Langsung ke konten utama

I’m wrong and you say, “YES!!!!!!”

                Kritik! Kritik! Kritik! Owh, banyak banget kritik yang ditudingkan padaku belakangan ini. Banyak juga yang mengeluhkan sikapku yang makin acak adut. Ada lagi yang dengan lembut berkata, “Cha, jangan gitu dong!”
                Oke! Oke! Oke! I will say, “Yes, I’m wrong! Aku salah! Ya. Ya. Ya.”
                Secuil nyeri hate muncrat begitu saja dari otak ku yang mendidih. Astgaaaaa...hatiku ikut memprovokasi. “Uwh, pikaseubeleun!! Abdi wae anu disalahkeun!! Nteu aya nu lain ya??? Sia’ deuh!!!!!”
                Nah lho, makin panas aja tuh suasananya.  Sementara api di bawah tungku asik berderak derak bersama kayu bakar dan air bergolak lincah dalam kuali. #Oh, lagi masak air
                Tuuuttttttt... Tuuuuttttttt.... Tutttttttttt.....
                Sudah jadi sifat manusia biasa, kalo lagi disalahin nggak pernah mau terima. Doyannya nyari alasan baru untuk membalikkan fakta. Bagaimana caranya biar dirinya selalu terlihat sebagai korban yang lemah????
                No!!!!! Aku nggak mau ngikutin gaya pengecut kayak kamu!!!! No!!!!!!
                Aku. Akarui Cha. Dengan sedikit berat hati (hehehhe...) mengakui kalo aku emang salah. Dan aku minta maaf atas kesalahanku itu. Aku seharusnya nggak bersikap seperti itu. Abdi khilaf. Dihampuraaaaa....
***
                Suatu pagi saat aku sedang berdandan di suatu kamar asrama. Kamar yang aku tempati hanya dalam 2 malam namun membawa banyak cerita. Dan aku pun mendapat banyak pengalaman menarik selama berada di sana.
                Saat itu aku sedang asik mematut matut diriku di depan cermin. Berdiri anggun dengan sepatu high heels dan celana jeans yang sepertinya nggak nyambung. Aku aja nggak sreg sebenarnya waktu memperhatikan diriku di depan cermin. Tiba tiba....
                Tok tok tok.. “Chaaa????”, terdengar suara seseorang yang sangat aku kenal dari luar.
                Aku membukakan pintu.
                “Cha, .............”
                “.........................”
                “Ah, masa....................”
                “Oke!”
                Sedetik kemudian.
                “Tunggu! Gue lucu nggak?”, aku bertanya tentang style ku pagi ini.
                “JELEK!!!!”, dan dia berlalu begitu saja. Sementara aku terpaku menatapnya dengan wajah pucat yang mengenaskan.
***
                YES!!!!! I LIKE THIS!!!! Ini baru namanya teman. Jujur! Kalo aku emang lagi jelek, aku juga nggak akan marah kalo dibilang jelek. Hohoohohooooo......
                Dan situasi kedua.....
***
                “%(%^#$(^%#@#@%^&^*()*&%^^&*”, aku ngoceh panjang lebar.
                “Udah dong Cha, masalahnya udah selesai, jangan diperpanjang lagi, jangan bikin makin ribut ya!”
                Plakkkk!!!! Rasanya seperti di tampar.
***
                Pasca penamparan secara halus itu pun akhirnya aku berpikir ulang. Aku mulai menyadari harusnya aku tidak melakukan itu. Tidak berkomentar panjang seperti itu.
                Teman....
                Terima kasih banyak atas kritik yang kalian layangkan langsung kepadaku....
                Karena tanpa kritik, setiap orang, termasuk Akarui Cha, tidak akan menyadari kesalahannya. Namun teman, aku berusaha menyikapinya dengan bijak. Jika salah aku akan minta maaf, dan jika memang tidak salah, aku nggak akan berkomentar panjang hanya untuk menyalahkan kamu karena nggak mau ribut.

Salam love selalu
WATAWWWWW....
               

Komentar

  1. nice to read.
    aku juga panitia CS2 kemarin, tapi jadi bagian runner. jadi gak sempet kenal satu satu pesertanya.

    salam kenal ya..
    visit me back :)

    BalasHapus
  2. salam kenal juga
    yupzey mbak ^.^
    i like ur blog
    green green green ^.^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.