saat tidur pun, ada teman yang ingin lampunya mati, ada juga yang harus tidur dalam keadaan terang. Nah, siapa yang harus mengalah? Ternyata nggak perlu mengalah tapi mencoba untuk membuat diri kita beradaptasi sesuai dengan keadaan.
                Aku dan TEAM bangga menjadi bagian dari kalian semua teman-temanku. Peserta cs2 semua, senanng rasanya bisa mengenal kalian. Waaupun dalam waktu yang sangat singkat. Tapi rasanya sangat berkesan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.